Dana Segar untuk Pasar Tradisional

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Pasar tradisional boleh bernapas lega. Rupanya pemerintah bakal lebih serius lagi menanganinya. Konsepnya modernisasi pasar tradisional. Dana miliaran rupiah pun dikucurkan.

Anda tentu masih ingat. Menjelang penutupan tahun 2008, Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto rajin muncul di televisi. Mantan menantu Jenderal Besar TNI (Purn) Soeharto itu salah satunya beriklan atas nama Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) periode 2008-2013. Ia mengaku membawa pesan sekaligus menyuarakan aspirasi para pedagang pasar tradisional. Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional. Harga murah, produk bagus, kualitas terjamin, dan membantu rakyat kecil.

Bagi sebagian orang yang sinis, menganggap pernyataan terbuka Prabowo sekadar basa-basi. Maksudnya, APPSI tidak lebih hanya akan dijadikan kendaraan politik Prabowo menuju istana negara. Maklum, jenderal bintang tiga itu telah dideklarasikan oleh Partai Gerindra sebagai calon presiden 2009. Sebagian lagi meyakini bahwa Prabowo memang sungguh-sungguh ingin membela nasib wong cilik.

Keberadaan pasar tradisional, terlepas dari iklan Prabowo tersebut, telah lama menjadi persoalan serius. Terus menjamurnya pasar modern –mall, plaza, minimarket, supermarket, hypermarket—di kota dan desa, menyebabkan meredupnya pamor pasar tradisional. Tak bisa disangkal, kehadiran pasar modern merupakan tuntutan dan konsekuensi dari gaya hidup masyarakat di era globalisasi. Tapi di sisi lain membawa dampak kurang baik. Atas dasar itu, ada pihak yang memprediksi bahwa beberapa tahun mendatang pasar tradisional tinggal kenangan.

Merujuk pada data yang dimiliki APPSI, jumlah pasar tradisional di Indonesia saat ini mencapai 13.450. Para pedagangnya tercatat 12.625.000 orang. Jumlah pasarnya kemungkinan tidak akan bertambah, kecuali pasar tradisi1pedagangnya. Pasar tradisional, disadari atau tidak, merupakan salah satu pilar perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Sekitar 25% masyarakat di negeri ini menggantungkan kehidupan perekonomiannya dari pasar tradisional.

Sayang, image pasar tradisional masih tetap seperti dulu. Umumnya becek, kotor,  kumuh, dan semrawut dengan tumpukan sampah dimana-mana. Kebersihan dan kerapihannya nyaris tidak terjaga. Tempatnya terkadang kurang strategis. Belum lagi minimnya infrastruktur dan fasilitas umum. Antara lain sempitnya lahan parkir, akses masuk, penerangan, toilet, instalasi air bersih, dan pemadam kebakaran yang tidak tersedia.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah membuat program modernisasi pasar tradisional. Menteri Negara Koperasi dan UKM Suryadharma Ali menyebutnya pasar tradisional dengan citarasa modern. Target utamanya, kata Suryadharma kepada para wartawan, menjadikan pasar tradisional bersih, tidak kumuh dan tertata baik. Sehingga para pelaku yang bertransaksi  merasa nyaman dan aman.

Modernisasi berarti merevitalisasi pasar. Program itu diwujudkan dengan menata kembali kios, memperbaiki infrastruktur dan melengkapi fasilitas pasar. Pasar yang akan direvitalisasi harus memenuhi sejumlah persyaratan. Persyaratan diusulkan oleh kepala daerah atau bupati setempat. Di antaranya pasar berdiri di atas tanah yang bebas sengketa. Adanya pasar diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Selain itu, keberadaan pasar tradisional harus mampu menyerap tenaga kerja.

Tak hanya itu, pemerintah berupaya meningkatkan daya saing pedagang melalui bantuan permodalan. Kementerian Koperasi dan UKM telah menelurkan kebijakan untuk mengembangkan pasar tradisional melalui satuan kerja (satker) daerah. Hal ini ditempuh setelah tidak dimungkinkan lagi menyalurkan dana bergulir menyusul penerbitan PMK No. 99 Tahun 2008. Anggaran yang disiapkan rata-rata Rp1 miliar dari APBN, yang dikombinasikan dengan dana APBD. Pola demikian disebut sistem tugas pembantuan.

Pada tahap lain, pemerintah terus membantu mendekatkan akses pedagang ke konsumen atau produsen. Pedagang dan pengelola pasar pun akan mendapat bimbingan dan latihan teknis manajemennya. Lebih penting lagi, tegas Suryadharma, perlu sinergi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah melalui sharing biaya pembangunannya. Mengingat 60283_suryadharma_alipasar tradisional termasuk aset yang turut menyumbangkan pendapatan daerah. “Pembangunan pasar tradisional juga harus disesuaikan dengan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) di setiap daerah. Karena itu, masing-masing daerah pasti berlainan. Penataan dimaksudkan demi mengimbangi menjamurnya pembangunan pasar modern,” tambah Suryadharma.

Menjaga Eksistensi

Sementara itu pada kesempatan yang berbeda, Departemen Perdagangan (Depdag) memastikan program revitalisasi pasar tradisional bisa dilakukan pada kuartal II-2009 hingga akhir tahun ini. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, pemerintah segera mengucurkan dana stimulus Rp 215 miliar untuk merevitalisasi pasar tradisional. Sebelumnya pada tahun 2007, Depdag menyediakan Rp 80 miliar untuk merevitalisasi 80 pasar tradisional. Tahun 2008, jumlahnya meningkat Rp 167 miliar untuk 104 pasar.

Dana stimulus Rp 215 miliar tersebut akan dibagikan kepada 32 pasar yang ada di 20 kabupaten/kota. Di Sumatera Utara ada tiga pasar; Kabupaten Tapanuli Utara Rp 12,5 miliar, Kabupaten Samosir Rp 5 miliar dan Kota Pematangsiantar Rp 10 miliar. Di Riau dua pasar; Kabupaten Kepulauan Anambas Rp 10 miliar dan Kabupaten Karimun Rp 15 miliar.

Jawa Barat hanya kebagian satu, yakni pasar Jasinga di Kabupaten Bogor Rp 15 miliar. Jawa Tengah mendapat jatah lima pasar: Kabupaten Banjarnegara Rp 10 miliar, Kabupaten Kudus Rp 12 miliar, Kabupaten Demak Rp 13 miliar, Kabupaten Jepara Rp 15 miliar, dan Kabupaten Pekalongan Rp 8,5 miliar. Di Jawa Timur cuma satu, yaitu pasar di Kabupaten Probolinggo Rp 10 miliar.

Pasar di Sulawesi Selatan yang paling banyak memperoleh kucuran dana; Kabupaten Gowa Rp 20 miliar, Kabupaten Bone Rp 12,5 miliar, Kabupaten Makassar Rp 12,5 miliar, Kabupaten Jeneponto Rp 7,5 miliar, Kabupaten Sinjai Rp 4 miliar, dan Kabupaten Barru Rp 2,5 miliar. Adapun Bali dan Kalimantan Barat masing-masing mendapat satu pasar; Kabupaten Bangli Rp 5 miliar dan Kota Pontianak Rp 15 miliar. “Nantinya, pasar tersebut diharapkan akan menjadi pasar percontohan,” jelas Mari, dihadapan para wartawan, di Jakarta.

Sedangkan program lain yang menyangkut  revitalisasi pasar dalam anggaran Depdag meliputi tiga hal. Pertama,  pembangunan gudang sebanyak 41 titik di  35 kabupaten dengan dana Rp 120 miliar. Kedua, program Dana Alokasi Khusus (DAK)  sebesar Rp 150 miliar. Dana ini untuk renovasi dan perluasan pasar di 240 kabupaten/kota. Ketiga, program tugas pembantuan untuk bangun pasar Depdag sebesar Rp 100 miliar  di 43 kabupaten/kota.

Seharusnya, untuk menjaga eksistensi, pasar tradisional tidak cukup hanya berlindung pada peraturan pemerintah. Seperti tertuang dalam Peraturan pasar tradisi2Presiden No. 112 tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern dan Permendag No. 53 tahun 2008 sebagai peraturan pelaksanaan Perpres itu. Memang,  keberpihakan dan komitmen pemerintah –khususnya pemerintah daerah—dalam membangun pasar tradisional mesti dibuktikan lagi dengan langkah-langkah konkrit.

Lebih dari itu, pasar tradisional juga harus mampu membenahi dirinya sendiri agar tetap berkembang. Pembenahan antara lain menyangkut faktor lokasi, desain fisik bangunan, harga, kualitas produk, dan cara berpromosi. Bagaimanapun, pasar tradisional perlu punya ciri khas tersendiri. Jika pasar tradisional dikelola secara lebih profesional, maka dipastikan bisa bersaing dengan pasar modern. Dengan demikian, anjuran dan harapan Prabowo Subianto pun yang disampaikan dalam iklannya dapat diikuti masyarakat Indonesia.***

Iklan

3 thoughts on “Dana Segar untuk Pasar Tradisional

  1. Eddy Juni 16, 2009 / 12:14 pm

    Pedagang pasar tradisional kurang mendapat perhatian dari pemerintah baik pusat maupun daerah.pinjaman ke bank pun kadang berbelit dan mesti agunan yg bernilai.rakyat mesti dibantu untuk kelangsungan hidup ekonomi keluarga nya.

  2. agas saputra April 17, 2010 / 12:14 pm

    masih banyak hal2 yang harus di perhatikan di dalam pembuatan bangunan pasar jasinga yg baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s