Skandal Century: Pilih Menunggu Setahun atau Menculik Pemilik Century

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Kenapa rapat berlangsung malam hingga dini hari?

Selama rapat, apakah mereka ditelepon Presiden SBY?

Dua pertanyaan sederhana itu dilontarkan Kwik Kian Gie, ekonom yang juga mantan Menteri Koordinator Ekonomi periode 1999-2000 dan Ketua Bappenas periode 2001-2004. Kwik mensinyalir banyak kejanggalan dalam pengucuran dana talangan (bailout) untuk Bank Century (sekarang Bank Mutiara) sebesar Rp 6,7 triliun.

“Kenapa rapat baru dimulai pukul 00.00 dan berakhir pukul 06.00 pagi hari? Apakah ini ada kaitannya dengan kunjungan Presiden SBY ke Amerika, yang ketika itu di sana pukul 12.00 siang? Lalu, apakah selama rapat berlangsung, Presiden SBY menelepon, karena waktu itu ada wakil dari pemerintah yang ikut rapat?,” tanya Kwik, usai menjadi pembicara dalam peluncuran buku Koruptor Go To Hell, di Jakarta, kepada Indonesia Monitor, Rabu (16/12).

Menurut Kwik, pertanyaan tersebut harus dijawab secara jelas oleh para peserta rapat yang memutuskan bailout. Kwik menilai proses bailout sangat tidak wajar dan terindikasi adanya tindak pidana korupsi.

Kwik Kian Gie
Kwik Kian Gie

“Saya melihat kejanggalan dengan adanya perubahan peraturan Bank Indonesia (BI) yang mengatur tentang syarat kecukupan modal, dari 8 persen menjadi fleksibel di atas 0 persen. Padahal, itu kan tidak dipenuhi Century,” tukas ekonom jebolan Nederlandsche Economiche Hogeschool, Rotterdam, Belanda.

Kejanggalan lain, papar Kwik, menyangkut nilai bailout yang menggelembung. Berdasarkan surat rahasia dari Gubernur BI No.10/232/GBI/Rahasia/20 November 2008, sebenarnya telah disiapkan dana sebesar Rp 632 miliar untuk masalah ini. Namun, kenyataannya pengucuran dana mencapai Rp 6,7 triliun.

“Jadi, saya menganalisa suntikan dana itu tidak untuk menyelamatkan bank, tapi untuk menelikung peraturan bahwa (blankeet guarantee) nasabah bank dijamin hanya sampai Rp 2 miliar. Bailout terhadap Century hanya supaya orang besar yang punya dana lebih dari Rp 2 miliar mendapatkan uangnya kembali dan menyelamatkan deposan-deposan besar itu,” jelasnya geram.

Langkah mem-bailout Century yang disampaikan pemerintah sebagai antisipasi untuk dampak sistemik sama sekali tidak dapat diterima Kwik. Pasalnya, Century hanyalah bank berskala kecil. Kwik juga melihat track record dan catatan keuangan Century buruk. Ditambah lagi adanya perubahan peraturan BI yang dilakukan secara tiba-tiba.

Seperti diketahui, Bank Century merupakan merger tiga bank, yaitu Bank CIC, Bank Danpac, dan Bank Pikko. Ketiga bank ini, menurut ahli ekonomi kelahiran Pati, Jawa Tengah, yang mengutip laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), sejak lahir memiliki jejak rekam buruk di dunia perbankan.

Bank Century
Bank Century

“Bank CIC sebelumnya money changer, lalu Bank Danpac merupakan famili CI. Sementara Bank Pikko yang pemiliknya Benny Tjokro, melakukan tindakan tidak benar dibursa saham dan dihukum. Jadi, sangat aneh jika BI memberikan izin merger dengan risiko bangkrut karena reputasi ketiga bank ini tidak sehat,” ungkapnya heran.

Keheranan Kwik kian bertambah melihat adanya pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mau menyimpan dananya sebesar Rp 412 miliar di Bank Century. Padahal, sejak awal Bank Century sudah diketahui busuk. Karena itu, Kwik mendukung langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengungkap skandal besar yang dirancang sangat rapih itu.

Dalam kesempatan yang sama, wakil ketua KPK Bibit Samad Rianto menegaskan, kasus Century melibatkan unsur keuangan negara. Pernyataan Bibit terkait adanya wacana bahwa tidak ada uang negara dalam kasus Century.

Wacana itu didasarkan pada argumentasi bahwa uang Rp 6,7 triliun yang dikucurkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bukan uang negara, karena dana LPS didapat dari premi sejumlah bank. Menurut Bibit, LPS didirikan dengan menggunakan modal awal yang didapat dari pemerintah sebesar Rp 4 triliun.

“Selain itu, LPS akan berkoordinasi dengan pemerintah melalui persetujuan DPR jika LPS kekurangan dana,” tegasnya kepada Indonesia Monitor.

Ketika disinggung soal kapan penyelesaian Century, Bibit tidak bisa memastikan persis waktunya. Menurutnya, kasus Century sangat rumit, apalagi banyak dana yang sudah mengalir kesana kemari, tak jelas arahnya.

“Mungkin butuh waktu setahun. Yang jelas, KPK tetap konsisten pada penanganan kasus-kasus besar yang sangat merugikan keuangan negara, termasuk Century” ujarnya tersenyum.

Sementara itu, pengacara senior Adnan Buyung Nasution mengatakan, Centurygate adalah kasus besar yang harus diusut tuntas. Menurut Buyung, sebuah kebijakan yang dikeluarkan pejabat negara bisa saja diadili, seperti kebijakan bailout terhadap Century.

“Koruptor itu musuh negara, musuh rakyat dan musuh bersama. Karena itu saya mengusulkan, tangkap (culik) saja itu para koruptor, termasuk pemilik Century (Robert Tantular), walaupun belum ada proses hukumnya. Sebab, keadaan saat ini sudah bisa dikatakan extra ordinary,” katanya lantang kepada Indonesia Monitor, Rabu (16/12). (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 77 Tahun II, 23-29 Desember 2009, halaman 27)

Iklan

One thought on “Skandal Century: Pilih Menunggu Setahun atau Menculik Pemilik Century

  1. Agung Suparjono Januari 2, 2010 / 4:09 pm

    kalo saya berharap duit sebanyak itu untuk kesejahteraan rakyat saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s