Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA; “Menikah dan Kuliah Sama-sama Penting”

Menikah adalah sesuatu yang sangat dianjurkan agama. Tentunya hal ini ditujukan bagi yang istitho’ah. Artinya orang yang sudah mampu dan siap secara mental, usia maupun keadaan finansialnya. Pada saat yang lain, ayat Al-Quran dan hadis juga mengingatkan bahwa setiap muslim harus belajar (baca kuliah). Dengan adanya proses studi, orang antara lain bisa mengetahui hal baru. Keduanya memang sama-sama penting. Bagaimana Dr. KH. Ahsin Ahsin Sakho M 07Sakho Muhammad, MA menguraikan dua bidang yang berbeda tersebut? Berikut petikan wawancara Lukman Hakim Zuhdi dengan Rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta dan Ketua Tim Penyempurnaan Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia itu.

Apa sebetulnya tujuan orang menikah?

Pertama untuk melahirkan generasi manusia yang akan menggantikan generasi sebelumnya. Dengan begitu, dunia ini bisa diramaikan oleh generasi-generasi baru. Sudah tentu generasi yang diinginkan oleh Allah SWT adalah generasi yang bisa menjadi khalifah fil ardhi. Generasi yang beribadah, memiliki akhlakul karimah, punya kualitas keilmuan dan keimanan yang baik. Sehingga mereka bisa berinteraksi dengan Allah SWT, masyarakat dan alam semesta secara baik dan seimbang.

Kedua untuk menyalurkan hasrat seksual manusia yang begitu besar. Hal ini harus sesuai dengan aturan Allah SWT melalui lembaga pernikahan. Di dalam proses pernikahan, ada perjanjian dan ikatan yang kuat dan berat. Al-Quran menyebutnya mitsaqan ghalida. Kuat karena sanggup merubah sesuatu yang semula haram menjadi halal. Berat sebab ada konsekuensi dari segi hukum yang harus dipertanggung jawabkan dengan penuh kesadaran.

Kalau tujuan orang kuliah?

Dalam Islam, yang menjadi titik tekan adalah anjuran mencari ilmu, bukan kuliahnya. Kuliah hanyalah salah satu tahapan dan teknis dalam pelaksanaan mencari ilmu. Agama telah menegaskan, mencari ilmu wajib dilakukan oleh semua orang muslim. Al-Quran tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya punya hak dan kesempatan yang sama.

Allah SWT berfirman, hal yastawil ladzina ya’lamuuna walladzina la ya’lamuun. Artinya, tidak sama orang yang berpengetahuan dengan orang yang tidak berpengetahuan. Orang yang berpengetahuan tentu banyak keutamaannya. Menurut saya, tujuan kuliah ialah sebagai fase pendewasaan jiwa dan akal pikiran. Dengan kuliah, cakrawala pengetahuan seseorang akan lebih luas. Sehingga pada saat seseorang kuliah itu akan menjadi masa yang menentukan bagi kehidupan mendatang.

Adakah benang merah antara menikah dan kuliah?

Dengan adanya pernikahan, maka terbentuklah sebuah rumah tangga. Hakikatnya rumah tangga adalah suatu madrasah, sekolah atau tempat belajar bagi orang-orang yang ada di dalamnya. Hanya saja ini dalam tataran yang praktis. Sementara kuliah merupakan sebuah jangkauan ilmu pengetahuan dalam tataran yang teoritis. Nah, saya melihat titik temunya ada pada aspek dan proses pembelajarannya. Meskipun cara maupun medan di antara keduanya tidak sama.

Apakah ada jaminan bahwa seseorang yang telah memiliki gelar kesarjanaan mampu meminimalisir konflik dalam rumah tangga?

Saya kira, konflik dalam rumah tangga umumnya lebih banyak pada masalah kejiwaan. Maksudnya, sampai dimana sepasang suami istri bisa bersikap dewasa, memiliki tenggang rasa dan jiwa yang agung. Ada hal-hal yang perlu ditolerir dan tidak ditolerir. Di sinilah masing-masing harus bisa saling mendekati untuk mencari titik kesamaan. Jangan ketidaksamaannya yang dicari, karena nanti bisa ribut terus. Kalau sudah begitu, rumah tangga bakal tidak langgeng.

Seseorang yang sudah mengenyam pendidikan tinggi (sarjana) dan punya wawasan akademis, Insya Allah bisa mengelola dan menyelesaikan konflik yang terjadi dalam rumah tangganya. Setidaknya dia sudah paham ilmu manajemen konflik. Misalnya jika suaminya begini, maka bagaimana strategi istrinya untuk menghadapinya. Begitu pula sebaliknya. Terpenting, dalam rumah tangga yang dibutuhkan saling memahami. Dan unsur saling memahami ini tidak ada kaitannya dengan gelar kesarjanaan.

Bagaimana menyikapi persoalan jika salah satu pasangan (suami atau istri) kuliah di luar negeri supaya rumah tangganya tidak berantakan?

Pertama kali yang perlu diingat, suami atau istri harus saling menjaga kehormatannya, selain mengerti tanggung jawab masing-masing. Orang-orang menyebutnya tidak boleh ada dusta di antara kita. Nah, sebelum berangkat ke luar negeri, sebaiknya dibicarakan secara transparan, detail dan segala kemungkinan yang bakal timbul serta antisipasinya. Umpamanya si istri ngomong ke suaminya, “Pa, ini ada tawaran beasiswa menarik untuk melanjutkan studi di Kanada. Sisi positifnya, bila nanti kembali ke Indonesia, saya akan ditempatkan di lembaga tertentu dengan posisi strategis. Bagaimana menurut Papa?”

Suaminya lalu mengizinkan istrinya pergi. Sementara suaminya tidak bisa menemani istrinya, karena di Indonesia juga punya kesibukan sendiri. Menurut saya, yang seperti itu nggak masalah. Kalau seandainya sudah ada komitmen berdua, maka boleh saja suami atau istri kuliah di luar negeri. Tapi, kalau bisa jangan sampai terlalu lama di sana. Ya paling tidak disempatkan setahun sekali pulang. Apalagi sekarang zaman teknologi serba canggih, ada telepon dan internet. Komunikasinya jadi mudah dan bisa kapan saja.

Ahsin Sakho M 05Adakah resep khusus agar dalam waktu yang bersamaan, seseorang bisa sukses di kuliah juga sukses di rumah tangga?

Sekarang ini, dalam alam globalisasi, orang dituntut untuk memperbanyak ilmu pengetahuan, berfikir secara logis, objektif dan efisien. Apalagi bagi masyarakat yang hidup di perkotaan, yang terus dituntut untuk meningkatkan intelektualitas dan kemampuan dirinya sendiri. Sementara menikah dan berkeluarga adalah sunatul ambiya wal mursalin. Sebagaimana firman Allah SWT, walaqad arsalna rasulan min qablika wa ja’alna lahum ajwaza wa durriyah. Mereka –para nabi dan rasul—mempunyai pasangan (istri), keluarga dan keturunan. Jadi, jangan sampai seseorang menjadi egois. Misalnya dia nggak akan menikah, maunya kuliah saja, atau sebaliknya. Kalau begitu, kan berarti dia melawan naluri alamiahnya sebagai manusia.

Selanjutnya, jika ada kesempatan untuk kuliah, maka manfaatkan sebaik mungkin. Pergunakan waktu yang tersedia untuk menyelesaikan program dan menguasai ilmunya. Jangan sampai menunda atau bermalas-malasan, karena nanti bisa menyesal di kemudian hari. Namun begitu, di sisi yang lain kewajiban dan tugas penting dalam rumah tangganya tidak boleh terbengkalai. Umpamanya dengan alasan sibuk kuliah, terus keluarga menjadi korbannya. Ini tidak boleh terjadi. Di sinilah faktor kedewasaan, kecerdasan emosi, kecakapan komunikasi, dan kemampuan membagi waktu menjadi kunci demi mencapai kesuksesan keduanya. (dimuat di Majalah ANGGUN, Edisi Mei 2009)

Iklan

One thought on “Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA; “Menikah dan Kuliah Sama-sama Penting”

  1. ayu Oktober 1, 2010 / 8:17 pm

    aku sependapat dengannya dan aku telah menjalankannya indahnya kuliyah dengan tidak melupakan keluarga dan berhasil nama keluargapun ikut terangkat dan bahagia dengan keberhasilanku. aku adalah murid setianya yang patuh dengan saran sarannya, Terima kasih atas semua bimbingannya, salam kami sekeluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s