Mutia Lisanty; “Hati Anak Saya Terbuka”

Pewawancara & Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Mempunyai anak yang cerdas, pintar dan berprestasi dibidangnya, apalagi anak-cerdasbisa menjuarai lomba tertentu pada level dunia, tentu menjadi dambaan para orang tua. Begitu pula bagi Mutia Lisanty (40). Ibu rumah tangga itu memiliki dua buah hati yang masih duduk di bangku SMP. Putra pertamanya berusia 14 tahun, sementara putri keduanya berumur 12 tahun.

“Saya mohon maaf, nama atau identitas putra putri saya tidak perlu disebutkan, yah,” pintanya, tanpa menyebutkan alasannya.

Mutia menceritakan, kedua anaknya memang selalu berprestasi (mendapat ranking) di sekolah masing-masing. Keduanya unggul dalam bidang ilmu matematika. Khusus bagi si sulung, kata Mutia, pernah menjuarai olimpiade tingkat dunia. Presiden Republik Indonesia pun sampai memanggilnya ke istana negara untuk memberikan penghargaan.

Namun, Mutia sangat menyayangkan sikap putra sulungnya yang kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Sehari-harinya ia lebih asyik belajar di kamar dan larut dengan dunianya sendiri. Hal semacam itu bagi Mutia adalah suatu tantangan sekaligus cobaan.

“Mungkin saya menyebut IQ anak saya bagus, tapi SQ-nya kurang. Pokoknya, bagi dia, segala sesuatunya harus dilogikakan. Berbagai cara coba saya tempuh, tapi saya belum menemukan formula yang pas untuk menghadapinya. Terkadang saya sampai kewalahan sendiri,” aku Mutia.

Terlepas dari persoalan tersebut, Mutia yang tinggal di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, sudah sejak lama mengasuh beberapa anak yatim. Mutia tidak saja mensedekahkan hartanya untuk kebutuhan hidup mereka, namun juga mensedekahkan ilmu, pikiran dan tenaganya.

“Anak-anak tanpa orang tua itu sejatinya tidak hanya memerlukan uluran tangan dari kita. Tapi mereka perlu dididik aspek akidah, akhlak dan diberikan wawasan yang luas untuk bekal masa depannya. Salah satunya saya memberikan bimbingan belajar kumon kepada mereka, dari Senin sampai Kamis,” terang perempuan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Mutia menilai ada benang merah antara prestasi anaknya dengan keberadaan anak-anak yatim di tempat tinggalnya. Bisa jadi di antara sekian pendorong keberhasilan putra putrinya di berbagai ajang kompetisi adalah berkat doa tulus anak-anak yatim. Selain itu, kebutuhan rumah tangga Mutia yang selalu tercukupi, tidak lain atas bantuan munajat mereka setiap waktu.

Di luar semua itu, Mutia tetap mengistiqomahi ibadah shalat wajib tepat waktu, shalat Tahajud, shalat Dhuha, sedekah, dan mengaji Al-Quran beserta membaca artinya setiap hari.

“Kalau sehari saja saya tidak mengaji Al-Quran, mendadak mata saya langsung merah. Bagi saya ini agak aneh. Nah, mata saya akan sembuh seketika kalau saya mengaji Al-Quran lagi. Karena itu saya selalu menyempatkan diri membacanya, walau hanya satu ain,” cerita Mutia.

Belum lama ini, Mutia berkata dalam hati ingin mengajak seluruh keluarganya beribadah umrah. Sementara Mutia sendiri tidak yakin bahwa putra sulungnya bisa ikut ke tanah suci. Sebab, Mutia menduga si sulung pasti akan bertanya untuk tujuan apa berangkat ke sana. Alhasil, Mutia masih menyimpan keinginan itu dalam hati.

Saban malam Mutia terus bermunajat kepada Allah SWT agar diberi hidayah (petunjuk). Sedekah pun lebih digiatkan lagi. Tanpa diduga, ketika Mutia tengah berkumpul dan ngobrol santai bersama keluarganya, si sulung mau diajak berumrah, tanpa mengajukan pertanyaan apapun.

Subhanallah… Ini bagi saya suatu keajaiban yang luar biasa. Saya tidak pernah menyangka dia akan mengatakan iya. Padahal pergi umrah itu bukan untuk rekreasi dan bersenang-senang, tapi menghadap rumah Allah dengan penuh keikhlasan hati. Artinya, ini ibadah serius yang membutuhkan kesiapan mental dan spiritual. Nyatanya si sulung bersedia. Alhamdulillah…” ucap Mutia seraya memeluk putranya.

Secara kebetulan pula, esok harinya pendaftaran terakhir untuk keberangkatan umrah. Beruntung, wanita yang sudah lama mengenal KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dan dekat dengan para pengurus Darut Tauhid itu bisa mendaftar pada menit-menit terakhir sebelum ditutup.

“Itu kemudahan lain yang saya dapatkan. Rupanya Allah memudahkan berbagai jalan bagi keluarga saya untuk menuju tanah suci pada musim liburan anak sekolah nanti. Alhamdulillah…Alhamdulillah…Insya Allah, saya, suami, putra dan putri serta ibu saya minggu depan berangkat umrah,” ujarnya.

Mutia yang aktif di pengajian Arrahmah Motik ini memaknai segala kemudahan yang diperoleh diri dan keluarganya tidak terpisahkan dari hal-hal yang dilakukannya selama ini. Ia meyakini bahwa jika seseorang mau cepat membantu pada saat orang lain sedang membutuhkan, maka Allah pun akan lebih sigap membantu orang itu.

“Intinya, selama ini saya berusaha berbagi (sedekah) dan tenggang rasa serta memberikan yang terbaik dari yang saya miliki kepada orang lain dengan sepenuh hati. Selain itu, saya bersikap ikhlas dan bersabar dalam menerima ketentuan dari Allah. Adapun jika sedang dikasih nikmat yang banyak, saya bersyukur sekaligus bertaubat,” cetus wanita yang mengenal Ustad Yusuf Mansuf sejak tahun 2005 itu.  (Tulisan testimoni tentang Keajaiban Sedekah ini merupakan hasil kerjasama dengan PPPA Wisatahati pimpinan Ustad Yusuf Mansur)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s