Surana: “Sampahmu Jadi Tumpuan Hidup Saya”

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Siapa sangka, seorang tukang sampah bernama Surana (64), dapat menyekolahkan dua anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Di usia yang

Surana
Surana

seharusnya pensiun dan menikmati hidup, ia justru masih berjikabu dengan bau sampah.

“Kalau saya berhenti kerja, emang orang lain mau ngasih makan keluarga saya, heh?!,” katanya dengan suara meninggi.

Tiap pagi, Surana menarik gerobak sampah berukuran sedang yang sudah reot. Jalannya pelan-pelan. Ia menyambangi setiap rumah di lingkungan RT 006 Pondok Karya, Tangerang, Banten. Sampah yang dimasukan gerobak tak terlalu banyak.

“Takut bagian bawah gerobaknya jebol. Maklum, gerobak ini usianya hampir seperempat dari usia saya,” Surana terkekeh.

Bila gerobak dirasa sudah cukup mengangkut sampah, Surana membawanya ke kebon milik Pak Haji, masih di area RT 006. Ia kemudian kembali memungut sampah yang belum terangkut. Terkadang, ia harus beberapa kali bolak-balik, saking banyaknya sampah.

Kumandang adzan Dhuhur baru menghentikan aktifitasnya. Sejenak ia pulang ke rumah untuk menunaikan shalat dan makan. Selang sejam, ia kembali ke kebon yang luas tanahnya 3.700 meter persegi itu. Ia membakar tumpukan sampah yang tadi pagi diangkutnya. Sembari menunggu pembakaran selesai, biasanya ia menyiram kangkung dan mentimun yang ditanamnya.

Alhamdulillah, Pak Haji mengizinkan kebonnya ditanami sayuran. Katanya ketimbang nganggur. Saya bakar sampah di sini kan nggak pake bayar. Kalo misalnya satu saat Pak Haji minta uang pembakaran sampah, ya udah, saya pre jadi tukang sampah. Soalnya dimana-mana, pan kalo bakar sampah mah bayar,” cerocosnya.

Surana mengatakan, dirinya memang hanya tukang sampah biasa. Maksudnya, bukan pegawai tetap di lingkungan RT yang surat pengangkatannya berdasarkan tanda tangan ketua RT. Dulu, ketika kali pertama menginjakan kaki di Pondok Aren pada 1991, Surana baru berhenti dari jualan sayur.

“Kata Pak RT, ‘Pak, mau nggak kerja buang sampah, tapi nggak digaji RT?’ Artinya, penghasilan saya tergantung pemberian dan kebaikan orang yang punya rumah. Terus saya jawab, ‘Ya udah, nggak apa-apa.’ Saya cuma dimodali gerobak bekas,” tuturnya.

Sebelum ngontrak di Pondok Aren, Surana sudah beberapa kali pindah tempat tinggal. Beragam pekerjaan kasar pernah dilakoni, sejak ia datang ke Jakarta dari Indramayu awal 1960.

Dalam sebulan, penghasilan Surana dari uang sampah memang tak menentu. Rata-rata Rp. 500.000. Hampir separuhnya dipakai bayar kontrakan. Sedangkan penghasilan Carti (40), istrinya, cukup untuk sekadar menutupi kebutuhan harian dan ongkos sekolah anak-anak. Carti jualan sayur mayur di depan kontrakan.

Surana punya 6 anak. Anak pertama (Sarinah) dan kedua (Kadori) sudah berumah tangga. Anak ketiga (Kaerudin) telah bekerja begitu lulus SMA. Anak keempat (Halimah) baru semester tujuh di Darunnajah, Jakarta. Anak Kelima (Darwati), belum lama ini diterima Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Sedangkan anak terakhir (Ade) masih kelas 3 SMP.

Masya Allah…kalau dipikir-pikir, saya kok bisa menyekolahkan anak-anak. Padahal hidupnya selalu kekurangan. Allah memang Maha Pemurah. Ada saja pihak yang bantu saat saya kepepet. Misalnya waktu Halimah mau masuk Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Jakarta, bayar uang gedungnya kurang. Saya pontang-panting, nyari kesana kemari nggak dapet-dapet. Alhamdulillah tiba-tiba Pak Yuli dari Dompet Dhuafa (DD) Republika ngasih uang buat ngelunasinya. Katanya, ini bantuan dari DD,” paparnya, lega.

Begitu pun saat Darwati merengek-rengek minta didaftarkan kuliah di UIN, dengan biaya masuk 2,4 juta. Surana kalang kabut, lantaran tak punya uang sebanyak itu. Tapi demi pendidikan anak, ia rela pinjem duit ke tetangga.

“Anak ada kemauan untuk belajar, masak orang tua nggak dukung seh. Mereka nggak boleh bodoh seperti saya,” tegasnya.

Surana menceritakan, DD tidak saja membantu biaya pendidikan anak-anaknya. Jika keluarga Surana ada yang sakit, mereka langsung dilarikan ke Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) milik DD. Adapun untuk mendukung pekerjaannya, DD memberikan bantuan gerobak sampah dan sejumlah uang.

Surana
Surana

Surana bersyukur, setelah menggunakan gerobak yang ada logo dan nomor telepon DD, sampah yang terangkut jadi semakin banyak. Dengan demikian, kerjaannya lebih ringan, tidak sering bolak-balik.

Selain itu, kini Surana lebih kreatif. Ia memilah-milah sampah terlebih dulu sebelum dibakar. Kalau ada barang rongsokan yang bisa dijadikan uang, ia pisahkan. Tiga hari kemudian, setelah terkumpul banyak, baru dijual ke bos rongsok.

“Uang rongsokan saya kumpulin, buat biaya semester Darwati yang jumlahnya 1,8 juta,” pungkasnya. (Tulisan tentang Perjuangan Para Mustahik ini merupakan hasil kerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika, yang juga divisualkan (ditayangkan) di JAKTV serta dimuat di Harian Jurnal Nasional)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s