Investor Timur Tengah Melirik Perbankan Syariah Indonesia

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Memasuki bulan pertama setelah tahun baru, persaingan perbankan di Indonesia akan semakin sengit. Para investor Timur Tengah mulai menanamkan investasinya dalam perbankan syariah.

Awal 2010, dunia perbankan syariah Indonesia akan diramaikan investor-investor baru dari Timur Tengah. Hal tersebut dikatakan Utusan Khusus RI untuk kawasan Timur Tengah, Alwi Shihab, disela acara Prospect and Developments of Indonesia Islamic Banking Under The New Tax Regime, di Menara Syafruddin Bank Indonesia, Jakarta, Senin (7/12).

Alwi Shihab mengungkapkan, investor dari Kuwait yakni Kuwait Financial House (KFH), akan melakukan ekspansi bisnis syariahnya dengan membuka bank baru pada Januari 2010. KFH merupakan lembaga keuangan ternama di Kuwait, mendapat rangking teratas dan masuk katagori excellent dalam daftar 500 lembaga keuangan teratas di seluruh dunia atau The Banker’s List.

Selain Kuwait Financial House, lanjut Alwi Shihab, konsorsium dari Saudi Arabia, Yaman, Qatar, dan Bahrain juga akan masuk ke Indonesia untuk membuat bank baru.

“Mereka (negara-negara Timur Tengah) sudah merintis pendirian bank syariah sejak empat tahun lalu. Berita terakhir yang saya terima, mereka akan merealisasikan investasinya pada Januari 2010. Qatar National Bank juga sedang gencar merintis dan mengakuisisi saham mayoritas dari beberapa bank lokal dalam beberapa bulan ini. Prosesnya saat ini sedang dalam tahap negosiasi,” tukas Alwi Shihab.

Bagi para investor Timur Tengah, sambung Alwi Shihab, Indonesia dilihat sebagai ladang inventasi yang tepat dan tidak perlu diragukan lagi. Di Indonesia, jumlah umat Islam yang terbesar di dunia. Ini tentu pangsa pasar yang menggiurkan bagi para investor. Sejak perbankan syariah kali pertama didirikan pada 1991 (baca Bank Muamalat), masyarakat dan kalangan pengusaha muslim sangat antusias menyambut kehadirannya.

“Apalagi sekarang sedang digodok tax insentif dalam pengembangan bank syariah oleh pemerintah dan Bank Indonesia,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Mulya Siregar, Deputi Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, menuturkan, ada dua investor yaitu Albarkah dan Asian Finance Bank, yang sangat tertarik untuk mengakuisisi atau membeli bank (konvensional) lokal. Keduanya kemudian akan mengkonversi ke bank syariah.

“Belum lama ini mereka sudah menemui kita. Sejujurnya ini yang kita tunggu-tunggu untuk mengembangkan perbankan syariah di Indonesia,” ujar Mulya Siregar.

Hadirnya para investor Timur Tengah juga berkaitan dengan pengesahan UU No. 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai (PPN). UU itu akan mampu mendorong industri dan meningkatkan kinerja.

“Investor mulai tertarik setelah double taxation dihapuskan di Indonesia,” cetusnya.

Mulya Siregar memprediksi, secara pesimis aset perbankan syariah 2010 akan tumbuh 26%, sedangkan secara optimis akan tumbuh hingga 81%. Optimisme itu akan tercapai jika didukung oleh pertumbuhan non organik, yaitu masuknya investor ke sektor perbankan syariah nasional.

Dalam kesempatan yang sama, M Syafii Antonio, Anggota Komite Pengawas Bank Syariah, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit perbankan syariah hingga akhir 2009 diprediksi hanya akan mencapai 20 persen. Padahal target semula dicanangkan 25 persen. Jika merujuk tahun sebelumnya pada 2008, angka itu menurun tajam dibanding pertumbuhan kredit syariah yang mencapai 38 persen.

Di antara penyebab hal tersebut, sambung Syafii Antonio, kondisi sektor riil yang kurang kondusif sejak akhir tahun lalu, yang diikuti dengan penurunan kinerja pembiayaan. Selain itu, semakin ketatnya persaingan dengan bank konvensional menyebabkan penurunan profitabilitas bank syariah.

“Perkembangan kegiatan penyaluran dana perbankan syariah, terutama dalam bentuk pembiayaan, juga mengalami pelambatan dengan laju pertumbuhan sebesar 18,16 persen. Itu artinya lebih rendah dari 2008 sebesar 47,25 persen. Agar pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia dapat berkembang pesat, maka yang strategi yang harus dilakukan adalah gencar melakukan promosi secara besar-besaran ditelevisi, seperti produk iklan,” tutur Syafii Antonio. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 76 Tahun II, 16-22 Desember 2009, halaman 27)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s