Awaluddin; Balasannya Bukan Cuma Dua Kali Lipat

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Kisah ini bermula pada Januari 2007. Saat itu Awaluddin (kini berusia 38 tahun) melamar kerja di sebuah perusahaan ternama. Berbekal kepercayaan diri dan berkas-berkas yang disusun rapi di dalam map, ia menemui bagian personalia (HRD). Tanpa disangka, kepala personalia di perusahaan itu teman sekolahnya ketika SMP. Awaluddin kaget tak menyangka seorang sahabatnya bisa menduduki posisi penting.

“Saya benar-benar tidak tahu kalau ternyata itu teman saya. Untungnya saya dan dia masih sama-sama ingat. Akhirnya kami ngobrol ngalor-ngidul. Saya berkata dalam hati, saya pasti diterima kerja di tempat ini. Tapi, teman saya itu sepertinya bisa membaca hati saya. Dia buru-buru memberi tahu kalau untuk saat ini tidak ada lowongan pekerjaan. Saya langsung lemas, meski tak sampai kehilangan semangat,” cerita Awaluddin.

Awaluddin terus mencoba membujuk temannya agar bisa memasukan dirinya. Nah, kebetulan bos di perusahaan itu menghampiri kepala personalia. Awaluddin tercengang. Rupanya sang bos yang bernama Hambali adalah kawan SMA Awaluddin. Keduanya saling bertatap wajah, lantas tersenyum bersamaan. Singkat cerita, jadilah di kantor itu semacam reuni kecil.

“Sayangnya, Hambali juga tidak bisa menolong saya, karena perusahaannya tidak menerima pegawai baru. Malah, kata Hambali, pada hari itu perusahaannya justru akan mem-PHK lima orang karyawan akibat kesulitan keuangan. Saya melongo, lalu pamit pulang dengan perasaan campur aduk tak menentu,” kenang Awaluddin.

Selang beberapa hari, Awaluddin menceritakan keluh kesah sekaligus pengalaman pribadinya tersebut kepada Ustad Yusuf Mansur. Kata ustad, berarti rezeki Awaluddin belum ada di perusahaan itu. Sang ustad lantas menawarkan kepadanya untuk bergabung dengan PPPA Wisatahati..

“Tanpa pikir panjang, saya langsung terima tawaran dari beliau,” tegasnya.

Februari 2007 adalah moment istimewa bagi Awaluddin. Kala itu ia ‘resmi’ mendapat tempat untuk mengaktualisasikan diri di Pesantren Darul Qur’an, di bawah bimbingan Ustad Yusuf Mansur. Ia diberitugas sebagai teknisi umum. Itu saja sudah membuatnya bangga. Sebab, cerita Awaluddin, sebelumnya ia  tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan yang tetap.

Selama mengabdi di PPPA Wisatahati, Awaluddin tidak saja dapat mengenal sosok Ustad Yusuf Mansur secara lebih dekat. Lebih dari itu, ia jadi tahu ilmu dan tata cara sedekah yang efektif, semakin giat shalat dhuha dan qiyamul lail (bangun malam untuk mengerjakan shalat tahajud) serta lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui rutinitas shalat wajib tepat waktu.

Alhamdulillah…Tidak diterima kerja ternyata membawa hikmah yang sangat luar biasa, khususnya bagi pribadi dan keimanan saya,” selorohnya.

Suatu ketika, Awaluddin bercita-cita ingin memiliki rumah sendiri. Ia yang sudah lima tahun membangun rumah tangga dengan Jamilah dan telah dikaruniai seorang putri berusia tiga tahun bernama Nurmala Audina, selama ini merasa kurang nyaman tinggal di rumah kontrakan. Keinginannya itu lalu diutarakan kepada Ustad Yusuf Mansur. Ustad menyarankannya untuk mengikuti aturan PPPA Wisatahati.

“Saya kemudian setiap bulan bersedekah Rp. 550.000 untuk makan santri di PPPA. Itu saya lakukan selama sepuluh bulan. Ajaibnya, pada Februari 2008, saya mampu membeli sebuah rumah seharga 55 juta rupiah. Saya sendiri sampai bingung bisa punya uang sebanyak itu. Padahal, terus terang, saya tidak pernah menghitung uang ditabungan saya. Kok tahu-tahu jumlahnya sesuai dengan harga rumah itu. Subhanallah…Alhamdulillah…” tutur pria yang kini tinggal bersama istri dan anaknya di Ketapang, Cipondoh, Tangerang.

Bukti tersebut yang membuat Awaluddin bertambah semangat dalam hal sedekah dan kian getol beribadah. Ia sepenuhnya yakin bahwa jika seorang manusia mau menolong manusia lainnya dengan cara apapun yang dilandasi keikhlasan hati, maka Allah sudah pasti akan mengurai dan memberikan jalan terbaik dari segala kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapinya.

Belum lama ini –tepatnya awal Juli 2009—Awaluddin merasakan keajaiban lagi berkat sedekah. Ceritanya, siang hari ia mengunjungi rumah orang tuanya di daerah Ciputat dengan mengendarai sepeda motor. Begitu sampai di rumah ibunya, rupanya sang ibu tengah dibelit masalah.

“Waktu itu ibu saya sedang butuh uang Rp. 200.000 untuk bayar sekolah seorang anak yatim yang selama ini disantuninya. Kebetulan di dompet saya ada uang Rp. 200.000. Langsung saya sedekahkah uang itu kepada ibu saya, dengan maksud membantu anak yatim,” tandas Awaluddin.

Setelah menyerahkan uang, Awaluddin pamit pulang. Di tengah perjalanan, mendadak motor yang ditumpanginya mati. Ia menepi sejenak, mengecek busi dan mesinnya. Tanpa diduga, ada sebuah mobil pribadi berkecepatan sedang yang menyeruduk sepeda motor yang tengah melaju. Brakkk!!! Jarak motor itu hanya 10 meter dari tempat Awaluddin menepikan motornya.

Astaghfirullah…Pekik Awaluddin. Pengendara motor seketika terpelanting, mendarat diaspal. Tubuhnya penuh luka lecet. Motornya rusak berat. Awaluddin segera menolong pengemudi motor. Ia bahkan tak memperhatikan motornya sendiri yang masih distandar dua.

“Mungkin karena saya telah mensedekahkan Rp. 200.000, saya jadi terhindar dari kecelakaan hebat itu. Padahal, secara logika, justru saya yang terkena mobil itu. Yang menakjubkan lagi, saya malah diberi uang dua juta rupiah oleh keluarga pengendara motor yang tertabrak itu. Karena saya dianggap telah menyelamatkan nyawanya. Alhamdulillah…Ini dua rezeki yang luar biasa,” cetusnya. (tulisan tentang Keajaiban Sedekah ini merupakan hasil kerjasama dengan PPPA Wisatahati pimpinan Ustad Yusuf Mansur)

5 thoughts on “Awaluddin; Balasannya Bukan Cuma Dua Kali Lipat

  1. irawan santoso Oktober 1, 2009 / 8:23 am

    mantap sekali kisahnya….kalau bisa diperkaya lagi dengan kisah-kisah sejarah Islam, khususnya dengan cerita terkait. wassalam

  2. samsuri Maret 1, 2010 / 10:45 am

    genap usia pernikahanku 5th sesuai juga dengan umur kasur tdurku, yang namanya tempat tidur sdh lewat tua tentunya sudah lapuk, waktu itu adik ipar juga setelah nikah pindahan kekontrakan dari kos-kosannya yang sdh disediakan ibu kos, pas pindahan tentunya kamar dalam keadaan kosong, hanya tikar aja. dari situlah saya tergerak kasur yang sedang dipekai disedekahkan, pas satu bulan ketika saya mau beli kasur ada teman menyapaku, hai kemana aja…ngobrol ngalor ngidul yang akhirnya mau beli apaan tanya temanku? ini nyari springbad buat anak, jawabku. pilih aja tuh ada yang two in one, tinggalin aja alamatnya. berapa harganya? jawabku, tidak usah bayar nanti saya kirim beberapa hari ini. saya kaget bener apa ngga…, subhanllah bener juga selang 4 hari kiriman springbad itu sampe ke rumah kuang lebih seharga 2,5 jt.

  3. herman April 16, 2010 / 3:43 am

    subahanallah…….nikmatnya sedekah
    .semua karena allah swt.

    • Lim April 12, 2013 / 1:35 am

      Allah.. Mohon menulisnya pakai hrf bsr pak : )

  4. herman April 16, 2010 / 3:44 am

    subahanallah …..
    allahu akbar..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s