MENDAHULUKAN NIKAH ATAU KULIAH? (tulisan bagian satu)

Penulis Lukman Hakim ZuhdiJika diberi tiga pilihan, mana yang akan Anda ambil; menikah ketika masih kuliah, menikah setelah lulus kuliah atau mengorbankan kuliah gara-gara sudah menikah?

 

Sudah hampir sebulan Mardiyah (45) –nama samaran—tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya benar-benar sedang kalut. Ibu yang dikenal sebagai pedagang sembako sukses itu belum lama ini mendengar kabar kurang sedap. Erla, putri pertamanya, yang sedang menuntut ilmu di Kota Pelajar, dikabarkan sering keluar malam bersama pacarnya. Bahkan, informasi yang sampaikan rekan-rekan kuliah Erla kepada Mardiyah, Erla kerap menginap di kost kekasihnya.

Kebimbangan Mardiyah sungguh beralasan. Dalam seminggu terakhir, Erla sudah dua kali menelepon minta ditransfer uang dalam jumlah besar. Ini tidak seperti biasanya, pikir Mardiyah. Ia tidak mau kuliah anak kesayangannya yang hampir lulus itu terganggu gara-gara pacaran. Apalagi, kemarin sore Mardiyah melihat berita di televisi bahwa sepasang mahasiswa tertangkap warga saat berasyik-masyuk di kamar kost.

Di surat kabar, Mardiyah juga membaca berita seorang mahasiswi hamil di luar nikah. Sang kekasih yang telah merenggut keperawanannya. Alasannya sama-sama suka alias atas nama cinta. Akibatnya, semua mahasiswa yang melakukan perbuatan memalukan itu dikeluarkan dari kampus secara tidak hormat. .

Atas dasar itu, Mardiyah berniat menengok Erla. Tujuannya untuk mengecek kebenaran berita sekaligus menasehatinya. Ia meminta izin kepada Subali (50), suaminya. Namun, sang suami justu melarang kepergiannya. Subali seperti tidak mampu membaca kegelisahan istrinya. Subali yakin, Erla tidak mungkin berbuat nekad yang bisa mencoreng wajah orang tuanya. Pasalnya, cetus Subali, Erla sebelum masuk kuliah sudah 6 tahun mengenyam pendidikan pesantren. Mardiyah kecewa.

Diam-diam, rupanya Mardiyah berangkat sendirian dengan menggunakan bus umum. Setelah menempuh perjalanan 6 jam, ia sampai di depan kost Erla, menjelang waktu Ashar. Alangkah terkejutnya ketika ia mengetahui Erla sedang bercumbu dengan pacarnya. Keduanya sambil berpelukan. Kebetulan, pintu kostnya tidak terkunci, hanya ditutup biasa.

Astagfirullah…Erla!!!” pekik Mardiyah, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Erla terperanjat. Wajahnya seketika memerah. Ia tak menyangka ibunya datang dari kampung. Biasanya, ibunya selalu memberi tahu terlebih dahulu. Tapi, kali ini, ibunya menjenguk secara tiba-tiba. Erla segera merapikan dua kancing bajunya yang terlepas. Mulutnya tak bisa berkata-kata. Kekasihnya juga diam seribu bahasa. Keduanya menunduk malu. Mardiyah yang masih mematung di tengah pintu, spontan menitikan air mata. Erla segera beranjak, merangkul ibunya. Tangisnya meledak.

“Maafkan Erla, Bu…”

“Ibu benar-benar kecewa! Sekarang tinggal pilih; kamu mau menyelesaikan kuliah yang sebentar lagi atau pulang dan menikah saja dengan pacarmu itu?” cetus Mardiyah, kelihatan geram.

“Erla ingin tetap kuliah, Bu. Erla janji nggak akan pacaran lagi sebelum lulus kuliah…” suara Erla mengiba.

Itulah sepenggal kisah nyata yang acap terjadi di kalangan mahasiswa dan mahasiswi, terutama di kota-kota besar. Mereka merasa bisa hidup bebas di kost, jauh dari kontrol orang tuanya. Apalagi jika pemilik kost tidak mau peduli dengan para penghuninya. Bagi pemilik kost, yang penting uang pembayarannya lancar. Akibatnya, pergaulan dan gaya pacaraan mereka sering kelewat batas. Mereka tidak risih jika kerap berduaan dengan kekasihnya di dalam kost dalam keadaan pintu tertutup.

Kondisi demikian, menurut psikolog Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si, tentu tidak baik dan sangat berbahaya. Pasalnya, Zahrotun Nihayah 02bila mereka sudah betul-betul lepas kendali, bukan saja orang tuanya yang kecewa. Tapi bagi mahasiswa yang bersangkutan juga akan kehilangan muka di depan rekan-rekannya. Perguruan tinggi tempat mereka menimba ilmu pun ikut tercemar namanya. Maka, saran dosen psikologi Universitas Paramadina Jakarta itu, sebaiknya dinikahkan saja.

Senada dengan Zahrotun Nihayah, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA, melihatnya dari kacamata agama. Ahsin Sakho berpendapat, idealnya sebuah pernikahan dilaksanakan setelah mahasiswa atau mahasiswi tamat S1. Hal ini dimaksudkan agar kuliah mereka tidak terganggu. Tapi, jika ada hal-hal yang menurut pertimbangan agama untuk disegerakan menikah, maka tidak boleh ditunda-tunda lagi.

“Misalkan ada mahasiswa dan mahasiswi yang sudah terlalu lama berpacaran. Sekarang keduanya semester 7, 8 atau hampir lulus. Nah, daripada orang tua khawatir mereka akan semakin terjerumus dosa dan kemaksiatan, maka segera dinikahkan. Itu boleh saja. Toh langkah tersebut untuk menghindari fitnah dan demi kemaslahatan bersama,” kata rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta itu.

Perlu Adaptasi

Menikah dan kuliah sesungguhnya dua dunia berbeda yang sama pentingnya. Secara sederhana bisa digambarkan, menikah jelas kaitannya dengan rumah tangga. Adapun kuliah hubungannya dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan di perguruan tinggi, universitas atau kampus. Namun, bagi para mahasiswa maupun mahasiswi –termasuk orang tua mereka—, setidaknya kedua hal itu tetap memiliki korelasi untuk kebaikan masa depannya.

Berikut sekadar contoh. Dari sepuluh mahasiswa S1 semester akhir yang ditemui Anggun, delapan mahasiswa menjawab bahwa mereka akan menikah setelah lulus kuliah. Alasannya sederhana, mereka ingin mempunyai pekerjaan tetap terlebih dahulu agar bisa menafkahi istrinya. Hanya dua mahasiswa yang menjawab siap menikah ketika masih kuliah. Sebab, orang tuanya sudah mampu secara finansial. Jadi, untuk menafkahi istrinya, kedua mahasiswa itu bisa mengandalkan tabungan ayah dan ibunya.

Sebaliknya, dari sepuluh mahasiwi yang diberi pertanyaan sama dengan di atas, hampir semua menjawab bersedia menikah sebelum lulus kuliah. Mereka tidak khawatir kuliahnya jadi terganggu. Argumen yang dikemukakan macam-macam. Ada yang karena kekasihnya sudah mapan. Ada yang secara usia dan mental sudah siap. Ada yang takut kebablasan dalam berpacaran.

“Berdasarkan pengamatan saya terhadap mahasiswa dan mahasiswi saya, rata-rata yang lelaki lebih memilih menikah setelah lulus. Mereka ingin bekerja dan punya duit dulu. Bagi yang perempuan, sebelum lulus ada juga yang sudah menikah dan punya anak. Tapi itu tidak menghalangi tugas kuliahnya. Nah, semua itu tergantung dari niat, motivasi dan latar belakang masing-masing individunya,” beber Zahrotun Nihayah, yang kini menjabat Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Zahrotun Nihayah bercerita, dulu dirinya menikah ketika masih kuliah semester 6 dalam usia 20 tahun. Ketika itu calon suaminya yang sudah bekerja menjamin bahwa kuliahnya tidak akan terhenti meski sudah menikah. Setelah mendengar pernyataan tersebut, Zahrotun setuju menikah dan orang tuanya merestui.

“Jadi, sebelum lulus kuliah, saya sudah punya anak. Kalau ditanya menikmati atau tidak, ya awalnya saya tidak menikmati. Karena saya harus pandai membagi waktu  untuk suami, kuliah, anak, dan teman-teman. Adaptasinya luar biasa berat. Butuh proses dan waktu. Untungnya saya dapat support penuh dari orang tua, suami dan lingkungan. Alhamdulillah semuanya bisa berjalan lancar. Dan saya juga tidak merasa kehilangan masa muda, kok,” paparnya seraya melempar senyum.

Seseorang yang mengambil keputusan menikah sebelum lulus kuliah, Zahrotun mengingatkan, harus mengetahui segala konsekuensinya. Mengingat setelah menikah banyak yang berubah. Peran, tuntutan dan beban dengan sendirinya jadi bertambah.  Umpamanya harus pintar mengatur waktu dengan baik, menyadari jam belajar dan waktu bermain dengan sesama teman pasti berkurang.

A Fahrurodji 02Selain itu, kata Ahmad Fahrurodji, MA (38), seseorang harus bisa menempatkan posisinya kapan sebagai istri, suami atau mahasiswa. Dengan begitu, staf pengajar program studi Rusia di Universitas Indonesia itu yakin semua kewajiban dapat terpenuhi tanpa mengorbankan yang lainnya.

“Di situlah dibutuhkan pengertian dari pasangan untuk saling membantu dan bekerja sama. Ini kan karena dua kekuatan (suami istri) menjadi satu di bawah satu atap. Misalnya kalau istrinya ada tugas kuliah yang harus diselesaikan, sementara dia sibuk mengurus anak dan rumah tangga, kan suaminya bisa membantu membuatkan konsep atau mengetikan makalahnya,” tukas ayah dari Nasha Kalina Khairun Nisa (7) dan Milaya Salma Khairania (1).

Memanfaatkan Kesempatan Emas

Ketika ada tawaran antara menikah dan kuliah, Ahsin Sakho lebih memilih kuliah. Baginya, menikah adalah urusan nomor dua yang bisa dilakukan kapan saja, tanpa mempersoalkan umur. Sementara kesempatan kuliah di luar negeri, hanya sekali itu menghampirinya.

“Makanya, waktu menikah umur saya 30 tahun, sedangkan istri 20 tahun dan masih kuliah. Saya berfikir, istri saya tidak boleh terhenti kuliahnya gara-gara dia sudah menikah. Itu penting sebagai bekal masa depannya. Alhamdulillah, Ahsin Sakho M 04rupanya istri juga tetap bersemangat kuliah walau merangkap sebagai ibu rumah tangga,” ujar Ahsin Sakho, yang pernah nyantri di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Lain ceritanya, kata Ahsin Sakho, bila dua tawaran tersebut diberikan kepada perempuan. Jika perempuan selalu memikirkan kuliahnya, padahal usianya mendekati 30, maka sebaiknya dia menikah dulu. Sebab, menurut dewan pengasuh Pondok Pesantren Dar Al Tauhid Arjawinangun itu, perempuan akan lebih rentan dengan masalah rahimnya.

“Masa kesuburan rahim perempuan lebih sedikit dibandingkan kaum lelaki. Kalau perempuan sudah menua, maka rahimnya semakin menciut. Apalagi jika usianya mencapai 40 tahun. Itu sudah kurang bagus untuk mempunyai anak,” tutur Ahsin Sakho.

Dede Permana Nugraha, MA, seirama dengan Ahsin Sakho. Dede Permana yang pernah belajar di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, mengaku sama sekali tidak tertarik untuk menikah sebelum bisa menyelesaikan program pasca sarjananya. Selain karena saat itu merasa usianya masih muda, ia juga tidak punya uang.

“Selama studi, saya hanya dapat beasiswa pada tahun pertama saja. Seterusnya, saya mencari uang sendiri. Saya menjadi koresponden majalah, penerjemah buku, guide wisata, petugas haji, dan mengajar bahasa Indonesia untuk orang Arab,” tutur pria yang meraih gelar sarjana strata satu di Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selama di Mesir, Dede Permana mengaku tidak iri sedikit pun dengan kawan-kawan mahasiswa yang sudah menikah. Di sana, Dede Permana justru melihat kenyataan kurang mengenakkan bahwa mereka yang telah menikah memiliki problem keuangan. Akibatnya, banyak di antara mereka yang masih minta kiriman uang dari  orang tuanya yang ada di tanah air. Menurut Dede Permana, padahal tindakan seperti itu tidak etis.

“Sejak masih di luar negeri, saya selalu berfikir bahwa menikah hanya akan dilakukan di Indonesia, setelah lulus kuliah. Karena saya ingin agar pernikahan saya dihadiri oleh ayah dan bunda, sosok yang paling berjasa dalam hidup saya. Alhamdulillah, di penghujung tahun 2007, impian saya terwujud; menikah,” ucap Dede Permana penuh syukur.

Pada akhirnya, Ahsin Sakho, Dede Permana, Zahrotun Nihayah, dan Ahmad Fahrurodji sepakat, menikah sebelum lulus kuliah tidak akan mengganggu proses studi seseorang. Hal tersebut dapat terwujud jika seseorang mampu memahami tugas, peran, kewajiban, dan posisinya sebaik mungkin. (dimuat di Majalah ANGGUN Edisi Mei 2009)

2 thoughts on “MENDAHULUKAN NIKAH ATAU KULIAH? (tulisan bagian satu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s