Nasionalisme ‘Manusia Beton Bertulang’

Peresensi Lukman Hakim Zuhdi

Judul buku: Cakrawala Roosseno

Penulis: Eka Budianta

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta

Tahun: Cetakan I, Juli 2008

Tebal: xviii + 333 halaman

Harga: Rp. 90.000,-

“Insinyur Indonesia tidak kalah pandai dengan insinyur asing. Jangan mudah menyerah dan jangan merasa rendah diri dengan insinyur asing.”

Pidato yang membangkitkan semangat nasionalisme dan sangat heroik tersebut disampaikan Prof. DR (HC) Ir. Raden Roosseno Soerjohadikoesoemo sekitar bulan Pebruari 1973, di Hotel Indonesia, Jakarta, di hadapan para insinyur dan calon insinyur. Roosseno secara sungguh-sungguh tengah menanamkan jiwa patriotik yang mandiri dan mendorong mereka untuk menjunjung tinggi etika profesi. Gemuruh tepuk tangan sontak membahana, mengundang decak kagum hadirin.

Roosseno adalah pakar konstruksi, pakar jembatan, pakar gedung bertingkat, pakar beton bertulang, pakar beton pratekan, dan pakar rekayasa. Ia putra terbaik Indonesia yang dikenal sebagai pelopor pendidikan, penelitian, pengembangan, dan aplikasi praktis sains dan teknologi beton bertulang serta beton pratekan/prategang. Pengagum Albert Einstein ini tercatat memegang hak paten atas sejumlah temuan beton bertulang atas namanya. Orang kepercayaan Bung Karno (Presiden RI) ini pun menjadi salah satu tokoh yang masuk daftar cendekiawan dunia.

Dalam menghadapi insinyur dan konsultan asing, semboyan harus percaya diri bahwa konsultan nasional tidak kurang keahliannya sering diucapkan Apong –panggilan kesayangan Roosseno—. Ia menegaskan, kita harus jadi tuan rumah di negara sendiri. Jika diberi kesempatan, tenaga ahli nasional dapat diandalkan menangani proyek-proyek besar, bahkan lebih dari konsultan asing. Apong membuktikan ucapannya. Dunia pun mengenangnya teristimewa karena jasanya merestorasi Candi Borobudur. Organisasi Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mengakui, restorasi Borobudur adalah proyek pemugaran monumen Budha paling akbar dalam sejarah planet ini.

Roosseno menjadi ketua tim mega proyek itu sejak 1969. Pengerjaannya memakan waktu sepuluh tahun lebih dengan mengerahkan 700 pekerja. Anggota timnya terdiri dari pakar dan ahli pemugaran serta insinyur terkemuka dari lima negara, yaitu Jepang, Amerika Serikat, Belgia, Jerman (Barat), dan Indonesia. Lebih dari dua juta keping batu dibersihkan, dirawat dan disusun kembali satu per satu setelah diberi landasan yang kuat, beton bertulang. Setiap keping batu punya nomor induk dan catatan khusus yang pernah diperlakukan kepadanya. Hal ini lebih rinci dari sekadar catatan medis seorang pasien yang didokumentasikan dokternya.

Kecermatan Roosseno sungguh luar biasa. Lelaki asli Madiun, Jawa Timur, ini menerapkan dan sangat memperhatikan empat prinsip pemugaran, yakni otentisitas bahan, otentisitas desain, otentisitas teknik pengerjaan, dan original setting. Hasilnya, restorasi yang dipimpinnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, teknis, kultural, maupun moral. Candi Borobudur, seperti diprediksi Roosseno, kelak mampu bertahan dan tetap tegak seribu tahun lagi. Disinilah ia berhasil mengangkat wibawa Indonesia ke pentas dunia. Sejak itu, namanya langsung meroket, menjadi bahan perbincangan para ilmuwan sejagat.

Hampir semua relasi, murid dan orang-orang yang mengenalnya berkata bahwa Roosseno memiliki vitalitas luar biasa. Ia penuh semangat dan gembira saat bekerja, selain humor dan canda khasnya yang tidak ketinggalan. Terpenting lagi, ia nyaris tak pernah sakit atau mengonsumsi obat-obatan. Dengan vitalitas luar biasa, kecerdasan dan daya tanggap yang tinggi terhadap zaman, ‘Dewanya Teknik Sipil Indonesia’ ini menjadi bagian istimewa dalam sejarah. Ia mengkonstruksi dan membangun hotel, pelabuhan, jembatan, gedung bertingkat, maupun menara di hamparan bumi nusantara. Hotel Indonesia, Tugu Monumen Nasional (Monas), Masjid Istiqlal, Gedung Bank Indonesia, dan Menara Televisi Republik Indonesia, beberapa di antara hasil rancangannya.

Pelataran (platform) Monas berukuran 45 meter x 45 meter menjadi saksi bisu kali pertama struktur-struktur beton pratekan kreasi Roosseno terwujud di Indonesia, tahun 1961. Satu lagi yang dikenangnya dengan bangga; Jembatan Rantoberangin di atas Sungai Batanghari, Riau, sepanjang 200 meter, yang dibuat tahun 1973, sebagai jembatan beton pratekan pertama di Indonesia. Selanjutnya, Jembatan Rajamandala di atas Sungai Citarum di Rajamandala, Cianjur, Jawa Barat, sepanjang 222 menter yang paling disukainya. Jembatan hasil otak-atiknya itu merupakan bentangan paling panjang di Indonesia, pada zamannya.

Julukan ‘Manusia Beton Bertulang’, ‘Manusia Kongkrit’, ‘Manusia Seratus Jembatan’, dan ‘Manusia All Round‘ pantas diberikan kepada Roosseno. Ia ingin membangun Indonesia dengan caranya sendiri; menumbuhkan gedung, menghamparkan jembatan, dan mendirikan bangunan kokoh lainnya, sebanyak mungkin supaya bisa dinikmati publik. Beragam jenis jabatan dan penghargaan tingkat nasional maupun internasional yang diterima tidak membuatnya puas atau merasa hebat. Ia tetap rendah hati dan terus belajar, termasuk kepada para kuli bangunan yang sama sekali tidak mengenal teori konstruksi dan beton bertulang.

Banyak orang yang menyebut Roosseno tidak pelit terhadap ilmu. Ia bersedia membagi semua ilmu dan pengetahuannya kepada siapa saja, tanpa meminta imbalan satu rupiah pun. Ia hanya ingin membuat anak-anak Indonesia jadi cerdas dan pintar, karena Apong paling kecewa bila menyaksikan kebodohan. Tekadnya sudah bulat; bercita-cita agar semua anak bangsa dapat mengakses pendidikan tinggi yang berkeadilan dan bermutu tinggi, khususnya bidang teknik, dengan tidak menghilangkan nation and character building.

Diingatkan penulis buku ini, Eka Budianta, Roosseno bukan manusia super dan sempurna. Cerita sukses tidak selalu berpihak kepadanya. Roosseno pernah kecewa dan sedih terkait ide maupun hasil karyanya. Pertama, runtuhnya Jembatan Sarinah yang menghubungkan Toserba Sarinah dan Jakarta Theatre, di atas Jalan Wahid Hasyim. Karya monumental yang direncanakannya tahun 1964 itu ambruk pada 28 Februari 1981, lantaran diperlakukan dengan sangat ceroboh oleh penggunanya. Di atasnya ditaruh barang berton-ton, dan kabel perentangnya dipotong.

Kedua, tidak berhasilnya ide Roosseno meningkatkan daya pikul gelegar komposit baja beton dengan memberikan prakompresi. Gelegar komposit baja beton pada jembatan terdiri dari gelegar baja I yang memikul beban lalu lintas melalui pelat beton bertulang sebagai lantai kendaraan. Gagasan cemerlang itu dicetuskan tahun 1975, kemudian disebarluaskan melalui tulisan dan dibahas dalam berbagai seminar nasional maupun internasional. Namun, Roosseno harus menunggu 15 tahun sebelum Departemen Pekerjaan Umum memutuskan menerapkan sistem tersebut pada jembatan di atas Kali Ciliwung di kawasan Condet. Jembatannya terdiri dari 3 bentang dengan panjang bentang berturut-turut 24 m, 48 m dan 24 m dengan 2 buah pilarnya berada di sungai. Ternyata sistem ini tidak bekerja seperti yang diharapkan.

Beberapa tahun berikutnya, Roosseno mengakui salah mengambil keputusan, terkait kepentingan masyarakat luas. Ia menghapus sistem transportasi trem listrik  akhir 1980 ketika menjabat Menteri Perhubungan, kemudian menggantinya dengan bus PPD (Perusahaan Pengangkutan Djakarta). Setelah itu, sepanjang hidup, tiap kali melihat bus PPD melintas di jalan raya, batinnya selalu berkata, “Sejujurnya ini kesalahan saya yang tidak mungkin terlupakan.” Dari sini diketahui, ia sesungguhnya manusia sportif yang berani bertanggung jawab dan secara jantan mengakui kekeliruannya. Ia tidak mau sembunyi tangan atau mencari kambing hitam. Pribadinya dikenal sangat menjunjung tinggi keterbukaan dan kejujuran.

Inspirasi Roosseno

Roosseno telah menjadi piatu sejak usia 8 tahun. Sewaktu kecil, ia sering berjalan meniti jembatan di atas Bengawan Madiun. Suatu hari dari arah Barat tampak lampu bersinar. Ia menepi ke pilar jembatan. Suara gemuruh

Roosseno Soerjohadikoesoemo

melintas dan menghilang dalam sekejap mata. Itulah kereta ekspres dari Batavia ke Surabaya. Kereta dan jembatan yang telah memberinya sebuah cita-cita: menjadi insinyur. Ia menghabiskan waktu untuk membaca banyak buku. Ia akrab dengan Tung Yen-Lin, Gauss, Monier, dan Rudyard Kippling. Ia berbicara dengan Archimedes, Isaac Newton, ahli fisika, matematika, dan filsafat yang memenuhi pikiran dan perbuatannya.

Roosseno termasuk manusia cerdas, bahkan terbilang jenius. Tuhan telah menakdirkannya begitu istimewa. Pada 1 Juli 1944, ia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang diangkat sebagai profesor (kyooju) oleh pemerintah balatentara Nippon di masa Jepang, pada sekolah teknik Bandung Koogyo Daigaku dalam ilmu mekanika dan beton serta baja. Waktu itu usianya 35 tahun. Fakta tersebut menegaskan bahwa ia ikut menjadi ‘pribadi yang bangkit’ dari kalangan pribumi atau inlander yang dianggap terbelakang menjadi ahli matematika dan mekanik terkemuka, sama baik dengan teman-temannya, orang Eropa.

Dalam satu kesempatan Roosseno menyatakan, dirinya dilahirkan ke dunia untuk mengabdi kepada masyarakat melalui sains dan teknologi. Pernyataannya bukan bualan semata. Ia telah membuktikannya sebagai ilmuwan, mengajar, mengerjakan proyek di lapangan, dan sangat gencar memperjuangkan hak-hak kekayaan intelektual. Maka, Roosseno menjadi pionir di kalangan teknopreneur, yaitu pakar teknik yang terjun di dunia wirausaha. Dalam berorganisasi dan bermasyarakat pun ia sangat piawai. Ia aktif di berbagai yayasan, organisasi, dan perusahaan. Ia mendirikan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan menjabat ketua umum Gabungan Pemborong Nasional Seluruh Indonesia (Gapensi).

Ketenaran dan kharisma Roosseno menggaung dimana-mana. ‘Bapak Beton Indonesia’ yang hidupnya serba rasional dan praktis ini mampu bekerja dan menulis sama banyaknya. Karya-karya ilmiahnya menjadi rujukan, buku-bukunya diikuti dan hasil kreasinya dikagumi. Tetapi jarang yang tahu bahwa ia sering hidup pas-pasan. Hal itu terjadi karena ia tidak mata duitan dan sangat benci korupsi. Penghasilannya terkenal lebih rendah daripada yang didapat para asistennya. Ia pun tidak pernah lebih kaya dari keenam anaknya; Toeti Heraty, Radiastuti, Hannyoto, Cometa, Amalia, dan Damiyanti, yang sukses secara intelektual, sosial maupun finansial. Ketika seorang putrinya sudah bisa membeli mobil Mercedez misalnya, Roosseno masih menyetir sedan plymouth tua atau nangkring di atas sepeda motor Yamaha 650 cc yang selalu membawanya kemana-mana hingga usia 79 tahun.

Bintang Roosseno mulai meredup ketika Raden Ayu Oentari, istrinya, meninggal dunia 15 Juli 1988, hanya dua pekan menjelang pesta ulang tahun Roosseno ke-80. Semangat hidup si Mawar Bimasena itu benar-benar menurun drastis. Ia kehilangan segalanya. Jiwa dan raganya limbung. Setahun setelah Oentari pergi, Roosseno masuk ke sebuah gereja di kawasan Bogor. Rupanya ia tidak tahan hidup sendiri. Ia menikah dengan Henriette Bernadette alias Henny Nangka. Tidak banyak yang mengikuti saat-saat terakhirnya setelah menikah lagi. 

Prof. Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata, Guru Besar Emeritus Universitas Tarumanagara yang pernah menjadi mahasiswa sekaligus mantan asistennya menuturkan, sampai akhir hayat, Roosseno tetap tegar, pantang menyerah menghadapi rintangan hidup maupun dalam bidang profesinya. Semuanya dilandasi oleh jiwa pengabdian untuk kemajuan dan kejayaan tanah air dan bangsanya. Dalam usia senja, ia tampak bahagia dan bangga melihat mantan-mantan mahasiswanya dan generasi muda pada umumnya telah berhasil mengambil alih dengan baik tongkat estafet pengembangan keinsinyuran di Indonesia dari tangannya. (halaman 321)

Eka Budianta menggaris bawahi, Roosseno patut menjadi teladan: hidup bersahaja, sederhana, disiplin, pekerja keras, berprestasi serta menikmati rahmat dan karunia Tuhan dengan wujud nyata. Penyuka tembang Once I have a Secret Love dan Sepanjang Jalan Kenangan yang wafat di Jakarta, 15 Juni 1996, ini akan selalu dikenang dunia dan penerusnya. ‘Profesor Gratis’ ini telah mengajari anak cucu, rekan-rekan sebangsanya untuk tetap berhati lembut, romantis, dan penuh cinta kasih, sekalipun dunia berubah menjadi belantara beton. Terbukti nasionalismenya tidak main-main. Merah putihnya jelas dan nyata.

Andai saja buku visiografi ini tidak ditulis oleh penulis handal yang beberapa kali sukses menggarap buku biografi, maka isinya kurang ’renyah’ dibaca. Eka Budianta secara cerdas memilih pendekatan sastra yang memungkinkan pembaca mengikuti perjuangan Roosseno, lengkap disertai interaksinya dengan ibu, ayah, tokoh-tokoh yang dikagumi, dan orang-orang yang dicintai serta mencintainya. Saya berani menjamin, Anda akan terhindar dari rasa bosan ketika membaca keseluruhan buku ini, meski ada sekelumit pembahasan yang sering diulang-ulang.

(Tulisan resensi ini dimuat di Harian Umum Seputar Indonesia –SINDO–, Jumat, 20 November 2009, halaman 12)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s