Jika Pasangan Harus Kuliah di Luar Negeri (tulisan bagian dua)

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Belum genap lima belas hari Ismail menikmati masa-masa indah sebagai pengantin baru. Namun, ia harus rela ditinggalkan Yulianti, istri tercintanya. Yulianti akan berangkat ke Australia untuk menempuh pendidikan program pasca sarjana (S2).  Di sana, kurang lebih tiga tahun Yulianti akan bermukim untuk mencari ilmu. Jauh-jauh hari, Yulianti telah mengantongi tiket beasiswa kuliah.

Memang, sebelum melangsungkan proses pernikahan, Yulianti sudah membicarakannya dengan Ismail. Ismail pun menyetujuinya. Ismail sadar betul istrinya punya keinginan yang kuat untuk menambah ilmu pengetahuan demi mengembangkan karirnya di masa mendatang. Akhirnya Yulianti sendirian berangkat ke Negeri Kanguru. Sedangkan Ismail tetap tinggal di Indonesia dan bekerja sebagai karyawan swasta.

Menyikapi kasus tersebut, Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA, mengatakan itu hal yang biasa. Maksudnya banyak Ahsin Sakho M 06juga terjadi pada mahasiswa atau mahasiswi Indonesia yang studi di negeri orang. Pria kelahiran Arjawinangun, Cirebon, 21 Februari 1956 itu pernah mengalami hal yang sama. Setelah menikah, Ahsin Sakho sendirian pergi ke Madinah untuk keperluan kuliah.

“Istri saya ditinggal di rumah bersama mertua. Pada waktu itu belum ada handphone seperti zaman sekarang. Kalau kangen sama istri, saya langsung kirim surat. Bahkan setiap setengah bulan sekali, saya selalu kirim surat. Terkadang balasan surat dari istri belum datang, saya sudah kirim surat lagi. Itu karena rasa rindunya yang menggebu…” kenangnya sembari tersenyum.

Ahsin Sakho kini telah berhasil menyelesaikan program S1, S2 dan S3 di Universitas Islam Madinah selama 12 tahun. Dulu, jika ada uang dan waktu, doktor dalam bidang tafsir Al-Quran itu menyempatkan diri pulang ke Indonesia setahun sekali.

“Memang, kalau bisa idealnya istri dan anak-anak sekalian dibawa ke sana. Agar bisa dekat secara fisik dan emosional. Tapi kadang kan terhalang persoalan finansial. Karena biasanya beasiswa hanya ditujukan bagi penerima beasiswa, tidak mencakup biaya hidup istri dan anak. Ya mau nggak mau akhirnya mereka tidak ikut,” cetusnya.

Ahmad Fahrurodji, MA, senada dengan Ahsin Sakho. Lulusan Lomonosov Moscow State University Rusia itu A Fahrurodji 05menceritakan, pemerintah Rusia juga hanya mengcover beasiswa bagi penerima beasiswanya saja. Artinya, jika ada mahasiswa atau mahasiswi Indonesia yang hendak membawa pasangannya, maka biaya hidupnya ditanggung sendiri.

Fahrurodji mengaku, dirinya tidak berpikir untuk mencari jodoh saat tahun 1997 berangkat ke Negeri Beruang Merah untuk menempuh studi S2. Niatnya murni demi mendalami sejarah, kebudayaan dan bahasa Rusia, sesuai minat dan gelar sarjana strata satunya. Apalagi ketika itu usianya baru 27 tahun. Usia yang menurut perhitungannya belum siap untuk berumah tangga, selain alasan belum punya pekerjaan tetap.

“Memasuki tahun kedua tinggal di Rusia, saya ketemu mahasiswi Indonesia. Dia adik kelas saya dan pamannya kerja di KBRI. Mulanya saya merasa biasa saja ketika berinteraksi dengannya. Eh, lama-lama ada rasa dan cocok. Secara kebetulan, masa kerja pamannya di sana hampir selesai. Nah, karena dia (calon istri) di sana sendirian, akhirnya diputuskan kami menikah saja demi kebaikan bersama. Lagi pula, biaya hidup jadi lebih murah kalau hidup bersama,” tukas suami dari Fitri Nuryati, MA, yang kini menduduki jabatan asisten direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia di Jakarta.

Lain lagi cerita yang disampaikan Dede Permana Nugraha, MA. Selama 4 tahun memperdalam ilmu di Mesir dan 2 tahun di Tunis, tidak sedikit kawan-kawan kuliahnya yang sudah menikah. Namun, kuliah mereka justru jadi lambat, terganggu dan tidak tepat waktu. Di antara salah satu penyebabnya, dimungkinkan karena pasangan hidup mereka berada jauh di tanah air.

“Bahkan ada kawan saya yang akhirnya pulang ke Indonesia tanpa membawa ijazah. Boleh dikatakan dia gagal mencapai cita-citanya,” tukas pria yang kini mengajar di STAIN Serang, Banten.

Sementara itu psikolog Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si, menegaskan, bila salah satu pasangan harus kuliah di luar negeri, maka kedekatan secara fisik otomatis berkurang. Padahal faktor itu sangat penting, mengingat dampaknya pada Zahrotun Nihayah 04psikologis. Apalagi bagi pasangan muda atau yang baru menikah, dimana aspek kebutuhan biologis seksualnya masih tinggi.

Nah, ketika suami istri dipisahkan oleh jarak dan waktu yang relatif lama, maka ketahanan dan kemampuan pengendalian diri dari keduanya harus bagus. Pengendalian diri itu faktor penentunya agama dan keimanan. Kalau nggak begitu, nanti yang satu lari kemana, yang satu kecantol ke siapa. Apalagi di negara Eropa yang kehidupannya bebas sekali,” jelas dosen psikologi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) ini.

Namun demikian, sambung Zahrotun Nihayah, dengan berbagai kecanggihan teknologi, pasangan yang terpisah itu jadi ‘terasa dekat’. Setidaknya sementara waktu bisa untuk melepaskan rasa rindu yang menggelora. Selain itu, sebelum memutuskan kuliah di luar negeri, pasangan suami istri sebaiknya membicarakan terlebih dahulu. Misalnya apa saja motivasi dan tujuan belajar di luar negeri.

“Dengan adanya kesamaan persepsi dan komitmen yang kuat, maka yang ditinggalkan merasa tenang. Sedangkan bagi yang meninggalkan, bisa belajar dengan penuh konsentrasi dan diharapkan dapat menyelesaikan studinya tepat waktu,” pungkas Zahrotun Nihayah. (dimuat di Majalah ANGGUN, Edisi Mei 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s