Catu: Bertahan Dengan Temulawak

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Nama asli Catu (54), tanpa imbuhan nama depan atau belakangnya. Dulu, orang tuanya berharap, dengan pemberian nama yang mudah diingat dan

Catu
Catu

dilafalkan itu, perjalanan hidup anaknya akan selalu dinaungi kemujuran.

“Kata orang tua saya, catu artinya untung,” kata Catu, pemilik usaha minuman sehat tradisional Cap Putri Kencana yang memproduksi temulawak dan jamu sari akar.

Nyatanya benar. Saat ini Catu termasuk orang yang beruntung. Ia masih bisa mempertahankan usahanya, meski harus jatuh bangun. Catu menuturkan, sebelum 2005, usaha temulawak menjamur dimana-dimana. Di Jabodetabek, kurang lebih ada 115 pabrik temulawak. Rata-rata pemiliknya menangguk untung besar, sukses.

Namun, hanya dalam tempo empat tahun, jumlah pabrik temulawak menyusut drastis. Banyak usaha yang mendadak mati. Catu memperkirakan tak lebih dari 30 pabrik yang hinggi kini mampu bertahan. Khusus di Jakarta, hanya tersisa 10 pabrik temulawak.

“Saya ini salah satunya yang masih eksis. Yang membuat pabrik tewulawak rontok adalah kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak), pada 2008. Selain itu, temulawak kalah saing dengan minuman suplemen yang diproduksi perusahaan besar,” papar Catu.

Temulawak merupakan minuman tradisional yang berkhasiat menyegarkan badan, termasuk melancarkan air seni. Usaha ini termasuk salah satu jenis usaha minuman yang rentan kadaluarsa. Bila sering terkena sorot matahari, warnanya yang semula kuning bisa berubah putih.

Kisah pertemuan Catu dengan temulawak dimulai sejak 1980-an. Ketika itu Catu bekerja pada sebuah pabrik temulawak. Setelah beberapa tahun ikut orang, pria asal Majalengka, Jawa Barat, itu bertekad mendirikan usaha sendiri. Ia tahu prospek usaha ini cukup menjanjikan. Keputusan pun diambil; Catu rela menjual rumahnya sendiri di Majalengka untuk dijadikan modal awal.

Di kawasan Cawang, Catu bersama istri dan ketiga anaknya mengontrak sebuah rumah. Di sebelah rumahnya didirikan saung sebagai tempat produksi temulawak. Ia merekrut beberapa anak putus sekolah untuk dipekerjakan. Pelan-pelan usahanya berkembang. Pemasarannya meliputi Jakarta Timur, Jakarta Utara hingga Bekasi. Keuntungannya pun mulai nampak.

“Saya bisa menikahkan Sunenti, anak pertama,” Catu tersenyum.

Cuma tiga bulan Catu merasakan enaknya jadi pengusaha temulawak. Badai moneter yang menghempaskan perekonomian Indonesia dengan naiknya BBM dan sembako berkali-kali, juga berimbas pada usaha Catu. Order temulawak dari para pemilik warung mengalami menurun.

Catu kelimpungan. Kondisi tersebut jelas mempengaruhi dapur rumah tangganya. Selain mengurangi produksi temulawak, ia mengerahkan kemampuan lainnya; membuat jamu sari akar. Jamu itu berkhasiat mengurangi rasa letih, mengatasi kencing tidak lancar, pegal linu, masuk angin, sakit pinggang, serta menambah nafsu makan.

“Tetap saja, itu tak bisa mengangkat pemasukan saya. Modal saya malah habis,” tukasnya.

Catu nyaris putus asa, khawatir kedua anaknya, Agus dan Yuliani, tak dapat melanjutkan sekolah. Beruntung, Rawiti (46), sang istri, mengerti dan menangkap kegelisahan suaminya. Rawiti yang pintar memasak, spontan punya ide jualan nasi uduk dan gorengan. Lumayan, keuntungannya bisa menutupi kebutuhan harian.

Menghadapi situasi ekonomi yang sangat sulit itu, tiba-tiba Catu teringat masa lalunya di kampung. Dulu, sewaktu kecil, ia kerap membantu ibunya dagang kue serabi. Usai sekolah, Catu tak malu berkeliling jualan es lilin dan kerupuk. Sesekali ia meringankan pekerjaan bapaknya dengan menarik gerobak. Kemiskinanlah yang membuat Catu harus memeras keringat kala usianya belia.

“Iya yah, terus kenapa sekarang saya harus menyerah? Bismillah, ayo bangkit!” tekad Catu dalam hati.

Catu menata kembali usaha temulawaknya yang runtuh akibat krisis. Diam-diam Dompet Dhuafa (DD) Republika mengamati usaha dan kegigihan Catu.

Catu di Tempat Produksi Temulawak
Catu di Tempat Produksi Temulawak

Catu pun digandeng sebagai mitranya.

“Saya bergabung dengan Masyarakat Mandiri DD, dengan program urban KPMS (Kelompok Pengusaha Makanan Sehat). Saya mendapat bimbingan dan pelatihan manajerial, keuangan dan pemasaran. Yang membuat saya lebih gembira, DD memberikan bantuan modal usaha,” bebernya.

Dana dari DD dipakai Catu untuk membeli bahan-bahan temulawak dan jamu sari akar, seperti gula pasir, nona sari, essen temulak, sintok, bolong-bolong, sari laut, cabe jawa, cengkeh, lada hitam, kapol, dan lainnya. Catu kemudian memanggil beberapa mantan anak buahnya untuk dipekerjakan kembali.

“Saya akan tekuni usaha ini. Prospeknya masih lumayan,” Catu berkeyakinan. (Tulisan tentang Perjuangan Para Mustahik ini merupakan hasil kerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika, yang juga divisualkan (ditayangkan) di JAKTV serta dimuat di Harian Jurnal Nasional)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s