dr. Eko Setiawan; Rezeki Menurun Saat Sedekah Terlupakan

Pewawancara & penulis Lukman Hakim Zuhdi

dr. Eko Setiawan (29) sudah tiga tahun bekerja di Rumah Sakit Bakti Asih selaku dokter umum. Lajang kelahiran Tangerang, Banten, ini mengaku sebagai saksi hidup yang benar-benar merasakan manfaat dan keajaiban sedekah. Kisahnya bermula sejak ia mulai bekerja sebagai dokter jaga.

“Uang gajian pertama yang saya terima dari rumah sakit, saya sedekahkan sekian persen,” cetusnya, bersemangat.

Setiap bulan, Eko mengatakan pasti selalu bersedekah. Kebiasaan itu berlangsung hingga satu tahun ia bekerja. Ia menyisihkan beberapa persen, minimal 2,5 persen untuk disedekahkan kepada berbagai pihak yang berhak menerimanya. Namun, ia memberikan sedekah itu tidak hanya di satu tempat, melainkan bermacam-macam tempat. Tanpa disadari, pendapatan bulanan atau gajinya terus meningkat.

“Boleh dibilang kehidupan dan uang saya berkah. Semuanya ada manfaatnya bagi orang lain maupun diri saya sendiri. Selain itu, sepertinya uang di dompet saya nggak habis-habis,” ucapnya.

Memasuki tahun kedua, Eko merasa kebutuhan atau keperluan hidupnya kian hari kian bertambah. Akibatnya, sedekah yang biasanya dikeluarkan setiap bulan, sering kali terabaikan. Maksudnya, ia tidak lagi menomorsatukan sedekah.

“Entah kenapa, saya justru menganggap sedekah sebagai prioritas nomor 2 atau 3. Bahkan, begitu hampir habis bulan, saya baru ingat menyisihkan uang untuk sedekah. Tentu nilainya jadi sedikit. Padahal, pada tahun pertama bekerja, saya selalu memisahkan uang sedekah di awal bulan yang jumlahnya bisa banyak. Anehnya, dua bulan kemudian, pendapatan bulanan saya turun lebih dari 50 persen. Rasanya sedih banget…” keluhnya.

Bulan berikutnya, pengeluaran Eko semakin membengkak, sementara pemasukannya menurun drastis. Dalam pandangannya, nilai mata uang rupiah makin kecil saja. Alhasil, kebutuhannya banyak yang tidak terpenuhi. Jelas ada rasa kecewa yang sangat menyesakkan hatinya. Hal tersebut berlangsung selama enam bulan.

Eko mencoba introspeksi diri (muhasabah) menyangkut perjalanan hidupnya setahun terakhir. Dalam waktu yang bersamaan, tempatnya bekerja sedang menjalin kerjasama dengan PPPA Wisatahati. Kebetulan, menurut Eko, owner (pemilik) Rumah Sakit Bakti Asih kenal baik dengan Ustad Yusuf Mansur.

Ustad Yusuf Mansur pun kerap memberikan bimbingan rohani kepada para karyawan, termasuk Eko yang rutin mengikuti taklimnya. Eko ingat betul salah satu nasehat ustad muda lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu, bahwa sesungguhnya sedekah dapat mengatasi atau sebagai solusi atas berbagai persoalan hidup seseorang.

“Saya seperti mendapat energi baru setelah mengenal dan mendengar ceramah beliau, khususnya dalam hal sedekah. Penjelasan beliau benar-benar logis dan tidak melangit. Sejak itu, saya bertekad menghidupkan kembali rutinitas sedekah saya yang sempat meredup, bahkan nyaris terlupakan,” ujar Eko.

Sebulan kemudian, Eko berusaha lebih awal menyisihkan sebagian uang gajiannya untuk disedekahkan. Komitmennya untuk membantu orang-orang yang tengah membutuhkan uluran tangan, membuatnya semakin semangat dalam bekerja. Bahkan, ia tidak terlalu mempedulikan daftar kebutuhan hidup pribadinya yang sudah disusun secara rapih dan terencana.

Bulan berikutnya, Eko tak menduga jika pendapatan dan gajinya berangsur pulih. Dalam hitungannya, Allah SWT begitu cepat mengganti uangnya yang telah disedekahkan untuk anak-anak yatim piatu.

Alhamdulillah…Uang (gajian) saya jadi berkah lagi dalam tempo singkat. Jumlah uangnya memang sama dengan bulan kemarin. Tapi, sepertinya uang terasa lebih besar dan lebih banyak,” ucapnya seraya tersenyum.

Bila sedang ada waktu luang, Eko juga menyempatkan diri bersilaturahim ke PPPA Wisatahati. Para ustad di PPPA menawarkan kepada Eko untuk membuat program donatur PPPA. Tanpa berpikir panjang, Eko langsung menerima, lantas menjalankannya dengan penuh keikhlasan hingga berhasil menjaring para dermawan baru.

“Setelah itu, saya kerap mendapat berkah yang luar biasa. Misalnya, jika saya sedekah sepuluh ribu rupiah, maka tidak lama kemudian saya mendapat gantinya 100 persen, bahkan lebih dari 200 persen,” jelasnya.

Bagi Eko, ada ketenangan dan kepuasan batin setelah mengikuti saran-saran Ustad Yusuf Mansur. Antara lain shalat wajib tepat waktu, istiqamah mengerjakan shalat dhuha, shalat tahajud, shalat hajat, dan tentu saja bersedekah. Selain itu, Eko yang senang mengajak rekan-rekan kerjanya untuk senantiasa bersedekah, tidak khawatir bagian rezeki dirinya akan direbut atau diserobot oleh orang lain.

“Menurut saya, sedekah adalah bentuk kewajiban dan hak dari setiap manusia untuk mendapatkan sesuatu yang paling berharga di dunia maupun akhirat. Di samping itu, sedekah termasuk salah satu cara untuk mencuri ‘hati’ Allah. Alhamdulillah, sekarang saya bisa dan terus menjaga diri agar tetap dapat menjadi pusat perhatian Allah,” kata Eko, penuh syukur. (tulisan tentang Keajaiban Sedekah ini merupakan hasil kerjasama dengan PPPA Wisatahati pimpinan Ustad Yusuf Mansur)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s