KH. Drs. Nasihin Abdul Gofur; “Hati-Hati Dengan Ramadhan”

Ramadhan adalah bulan penuh keajaiban. Beraneka keutamaan dan keistimewaan tersimpan di dalamnya. Antara lain, seperti dijelaskan KH. Drs. Nasihin Abdul Gofur, Ramadhan hadir untuk membakar dosa-dosa orang H. Nasihin AG 03Islam yang beriman sekaligus menyucikan jiwa-jiwa yang kotor. Sungguh ini sesuatu yang patut disambut dan disyukuri oleh seluruh umat Rasulullah SAW, mengingat kesempatan dan momentum tersebut hanya satu kali terjadi dalam setahun.

Namun demikian, Ketua Dewan Pembina Yayasan Daarul Islah, Kunciran Indah, Tangerang, Banten, itu justru mengingatkan agar muslimin maupun muslimat berhati-hati dengan Ramadhan. Ada apa sebenarnya? Benarkah masih banyak orang yang belum mengerti dalam menghayati hakikat Ramadhan? Berikut ini petikan wawancara Lukman Hakim Zuhdi dari Anggun dengan tokoh masyarakat yang wajahnya mirip musisi sekaligus ustad (almarhum) H. Gito Rollies itu.

Pertanyaan paling sederhana, apakah sesungguhnya makna Ramadhan?

Dari segi bahasa Arab, Ramadhan berarti ar-nidho, yang artinya panas membakar. Pada saat Ramadhan, Allah SWT membakar semua dosa orang Islam. Begini, ada orang  Islam, tapi mereka tidak beriman (istilahnya hanya Islam KTP –Kartu Tanda Penduduk—). Lalu ada orang Islam yang memang beriman. Dan ada orang yang beriman (percaya bahwa Tuhan itu Esa), tapi mereka tidak Islam.

Nah, dosa yang dibakar oleh Allah SWT adalah hanya dosanya orang Islam yang beriman. Semua dosa –baik dosa kecil maupun besar—pasti dibakar, dengan catatan mereka mau melakukan taubatan nasuha (tobat yang sesungguhnya, tidak main-main) pada saat Ramadhan.

Kalau kita melihat sejarah, umat-umat terdahulu juga berpuasa, kan. Misalkan umat Nasrani yang berpuasa selama 30 hari. Tetapi, puasa mereka bukan dinamai Ramadhan. Artinya, sebutan Ramadhan secara khusus hanya ditujukan bagi orang Islam. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, sepuluh hari pertama dalam Ramadhan adalah rahmat Allah. Sepuluh hari berikutnya ampunan Allah dan sepuluh hari terakhir ialah pembebasan dari api neraka. Inilah luar biasanya Ramadhan.

Para ulama kemudian membagi tiga tingkatan dalam berpuasa. Pertama puasa awam, yakni orang berpuasa Ramadhan, namun perilakunya tidak seperti orang berpuasa. Ini yang sering banyak terjadi pada masyarakat kita. Kedua puasa khawas, yaitu orang yang berpuasa sambil terus beribadah dan merenungi kehidupan. Sehingga, sepanjang berpuasa, dia mampu menjaga diri, hawa nafsu, lisan, maupun pandangan matanya. Jadi, seluruh anggota tubuhnya ikut berpuasa, tidak sekadar menahan haus dan lapar.

Ketiga puasa khawasul khawas. Puasa jenis ini umumnya dilakukan oleh para nabi dan wali (kekasih) Allah. Dalam tahapan ini, jiwa, raga maupun pikiran mereka senantiasa ikut berpuasa. Bagi mereka, umpama terbersit atau terlintas dalam pikirannya sedikit saja tentang menu makanan untuk buka puasa nanti, maka puasanya sudah batal.

Bisa disebutkan keistimewaan atau keutamaan Ramadhan?

Keistimewaan Ramadhan sangat banyak. Beberapa di antaranya, Allah SWT menyebut Ramadhan sebagai bulan suci. Maksudnya, Allah ingin membersihkan dan mensucikan jiwa sho’imiin (orang-orang yang berpuasa). Sho’im (satu orang yang berpuasa) memang fisiknya jadi lemah karena tidak makan dan minum selama beberapa jam. Namun, semestinya jiwa (ruh) mereka jadi kuat. Nah, itulah yang akan disucikan oleh Allah.

Selain itu, Ramadhan dinamai bulan penambahan rezeki dan melatih kesabaran. Misalnya sho’im berkata dalam hati, nanti sore mau buka pakai apa yah. Tahu-tahu, menjelang berbuka, ada saja rezeki, entah dari mana datangnya. Ramadhan disebut juga syahru tarbiyah (bulan pendidikan), yakni mendidik seseorang untuk berlaku disiplin, umpamanya terkait jadwal imsak dan berbuka puasa.

Pada akhirnya, hasil dari Ramadhan adalah la allakum tattaquun, yakni melahirkan orang-orang yang bertakwa. Dalam salah satu ayat Al-Quran disebutkan, wa mayyat taqillahaa yaj’al lahu makhraja  wa yarjuqhu min khaesu la yahtasib. Ketika seseorang sudah mencapai derajat takwa, maka Allah pasti membantu menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi dan Allah akan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak terduga.

Kenapa seringkali ada orang Islam yang tidak menyadari hakikat Ramadhan tersebut?

Pertama, mereka tidak punya kemauan dan niat yang kuat untuk mempelajari agama (Islam) lebih dalam lagi, khususnya tentang puasa Ramadhan. Kedua, bagi mereka, puasa diposisikan hanya sebagai budaya saja. Padahal, kata Rasulullah, man shoma  romadhonan imanan wah tisaban, ghufiro lahu ma takoddama min dambih wa ta’akhor. Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan sungguh-sungguh, maka dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang akan diampuni oleh Allah. Nah, secara sederhana, beriman berarti kita tidak pernah lepas sedikit pun dari Allah. Ini yang kerap tidak disadari oleh umat Islam.

Adakah arti Ramadhan bagi para lajang?

Para lajang –lelaki atau perempuan yang secara usia dan mental sudah siap menikah, namun belum dikarunia pasangan hidup—tidak perlu cemas. Ketahuilah bahwa

setiap manusia sudah punya jodoh. Pertanyaannya, maukah para lajang mengambil atau menjemput jodohnya? Kalau mereka sudah menyempurnakan ikhtiarnya, maka Allah tentu akan memberikan atau menunjukkan jodohnya.

Nah, Ramadhan adalah momentum paling baik bagi para lajang untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri) sekaligus menanyakan keberadaan jodohnya kepada Allah.  Allah berfirman, wa idza sa’alaka ‘ibadii fa inni qoriibun ujibud da’waati idza da’aani fastajibu lii wal yu’minuu bii la allahum yarsyudun. Ini ayat yang sangat penting berkaitan dengan sho’imiin.

Kata Allah, apabila hamba-Ku bertanya kepada-Ku tentang apapun, maka Aku (Allah) sangat dekat dengan orang yang berpuasa. Aku penuhi segala permintaan hamba-hamba-Ku, jika mereka mau meminta. Tetapi ada syaratnya, yakni  hendaknya mereka terlebih dulu mengerjakan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan oleh Allah kepadanya. Semua itu dimaksudkan agar mereka mendapat petunjuk dari Allah.

Jadi, untuk para lajang, mohonlah kepada Allah tentang apapun untuk kebaikan dan keberkahan diri, termasuk urusan jodoh. Namun yang paling utama, mintalah agar kelak memperoleh surga pada kehidupan akhirat.

Lantas, bagaimana jika kehadiran Ramadhan dihubungkan dengan orang yang sudah berkeluarga?

Orang Indonesia biasanya kompak dan sangat senang menghargai Ramadhan. Misalnya menggelar acara buka puasa atau makan bersama yang lazim H. Nasihin AG 04dilakukan di masjid-masjid, padahal pada hari-hari biasa tidak dilakukan. Ada lagi sahur on the road dan shalat tarawih berjamaah. Nah, hal-hal seperti itu jika bisa dilakukan oleh orang yang sudah berumah tangga di rumahnya, maka sangat indah sekali dan sungguh berkesan.

Ini sekadar contoh. Kebetulan saya punya kawan yang memiliki perusahaan sendiri. Setiap Ramadhan,  kawan saya itu selalu melonggarkan jam masuk kantor dan memajukan jam pulang kantor bagi para karyawannya. Selain itu, setiap hari para karyawannya yang berjumlah puluhan orang itu masing-masing diberi uang Rp. 10.000 sebagai uang beli kolak. Tujuan kawan saya itu supaya para karyawannya bisa berbuka bersama keluarganya di rumah.

Seperti yang saya ketahui juga, umumnya jam kantor lebih cepat pada Ramadhan dibanding bulan lainnya. Karena itu, menurut saya, tidak ada alasan bagi seseorang (apapun profesinya) untuk tidak bisa buka puasa di rumah bersama keluarga. Di sinilah peran Ramadhan yang mampu menyatukan antar anggota keluarga yang barangkali selama ini jarang berjumpa dan berkomunikasi di rumah.

Ada hal lain yang perlu disampaikan sehubungan dengan Ramadhan?

Kita patut bersyukur sebab Allah masih mempertemukan kita dengan Ramadhan kali ini. Dengan syukur itu, berarti kita masih bisa mendidik anak-anak, merajut kebersamaan dengan siapapun dan akan lebih memiliki cinta kasih terhadap semua makhluk Allah. Di samping kita berbahagia dengan datangnya Ramadhan, tapi kita juga harus berhati-hati. Ramadhan adalah bulan dimana Allah sangat bermurah hati dengan melakukan open house dan siap mengabulkan permintaan manusia. Karena itu, janganlah kita meminta sesuatu, berucap atau niat tentang yang jelek (buruk), melainkan memohon dan lakukanlah yang baik-baik saja. (hasil wawancara ini dimuat di Majalah ANGGUN edisi Ramadhan, September 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s