Natirah Ratnasari: Bertahan Hidup Dengan Caranya Sendiri

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Masih terekam jelas kejadian empat tahun lalu dalam memori Natirah Ratnasari (40). Ketika itu, tanpa ada angin puting beliung atau

Natirah Ratnasari
Natirah Ratnasari

hujan badai, tiba-tiba saja Natirah ditinggal suaminya (dicerai). Menurut kabar yang diterima Natirah, suaminya menikah lagi dengan perempuan lain, yang usianya lebih muda. Kontan saja hati Natirah remuk. Ia berkali-kali protes, tapi tak pernah ditanggapi. Alhasil, perasaan campur aduk itu dipendam saja. Yang jelas, apapun alasan perceraian yang dikemukakan suaminya, bagi Natirah denyut kehidupan tak boleh berhenti.

“Dibilang sedih, ya saya sedih dan kaget. Wajar, namanya juga manusia…Tapi untuk apa saya larut dalam kesedihan itu? Toh hidup ini sudah ada yang mengatur, kan. Saya tinggal mencari hikmahnya,” Natirah beralasan, mencoba tegar.

Rupanya kepergian sang suami tidak saja melukai nurani Natirah. Suaminya juga meninggalkan hutang uang, kurang lebih 10 juta rupiah. Hutang itu dalam bentuk cicilan rumah tipe 21 yang belum lunas. Persoalan terakhir ini justru yang membuat Natirah pusing.

“Bagaimana saya harus melunasinya, sementara ketiga anak saya juga butuh uang sekolah?” Natirah membatin. “Tapi saya terus memotivasi diri bahwa saya harus bisa hidup dan tetap mempertahankan anak-anak agar terus sekolah, meski tanpa suami,” tegasnya.

Tekad dan cita-cita tersebut yang membuat kesedihan Natirah cepat berlalu. Ia tidak lagi memikirkan perceraiannya. Ia kerap meyakinkan ketiga buah hatinya; Anita Puspita Sari, Aditya Permana dan Lusiana Rahayu, bahwa kasih sayang yang selama ini didapatnya tak akan berkurang sedikit pun dengan kepergian bapaknya.

“Ibu yang akan menggantikan kasih sayang bapak. Ibu siap menjadi single parent,“ janji perempuan lulusan SMP itu.

Natirah yang sejak awal menikah sudah mencari uang sendiri dengan cara berdagang, tak terlalu khawatir periuk dapurnya mandek. Hanya saja, sekali lagi, ia perlu menyusun strategi khusus agar hutang cicilan rumahnya dapat terbayarkan dalam tempo 3 tahun.

“Rumah ini satu-satunya barang berharga yang ditinggalkan bapaknya anak-anak. Kalau tidak saya pertahankan, nanti anak-anak saya tinggal dimana?” Natirah bertanya.

Natirah mulai menata kehidupan baru dengan memaksimalkan ke’ahlian’nya. Ia membuat, menggoreng, membungkus, lalu menjual peyek. Para tetangga dekat di perumahan Bumi Sawangan Indah Pengasinan, Depok, Jawa Barat, menjadi sasaran jualannya. Ia menerapkan sistem door to door, dari pintu ke pintu. Ia tidak mau menaruh atau menitipkan peyeknya di warung-warung.

“Kalau peyek dijual langsung ke konsumen, itu masih fresh,” kata Natirah.

Diam-diam peyek buatan tangan Natirah yang enak, gurih dan renyah, membuat para pembelinya ketagihan. Dari hari ke hari para pembeli terus meningkat. Dalam waktu singkat, Natirah pun meningkatkan jumlah produksi peyeknya.

“Setelah dihitung-hitung, rupanya keuntungan jualan peyek hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya harus mencari cara lagi agar dapat pemasukan tambahan,” cetusnya.

Wanita yang sejak kecil didik orang tuanya agar bisa hidup mandiri itu tidak perlu waktu lama untuk menemukan sumber penghasilan lain. Selain jualan peyek, Natirah lantas membuat jamu kunyit asem.

“Perbotol jamu itu saya jual Rp. 5.000. Alhamdulillah, dari situ saya mulai bisa menabung sedikit demi sedikit,” ucapnya bahagia.

Keperluan hidup yang kian bertambah, memaksa Natirah berpikir lebih keras lagi untuk memperoleh uang tambahan. Apalagi, ketiga anaknya mulai beranjak remaja. Tentu kebutuhannya pun turut meningkat.

“Tiba-tiba saja saya kepikiran ingin jadi tukang ojek,” Natirah tertawa. “Tapi, apa nanti kata tetangga dan masyarakat? Mungkinkah anak-anak saya protes? Bukankah di daerah ini perempuan jadi tukang ojek termasuk sesuatu yang aneh?,” Natirah kembali tertawa. Semua pertanyaan itu berseliweran di otaknya.

Setiap menjelang tidur malam, Natirah selalu membayangkan dirinya sudah menjadi tukang ojek yang siap mengantar para penumpang kemana pun tujuannya. Tapi, bayangan akan cemoohan dan suara sumbang dari orang lain kembali menghantui Natirah.

Loh, saya kok seperti orang yang ketakutan, yah. Toh menurut saya ngojek itu pekerjaan yang halal dan mulia. Kenapa juga saya harus gengsi kalau tujuannya demi menghidupi keluarga dan anak-anak? Yang penting saya tidak merepotkan orang lain. Itu saja prinsipnya. Kalau begitu, bismillah, besok pagi saya mulai ngojek!” kata Natirah penuh semangat, lantas tidur.

Keesokan hari, Natirah tengah bersiap-siap untuk berangkat ngojek. Ketiga anaknya jelas merasa heran melihat tingkah sang ibu yang tak seperti biasanya. Natirah juga bengong melihat ketiga buah hatinya yang sejak tadi memperhatikan dirinya sibuk sendiri. Tak lama kemudian, mendadak Natirah menepuk keningnya.

“Astaghfirullah…Saya mau ngojek pakai apa, yah? Saya, kan, nggak punya motor!,” gumam Natirah.

“Ibu terlalu bersemangat, sih, mencari uangnya. Jadi nggak nyadar, deh…” celetuk si bungsu. Spontan semua tertawa.

Singkat cerita, Natirah mendapat pinjaman sepeda motor tahun 1990-an dari kakaknya. Mula-mula Natirah mengaku malu menjadi tukang ojek, apalagi jika harus nongkrong bareng bapak-bapak di pangkalan ojek.

Nah, saya pilih jadi tukang ojek pribadi saja. Saya datang ke rumah beberapa tetangga yang punya anak sekolah. Terus saya menawarkan jasa antar jemput untuk anak-anaknya. Tanpa saya duga, mereka mau menerima usulan saya. Alhamdulillah sampai sekarang saya punya sepuluh pelanggan tetap,” tuturnya.

Natirah membeberkan, jadwal ’kerja’nya dimulai pukul 06.00 WIB. Biasanya ia membawa 2 anak untuk sekali jalan ke tujuan sekolah yang sama. Setelah sampai sekolah, Natirah mengantar penumpang lainnya hingga terangkut semua.

“Pekerjaan seperti itu butuh ketepatan waktu dan kedisiplinan. Sebab kalau terlambat sedikit, bisa-bisa anak yang saya antar ketinggalan masuk sekolahnya. Boleh dibilang ini bukan pekerjaan sembarangan,“ tukasnya.

Setelah selesai mengantar anak-anak sekolah, Natirah pulang ke rumahnya. Ia mengambil dagangan peyeknya untuk dijajakan ke rumah warga dan warung-warung hingga pukul 10.00 WIB. Selanjutnya ia menjemput anak-anak sekolah sampai bedug Dhuhur berkumandang.

“Ba’da Dhuhur, saya ngambil anak-anak tetangga yang ditinggal kerja orang tuanya untuk saya asuh. Saya lalu membawa anak-anak itu ke rumah saya. Kalau anak itu nggak rewel, saya biarkan dia bermain-main. Sambil membuat adonan peyek, saya terus mengawasinya,” Natirah tersenyum.

Menjelang Maghrib, anak-anak itu dikembalikan lagi kepada orang tuanya. Natirah yang sejak pagi belum beristirahat, selanjutnya sibuk mempersiapkan alat penggorengan peyek. Anita (17) membantu ibunya menggoreng dan membungkus peyek hingga larut malam. Sementara Aditya (15) dan Lusiana (9) dibiarkan belajar.

“Anita sudah SMK, cara berpikirnya bukan anak-anak lagi. Sementara Aditya masih SMP dan Lusiana baru SD. Jadi, hanya Anita yang boleh membantu pekerjaan saya,” tandas Natirah.

Seusai menggoreng peyek, Natirah baru bisa merebahkan diri di kamar yang sudah ditempati Anita dan Lusiana. Itu pun biasanya setelah Natirah menyempatkan diri menggendong si belang, si empus dan si memeng.

“Seringkali saya berbicara (curhat) dengan kucing-kucing kesayangan saya itu. Ketiganya seperti mendengarkan kata hati saya bahwa saya bertekad ingin mengantarkan pendidikan anak-anak hingga ke jenjang perkuliahan,“ ungkapnya.

Baru beberapa jam memejamkan mata, Natirah kembali terbangun. Ia mengambil air wudhu, lalu shalat Tahajud. Segala permasalahan hidupnya dilaporkan kepada Allah SWT. Acapkali tanpa disadari, di sela-sela munajatnya, ia menangis hingga bercucuran air mata. Begitulah hari demi hari yang dijalani Natirah dengan penuh semangat dan senyum (tawa) khasnya.

“Berkat jualan peyek, jamu, jadi tukang ojek, atas bantuan LPM (Lembaga Pelayanan Masyarakat) Dompet Dhuafa Republika maupun pihak lain, saya tak menyangka cicilan rumah saya telah lunas dalam waktu 3 tahun. Motor pinjaman dari kakak sudah saya balikin, karena saya sudah beli motor sendiri. Alhamdulillah…,” ucapnya penuh syukur.

Kini, sertifikat rumah dan tanah yang didiami Natirah beserta ketiga anaknya sudah dipegangnya. Hanya saja, masih nama suaminya yang tertera dalam sertifikat itu. Nadirah pun tengah mengumpulkan uang 3 juta rupiah untuk biaya balik nama.

“Sebenarnya ada yang lebih penting dari itu. Saya ingin membuat kamar untuk anak gadis saya yang paling besar, biar kalau tidur nggak umpel-umpelan (desak-desakan). Kasihan dia, kan, sudah dewasa (Natirah sejenak terdiam, tatapan matanya kosong). Tapi, ngomong-ngomong darimana, yah, duitnya?“ Natirah mendadak tertawa. (tulisan tentang Perjuangan Para Mustahik ini merupakan hasil kerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika, yang juga divisualkan (ditayangkan) di JAKTV serta dimuat di Harian Jurnal Nasional)

3 thoughts on “Natirah Ratnasari: Bertahan Hidup Dengan Caranya Sendiri

  1. sgmendung Januari 19, 2010 / 12:11 pm

    Alhamdulillah pada dasarnya manusia indonesia adalah termasuk manusia-manusia yang berkualitas , mentalnya tahan tahan uji , semangatnya membara tanggung jawabnya utuh .
    Sayangnya keterbatasan wawasan keterbatasan akses informasi ,sikap sosial yang kurang peduli terhadap ketidak berdayaan orang lain , membuat masalah seperti Natirah silih berganti timbul dan terus timbul bahkan jumlahnya terus bertambah.
    Salut pada natirah yang berani menanggalkan ” mahkota ratu meratap ” Makasih

  2. pitidki April 29, 2010 / 11:36 am

    Pejalanan hidup yang amat mengesankan, semoga bisa menjadi contoh/panutan bagi para pembaca dari kisah nyatanya ibu Natirah ini.

    • lusyi Januari 7, 2012 / 5:39 am

      semoga ni menjadi contoh bagi kita semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s