Orang Tua; Antara Bakti dan Durhaka

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Abdullah bin Umar berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ridha Allah tergantung kepada ridha kedua orang tua dan kemurkaan-Nya terletak pada kemurkaan kedua orang tua.” (HR.Turmudzi)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan, orang tua berarti ayah dan ibu kandung. Jika ditarik lebih luas, orang tua dapat pula diartikan orang lain yang dianggap tua, karena lahirnya lebih dulu dari kita. Selain itu, orang tua juga bisa dimaknai orang yang dihormati dan disegani masyarakat. Karena itulah kita mengenal istilah ‘sesepuh masyarakat’ yang sesungguhnya orang tua sebagai panutan. Dalam tulisan ini, penulis hanya ingin menyempitkan makna orang tua, yakni ayah dan ibu.

Menyoal hubungan antara orang tua dengan anak, biasanya yang muncul dua hal; bakti dan durhaka. Bakti artinya tunduk dan hormat kepadanya. Misal anak harus mengikuti perintah orang tuanya selama masih dalam batas yang diperbolehkan agama. Merawatnya, belajar secara serius dan orang tua 2menyenangkan hati mereka dengan membantu pekerjaannya termasuk wujud bakti. Singkatnya, anak mesti berlaku baik selama orang tua masih ada.

Di sisi lain, durhaka adalah ingkar terhadap perintahnya. Contoh si anak menolak mengerjakan sholat wajib lima waktu, padahal orang tuanya sudah menyuruh secara baik-baik. Lain waktu, kita sering menyaksikan dan mendengar berita bahwa seorang anak berani menyakiti hati orang tuanya, seperti anak yang memukul ibunya. Perbuatan yang demikian jelas ditentang agama Islam. Sedapat mungkin –sebagai anak—kita menghindari perilaku yang membuat orang tua murka.

Lalu, bagaimana caranya seorang anak menghormati orang tuanya yang sudah meninggal dunia? Meneruskan tradisi baik seperti menjalin tali silaturrahim dengan sahabat orang tua ialah cara yang diajarkan Rasulullah SAW. Selain itu, anak senantiasa mendoakan mereka. Sebaliknya, anak yang durhaka umumnya melupakan mereka. Setelah orang tuanya wafat, seakan anak merasa tidak punya tugas lagi. Padahal tidak demikian. Bagaimana pun, anak wajib dan tetap menghormati mereka dengan cara apapun yang mampu dilaksanakannya.

Kita menyadari, sifat dan pemikiran setiap orang tua jelas memiliki karakter tersendiri. Tak jarang, anak pun sering berbeda pendapat dengan mereka dalam menyikapi suatu persoalan. Namun dibalik semua itu, rasanya tidak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya sendiri dalam lembah kesesatan. Jika kebetulan seorang  anak memiliki orang tua yang suka merampok, cobalah tanyakan kepadanya, apakah kelak mereka mengharapkan buah hatinya akan meneruskan pekerjaan yang dilarang agama itu? Kiranya mayoritas dari mereka akan menjawab tidak.

Penulis yakin, keberhasilan dan kesuksesan yang kita raih saat ini salah satunya  berkat doa dan nasehat orang tua. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kita menafikan, apalagi melupakannya. Bagi anak yang sedang merantau atau tidak tinggal serumah dengan orang tuanya, haruslah tetap berkomunikasi. Paling tidak untuk menanyakan kabarnya. Akan lebih baik lagi bila ada ‘sesuatu’ yang bisa diberikan oleh anak kepadanya secara rutin. Kendati sejujurnya orang tua tidak mengharapkan apa-apa dari anaknya. Bagi orang tua, anak yang sudah mampu menghidupi dirinya sendiri merupakan suatu kebanggaan.

Tak bisa dipungkiri, di situlah peran orang tua dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya begitu luar biasa. Jika ada orang tua yang memarahi anaknya, hal tersebut bukanlah karena mereka benci. Namun hakikatnya itulah bentuk kasih sayang yang dicurahkannya. Sayangnya, seringkali kita tidak menyadarinya. Cinta kasihnya nan tulus memang tidak dapat diukur dengan materi, mengingat. keberadaan mereka sangat menentukan masa depan buah hatinya. Bayangkan, seandainya seorang orang tua 1anak yang lahir ke dunia tanpa mengetahui siapa orang tuanya, tentu anak akan merasa minder dan malu dalam pergaulan masyarakat.

Beberapa pekan silam, penulis tanpa sengaja bertemu seseorang yang usianya diperkirakan lebih dari 60 tahun di sebuah halte bus. Sebelum pergi, pria ‘misterius’ itu mengatakan, kebahagiaan orang tua terletak pada empat moment; waktu anaknya lahir, ketika buah hatinya berhasil menyelesaikan masa studi, saat putra-putrinya menikah, dan tatkala anaknya mampu memberikan cucu. Sebagai catatan penutup, kiranya kita patut bertanya pada diri masing-masing. Apakah yang sudah kita lakukan untuk membahagiakan orang tua sebagai bentuk bakti kepadanya? Semoga bisa menjadi bahan renungan.***

One thought on “Orang Tua; Antara Bakti dan Durhaka

  1. oen April 12, 2010 / 12:37 am

    kasih ibu spanjang masa, ijin copas gambar ya boz 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s