KH. Anis Manshur Arsyad; “Banyak yang Perlu Dipertimbangkan”

Memilih pasangan hidup –lelaki maupun perempuan—memang perlu pertimbangan yang benar-benar matang. Niat awal dan tujuan menikah haruslah ditata dan dipahami secara benar. Artinya, memutuskan untuk hidup bersama dengan orang yang dicintai, tidak sekadar disandarkan pada aspek lahiriah. Sesungguhnya ada yang lebih penting dari itu, yakni agama.

Kenapa faktor agama sangat ditekankan? Bagaimana Islam memandang pernikahan beda negara? Seperti apa pola pendidikan yang baik bagi anak-anak yang lahir dari pernikahan lintas negara? Berikut ini petikan wawancara Anis Mansur 02Lukman Hakim Zuhdi dengan KH. Anis Manshur Arsyad, Wakil Ro’is Syuriah PWNU Jawa Barat yang juga pengurus Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahli Al-Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah.

Apakah sejarah Islam pernah mencatat pernikahan beda negara?

Sepanjang hidupnya, Rasulullah SAW menikahi beberapa istri yang berasal dari bermacam-macam suku. Ini ketentuan khusus bagi beliau. Tujuannya karena beliau sebagai manusia bijak ingin menyatukan berbagai suku (qabilah) yang ada di sekitar wilayah Mekkah. Selain itu, hal tersebut untuk memudahkan beliau dalam menjalankan misi dakwahnya menyebarkan ajaran agama Islam. Pernikahan beliau tidak semata-mata untuk menyalurkan nafsu syahwat manusianya, seperti sering salah dipersepsikan masyarakat Barat.

Salah seorang istri beliau yang bernama Mariah Al-Qibtiyah berasal dari Egypt (sekarang bernama Mesir). Inilah bukti bahwa sejak zaman dulu sudah ada pernikahan beda negara. Pada era sahabat juga ada seorang sahabat bernama Zaid bin Al-Harits yang menikah dengan wanita dari negara lain. Ketika itu, tidak ada seorang sahabat pun yang mempersoalkannya. Sementara di Indonesia, salah satu contohnya Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) Cirebon yang menikahi seorang putri dari kaum bangsawan Cina.

Adakah dasar hukum dari Al-Quran maupun hadis yang mengisyaratkan pernikahan beda negara? 

Dalam satu ayat Al-Quran Allah SWT berfirman; ya ayyuhan naasu inna kholak naakum min dzakarin wa unsa wa ja’al naakum syu’uuba wa qabaa ila lita’arafuu. “Wahai manusia, Aku (Allah SWT) menciptakan kalian dari golongan lelaki dan golongan perempuan dan Aku (Allah SWT) menjadikan kalian beberapa suku dan bangsa agar saling mengenal.” Di sini secara terang disinggung kalimat beberapa suku, beberapa bangsa.

Dalam pandangan Islam, semua manusia ditempatkan dalam posisi yang sama. Islam tidak mengenal rasisme maupun diskriminasi. Artinya, Islam memberikan keleluasaan kepada umatnya untuk mencari dan memilih pasangan hidup di area manapun, tanpa mempedulikan jenis kulit, asal-usul, logat bicara maupun budayanya. Jadi, pada dasarnya Islam memperbolehkan pernikahan beda negara, asal sesuai syariat Islam. Namun demikian, tidak serta merta kita berbondong-bondong untuk punya istri atau suami orang luar negeri.

Apa batasan-batasan yang sudah digariskan Islam dalam mencari jodoh?

Kata Rasulullah, seorang perempuan dinikahi karena empat hal; kecantikan, harta, keturunan, dan agamanya. Jika seorang lelaki ingin selamat dunia dan akhirat, maka pilihlah calon istri yang agamanya baik. Pesan beliau ini berlaku pula bagi kaum perempuan dalam upayanya mencari suami. Dengan bekal agama yang mumpuni, seseorang  akan selalu menyelesaikan segala persoalannya berlandaskan agama.

Bagaimana strategi Islam dalam menyesuaikan atau menyamakan perbedaan kultur terkait pernikahan beda negara?

Yang paling sederana ialah saling memahami, menghargai dan menghormati antara dua pihak. Penghormatan itu tentunya didasari atas kesamaan agama, statusnya sebagai sesama manusia dan tujuan bersama dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Jika hal ini sepenuhnya disadari oleh dua orang yang menikah dari dua negara yang berbeda, maka konflik dalam rumah tangga bisa diminimalisir. Misalkan yang satu harus mau menerima kebiasaan atau budaya pasangannya yang berlainan. Begitu pula sebaliknya. Artinya, tidak boleh ada satu pihak yang merasa dipaksa maupun memaksakan diri. Nah, di sinilah perlu penyampaian (komunikasi) yang baik dan memang butuh waktu dalam proses adaptasinya.

Seringkali ada orang-orang Barat yang mau masuk Islam (muallaf) lantaran ingin menikahi wanita Indonesia yang statusnya muslimah. Bagaimana menyikapi fenomena demikian?

Nggak masalah. Itu sesuatu yang lumrah, tidak perlu disikapi secara berlebihan. Yang penting mereka membuktikan diri sudah membaca syahadat, itu cukup. Selanjutnya, kita tinggal menghukumi mereka dengan sesuatu yang nampak atau secara lahiriah saja, karena kita tidak tahu isi hatinya, kan. Kalau toh misalkan dalam perjalanannya setelah menikah mereka punya niat jelek atau jahat sama istrinya (umpamanya suami kembali ke agama asalnya), itu salahnya ada pada pihak suami. Dengan sendirinya, maka pernikahannya otomatis jadi fasakh, dengan alasan murtad.

Menyoal pendidikan anak-anak yang terlahir dari pasangan suami istri beda negara, seperti apa pola pendidikan yang baik?

Dalam syariat Islam, yang pertama punya kewajiban mendidik anak adalah orang tuanya sendiri. Ayah dan ibunya harus mengenalkan hal-hal yang baik dan tidak baik, sejak anak masih kecil hingga usia akil baligh. Berikutnya faktor lingkungan yang memiliki pengaruh besar. Meskipun pola pendidikan dikeluarganya sudah baik, tapi lingkungannya kurang baik, maka sebaiknya mereka pindah saja ke tempat lain yang auranya lebih positif. Rasulullah sudah mengingatkan kita, jika seseorang hendak membangun rumah atau tempat tinggal, maka perhatikan dan pertimbangkan sekelilingnya, baik atau tidak. Sebab, kondisi lingkungan juga sangat menentukan baik tidaknya sebuah keluarga. 

Adakah pesan bagi masyarakat Indonesia yang barangkali berhasrat  menikah dengan orang yang beda negara?

Pertama, sejak awal perlu ditancapkan niat yang baik dalam hati bahwa menikah harus sesuai tuntunan Islam. Motivasinya lillahi ta’ala dan mengikuti sunah Rasulullah. Kedua, kehidupan rumah tangga (menikah) bukanlah sekadar mengikuti tren, gengsi atau gaya-gayaan. Sebab di dalamnya ada konsekuensi hukum, hak dan kewajiban yang kelak akan dipertanggung jawabkan. Ketiga, sebaiknya kenali secara cermat dan utuh calon pendamping hidup demi kebaikan masa depan, darimana pun asal negaranya.

Saya sekadar mengingatkan, tidak semua orang luar negeri baik, meski saya yakin orang yang baik jumlahnya tidak sedikit. Begitu pula di Indonesia. Maksudnya, penampilan fisik atau lahiriah seseorang sedapat mungkin jangan sampai mengecoh Anda. Mungkin awal-awal nampaknya baik. Tapi seiring perjalanan waktu, bisa jadi realita tidak seperti yang pernah dibayangkan. Misalkan pasangan hidup ketahuan watak aslinya yang jahat, suka berbuat kekerasan atau perilaku buruk lainnya. Sudah ada beberapa contoh yang bisa dilihat dipemberitaan media massa. Terpenting lagi, rasanya tidak perlu mencari jodoh keluar negeri, jika di negara sendiri saja masih banyak ‘stok’. (Wawancara ini dimuat di Majalah ANGGUN edisi Juli-Agustus 2009)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s