SIMPATI

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Rasulullah SAW bersabda; “Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu, tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan akhlak yang baik” (HR. Abu Ya’la dan Al-Baiquni)

Simpati adalah rasa kasih, rasa setuju dan rasa suka terhadap sesuatu. Simpati dapat pula dimaknai sebagai keikutsertaan merasakan perasaan orang lain, baik susah maupun senang. Simpati berarti berusaha menarik hati orang lain. Biasanya, bila Anda bertemu orang yang baru dikenal untuk kali pertama, Anda akan ‘jatuh hati’ padanya manakala orang itu memiliki wajah yang ramah dan perangai baik yang mengesankan Anda. Sehingga Anda dapat mengingatnya dalam tempo lama.

Membuat orang lain sayang dan menghargai Anda sebetulnya pekerjaan yang gampang-gampang susah. Dikatagorikan mudah karena memang sejujurnya tidak memakai modal materi. Dikatakan sulit sebab Anda tidak mengetahui isi hati dan kemauan orang yang bersangkutan. Harta dan jabatan belum tentu menjadikan mereka menaruh hati terhadap Anda. Kalau pun memang bisa, saya yakin sifatnya hanya sementara alias temporer. Artinya simpati dimanfaatkan dalam moment tertentu.

Sebenarnya masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat kurang pintar yang mudah dikelabui. Hakikatnya mereka pandai dan cerdik. Misalnya dalam proses pemilihan pemimpin –entah kepala desa, camat, bupati, gubernur sampai level presiden—, lazimnya dipajang foto, gambar maupun poster calon pemimpin. Dengan berbagai cara, tim sukses mengarahkan gaya, memoles muka, mengatur senyum serta mempercantik wajah agar sang kandidat terlihat berwibawa dan meyakinkan. Tujuannya cuma satu; menarik simpati para calon pemilih. Namun, kiranya masyarakat bisa membedakan mana jati diri yang ‘asli’ dan hasil ‘rekayasa’.

Atas dasar tersebut, simpati sesungguhnya tidak bisa dibuat-buat. Bagaimana mungkin wajah yang sebelumnya suka cemberut, galak dan ketus, mendadak berubah ramah tanpa adanya kepentingan? Bagaimana mungkin akhlak seseorang yang buruk spontanitas beralih ke akhlak yang baik tanpa adanya maksud dan tujuan? Karena itu, simpati memiliki hubungan dengan wibawa, kepribadian, kinerja, dan kiprah atau karya seseorang. Simpati tidak muncul secara tiba-tiba. Ia ada lantaran sudah terbiasa dalam kehidupan sehari-hari seseorang.

Anda dapat mempelajari bagaimana strategi Rasulullah SAW menarik simpati orang lain dalam menyebarkan agama Islam. Beliau mengajak kaum Arab jahiliyah yang berwatak keras dengan kelembutan wajah. Beliau mencontohkan akhlak mulia dan memberi senyum tulus disertai ketegasan sikap. Beliau tidak membagi-bagikan uang kepada mereka, layaknya pengurus partai politik yang menyuap rakyat agar memilihnya. Memang, beliau bukanlah orang yang bergelimang harta. Namun, andaikan beliau memohon kepada Allah SWT, niscaya tidak ada yang tidak mungkin. Faktanya, Anda bisa melihat pengikut beliau yang memeluk agama Islam secara perlahan terus bertambah tanpa embel-embel kedudukan.

Dalam perumpamaan lain, persahabatan yang abadi umumnya bukan dilandasi karena materi. Simpatisan yang awet bukan karena terus dijejali atribut kekuasaan. Kerjasama yang langgeng bukan pula dipengaruhi karena suap menyuap. Namun, semuanya berdasarkan kepercayaan, ketulusan hati dan sikap yang baik antara keduanya. Bagi Anda yang ingin menarik simpati orang lain, cobalah untuk tidak menggunakan jabatan dan uang yang Anda miliki. Pasalnya hanya kesia-siaan yang akan Anda dapatkan.***

IBU

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Kasih ibu sepanjang jalan. Kasih anak sepenggal jalan.

Kata ‘ibu’ mengandung banyak definisi. Kerangka umum merumuskan, ibu adalah perempuan yang telah melahirkan seorang anak. Makna lain, ibu berarti sebutan untuk wanita yang sudah bersuami. Dalam lingkungan keluarga, ibu menyandang dua posisi, yakni sebagai istri dari suami yang menjadi kepala rumah tangga dan selaku ibu bagi anak-anaknya. Seorang ibu umumnya memiliki karakter khas. Misal nalurinya lemah lembut, perasaannya peka, tutur katanya santun, akhlaknya baik, jiwa kemanusiaannya tinggi, sabar, tegar, tulus mencurahkan cinta dan kasih sayang.

Islam memberikan perhatian dan tempat khusus kepada kaum ibu. Sebagai seorang istri, hendaknya ibu menjadi penebar kasih sayang, tempat suami menemukan kedamaian, sumber semangat bagi kehidupan rumah tangga sekaligus kebahagiaan suami istri. Sedangkan selaku seorang ibu, ia bertugas mendidik anak-anak dan membentuknya sebagai calon pemimpin.

Apabila anak-anak baik dan terdidik dengan pengetahuan yang benar, maka kehidupan keluarga, lingkungan, masyarakat bahkan negara akan bangkit 081223-hari-ibudan –insya Allah—derajatnya meningkat di tangan mereka. Jikalau tidak, maka malapetaka dan kehancuran semuanya dimungkinkan terjadi. Di sinilah peran ibu yang terus berkesinambungan tanpa mengenal rasa lelah sangat besar dalam memoles buah hatinya, meski tak dapat dipungkiri di situ ada sumbangan seorang ayah.

Sebaliknya, kebanyakan anak sering menganggap bahwa menghadiahkan mobil atau membuatkan rumah yang dipersembahkan untuk kedua orang tua –terutama ibunya—merupakan jasa yang cukup besar. Dengan cara begitu, si anak menyangka telah memenuhi atau menyelesaikan semua hak keduanya. Setelah itu, dengan angkuhnya anak memutuskan komunikasi dan berhenti berbakti kepadanya.

Pemikiran demikian jelas keliru. Anda paham, orang tua memang telah mengeluarkan hal yang sangat mahal dan tentu berharga untuk anaknya secara tulus penuh keridhaan. Namun perlu disadari, mereka tidak pernah menghitung segala pemberian kepada anaknya. Tidak pula mereka mengharapkan darinya imbalan yang setimpal.

Bagi Anda yang menduduki posisi anak, ibu sesungguhnya sosok insan yang sangat mulia. Ibu mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, mendidik sekaligus membesarkan. Bila diibaratkan, ibu adalah tempat sekolah yang pertama bagi anak-anak. Kenyaatan yang sekarang terjadi di masyarakat, tidak sedikit ditemukan kaum ibu yang lari dari tanggung jawabnya. Sebagai istri, ia tidak mau lagi mengurus suaminya. Selaku ibu, ia kerap menelantarkan anaknya.

Alasan yang disodorkan jelas beraneka rupa. Semisal ibu sibuk dengan urusan kantor atau rutinitas bisnisnya. Akibatnya suami dan anak menjadi korban ketidakpeduliannya. Perlu dicermati, Islam pada dasarnya tidak pernah melarang wanita untuk berkiprah dalam berbagai bidang kehidupan. Hanya saja, mereka tidak boleh melupakan kodrat, tugas utama dan tanggung jawabnya. Apa jadinya bila segala keperluan suami maupun urusan pendidikan anak diserahkan kepada pembantu? Di sinilah sejatinya peran ibu yang menjadi rujukan suami dan anak harus dimainkan.

Betapa agungnya kedudukan ibu dalam bingkai agama Islam. Sampai ada satu riwayat hadis yang menyatakan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Maka, memuliakan dan mengangkat derajatnya sudah menjadi keharusan. Di antara caranya, Anda wajib taat selagi dalam koridor kebajikan, berbuat baik, menghormati serta memberikan sesuatu yang bagus, baik dan patut kepadanya.***