Asbun Alfiali: Dunia Abun Dunia Anak-anak

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Pedagang itu tidak boleh marah, begitu pesan Asbun Alfiali (42). Asbun tak asal ucap. Pria yang karib disapa Abun itu punya dasarnya, termasuk

Asbun Alfiali
Asbun Alfiali

berangkat dari pengalaman pribadinya sewaktu jual es kueh.

Begini ceritanya. Hari itu Abun dagang es kueh di sebelah gerbang sekolah. Beberapa menit setelah bel istirahat dibunyikan, puluhan siswa siswi kontan berhamburan menyerbu dagangan Abun. Abun melayani satu persatu pembelinya.

Usai murid-murid meninggalkan gerobak es Abun, Abun melihat seorang siswa duduk menyendiri. Siswa itu tak membeli es kuehnya. Abun menduganya sedang tak memiliki uang jajan. Spontan Abun menghampirinya seraya memberikan sebuah es kueh gratis. Bocah itu menerimanya dengan senang hati.

Tak sampai lima menit, ibu siswa itu datang. Tiba-tiba si ibu menghampiri Abun dengan langkah tergesa-gesa dan memasang muka judes, lalu memarahinya. Karuan saja Abun bingung.

“Kamu pikir saya ini nggak sanggup beli es daganganmu yang murahan ini, heh?!? Saya tersinggung! Neh, es yang tadi kamu berikan ke anak saya, saya balikin lagi. Makan tuh!” Abun menirukan caci maki ibu itu kepada dirinya. “ibu itu melempar es kueh ke tubuh saya, lalu tangannya menggebrak gerobak es. Saya diam saja, sama sekali tak marah,” lanjut Abun.

Abun memegang petuah lama bahwa pembeli adalah raja, dan kadar kesalahan raja sangat sedikit. Maka, apapun yang dilakukan pembeli (raja) kepada penjualnya, harus diterima dengan lapang dada.

“Meskipun penjual ditendang atau dipukuli oleh pembeli, emosinya tak boleh naik,” Abun menegaskan.

Prinsip tersebut yang bertahun-tahun telah dicamkan betul dalam sanubari Abun, sejak mulai menjual es kueh keliling hingga kini menjadi pemilik usaha Es Kuehhh Uenaak Beneerrr Nusa Sari. Prinsip itu juga digetoktularkan kepada sebelas karyawannya yang setiap hari menjajakan es kueh di sekolah-sekolah.

Pria asal Sukabumi, Jawa Barat, itu menyusuri jalan panjang untuk menjadi bos es kueh. Usai menamatkan pendidikan Aliyah di Pesantren Syamsul Ulum, Sukabumi, Abun berkeinginan merantau ke Jakarta, mengikuti jejak kakaknya yang lebih dulu bikin es kueh.

“Untuk ongkos ke Jakarta, saya jadi kuli bangunan dulu,” kenang Abun.

Selama delapan bulan Abun memasarkan es kueh milik kakaknya sambil belajar meracik bahan-bahannya. Setelah menikah dengan Komariah (34), Abun bertekad ingin punya usaha sendiri. Ia membangun usaha bersama istrinya dengan bekal uang pinjaman dan peralatan sewa.

“Awal-awal saya punya tiga karyawan. Sehari, setiap karyawan bisa menjual 300 es kueh. Alhamdulillah…bagi saya, itu sudah luar biasa,” ujarnya, bangga.

Usaha Asbun lamat-lamat kian berkembang. Saat pasar memintanya untuk meningkatkan produksi, Asbun malah tak memenuhinya. Maklum, alasan klasik menjadi penghalangnya: kendala modal.

“Saya memang tak terlalu mencari untung dari jualan es kueh. Sejak awal

Asbun Alfiali
Asbun Alfiali

niat saya ingin menolong orang-orang yang nggak punya pekerjaan. Saya sadar, saya lahir dari keluarga kurang mampu dan sering dibantu orang lain,” bebernya seraya menerawang ke masa lalu.

Abun pernah mendengar adanya Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa (DD) Republika. Ia lantas bergabung dengan ISM dan memperoleh bantuan modal. Usahanya pun mendapat stempel Usaha Makanan Jajanan Sehat dan Halal dampingan MM dan DD. Tak sampai setahun, produksi dan pendapatannya dari es kueh sudah mampu menyaingi usaha kakaknya.

Es kueh buatan Abun tersedia dalam empat rasa: melon, duren, stroberi, dan anggur. Harga satuannya cukup terjangkau uang saku anak-anak, Rp. 500.

“Saya jual perbiji ke karyawan Rp. 200. Kalau sama bos es kueh lainnya, saya denger perbijinya dijual Rp. 300-Rp. 400. Biarin saya ngambil untungnya sedikit, asal keluarga saya bisa makan,” cetus ayah dari Neni (14), Fitri (11), Rizky (6), Rasyad (4,5), dan Basith (2).

Selain dagang es kueh, Abun memiliki usaha lain: penyewaan odong-odong. Ia memiliki delapan unit. Mainan anak-anak yang dibuat dan dirakit sendiri itu disewakan kepada remaja putus sekolah yang ingin bekerja.

“Dari dulu saya senang anak-anak. Makanya dua bisnis saya ada kaitannya dengan dunia anak. Dunia Abun, Dunia Anak-anak,” tandasnya sembari melempar senyum.

Belum lama ini, kesibukan Abun bertambah setelah ia menduduki kursi ketua KPMS (Kelompok Pengusaha Makanan Sehat) dan menjabat wakil ketua Koperasi ISM Cipinang.

“Sekarang aktivitas nambah satu lagi. Saya dipercaya MM untuk mengelola bakso rudal. Dana dan peralatannya sudah disediakan MM. Saya cuma pengelolanya, dengan dibantu satu karyawan. Sistemnya bagi hasil,” ucapnya penuh syukur.

(Tulisan tentang Perjuangan Para Mustahik ini merupakan hasil kerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika, yang juga divisualkan (ditayangkan) di JAKTV serta dimuat di Harian Jurnal Nasional)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s