2010, Ekonomi Indonesia di Persimpangan

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Tahun ini, perekonomian dunia diperkirakan pulih setelah ambruk diterjang krisis finansial global. Pemerintah Indonesia harus  bisa memanfaatkan momentum tersebut.

Pada 2010, ekonomi Indonesia diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,7 persen. Prediksi itu disampaikan Rizal Ramli dan Hendri Saparini, pada acara Economic Outlook 2010 yang digagas lembaga Econit, di Jakarta, Kamis, (14/01). Rizal Ramli mengatakan,

Rizal Ramli, Direktur Econit
Rizal Ramli, Direktur Econit

tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut lebih tinggi dari 2009, yang hanya  4,4 persen.

“Tetapi, tingkat pertumbuhan ekonomi itu relatif rendah dibandingkan dengan potensinya dan diperkirakan kembali akan berkualitas rendah (slow recovery and low quality growth),” cetus ekonom kelahiran Sumatera Barat, 10 Desember 1953.

Menurut Rizal, pertumbuhan ekonomi 2010 didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat dan kenaikan harga komoditas (commodity price). Selain itu, pertumbuhan ekonomi dipicu banjirnya dana spekulatif berjangka pendek (hot money) dan utang berbunga tinggi (high cost debt).

“Namun, belajar dari pengalaman dan strategi kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia pada 2009, pemulihan ekonomi yang bergantung pada hot money dan high cost debt hanya akan menjadikan ekonomi Indonesia sangat fragile (rentan guncangan). Istilahnya, ekonomi Indonesia seperti roller coaster,” tukasnya.

Karena itu, kritik Rizal, kebijakan dan visi ekonomi harus diubah. Selama ini, liberalisasi ekonomi Indonesia tanpa disertai visi, strategi maupun kebijakan yang jelas. Maksudnya, paradigma liberalisasi di Indonesia hanya “liberalisasi untuk liberalisasi”. Padahal, seharusnya liberalisasi ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan meningkatkan kekuatan ekonomi nasional.

Di samping itu, pemulihan ekonomi Indonesia terkait dengan pemulihan ekonomi dunia. Mantan komisaris utama PT Semen Gresik ini meramalkan, ekonomi dunia akan tumbuh sebesar 3 persen dari 1,1 persen pada 2009. Pasalnya, hampir semua negara yang telah mengalami kontraksi ekonomi akibat resesi  yang dipicu oleh kebangkrutan sektor finansial global akan cepat merecovery perekonomiannya.

Rizal menuturkan, pemulihan ekonomi dunia merupakan potensi bagi Indonesia, karena akan mendorong peningkatan permintaan atas berbagai produk ekspor negara berkembang, termasuk permintaan terhadap komoditas primer yang menjadi komoditas utama ekspor Indonesia. Misalnya migas, batubara, cpo, logam, dan sebagainya. Untuk 2010, ekspor Indonesia diperkirakan tumbuh sebesar 9 persen, meningkat dibanding pertumbuhan 2009 (-16 persen).

“Pertanyaannya, apakah Indonesia mampu meningkatkan volume maupun nilai ekspor dengan memanfaatkan momentum kenaikan permintaan dan harga komoditas?” Rizal melempar pertanyaan.

Namun, Rizal buru-buru mengingatkan, peluang pemulihan ekonomi dunia diperkirakan akan terhambat oleh kemungkinan kenaikan harga minyak mentah dunia US$ 77/barel pada 2009. Diperkirakan, harga akan kembali naik pada 2010. Bagi Indonesia, tren kenaikan harga minyak mentah juga berpotensi menahan laju pemulihan ekonomi Indonesia.

“Di sisi impor, tahun ini akan mengalami pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dibanding tahun 2009, yakni 15 persen. Pemulihan ekonomi dunia tentu saja memberikan dampak positif pada peningkatan permintaan impor, baik impor bahan baku maupun barang mentah,” ujar jebolan Boston University, Amerika Serikat.

Lebih lanjut Rizal membeberkan, pemulihan ekonomi  akan dipengaruhi oleh tingkat daya saing industri setiap negara. Artinya, tiap-tiap negara memiliki peluang untuk menangkap peluang pemulihan ekonomi yang berbeda-beda, tergantung pada tingkat daya saing produknya.

“Negara dengan daya saing tinggi, tentu akan mampu mengambil manfaat dari pemulihan ekonomi dunia lebih baik. Sedangkan negara-negara yang tidak memiliki daya saing cukup besar akan sulit untuk mendapat manfaat tersebut. Sepertinya posisi Indonesia ada di katagori kedua. Ini membahayakan,” ucapnya serius.

Sementara itu, Hendri Saparini menuturkan, Econit menyebut 2010 sebagai “A Year of the Judgement” (Tahun Penentuan Ekonomi), mengingat berbagai akumulasi masalah hukum dan politik yang terjadi pada akhir 2009. Misalnya kasus Bibit-Chandra, Antasari Azhar dan bailout Bank Century, yang akan memberi dampak sosial politis cukup besar bagi pemulihan ekonomi Indonesia.

“Jangan lupa pula bahwa tahun 2010 diawali dengan kemerosotan kepercayaan terhadap pemerintahan SBY dan Bank Indonesia. sby dan BI mengalami tekanan sangat berat. Ini terkait temuan bpk terhadap berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan BI dan LPS serta indikasi penyalahgunaan wewenang oleh mantan Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang  sangat

Hendri Saparini, Ekonom dari Econit
Hendri Saparini, Ekonom dari Econit

mengganggu kredibilitas mereka,” papar Hendri lugas.

Karena itu, sambung Hendri, penuntasan masalah tersebut menjadi kunci awal untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dan para investor. Selain itu, pola kepemimpinan SBY maupun kinerja Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II akan menentukan arah politik dan ekonomi 2010-2014.

“Kalau kepemimpinannya lemah dan tidak mendorong perubahan-perubahan yang signifikan, maka tentu saja pemulihan ekonomi jadi terhambat,” cetus lulusan ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM).

Selain mengingatkan adanya ancaman kenaikan harga produk-produk pangan, Hendri juga mengemukakan bahwa 2010 paling tidak akan ada tiga kenaikan harga yang diatur pemerintah. Ketiganya menyangkut harga bbm, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan harga pupuk. Rencana kenaikan harga ketiga komoditas tersebut sudah direncanakan tahun lalu.

“Termasuk pemotongan subsidi untuk ketiganya, yang telah dirancang dalam apbn 2010. Dari beberapa alasan di atas, Econit lantas menyebut 2010 sebagai tahun penentuan ekonomi Indonesia,” jelasnya.

Hendri kemudian mereview Economic Outlook 2009. Awal 2009, Econit memprediksi bahwa tahun 2009 sebagai “A Year of Retrenchment” (Tahun Pengkerutan) pada ekonomi Indonesia. Prediksi Econit tersebut ternyata terbukti. Ekonomi Indonesia pada 2009 telah mengalami pengkerutan yang cukup signifikan.

“Ekonomi tumbuh jauh di bawah tingkat pertumbuhan 2008 (6,1 persen), bahkan di bawah target yang telah direvisi pemerintah (4,5 persen). Berbagai sektor strategis juga mengalami perlambatan pertumbuhan, seperti perdagangan dan pertanian. Banyak fakta yang menunjukkan terjadinya retrenchment ekonomi Indonesia. Saya berharap, prediksi Econit untuk 2010 tidak meleset,” ujar Hendri optimis. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 81 Tahun II, 20-26 Januari 2010, halaman 27)

2 thoughts on “2010, Ekonomi Indonesia di Persimpangan

  1. Iindah Juli 17, 2010 / 5:44 am

    kalau negara ini ingin sempurna baik dan benar berita apun tolonglah para penyelenggara negara ini, bicaralah sesuai kenyataan yang bukan yang positif atau negatif

  2. Iindah Juli 17, 2010 / 5:46 am

    jangan kedepankan suatu masalh menurut cara pandang masing-masih seolah-olah tak ada prosedur poemat penilaian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s