Jangan Sepelekan Lumpur Lapindo

Catatan Lukman Hakim Zuhdi

Semburan lumpur panas Lapindo di Sidoarjo muncul sejak 29 Mei 2006. Asal muasalnya dari pengeboran gas oleh Lapindo Brantas Inc (LBI). LBI merupakan anak perusahaan dari PT. Energi Mega Persada Tbk. Energi Mega Persada memegang saham Lapindo melalui Kalila Energi Ltd dan Pan Asia Energi Ltd. Kelompok usaha Group Bakrie ini beroperasi di Blok Brantas, Jawa Timur. Daerah kekuasaan tambangnya mencakup Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan. Unit kegiatan usahanya terdiri dari eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas.

Rekomendasi pengeboran didasarkan pada hasil studi terpadu Geologi & Geofisika (G&G) yang dilakukan Tim G&G LBI dan Institut Teknologi Bandung (ITB), tahun 2003.  Tim gabungan itu menemukan potensi cadangan gas yang cukup besar di Blok Brantas, baik di darat maupun di lepas pantai. Dengan asumsi membor delapan sumur akan menambah cadangan gas LBI sebesar ± 1,9 tcf (trillion cubic feet). Salah satu dari delapan sumur tersebut adalah sumur eksplorasi Banjarpanji-1 (BJP-1). Namun, dalam perjalanannya, pengeboran BJP-1 justru memicu persoalan serius yang membawa dampak sangat luar biasa. Hal tersebut tak pernah terbayangkan LBI.

Posko Informasi dan Pengaduan Koalisi Korban Lumpur Lapindo mencatat akibat yang telah ditimbulkan semburan lumpur panas. Posko informasi dan pengaduan beralamat di Jalan Raya Kludan Tanggulangin, Sidoarjo. Kerusakan tidak saja mendera bangunan fisik, tapi menohok tajam psikis para korban. Di antaranya ketenteraman hidup terusik, hilangnya sumber mata pencaharian warga serta lenyapnya sebuah peradaban manusia. Hingga kini, sudah 16 desa di 3 kecamatan tergenang. Kurang lebih 13.000 rumah terendam. Seluas 1.200 hektar lahan tertutup, mati tak dapat digarap lagi.

Lumpur rupanya tak mau bersahabat dengan manusia. Sebanyak 47.000 jiwa menjadi korban. Mereka terpaksa mengungsi, terusir dari tanah lapindo masjidkelahirannya yang sudah hilang dari garis peta bumi. Makam para leluhur mereka tak mungkin bisa diziarahi saban hari Jumat atau saat Hari Raya Idul Fitri tiba. Anak cucu mereka hanya mengenang buyut-buyutnya lewat cerita-cerita pilu. Balai desa, tempat pertemuan, pos ronda, rumah ibadah, pondok pesantren, madrasah, dan sekolah ikut terkubur lumpur. Belum lagi harta benda milik warga yang tidak sempat diselamatkan.

Tiga puluh pabrik, tambak dan sawah tempat warga mencari nafkah, juga lenyap ditelan ganasnya lumpur. Puluhan tiang listrik setinggi empat meter pun tak nampak. Yang terlihat cuma beberapa pucuk pohon tua setinggi 13 meter. Ranting-rantingnya kering tanpa daun, mati seperti hiasan saja. Juga tiga atap pabrik –10 kilometer dari titik semburan—pojok sebelah Utara dekat jalan raya Porong. Mislam (49), warga RT 08 RW 02 Desa Jatirejo, memperkirakan kedalaman lumpur 10 hingga 15 meter. Pria yang kini menjual VCD dokumentasi Tragedi Lumpur Panas itu, dulunya karyawan pabrik di sekitar tempat tersebut.  lapindo pohon

Yono (47), warga Desa Siring, menunjukkan bekas rumahnya ketika penulis mengunjungi lumpur, awal Maret 2009. Rupanya ia masih ingat betul letak persisnya. Tidak jauh dari tempat tinggalnya, katanya, ada makam orang tuanya. Pengojek yang dulu pengrajin sandal dan sepatu itu, jarak rumahnya 4 kilometer dari pusat semburan. Dari seberang rumah Yono—satu kilometer—, masih ada satu-satunya pabrik yang beroperasi di kawasan tersebut, yaitu PT Pasific Prestress Indonesia (PT PPI).

PT PPI adalah produsen beton yang pernah memproduksi bola-bola beton untuk menyumbat semburan lumpur. Namun, saat penulis mengunjungi lumpur untuk kedua kalinya pertengahan Maret 2009, pabrik itu berhenti beroperasi. Penyebabnya tanggul selebar 7 meter di sisi Timur PT PPI jebol (9/3). Areal PT PPI seluas 100 x 150 meter pun terendam air bercampur lumpur hingga setinggi 3,5 meter. Bagian atap pabrik masih terlihat. Begitu lapindo pp1pula papan nama PT PPI. Di samping kiri kanannya, bendera merah putih berukuran kecil terus berkibar, tertiup angin kencang.

Sekitar 100 karyawan PT PPI praktis tidak dapat bekerja lagi. Hanya beberapa orang dari mereka yang masih berupaya menyelamatkan aset-aset kantor. Misalnya kursi, meja, brankas, perlatan, dan dokumen penting lainnya. Mereka bolak-balik menaiki perahu papan, di bawahnya diikatkan drum, yang ditarik tali tambang. Satu alat berat milik PT PPI dioperasikan untuk menutup tanggul yang jebol. Seorang security PT PPI sempat bersitegang dengan penulis. Ia melarang PT PPI diambil gambarnya. Alasannya nggak jelas benar. Katanya, harus ada surat izin dari PT PPI. Begitulah perintah dari atasannya. Ia lalu menelepon atasannya, entah pura-pura atau tidak.

“Pabrik ini memang ngeyel. Padahal bulan Agustus 2006 pernah terkena lumpur. Dulu sudah dibilangin sama pihak Minarak untuk segera ditinggalkan. Tapi mereka (PT PPI) malah ngotot nggak mau. Rasain sekarang kena lagi. Kerugiannya bisa mencapai ratusan juta rupiah,” bisik Joko (35) geram, pengojek yang menemani penulis.

Di sebelah Selatan tanggul di Desa Mindi, beberapa rumah sudah ditinggalkan pemiliknya. Sama sekali kosong. Rembesan air sedikit demi sedikit muncul. Mereka khawatir kolam penampungan lumpur panas (pond) dan tanggul setinggi 7 meter sewaktu-waktu jebol. Meski ada juga rumah di sekitarnya yang masih ditempati warga. Mereka tetap waspada setiap saat, harap-harap cemas. Balai desa pun beraktifitas, melayani warganya. Tempat ibadah masih digunakan. Namun, komplek pemakaman di situ telah digenangi air setinggi tumit orang dewasa. Dari balik tanggul, warga dapat merasakan aroma bau busuk dan gas yang menyebar. Sedangkan pintu masuknya dijaga ketat oleh para tentara.

Sejauh mata memandang, lautan lumpur berwarna pekat terhampar jelas. Dari pusat semburan lumpur, asap putih terus mengepul dari didihan gas pipa bawah tanah milik Lapindo. Asap putih yang membumbung tinggi sampai 10 meter itu mengandung hidrogen sulfida, zat kimia beracun yang berbahaya bagi kesehatan. Gas lain yang teridentifikasi adalah amoniak, nitrit, nitrat, dan fenol. Jarak permukaan lumpur dengan bibir tanggul tinggal 20-30 cm. Luapan lumpur terjadi di kedalaman 2.000-6.000 kaki (608 meter-1,824 km), bukan di lapisan permukaan. Debit semburannya mencapai ± 50.000 m3/hari dengan temperatur 70-85o C. Bau busuk dan gas sangat menyengat hidung.

Para petugas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) rata-rata mengenakan masker. Selain mereka, orang yang biasa lalu lalang di lokasi tersebut tidak memakai penutup hidung. Tukang ojek yang biasa mangkal di pintu masuk menuturkan, beberapa kali semburan panas keluar bercampur cairan berwarna hitam. Cairan itu diduga minyak mentah yang keluar dari perut bumi. Di sekitar tanggul yang jaraknya 100 meter dari titik semburan, memang ada bekas cairan berwarna hitam yang sudah mulai mengering. Sejauh ini pihak-pihak terkait belum ada yang meneliti identitas cairan itu di laboratorium.

Lumpur-lumpur yang sudah mengendap atau mengering, kelihatannya saja kuat. Nampak seperti lapangan bola berpasir. Padahal, kalau diinjak atau dijatuhkan batu seukuran genggaman tangan, bisa langsung amblas dan membuncah. Hawa hangatnya masih terasa. Bila percikannya menempel dibaju atau anggota tubuh, maka ketika mengering bentuk dan warnanya seperti material semen. Yang membahayakan justru saat hujan turun. Lumpur yang mengendap itu akan meleleh lagi. Itulah yang terjadi.

Sementara itu, satu mobil petugas BPLS setiap hari mondar-mandir di sekitar pusat semburan. Mereka terus mengukur dan memantau aktivitas lumpur dari jarak dekat. Dua alat berat juga masih beroperasi untuk menguatkan tanggul cincin. Para petugas menggunakan helm, rompi dan menenteng handytalk untuk berkomunikasi. Setiap pos batas bagi pengunjung dijaga dua security. Tanda kawasan berbahaya dan dilarang masuk dipasang. Pengunjung boleh masuk asal ada surat izin dari BPLS. Ketika penulis berkunjung, ada dua peneliti dari Institut Teknologi Bandung yang sedang memungut serpihan-serpihan lumpur. Keduanya persis berada dibalik tanggul utama.

Puluhan truk besar pembawa pasir dan batu (sirtu), setiap hari mengantri hingga ke tepi jalan raya Porong, menunggu giliran masuk. Mereka tidak bisa langsung menuju lokasi semburan. Tanahnya labil. Para sopir juga mengaku tidak mau mengambil resiko. Sirtu selanjutnya diangkut dengan truk excavator untuk menguatkan tanggul utama. Yono menghitung dalam sehari semalam kurang lebih 500 truk. Volume sirtu sudah mencapai 5 juta M3. Sirtu diambil dari gunung-gunung yang berada di wilayah Mojokerto dan Pasuruan. Misalnya Gunung Penanggungan dan Gunung Perahu. Setiap hari tanggul cincin dikuatkan. Namun, setiap hari pula 60-80 cm tanahnya amblas, turun.

Sejak tanggul utama sebagai lapis pertama penahan lumpur tenggelam (23/3), puluhan truk mendadak berhenti memasok sirtu. Lapindo menyerah, mengaku sudah tak sanggup lagi menanganinya. Lapindo lantas meminta bantuan pemerintah pusat. Air bercampur lumpur terus menyebar kemana-mana, tak jelas arahnya. Pengelolaannya jadi bertambah sulit. Penanganan semburan lumpur praktis hanya mengandalkan tanggul terluar yang rencananya akan diperkuat. Ketinggian tanggul terluar sudah mencapai 16 meter, yang berbatasan langsung dengan rel kereta api dan jalan raya Porong. Sebab, pembuangan lumpur ke Kali Porong yang menjadi tanggung jawab Lapindo, sudah terhenti. Selama ini, ketika tanggul utama masih ada, lumpur dari pusat semburan bisa dialirkan ke Selatan menuju Kali Porong.

Ironisnya, di dinding tanggul terluar terdapat satu spanduk berwarna kuning bertuliskan Tempat Wisata Lumpur Lapindo. Di sisi kiri dan kanan spanduk itu tertera merek rokok produk lokal. Di sebelahnya, spanduk para caleg dari berbagai partai ikut mejeng. Tidak ada satu pun tulisan yang isinya berjanji akan membantu korban lumpur. Agaknya luapan lumpur bukan lagi dimaknai sebagai musibah, melainkan arena rekreasi. Banyak pengunjung dari luar daerah yang ingin melihat secara langsung lautan lumpur. Tidak sedikit pula wisawatan asing yang datang, seperti dari Australia, Jepang, Korea dan Cina. Bahkan, kata seorang penjual VCD bernama Imam (32), pada hari Sabtu dan Minggu jumlah ‘turis’ meningkat alias ramai.

Warga korban lumpur yang banyak berkeliaran menjajakan VCD, menyambut setiap orang yang datang. Mereka bercerita soal luapan lumpur sekalian menawarkan macam-macam VCD. Harga satu kepingnya 10-25 ribu rupiah. Tinggal pandai-pandai Anda merayunya. VCD antara lain berisi kisah nyata para korban dan kronologis peristiwa Lapindo. VCD dibuat oleh pemuda karang taruna yang terkena lumpur. Para pengojek yang juga korban lumpur, ikut kecipratan rezeki dari pengunjung. Mereka mau mengantarkan para pengunjung hingga jarak 200 dari pusat semburan, batas terakhir bagi pengunjung. Ongkosnya pergi pulang 15 ribu. Tak ketinggalan, penjaga parkir kendaraan pun mendapatkan untung.

Untuk menuju batas terakhir bagi pengunjung, Anda harus menyiapkan uang ribuan rupiah. Pasalnya, ada tiga titik yang ditongkrongi 5-10 warga; gerbang utama, jalan turunan –1 kilometer dari pintu utama—dan 50 meter dari batas terakhir. Mereka meminta uang kepada para pengunjung. Alasannya untuk meringankan beban warga korban lumpur yang nggak punya apa-apa lagi. Di kolam sebelah kiri jalan turunan –200 meter dari sisi Barat PT PPI—muncul dua titik gelembung air. Warga mengaku tidak kaget melihat semburan baru yang diduga mengandung gas beracun itu.

Setelah jalan turunan, lima kilometer dari pusat semburan, terdapat kotak kaca tembus pandang berwarna hijau bening. Di dalamnya ada lembaran-lembaran kertas bertuliskan rapalan doa. Kotak itu ditaruh oleh tiga kyai dari Kalimantan dan Sidoarjo, sekitar minggu kedua Maret 2009. Sebelum diletakkan, ketiganya berdoa di situ. Dengan cara tersebut, mereka berharap dapat membantu menghentikan semburan lumpur panas. Tidak jauh dari posisi kotak kaca, terlihat ujung stupa masjid, yang sudah dikepung air. Gentengnya masih ada beberapa yang menempel dirangka-rangka kayu. Sisanya sudah jatuh. Masjid itu dulunya tiga lantai. Itulah satu-satunya benda yang tertangkap mata.

Selain itu, 100 meter dari pos penjagaan batas terakhir pengunjung, terdapat satu makam yang masih utuh. Pondok kecil menutupi bagian atasnya. Keberadaan makam bersebelahan dengan tanggul dalam penahan lumpur. Anehnya, makam yang dianggap keramat itu tidak terkena lumpur. Batu nisan dan temboknya tidak kotor. Padahal, dulu sewaktu lumpur membuncah, makam-makam di sekitarnya terendam. Konon, cerita warga, jasad yang ada di makam itu adalah salah seorang sesepuh atau ulama sangat berpengaruh di Sidoarjo. Namanya tidak diketahui.

Berbagai strategi telah dilakukan pemerintah, BPLS dan Lapindo Brantas Lapindo Semburanuntuk mengendalikan dan menghentikan semburan lumpur (killing well). Pertama, memasukkan snubbing unit (alat pendeteksi lumpur). Kedua, menutup lubang semburan dengan teknik relief well (pengeboran miring) 1 dan relief well 2. Ketiga, lumpur dialirkan melalui spillway (saluran pelimpah) ke Kali Porong, Kali Mati dan diinjeksikan kembali ke dalam tanah. Selain itu, pembuatan kanal bawah tanah dari pusat semburan langsung menuju spillway dan  dibuang ke laut. Kenyataannya semua upaya yang menelan dana besar tersebut gagal total.

Langkah terakhir menggunakan teknik bola beton (bolton). Kurang lebih 400 bolton sudah dimasukan ke dalam lubang semburan lumpur. Sayangnya, bolton terkapar, tak sanggup melawan panasnya lumpur. Orang-orang pintar yang turut berdoa pun kelihatannya belum sanggup mematikan semburan lumpur. Kian hari justru pergerakan lumpur kian mencemaskan. Pond lama kelamaan tidak sanggup menampungnya. Daya tahannya sunguh terbatas. Perlu diambil tindakan dan solusi yang cepat dan tepat. Jika tidak, bukan saja rel kereta api, jalan raya Porong dan pemukiman warga yang akan terkena imbasnya. Wilayah dan cerita tentang Sidoarjo pun 10 tahun lagi tinggal kenangan. Semoga ini tidak terjadi.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s