SIAPAKAH DERMAWAN?

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

“Wahai anak Adam! Jika engkau mendermakan kelebihan hartamu, maka kebaikanlah bagimu. Sekiranya engkau mengepalkan tanganmu (karena kikir), maka keburukanlah bagimu.”

Di satu desa yang mayoritas warganya menjadi petani, sedang menghadapi persoalan agak serius. Mereka ingin memperbaiki masjid. Keharusan rehabilitasi tempat shalat itu disebabkan makin bertambahnya bangunan yang rapuh dan rusak karena telah dimakan usia. Jelas mereka membutuhkan biaya besar. Muncullah gagasan agar dibentuk panitia renovasi rumah ibadah. Tugas mereka mendatangi masing-masing kediaman warga, tanpa terkecuali. Mereka tidak ingin bergantung pada bantuan pihak luar, apalagi dana asing.

Kampung yang masih kental rasa solidaritas dan eratnya persaudaraan ini mengharap dari segenap unsur masyarakat supaya mau menyumbang semampunya –entah uang, bahan bangunan, tenaga atau lainnya—. Sementara keberadaan orang kaya di kampung itu masih minim. Bila dihitung dengan jari tangan, tidak lebih dari sepuluh keluarga. Sisanya kelas menengah dan strata bawah mendominasi. Selanjutnya panitia berkeliling menjalankan misinya. Hampir semua warga mengeluarkan rupiah dari koceknya yang tentu jumlahnya tidak sama. Hanya satu orang mampu yang tidak mau menyisihkan sedikit pun rezekinya.

Seorang panita berucap dengan sedikit menggerutu setelah keluar dari rumahnya yang memiliki halaman luas, “Saya heran, kenapa keluarga Haji ‘A’ yang sukses sebagai pengusaha beras, selalu saja susah bila dimintai sumbangan? Alasannya macam-macam. Malah terkadang nggak masuk akal. Beda dengan keluarga Haji ‘B’. Meski masyarakat tahu ekonomi keluarganya sederhana, namun beliau tanggap sekali beramal bila ada kepentingan bersama, apalagi demi pembangunan masjid.”

Fenomena demikian kerap terjadi dalam kehidupan masyarakat,. Atau barangkali ada di antara Anda yang pernah mengalaminya. Berangkat dari kenyataan tersebut, tentu timbul pertanyaan, siapakah dermawan yang sebenarnya?

Gelar Dermawan

Dalam makna yang cukup sederhana, dermawan adalah orang yang suka gambar sedekah1berderma, beramal atau bersedekah. Maksudnya, mereka memanfaatkan dan membelanjakan harta yang telah dikaruniai oleh Allah SWT pada jalan yang benar serta serasi dengan perintah-Nya, yakni kebutuhan agama, umat dan kaum papa. Menyangkut definisi dermawan, sufi ternama Abul Qasim Al Junaidi bin Muhammad Al-Khazzaz An-Nahawand mengatakan, orang dermawan ialan orang yang memberi sesuatu sebelum diminta.

Hal senada dikemukakan Ali bin Husain bahwa orang yang mengeluarkan hartanya karena diminta, tidak termasuk orang bermurah hati (dermawan). Yang disebut bermurah hati ialan yang menunaikan hak-hak Allah SWT atas kemauan ataupun niat sendiri karena taat kepada-Nya tanpa tekanan maupun pun harapan untuk mendapat ucapan terima kasih. Hasan bin Ali bin Abi Thalib pun menerangkan, sifat pemurah ialah mendermakan sesuatu yang baik secara ikhlas dan sukarela sebelum diminta. Selain itu, ia memberikaan makanan pada musim paceklik atau kelaparan dan berkasih sayang kepada peminta dengan memenuhi permintaannya.

Seperti diketahui, di antara tujuan beramal ialah menunaikan kewajiban seseorang sebagai hamba-Nya atas limpahan nikmat rezeki dengan meringankan beban orang lain, membantu pihak yang membutuhkan maupun menolong sesuatu yang dianggap tidak berdaya. Semestinya, kala menyadari keadaan seperti ini, orang tidak perlu diperintah dan tidak usah menunggu komando dalam berderma. Kalau perlu, proses pendermaannya jangan sampai dipublikasikan ke publik. Bila dia disuruh, seolah muncul kesan pemaksaan dan mengisyaratkan ketidak ikhlasan. Sebab pada akhirnya yang timbul sikap riya (pamer) dan takabur (sombong).

Kedermawanan berarti kemurahan atau kebaikan hati terhadap sesama manusia. Sifat pemurah termasuk perilaku mulia yang menjadi ciri khas akhlak para nabi. Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling pemurah, sedekah2paling besar rasa kemanusiaannya dan paling ikhlas dalam memberikan bantuan. Dalam diri beliau tidak pernah timbul rasa takut akan kemiskinan atau kekurangan harta sebab diberikan kepada orang lain. Karena itulah beliau bersabda, orang pemurah itu dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dekat kepada surga dan jauh dari api neraka. Sedang orang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat kepada api neraka.

Jika hadis tersebut menjadi pertanda betapa mulianya kedudukan dermawan dalam pandangan agama, kenapa masih banyak orang berada yang batinnya tersilaukan kecemerlangan perhiasan dunia sampai akhirnya lupa diri? Apalagi di awal tulisan penulis telah menyebutkan hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Baihaqi yang bersumber dari Abu Umamah mengenai kebaikan bagi yang berderma dan kebinasaan untuk orang yang penuh perhitungan dalam menyisihkan hartanya.

Contoh lain, kiranya Anda boleh bangga dikenal plus disanjung masyarakat sebagai publik figur. Anda silakan menepuk dada lantaran didekati banyak karyawan sebab menjadi penguasa atau pemilik perusahaan. Agaknya Anda sah-sah saja merasa gembira selaku pemimpin atau pejabat yang berpenghasilan besar kala dieluk-elukan bawahan. Namun, semua itu tidak akan berarti bila jiwa sosial kering kerontang, semangat tolong menolong gersang dan rasa kemanusiaan Anda hilang tercerabut dari nurani serta lepas dari kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi semacam ini, sejujurnya Anda miskin sekaligus terhina. Rasulullah SAW bersabda, yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta benda. Tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). (HR. Abu Yu’la)***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s