Kasus Century Lelet, Investor Asing Bisa Kabur

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Penyelesaian double case BC yang lelet jadi penyebab kaburnya para investor. Ketegasan pemerintah dan kecepatan aparat penegak hukum pun sangat dinanti semua pihak.

Kondisi perekonomian tahun 2010 tidak bisa dilepaskan dari situasi ekonomi 2009. Setidaknya itu salah satu point penting yang mengemuka dari hasil diskusi Polemik Radio Trijaya bertajuk Prospek Ekonomi 2010 Pascakasus Century, di Warung Daun, Pakubowono, Jakarta Selatan, Sabtu (5/12).

Hadir dalam acara itu Hendri Saparini, Ryan Kiryanto, dan Yanuar Rizky. Hendri Saparini mengatakan, berlarutnya penyelesaian double case BC atau kasus ganda, yakni Bank Century dan Bibit-Chandra, menyebabkan para investor luar negeri siap hengkang. Sebetulnya yang dibutuhkan investor hanya kepastian hukum dan penuntasan double case BC yang sungguh-sungguh.

“Jika dua kasus ini tidak diselesaikan secara cepat dan tuntas, maka ditakutkan akan menjadi ‘duri dalam daging’. Cobalah semua pihak menahan emosi, lalu berpikir jernih. Kalau terus-terusan begini, maka perekonomian tahun 2010 akan lebih suram,” cetus Hendri Saparini, ekonom dari Econit.

Menyoroti kasus Bank Century, Hendri Saparini menyatakan, penuntasannya jangan hanya dari sisi korupsinya saja. Lebih dari itu, yang tak kalah pentingnya ialah menyangkut sisi pelanggaran undang-undang maupun peraturan yang dilakukan oleh bank sentral (Bank Indonesia) dalam upaya penyelamatan Bank Century.

“Apakah undang-undang atau peraturan itu perlu ada yang direvisi atau dihapus saja, supaya kasus Century tidak terulang kembali di kemudian hari?” Hendri bertanya.

Hendri Saparini yang mengaku beberapa kali bertemu dengan para investor menambahkan, kekhawatiran para investor sangat bisa dimaklumi. Pasalnya, mereka sudah cukup sabar untuk wait and see sejak double case BC membetot perhatian publik.

“Pertanyaan mereka, berapa lama lagi mereka harus menunggu hingga dua kasus itu dituntaskan? Nah, ini kan kunci jawabannya ada di pemerintah dan aparat penegak hukum. Saya ingatkan lagi, jangan sampai mereka memilih negara lain sebagai lahan investasinya. Sepengetahuan saya, ada beberapa investor yang sudah menanamkan dananya ke negara-negara baru, seperti Laos dan Kamboja,” beber Hendri Saparini kepada Indonesia Monitor, usai diskusi.

Perhatian investor pada double case BC juga dibenarkan Ryan Kiryanto. Pengamat perbankan dan ekonom senior Bank BNI itu menganalisa, blow up dari media terhadap dua kasus BC membuat investor tidak segera mengambil keputusan untuk berinvestasi di Indonesia. Ryan memprediksi, jika persoalan Century tidak terselesaikan secara tuntas, maka performance 2010 akan terdiskon dari apa yang terjadi di tahun 2009.

Lebih lanjut Ryan menjelaskan, adanya double case BC menjadi salah satu faktor yang memukul industri perbankan. Akibatnya, kondisi kredit perbankan 2009 tidak berprestasi seperti pada 2008. Jika tahun lalu pertumbuhannya mampu mencetak level tertinggi hingga 30 persen, namun hingga November 2009 hanya tumbuh 5-5,5 persen.

“Itu berarti jauh dari target yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 20 persen,” tegas Ryan.

Menurut Ryan, pada 2009 perbankan nasional memang diakui kesulitan memberikan kredit yang menyebabkan sektor riil sulit tumbuh. Sekitar 40-50 persen dari kegiatan perbankan memperoleh pendapatan dari fee based income, bukan dari pemberian kredit. Oleh karena itu, bank sentral sebagai regulator, diharapkan harus bisa mendorong perbankan nasional supaya melakukan intermediasinya secara baik untuk menggerakkan sektor riil.

Selain itu, Ryan berharap, pertumbuhan kredit perbankan 2010 dapat mencapai kisaran 20-24 persen, jika menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar lima hingga enam persen. Asumsinya, setiap satu persen pertumbuhan ekonomi harus mampu menaikkan pertumbuhan kredit empat persen.

“Faktor kunci yang mempengaruhi ketangguhan ekonomi dalam negeri adalah masih luasnya pasar dan tingginya tingkat konsumsi,” cetus Ryan.

Pengamat pasar modal dari Aspirasi Indonesia Riset Institut, Yanuar Rizky, sepakat dengan pendapat Hendri Saparini maupun Ryan Kirmanto. Prospek ekonomi 2010 akan berjalan meliuk-liuk jika Century gate tidak segera diselesaikan.

“KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) segera bertindak menuntaskan Century, tanpa harus menunggu hasil hak angket Century di DPR. Cuma KPK yang bisa menangani secara cepat. Apalagi publik sudah menaruh harapan besar kepada KPK. Ini kan sebenarnya kasus simple dan jelas. Hanya saja sekarang aspek politisnya yang lebih menonjol,” sindir Yanuar bersemangat.

Menyinggung Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 2010, Yanuar memperkirakan akan bergerak dikisaran 2500-2600 sampai triwulan I-2010. Hal tersebut dikarenakan belum adanya kepastian di pasar global, dimana IHSG sangat dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan bank sentral negara maju.

“Kemungkinan Maret 2010 akan terjadi pergerakan yang cukup signifikan lantaran pengaruh dari Amerika yang meminta rekening fiskal harus ditutup pada bulan tersebut. Karena itu, adanya potensi krisis fiskal perlu diwaspadai,” kata Yanuar. (Tulisan ini dimuat di Tabloid INDONESIA MONITOR, Edisi 75 Tahun II, 9-15 Desember 2009, halaman 28)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s