Tangis Farda Tak Kunjung Berhenti

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Awal 2007. Bambang, suami Farda, masuk Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Ia menderita talasemia dan komplikasi.

Farda
Farda

Perut membesar, mata dan sekujur badan kuning, serta muntah darah. Talasemia merupakan penyakit kelainan darah yang ditandai dengan berkurang atau ketiadaan produksi dari hemoglobin normal.

Dulu, Bambang bekerja di perusahaan minuman berenergi. Namun, semenjak ginjal kanannya rusak, ia total menganggur. Farda kemudian yang menggantikannya mencari nafkah. Sisa maskawin 3 gram emas dijual untuk modal usaha. Farda jualan baju dan underwear wanita, keliling kampung.

Sejak Bambang dirawat, Farda tak lagi jualan. Ia lebih sering menemani suaminya. Kalau pun Farda pulang ke rumah, paling-paling untuk memastikan keempat anaknya; Rizki Apriliansah (15), Rizka Amelia (12), Rizqullah Akmal (8), dan Risma Azzahra (5), tidak kelaparan.

Kondisi Bambang membaik setelah dua bulan dirawat. Dokter memperbolehkan pulang, meski selanjutnya perlu rawat jalan dan transfusi darah. Farda sumringah. Berkali-kali mulutnya menyebut asma-Nya.

Farda kembali bekerja untuk menghidupi keluarganya. Namun, seminggu berselang, tiba-tiba Risma sakit. Mukanya pucat. Hemoglobin atau Hb-nya ngedrop, 1,2. Saat itu juga Risma dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD). Setelah dicek, dokter menyatakan Risma positif mengidap talasemia.

“Ya Allah…” Farda menghela napas, berusaha sabar menerima kenyataan, meski hati kecilnya protes.

Sebulan Risma di rumah sakit. Dokter mengingatkan supaya transfusi darah Risma jangan sampai telat. Farda manggut-manggut. Risma lalu dibawa pulang. Farda kembali mencari uang, lantaran suaminya tidak bekerja. Suaminya hanya bisa berbaring di tempat tidur sejak pulang dari rumah sakit. Saat itu, Farda bekerja sebagai marketing kartu kredit di bank asing.

Dua minggu berikutnya, giliran Rizqullah yang masuk rumah sakit. Hb-nya 3,7. Menurut dokter, Rizqullah terkena talasemia, persis seperti bapak dan adiknya. Farda bagai tersambar geledek di siang bolong, kaget tak terkira. Kepalanya berputar-putar. Degup jantungnya berdetak lebih cepat.

“Ya Allah, jika memang Engkau yang menghendaki semua ini, saya ikhlas…” Farda berkata pelan dalam hati.

Selang lima belas hari, Rizka mendadak tak bisa berjalan. Sekujur tubuhnya kaku. Farda panik luar biasa. Suaminya yang tergolek lemas di ranjang tidur, hanya bisa meneteskan air mata, gara-gara tak dapat menolong Rizka. Rizka dibawa RSCM. Dokter memvonis Rizka terkena talasemia SAO. Maksud dokter, seharusnya Rizka sudah wafat sejak dalam kandungan. Tapi, karena Rizka sampai sekarang masih bisa bertahan hidup, maka penyakit itu pun akan terus ada selagi Rizka bernapas.

“Istilahnya penyakit seumur hidup,” jelas Farda, mencoba menutupi kesedihan di wajahnya.

Bagi Farda, tak ada gunanya menangis. Sebab, hanya akan menjadi beban bagi suami dan ketiga buah hatinya. Farda seperti dihadapkan pada tembok besar; menyerah atau terus berjuang menembusnya. Rupanya anak ketiga dari empat bersaudara itu tak mau mengangkat bendera putih. Ia bertekad menyembuhkan orang-orang yang dicintainya, dengan jalan apapun.

Bambang menyarankan supaya rumah yang ditempati dijual saja untuk biaya perawatan anak-anak. Farda kurang setuju. Pasal, rumah itu satu-satunya aset yang masih mereka miliki.

“Kalau rumah ini dijual, kita tinggal dimana, Pak?” tanya Farda.

“Di rumah mertua. Insya Allah mereka ngerti kondisi kita,” jawab Bambang terbata-bata.

Selang sepuluh menit terdiam, Farda bersuara. Ia menyepakati usulan suaminya. Sebulan kemudian, saat kalimat takbir Idul Fitri menggema dimana-mana, penyakit liver Bambang kambuh. Ia kejang-kejang, tak sadarkan diri. Farda membawanya ke UGD. Sayang, nyawanya tak tertolong. Bambang wafat meninggalkan beban berat untuk istrinya. Innalillah…

Farda & Keempat Anaknya
Farda & Keempat Anaknya

Tangis Farda seketika pecah, ditengah riuh rendah kumandang takbir muslimin merayakan lebaran. Ia membayangkan jalan ke depan penuh aral. Farda harus berjuang seorang diri untuk menghidupi keluarga sekaligus membiayai pengobatan rutin ketiga anaknya yang terkena talasemia. Sementara itu, suaminya sama sekali tidak mewarisi harta kekayaan. Rumah yang selama ini ditempati, sudah jadi milik orang lain.

Farda yang pernah mengenyam bangku SMA, mencoba bangkit, menata kehidupannya. Ia ingin membuka usaha, namun terbentur modal. Dalam keadaan bingung, tanpa sengaja Farda berkenalan dengan Mbak Maria dari Lembaga Pelayanan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa (DD) Republika. Farda menceritakan semua masalahnya. Maria sampai terharu, lalu berjanji akan mengusahakan agar Farda mendapat bantuan DD.

Tak lama berselang, Farda menerima sejumlah uang dari DD. Separuh uang itu disimpan untuk ongkos ke rumah sakit, jika sewaktu-waktu anaknya harus transfusi darah. Sisanya dipakai modal jualan pop ice dan es jus di pinggir rel kereta api Petamburan, Jakarta Barat. Dari hasil dagang ala kadarnya itulah, ditambah hasil ngamen Rizki di buskota serta uluran tangan pihak yang peduli, perempuan berusia 38 itu bisa membeli beras dan mengobati ketiga anaknya.

(Tulisan tentang Perjuangan Para Mustahik ini merupakan hasil kerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika, yang juga divisualkan (ditayangkan) di JAKTV serta dimuat di Harian Jurnal Nasional)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s