Pembobolan ATM, Salah Siapa?

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Cukup mencengangkan jumlah kerugian yang harus ditanggung BCA menyusul terjadinya pembobolan ATM. Peristiwa itu tentunya menjadi cambuk bahwa dunia perbankan harus segera berbenah diri, jika tidak ingin uangnya dirampok lagi.

Jumat (22/01), Bank Indonesia mengundang pimpinan empat bank yang dikabarkan mengalami pembobolan kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM), yakni BCA, BRI, BNI, dan Mandiri. Director Directorate of Bank Supervision 3 Bank Indonesia (BI) Erwin Riyanto mengatakan, pemanggilan mereka bertujuan untuk menenangkan masyarakat (baca nasabah). Pasalnya, berita yang beredar masih simpang siur dan khawatir terjadi rush (penarikan uang dalam jumlah besar) oleh nasabah.

“Saya kira, langkah BI ini sudah tepat. Kita menanyakan kepada mereka masalahnya apa dan bagaimana solusinya. Jadi, pertemuan ini merupakan inisiatif BI. Dengan adanya konferensi pers bersama ini, BI tidak perlu membuat peraturan tertulis lagi terkait masalah ini,” tandas Erwin Riyanto, di Gedung BI, Jakarta.

Menurut Erwin Riyanto, berdasarkan laporan dari perbankan ke Bank Indonesia, modus operandi yang dilakukan para pelaku untuk membobol kartu ATM yang marak pertengahan Januari 2010 adalah skimming data. Skimming data yaitu pencurian data nasabah yang tersimpan di dalam kartu dan pencurian atau pengintipan PIN di mesin ATM melalui kamera yang dipasang oleh pelaku.

“Sejauh ini bank bersangkutan sudah melakukan investigasi mengenai modus operandi, potensial data yang dicuri (dicopy) dan mitigasi resiko terhadap data yang kemungkinan sudah dicuri. Bank juga sudah melaporkan kepada pihak kepolisian untuk

Logo Bank Indonesia
Logo Bank Indonesia

investigasi lebih lanjut,” kata Erwin Riyanto.

Pada kesempatan itu, Wakil Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengemukakan, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat kerugian yang ditaksir mencapai Rp 5 miliar akibat pembobolan uang 200 nasabah lewat ATM. Sebagian besar korban terjadi di Bali. Jahja mengaku telah menemukan adanya alat penggandaan kartu dan nomor PIN ATM di 13 lokasi di Bali.

“Lokasi pembobolan ATM antara lain di Bandara Ngurah Rai, beberapa minimarket, Pesona Minimarket, Bintang Swalayan, Purinaga, Graha Santi, Agung Cottage, dan Hardrock. Tapi, 13 tempat itu sekarang disterilisasi dan sudah pakai cocor bebek (alat anti skimming). Kami jamin aman,” Jahya meyakinkan.

Pola kejahatan yang dilakukan para pelaku, kata Jahja, bukan karena PIN diintip, tapi kartu ATM digandakan dan PIN-nya direkam. Jahja menyebut kasus pembobolan ini merupakan pekerjaan sindikat internasional, karena terjadi penarikan signifikan di Toronto, Kanada.

“Kalau ada yang bilang CCTV di ATM BCA tidak mampu mendeteksi sewaktu pelaku memasang alat skimmer, itu tidak benar. Justru kami bisa mengidentifikasi kejahatan di 13 ATM dari hasil rekaman ulang CCTV,” bantah Jahja.

Jahja lantas menggambarkan modus operandi para pelaku. Mereka datang ke ATM sekitar pukul 8-9 pagi untuk memasang alat skimmer. Dua jam kemudian, mereka datang lagi untuk mengambil alat itu. Dalam rentang waktu dua jam, mereka bisa mendapatkan 50 data nasabah.

“Selama mereka beraksi, CCTV memang merekamnya. Tapi, Cctv tidak bisa diawasi secara live, karena BCA memiliki 6.000 CCTV. Bayangin, siapa yang mau mlototin kamera sebanyak itu? Nah, jika terjadi suatu kasus di dalam ATM, baru kita putar ulang rekaman itu untuk mengecek kebenarannya,” suara Jahja meninggi.

Menanggapi uang nasabah yang hilang, Jahja mengaku BCA telah mengganti sebagian besar dana nasabah yang terbukti terkena skimming. Namun, tidak seluruh kerugian uang nasabah diganti. Pasalnya, ada indikasi nasabah BCA yang nakal, yang sengaja memanfaatkan momentum ini.

“Mungkin jumlah yang nakal nggak sampai 30 persen dari seluruh nasabah yang melapor ke BCA,” tandas Jahja.

Bank Indonesia, kata Erwin Riyanto, mengapresiasi langkah BCA yang mau mengganti kerugian uang nasabah. Hal tersebut sudah selaras dengan imbauan BI yang meminta bank-bank untuk tetap memperhatikan prinsip perlindungan nasabah. Selain BCA, BNI juga akan mengganti 19 uang nasabah yang hilang sekitar Rp 200 juta. Begitu pula dengan BRI, yang mengalami kerugian sekitar Rp 48,5 juta pada tiga nasabahnya.

Sementara itu, Direktur Bank Mandiri Bambang Setiawan menegaskan, pihaknya tidak mengalami kerugian satu rupiah pun. Sebab, Bank Mandiri memang tidak terkena pembobolan ATM, sebagaimana dialami bank lainnya.

Alhamdulillah, sampai detik ini, kami belum menerima laporan adanya pembobolan. Semoga saja tidak ada. Untuk itu, kami minta nasabah jangan sampai panik. Insya Allah di bank uangnya aman,” cetus Bambang sembari menunjuk jam tangannya.

Bambang yang didampingi Senior Vice President Mass & Electronic Banking Bank Mandiri Widhayati Darwaman menuturkan, saat ini pengamanan sistem di Bank Mandiri sudah memadai dan berlapis-lapis. Penuturan Bambang itu untuk menepis kabar bobolnya internet banking dan sms banking di Bank Mandiri. Menurut Bambang, pengamanan ibanking dan sms banking jauh lebih ketat.

“Karena setiap nasabah yang membuka ibanking akan mendapatkan alat kecil yang disebut token. Token adalah alat pengaman tambahan untuk melakukan transaksi finansial di ibanking. Token PIN ini berfungsi untuk mengeluarkan dinamyc password (PIN Dinamis), yaitu PIN yang selalu berubah dan hanya dapat digunakan satu kali untuk tiap transaksi finansial yang dilakukan. Jadi, ibanking dan sms banking aman,” tegas Bambang.

Lantas, siapa yang salah dengan adanya kasus pembobolan ATM? Erwin Riyanto menjawab secara diplomatis bahwa sebetulnya setiap bank sudah punya kontrol masing-masing. BI pun telah meminta untuk melakukan perbaikan-perbaikan, baik secara fisik, logic, sistem, maupun lainnya.

“Misalnya sekarang sudah pakai sistem cocor bebek. Ini dianggap aman. Saya kira nanti ada yang baru lagi caranya. Itu wajar. Yang penting, saat ini kita harus membuat kontrol yang bagus, agar kejadian serupa tidak terulang,” tukas Erwin.

Erwin menyarankan, untuk mencegah terjadinya kerugian akibat skimming data, nasabah dihimbau untuk mengganti PIN secara berkala dan melindungi kerahasiaan PIN. Caranya antara lain menutup dengan tangan ketika memencet PIN, jika tidak ada pin cover. Selain itu, pada saat bertransaksi menggunakan kartu ATM/Debit pada merchant atau toko yang bekerja sama dengan pihak perbankan, diharapkan nasabah memperhatikan kondisi alat EDC (Electronic Data Capture).

“Bila terdapat alat (device) mencurigakan yang menempel pada EDC atau hal lain yang mencurigakan, nasabah sebaiknya tidak bertransaksi dan segera melaporkan kepada pihak bank terdekat atau kepada pihak berwajib,” tutur Erwin. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 82 Tahun II, 27 Januari-2 Februari 2010, halaman 27)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s