Umiyati: Tak Mau Menyerah Pada Keadaan

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

HISTERIS BERANDAL. Tulisan itu tertera jelas di dinding anyaman bambu tanpa cat tempat tinggal Umiyati (60). Mak U’um –begitu para tetangga biasa

Umiyati
Umiyati

memanggil Umiyati—bukanlah berandal, pengemis atau gelandangan. Perempuan asal Garut, Jawa Barat, itu hanya potret rakyat kecil yang tengah berjuang menghadapi kerasnya hidup. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak mau menyerah begitu saja pada keadaan yang terus menghimpitnya.

“Batin Mak menangis histeris bukan lantaran menyesali beban hidup yang semakin berat ini. Tapi Mak bersyukur hingga hari ini Allah SWT masih sayang kepada Mak dan keluarga Mak,” kedua bola mata Mak U’um berkaca-kaca.

Yah, Mak U’um merasa pantas berbahagia. Menurutnya, banyak sekali nikmat dari Allah SWT yang telah dirasakannya. Misal, kedua mata Mak U’um yang lima tahun lalu terkena sabun cuci, hingga kini masih bisa secara jelas untuk melihat deretan huruf hijaiyah di dalam Al-Quran. Setiap hari ia mengaji Al-Quran tanpa memakai kacamata. Padahal, kata Mak U’um, bila berjalan tanpa mengenakan kacamata, ia seperti orang mabuk. Jalannya sempoyongan, karena padangan matanya kurang terang.

“Waktu mencuci baju tetangga, mata Mak kecipratan sabun. Rasanya sakit, perih sekali. Mak langsung bersihin pake air, terus Mak kucek-kucek. Eh…kedua mata Mak malah jadi merah. Besoknya, kalau ngeliat orang jadi berbayang. Terus Mbak Sulis dari LPM (Lembaga Pelayanan Masyarakat) Dompet Dhuafa Republika membelikan kacamata untuk Mak. Alhamdulillah Mak senang sekali. Pandangan mata Mak jadi terang. Ngeliat orang nggak berbayang lagi,” cerita Mak U’um, panjang lebar.

Sayangnya, lama kelamaan, pandangan Mak U’um kembali kabur. Akhirnya kacamata itu tidak dipakai lagi. Ia menyimpannya di almari reot yang pojoknya sudah digerogoti tikus.

“Mau periksa ke dokter, Mak nggak punya duit. Akhirnya Mak biarkan saja mata Mak sakit sampai sekarang,” Mak U’um mengucek kedua matanya.

Setiap pagi, aktifitas Mak U’um mencuci baju milik seorang tetangganya. Siangnya, lepas shalat Dhuhur, nenek supel dan murah senyum itu biasanya mencangkul di kebun yang berada di belakang tempat tinggalnya. Ia membantu pekerjaan suaminya, Muhamad Ali (64), yang menanam ubi di tanah orang. Sebelumnya, Ali mencari duit dengan cara menjadi tukang sol sepatu dan sandal keliling. Sore hari, Mak U’um menyetrika baju yang tadi pagi dicucinya. Malam hari ia baru bisa beristirahat di gubuknya.

“Kalau nggak begitu, anak-anak Mak mau dikasih makan apa?,” tanyanya seraya melempar senyum.

Mak U’um punya 12 anak; 3 laki-laki, 9 perempuan. Dua anaknya telah lebih dulu menghadap Sang Kuasa (wafat). Sementara yang sudah berkeluarga 8 orang. Anak dan menantunya rata-rata bekerja serabutan. Ada yang jadi kuli bangunan, pemulung, ada pula yang pengangguran. Kini, tinggal dua anaknya yang masih sekolah; Wina dan Nur Alam. Wina duduk dibangku kelas 3 SMA, sedangkan Nur Alam baru tahun ini masuk SMA. Mak U’um berharap kedua anaknya kelak bisa menjadi dokter atau guru, agar nasibnya tidak seperti dirinya.

“Cucu Mak ada 32. Sebagian tinggal di Garut, sebagian lagi bersama Mak di sini. Kalau lagi ngumpul semua, rame sekali, desak-desakan. Maklum, tempatnya sempit sekali, kayak kandang kelinci,” Mak U’um terkekeh.

Sudah tiga tahun Mak U’um tinggal di gubuk berukuran 6×8 meter di daerah Kampung Bulak, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Ia menetap bersama sebagian anak, menantu dan cucunya yang masih kecil-kecil. Gubuk yang didirikan di atas tanah milik sebuah perusahaan itu disekat jadi tiga pintu. Mak U’um tinggal di bagian tengah yang sesak oleh barang-barang, pengap dan tentu saja panas.

Sebelumnya, Mak U’um sering berpindah-pindah tempat. Ia pernah beberapa kali ngontrak. Tapi karena tidak sanggup membayar uang bulanan, akhirnya diusir pemilik kontrakan. Sementara perabotan di rumah Mak U’um seperti meja, almari, dan televisi adalah pemberian dari LPM Dompet Dhuafa.

“Televisinya sudah hampir sebulan nggak disetel. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba gambarnya jadi hilang. Yang ada cuma suaranya doang,” selorohnya. Lagi-lagi Mak U’um tersenyum.

Gubuk itu, kata Mak U’um yang sudah 40 tahun hidup di Jakarta, sering bocor dan kebanjiran tiap kali hujan turun. Suaminya lalu menutupinya dengan kayu atau seng bekas seadanya. Namun, begitu bagian atap yang bocor selesai ditambal, bagian atap lainnya ikutan bocor. Alhasil, terkadang hingga hujan reda, suaminya baru selesai menambal bagian-bagian yang bocor.

“Kalau turun hujannya malam, itu yang membuat suami Mak kerepotan. Anak-anak dan cucu Mak jadi nggak bisa tidur, pada nangis. Kasihan mereka,” ujarnya tanpa basa basi.

Mak U’um tak sampai berpikir untuk memperbaiki tempat kediamannya yang sering bocor. Untuk memenuhi kebutuhan harian saja –umpamanya membeli beras dua liter—ia harus berpikir seribu kali. Sebagai buruh cuci dengan penghasilan perbulan sekitar 200 ribu, ia harus rutin membayar sewa tanah kontrakannya 100 ribu dan listrik 20 ribu perbulan. Belum lagi biaya sekolah kedua anaknya yang sering nunggak. Atau jika tiba-tiba cucunya meminta uang jajan, Mak U’um hanya bisa mengelus dada. Ia sama sekali tidak memiliki uang tabungan satu rupiah pun.

“Alhamdulillah, waktu mendaftar, kedua anak Mak dibayarin sama orang. Tapi selanjutnya Mak sendiri yang membayar semua biaya sekolahnya. Mudah-mudahan Mak bisa membiayainya sampai lulus, entah bagaimana caranya. Sekarang saja ijazah SMP Nur Alam ditahan pihak sekolah, karena masih ada tunggakan 300 ribu yang belum dibayar,” kata Mak U’um.

Soal menu makanan sehari-hari, Mak U’um dan keluarganya sudah terbiasa makan nasi putih, garam, kecap, dan kerupuk. Kalau kebetulan ada rezeki lebih, ia membeli tempe. Bagi keluarga Mak U’um, tempe termasuk lauk pauk yang mahal harganya. Melihat keadaan ekonomi Mak U’um yang serba kekurangan, ada saja tetangga yang menaruh iba. Misalnya mereka memberikan beras, mie dan telor. Dompet Dhuafa pun kerap membantu agar dapur Mak U’um tetap ngebul.

“Sebetulnya Mak nggak enak kalau terus-terusan dibantu sama tetangga atau orang lain, karena Mak tidak ingin merepotkan mereka. Memang Mak tidak pernah memintanya. Mereka yang mau datang sendiri. Biarlah Mak hidup begini, apa adanya. Mak tidak berani minjam duit ke tetangga, takut nggak bisa balikinnya,” tandasnya.

Bagi Mak U’um, kesulitan-kesulitan hidup yang terus menderanya harus tetap dijalani dengan penuh keikhlasan, kesabaran, rasa syukur, dan senyum. Barangkali, kata Mak U’um, Allah SWT tengah menguji keimanannya. Rasa syukur pun tak henti-hentinya diucapkan karena diri maupun anggota keluarganya senantiasa diberikan kesehatan alias jarang ada yang sakit.

Mak U’um yang mengaku rutin mengerjakan shalat Tahajud, shalat Dhuha, Shalat Hajat, dan mengikuti pengajian di masjid ini sudah memasrahkan hidup dan matinya kepada Allah SWT. Baginya, hanya kepada Allah dirinya berkeluh kesah dan mencurahkan air mata. Ia berusaha tidak ingin meminta-minta kepada orang lain, sesulit apapun kondisinya.

Namun, rupanya baru-baru ini ada informasi yang membuat cemas hati Mak U’um hingga tak pulas tidur malamnya. Ia mendengar selentingan kabar bahwa tanah yang sekarang ditempatinya sebentar lagi akan dibangun komplek perumahan. Kalau saja berita itu benar adanya, mau tak mau Mak U’um harus angkat kaki dan mencari tempat baru. Ini bukan perkara mudah bagi Mak U’um, karena tak tahu harus kemana lagi kakinya melangkah.

“Makanya, sebelum itu terjadi, Mak ingin sekali punya rumah sendiri, meskipun kecil. Yang penting bisa buat tidur anak-anak dan Mak bisa tenang beribadah,” harap Mak U’um seraya mengarahkan pandangannya ke tulisan HISTERIS BERANDAL. (tulisan tentang Perjuangan Para Mustahik ini merupakan hasil kerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika, yang juga divisualkan (ditayangkan) di JAKTV serta dimuat di Harian Jurnal Nasional)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s