Perekonomian 2010 Kurang Menggairahkan

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Kondisi perekonomian nasional tahun 2010 diperkirakan masih rapuh dan menghadapi ancaman serius. Belum pulihnya perekonomian global, diberlakukannya perdagangan bebas hingga berlarutnya penyelesaian kasus Bank Century menjadi penyebabnya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dituntut segera turun tangan.

Kesepakatan perdagangan bebas China-ASEAN (China-ASEAN Free Trade Agreement/CAFTA) sudah diteken beberapa waktu lalu. CAFTA resmi mulai diberlakukan 1 Januari 2010. Era ini menandai kian derasnya produk-produk Cina yang membanjiri pasar domestik.

Berbagai kalangan menilai, implementasi CAFTA menjadi awal kehancuran bagi banyak industri di Indonesia. Industri tekstil,  makanan, minuman, kosmetik, fiber sintetis, elektronik (kabel) dan peralatan listrik serta kerajinan rotan terancam gulung tikar. Industri permesinan, besi dan baja pun akan tergerus akibat CAFTA. Muara dari semua itu adanya penurunan produksi dan potensi lonjakan angka pengangguran secara drastis.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Firmanzah, mengatakan, sebaiknya pemerintah Indonesia segera mengirim surat kepada Pemerintah China untuk menegosiasi ulang CAFTA. Pasalnya, beberapa sektor industri dianggap belum siap, sehingga CAFTA perlu ditunda.

“Lebih baik pemerintah Indonesia membayar denda karena penundaan itu, daripada banyak industri dalam negeri yang kesulitan dan mati berbarengan dalam tempo singkat. Kasihan mereka yang terkena imbasnya,” saran Firmanzah kepada Indonesia Monitor, Sabtu (26/12).

Namun, kata Firmanzah, jika pintu proses negosiasi ulang sudah tertutup, maka pemerintah harus segera memproteksi industri dalam negeri. Misalnya pemerintah secara kontinue mendorong dan membuat kebijakan yang mempromosikan produk dalam negeri, sebagaimana dilakukan di Amerika Serikat.

“Pemerintah harus memperkuat pasar domestik dengan meningkatkan daya saing produk nasional agar dapat meminimalisasi dampak negatif CAFTA. Insentif kepada dunia industri harus diberikan. Ketegasan dan keberanian pemerintah untuk mengurangi ekonomi biaya tinggi (high cost economy) juga perlu diambil,” tambah Firmanzah.

Di satu sisi, sambung Firmanzah, adanya CAFTA memang membuat masyarakat senang. Dalam hal ini, para konsumen tidak perlu mengeluarkan banyak uang, karena produk-produk Cina dijual dengan harga murah (low price).

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan, menambahkan, CAFTA hanya menguntungkan pedagang (importir), bukan produsen.

“Seharusnya CAFTA ditunda sampai industri dalam negeri benar-benar mapan dan siap bersaing. Maksimal dua tahun lagi. Apalagi implementasi CAFTA menyebabkan potensi penurunan penerimaan dalam APBN 2010. Nah, defisit APBN perlu diwaspadai, terutama karena pembiayaannya berasal dari penerbitan surat berharga negara. Ini akan mengakibatkan utang baru,” tegas Dani Setiawan.

Menurut Dani Setiawan, keputusan liberalisasi pasar menjadi bukti bahwa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah gagal melindungi nasib rakyat kecil. Dani tidak sepakat jika urusan tersebut hanya diserahkan pada satu departemen atau menteri saja.

“Presiden SBY mestinya segera turun tangan, supaya jangan hanya pengusaha-pengusaha besar yang diuntungkan. Sebab, selama ini muncul kesan seperti itu,” kritik Dani Setiawan.

Selain penerapan CAFTA, wajah ekonomi 2010 masih dipengaruhi belum pulihnya krisis global. Direktur Center Bank of Crisis (CBC) Ahmad Deni Daruri yang juga analis perbankan, mengemukakan, saat ini berbagai negara tengah berlomba-lomba merecovery perekonomiannya, termasuk Indonesia.

“Misalnya pemerintah menjanjikan penurunan bunga kredit perbankan. Jika itu dibuktikan dan bank-bank mau melakukan ekspansi kredit, maka kredit perbankan akan tumbuh 10-15%,” Deni Daruri memprediksi.

Penurunan bunga kredit perbankan, menurut Deni Daruri dan Firmanzah, akan membangkitkan bisnis properti, sektor riil dan komoditas, karena permintaan naik. Pendapat keduanya seirama dengan hasil terawangan paranormal kondang Ki Joko Bodo. Ki Joko Bodo malah menambahkan, bisnis hiburan, rumah sakit dan pendidikan swasta juga akan booming.

“Kalau bisnis barang (makanan) akan busuk, nggak laku. Sebaiknya pada 2010 dihindari saja,” cetus Ki Joko Bodo.

Menurut Firmanzah,  pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pemerintah sebesar 5,5 persen pada 2010 bisa terjadi apabila pemerintah sesegera mungkin memperbaiki infrastruktur jalan dan  memenuhi kebutuhan listrik nasional. Selain itu, pemerintah harus mempercepat reformasi birokrasi dan mengubah beberapa peraturan yang menghambat investasi.

“Pemerintah juga harus mendorong dan meningkatkan nilai ekspor, utamanya industri berbasis kekayaan alam,” kata Firmanzah.

Sementara itu terkait kasus Bank Century, menurut Deni Daruri memang tidak berpengaruh apa-apa terhadap perekonomian maupun perbankan tanah air. Bank Century hanyalah bank kecil dan asetnya juga tidak banyak. Namun, bila kasus itu tidak dituntaskan, maka akan menghambat masuknya para investor. Dalam hal ini, Firmanzah sependapat dengan Deni Daruri.

“Kelambanan penyelesaian Century mengindikasikan tidak adanya kepastian politik hukum, maupun ekonomi. Padahal semua investor butuh kepastian. Sementara pada saat yang sama, Singapura, Vietnam dan Thailand sedang berlomba menggaet investor. Jadi, menurut saya, Century harus selesai paling lambat kuartal pertama 2010, apapun keputusannya,” tegas Firmanzah.

Ekonom dari Econit Hendri Saparini menyatakan hal yang sama. Hendri memprediksi, Centurygate yang tidak diselesaikan secara cepat dan tuntas, ditakutkan akan menjadi ‘duri dalam daging’. Artinya, bisa jadi perekonomian 2010 akan lebih suram dari tahun sebelumnya. Pasalnya, investor sudah cukup sabar untuk wait and see. Mereka tidak mau menunggu lebih lama lagi.

Sedangkan Ki Joko Bodo mengatakan, persoalan Century hanyalah dagelan politik. Para pihak yang meributkannya masing-masing membela diri dengan menyodorkan fakta-fakta yang dianggap benar. Padahal, fakta-fakta itu sebetulnya palsu alias hasil rekayasa semata.

Dengan cara begitu, tambah Ki Joko Bodo, semakin lama masalah Century akan semakin dikaburkan. Pada akhirnya, berita Century akan hilang sendiri lantaran tertutup oleh isu dan pencitraan baru yang dibuat oleh sebuah sistem yang sangat kuat dan canggih. Di sisi lain, masyarakat sudah jenuh mengikuti berita Century.

“Jadi, nanti nggak ada hasil konkretnya. Padahal, menurut saya, kasus Century sama sekali tidak berpengaruh terhadap kondisi perekonomian 2010,” kata Ki Joko Bodo. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 78 Tahun II, 30 Desember 2009-5 Januari 2010, halaman 27)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s