BSB Tak Ingin Ketinggalan

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Persaingan di dunia perbankan syariah Indonesia kian kompetitif. Ini ditandai tidak hanya dengan kemunculan bank-bank baru berlabel syariah, namun beragam terobosan terus dilakukan oleh bank-bank syariah yang lebih dulu lahir. BSB pun tidak ingin ketinggalan. BSB berencana memperbaiki internalnya serta lebih cerdik melihat peluang untuk memenangkan persaingan itu.

Memasuki tahun 2010, PT Bank Syariah Bukopin (BSB) terus melakukan berbagai pembenahan, perbaikan dan inovasi. Direktur

Riyanto, Direktur Utama BSB
Riyanto, Direktur Utama BSB

Utama BSB Riyanto mengatakan, salah satu hal yang menjadi fokus bank syariah yang mulai beroperasi 27 Oktober 2008 ini menyangkut peningkatan kompetensi sumber daya insani (SDI) di BSB.

Menurut Riyanto, peningkatan SDI sangat penting untuk meningkatkan mutu pegawai dan manajemen secara terencana. Untuk mendapatkan SDI seperti yang diharapkan, BSB perlu memberi pendidikan dan pelatihan, baik melalui inhouse maupun bekerjasama dengan lembaga pendidikan lain. Tentu saja muaranya demi mendukung kesuksesan untuk menghadapi persaingan perbankan yang kian ketat.

“Sekadar info, biaya program traning selama 6 bulan sekitar 60 juta per orang. Itu kan mahal. Tapi mau bagaimana lagi, kenyataannya memang seperti itu. Kami kekurangan SDI untuk posisi-posisi yang ada,” tukas Riyanto kepada Indonesia Monitor, seusai mengisi acara di Auditorium Bank Bukopin, Jakarta, Rabu (20/01).

Menurut Riyanto, untuk menutupi kekurangan SDI, BSB melakukan road show ke beberapa universitas negeri maupun swasta ternama di Indonesia untuk merekrut lulusan terbaik.  Namun, dari ribuan pelamar yang mengajukan diri, hanya bisa dihitung dengan jari tangan yang telah memenuhi kualifikasi BSB.

“Itu pun mereka harus ditraining lagi agar kemampuan hard skill dan soft skillnya mumpuni. Karena itu, BSB telah mengusulkan kepada beberapa perguruan tinggi agar membuat kurikulum terpadu khusus untuk BSB melalui officer development program atau management trainee,” tandas jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung.

Selain peningkatan dan rekrutmen SDI, lanjut Riyanto, BSB akan memperketat sekaligus memperkuat aspek pengawasan. Pengawasan antara lain meliputi manajamen risiko, sistem informasi, dan pengawasan dari dewan komisaris. Pasalnya, sisi lain dari bisnis perbankan adalah menyangkut kontrol dan risiko agar tidak terjadi kerugian yang besar.

“Kami sedang dalam proses pengembangan sistem pengawasan untuk menuju tahapan yang lebih baik. Upaya ini kami barengi dengan peningkatan sisi layanan,  pengembangan produk, memperkuat jaringan outlet, edukasi terhadap masyarakat serta tetap fokus pada pembiayaan UMKM. Untuk tahun ini, porsi umkm kami tingkatkan volumenya di atas 60 persen,” cetusnya, serius.

Riyanto menyadari betul bahwa bisnis perbankan selalu menuntut modal yang kuat. Untuk penguatan modal tahun ini, BSB mengharapkan penambahan permodalan dari stakeholder atau pemegang saham mayoritas, yakni PT Bank Bukopin Tbk. Sebagai catatan, kinerja keuangan BSB hingga akhir Desember 2009 menyangkut total asset telah tercatat senilai Rp 1,976 triliun. Sedangkan total Dana Pihak Ketiga senilai Rp 1,272 triliun, dengan total pembiayaan senilai Rp 1,280 triliun.

“Permodalan BSB tidak cukup dari penambahan modal organik atau dari sisi keuntungan saja,” ujar mantan Kepala Divisi Corporate Secretary PT Bank Bukopin Tbk.

Adapun untuk inovasi terbaru, BSB telah memutuskan sebagai Sub Agen Penjualan Sukuk Negara Ritel Seri SR-002 Tahun 2010. Penandatangan perjanjian kerjasama dilakukan Dirut BSB dengan Dirut PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas (AAA Sekuritas) Andri Rukminto, pertengahan Januari kemarin.

“Kami berminat menjadi sub agen penjual sukuk ritel karena instrumen sukuk menjadi alternatif pengelolaan dana investasi membuat pasar sukuk masih terbuka lebar,” tutur Riyanto.

Dengan kerjasama tersebut, kata Riyanto, berarti BSB ikut berperan aktif dalam menyukseskan penjualan sukuk yang akan ditawarkan kepada masyarakat pada 25 Januari-5 Februari 20010. Sukuk ritel ini memiliki jangka waktu 3 tahun. Selain itu, BSB diharapkan bisa memberikan peningkatan fee based income ke perseroan.

“Sukuk ritel dapat dibeli oleh masyarakat individu dengan nominal minimal Rp 5 juta. Jenis akad adalah ijaroh-sale and lease back-, sehingga memberikan pendapatan yang pasti bagi investor,” Riyanto meyakinkan. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 82 Tahun II, 27 Januari-2 Februari 2010, halaman 31)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s