Belajar Naik Sepeda

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Anak-anak berkumpul di halaman rumah Inung. Halamannya cukup luas dan bersih, seperti taman umum. Suasananya ramai sekali. Anak-anak biasa main di situ, setiap sore hari. Ada yang saling kejar-kejaran. Ada yang main karet gelang. Biasanya para perempuan yang memainkannya. Ada yang main petak umpet. Ada yang berputar-putar menaiki sepeda. Ada pula yang sekadar duduk santai.

“Ibu, Inung ingin belajar naik sepeda sama teman-teman,” Inung meminta izin kepada Ibunya.

“Boleh. Coba Inung ambil sendiri sepedanya. Itu, di dekat meja makan. Ibu sedang repot membuat kue, nih. Tangan Ibu kotor,” jawab Ibu, tangannya  mengaduk-aduk adonan kue.

Inung segera berlari menuju tempat yang dimaksud. Ia mengambil sepedanya.

“Nak, main sepedanya jangan jauh-jauh, ya. Takut ada motor atau mobil ngebut,” Ibu mengingatkan Inung.

Iya, Bu,” sahut Inung, seperti tidak menghiraukan.

Inung menuntun sepedanya. Teman-temannya sudah menunggu di depan.

“Kawan-kawan, ini sepeda Inung yang baru,” Inung memperlihatkan sepeda kepada kawan-kawan mainnya. “Bagus, kan?” sepeda

“Iya, sepedanya bagus banget! Keranjang di depannya berwarna putih, sama dengan punya Helmi,” Helmi mengacungkan jempol tangan kanannya.

“Gambarnya bagus. Rodanya ada empat!” seru Away.

“Kalau rodanya cuma dua, Inung bisa jatuh. Dua roda yang kecil di belakang itu untuk membantu. Inung, kan, baru belajar naik sepeda. Dia masih kecil. Umurnya saja baru mau empat tahun,” jelas Sugeng, yang sudah kelas satu Sekolah Dasar.

“Wah, Inung beli di mana sepedanya?” tanya Rizki. Matanya melihat-lihat sepeda Inung. Ia terpesona. Sesekali tangannya mengelus rangka besi sepeda Inung.

“Ayah Inung belinya di toko sepeda, kemarin sore,” jawab Inung, bangga.

“Pokoknya, sepeda Inung lebih bagus daripada sepeda Andi,” celetuk Wawan.

Spontan semua tertawa. Mereka sudah paham maksudnya. Wawan meledek Andi. Sepeda Andi memang sepeda tua. Andi mendapat sepeda itu dari Oling, kakaknya. Sepeda itu sebelumnya digunakan oleh Farel, kakak Oling. Sebelum dipegang Farel, sepeda itu dikendarai Dimas, kakak Farel. Mereka kakak beradik (empat bersaudara) dari keluarga yang kurang mampu.

Dengan demikian, sepeda Andi itu sudah turun temurun. Pemakainya selalu berganti-ganti, tapi tidak ada perbaikan maupun penampilan baru. Besinya ada yang sudah berkarat. Warna catnya terlihat kusam. Tidak ada gambar apapun. Hebatnya, Andi tidak marah. Dia diam saja, hanya menahan kekesalannya di dalam hati. Dia tahu, Wawan suka usil terhadap teman-temannya.

“Yuk, kita main sepeda bareng?” usul Hanif, mencoba mencairkan suasana.

“Ayooo….” jawab mereka serentak.

“Inung boleh ikut nggak?” tanya Inung.

“Boleh…” kata Sugeng, spontanitas.

“Mendingan nggak usah ikut, deh. Nanti ngerepotin kita-kita. Kan, Inung baru belajar naik sepeda. Yang lain kan sudah lancar bersepedanya,” cetus Wawan beralasan.

Inung terdiam, kedua matanya berkaca-kaca. Sugeng cepat-cepat membela Inung. Akhirnya, Helmi, Away, Sugeng, Rizki, Wawan, Andi, dan Hanif sepakat Inung dipersilakan ikut. Dengan catatan, Inung tidak boleh rewel. Jika rewel, terpaksa ditinggal sendirian. Mereka lalu menaiki sepeda masing-masing. Mereka membentuk barisan, seperti semut berjalan. Inung ada di barisan paling belakang. Maklum, tubuh dia paling kecil di antara kawan-kawannya. Kecepatan sepedanya pun tidak seberapa, dibandingkan mereka.

“Woi, tungguin Inung, dong!!!” teriak Inung, takut ditinggal. Napasnya tersenggal-senggal. Keringat membasahi dahi dan pelipis matanya.

sepeda2Kawan-kawannya tidak ada yang mendengar. Mereka terus melaju sambil tertawa. Wajah Inung memerah. Ia ingin marah sekaligus menangis. Ia terpaksa menghentikan sepedanya di tengah-tengah jalan umum. Ia merasa kelelahan. Kedua kakinya tak sanggup lagi menggenjot pedal sepeda.

Selang beberapa menit, terdengar suara keras mengejutkan. Brakkk!!! Ahhhhh!!! Sebuah sepeda motor berkecepatan tinggi menabrak pagar rumah seorang warga. Rupanya pengendara motor itu menghindari Inung. Kalau saja ia tidak membelokkan kendali motornya, mungkin nasib Inung bisa cacat seumur hidup. Anehnya, Inung tidak kaget sama sekali. Ia terlihat tenang. Malah, ia sempat tertawa ketika melihat pengendara motor yang tidak memakai helm itu berdarah hidungnya.

Sugeng menoleh ke belakang, setelah mendengar suara itu. Ia bergegas mendekati Inung, mencari tahu apa yang terjadi.

“Inung kenapa?” tanya Sugeng.

Inung tidak segera menjawab. Mendadak Inung menangis. Sugeng heran.

“Kawan-kawan jahat! Inung ditinggal sendirian,” kata Inung. Tangannya mengusap air mata yang membasahi pipinya.

Kan, di sini ada Sugeng. Inung jangan menangis, ya. Nanti kalau ketahuan Bapak dan Ibu, Inung bisa dimarahi,” Sugeng menasehati.

“Nggak mau! Inung ingin ikut mereka.” Jari telunjuk tangan kanan Inung mengarah kepada teman-temannya yang sudah jauh.

“Lebih baik sekarang Inung pulang bareng Sugeng. Lain waktu saja kita jalan-jalannya,” bujuk Sugeng.

“Inung nggak mau!” Inung bersikeras.

Lho, kok anak Bapak menangis di sini?” secara kebetulan Bapak Inung melewati jalan itu.

“Pak, Inung ingin ikut teman-teman.”

“Oh…Begitu…” Bapak Inung tersenyum, tangannya mengusap kepala Inung. “Inung boleh jalan-jalan sama mereka. Tapi, nanti kalau Inung sudah besar dan lancar naik sepedanya. Inung, kan sekarang baru belajar. Lagi pula, kalau baru belajar, tidak boleh di jalanan umum seperti ini. Sangat berbahaya, banyak motor dan mobil yang lewat. Yuk, sekarang kita pulang. Sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang,” jelas Bapak Inung.

“Inung maunya gendong sama Bapak. Inung capek,” pinta Inung, manja, “terus, sepeda Inung siapa yang bawa?”

“Biar Bapak yang menuntunnya,” jawab Bapak. “Sugeng mau ikut pulang bareng Inung juga?” Bapak Inung melirik Sugeng.

“Yah,” sahut Sugeng, singkat.

Baru beberapa kali kaki Bapak Inung melangkah, seseorang memanggilnya dari arah belakang. Bapak dan Sugeng segera menoleh ke sumber suara. Seketika ia menghentikan langkahnya. Orang itu mempercepat langkahnya. Jalannya agak tertatih-tatih, mendekati Bapak Inung.

“Maaf, Bapak orang tuanya anak kecil ini?” tanya pemuda yang hidungnya berdarah itu. Lengan baju kanannya sobek, seperti terkena sayatan besi tajam.

“Iya, memangnya kenapa?” Bapak Inung memperhatikan sekuju tubuh pemuda itu. Sebagian wajahnya lebam, sebagian lagi memar.

“Maaf, tadi saya terpaksa menghantam pagar rumah orang itu. Sebenarnya saya tidak bersalah. Saya hanya kaget. Sebab, saya menghindari anak Bapak yang berhenti di tengah jalan. Saya tidak ingin menabraknya. Akibatnya motor saya yang ringsek. Pagar rumahnya juga rusak. Jadi, saya minta Bapak ikut bertanggung jawab meringankan beban saya,” papar si pemuda. Tangannya mengarah pada tempat kecelakaan.

“Bagaimana saya bisa mempercayai cerita Anda?” Bapak Inung malah bertanya.

“Maaf, memang saya tidak punya saksi mata. Sebab, tadi di sini sepi. Tidak ada orang yang melihat. Apalagi kejadiannya begitu cepat. Pemilik rumah yang saya tabrak juga sedang keluar. Barangkali Bapak bisa menanyakan kepada anak Bapak, bila saya bohong,” tutur si pemuda, meyakinkan. Tangan kirinya terlihat lecet dan berdarah. Berkali-kali ia meringis, menahan rasa sakit.

Bapak melihat wajah Inung.

“Pak, tadi Om itu yang menabrak pagar,” kata Inung, polos.

“Waktu itu, Inung ada di mana?” tanya Bapak.

“Inung sedang duduk di atas sepeda. Di situ, di tengah jalan.” Inung mengarahkan jari telunjuknya.

“Sugeng melihat sendiri, Inung tadi menghentikan sepedanya di tengah jalan,” Sugeng menimpali.

Bapak Inung manggut-manggut sebagai tanda sudah memahami yang terjadi.

“Baiklah. Begini saja, sebaiknya nanti malam, sekitar pukul 8, Anda ke rumah saya. Kita selesaikan masalah ini secara baik dan kekeluargaan. Rumah saya di sebelah ujung gang itu. Catnya berwarna putih. Di depannya banyak pot bunga,” Bapak Inung menjelaskan. “Sebelumnya saya minta maaf jika anak saya salah. Maklum, anak saya baru belajar naik sepeda,” tambahnya sembari tersenyum.

“Terima kasih, Pak. Saya yakin Bapak orang baik. Nanti malam saya datang ke tempat Bapak,” pemuda itu kemudian menyalami tangan Bapak Inung. Senyum bahagia mengembang dari mulutnya.

“Yuk, kita pulang. Tuh bedug Maghribnya sudah berbunyi,” kata Bapak Inung.
Matahari secara perlahan menyembunyikan diri di ujung Barat. Tidak terdengar lagi suara burung-burung berkicau. Mereka sudah kembali ke sarangnya. Garis-garis merah tak beraturan menghiasi langit. Gelap malam mulai menyelimuti penduduk bumi. Samar-samar sinar rembulan mengikuti jejak langkah kaki Bapak, Inung dan Sugeng, saat mereka kembali ke rumahnya.***

Iklan

2 thoughts on “Belajar Naik Sepeda

  1. Ram April 23, 2010 / 1:39 pm

    Mas… saya pinjem gambarnya ya
    maaf baru bilang sekarang 😀
    Makasih sebelumnya ya mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s