IMAM AL GHAZALI; Anak Orang Miskin yang Jadi Ulama

Penutur Ulang Lukman Hakim Zuhdi

Imam Al Ghazali adalah seorang tokoh terkemuka dalam bidang fikih, filsafat dan tasawuf yang sangat berpengaruh di dunia Islam. Nama lengkapnya Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Abu Hamid Al Ghazali. Dia lahir di Kota Thusi pada tahun 450 hijriyah, dalam lingkungan keluarga miskin, namun orang tuanya ahli ibadah. Ayah, kakek dan keluarganya dikenal memiliki keahlian menenun kain. Hasil tenunannya yang terbuat dari kulit domba, kemudian dijual di pasar Thusi. Seluruh uang penjualannya digunakan untuk membeli makan dan membiayai kebutuhan sehari-hari.

Sewaktu Al Ghazali masih kecil, Ayahnya menyerahkan Al Ghazali kepada salah seorang sahabatnya yang mahir menulis khat (huruf Arab). Ayahnya ingin sekali Al Ghazali bisa menulis khat, tidak seperti dirinya yang tidak bisa menulis khat. Al Ghazali mau mengikuti nasehat Ayahnya. Setiap hari Al Ghazali belajar khat dengan tekun hingga akhirnya mahir. Setelah Ayahnya wafat, Al Ghazali mendalami ilmu agama secara sungguh-sungguh di madrasah. Di tempat ini, dia bukan sekadar memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan berkenalan dengan teman-teman barunya, melainkan dapat makanan secara gratis.

Al Ghazali tergolong anak yang cerdas, bahkan jenius. Setiap materi yang disampaikan gurunya selalu cepat dipahami dan dihapalnya. Ditambah lagi dia gemar membaca buku dan meneliti kitab-kitab karangan ulama zaman dahulu. Hal ini tentu semakin memudahkannya untuk menguasai suatu pembahasan dan ilmu. Selain itu, dia sering berkeliling mengunjungi kediaman ulama untuk menimba ilmu sekalian minta didoakan agar menjadi anak yang saleh. Terbukti, kian hari ilmunya kian bertambah. Atas dasar itu, ketika menginjak usia dewasa atau sekitar tahun 484 hijriyah, dia dipercaya dan diangkat menjadi pengajar di madrasah.

Nasehat Al Ghazali Kepada Muridnya

Semenjak mengajar, Al Ghazali mulai dikenal banyak orang. Kelihaiannya dalam menerangkan sesuatu secara gamblang membuat murid-muridnya takjub. Mereka senang mengikuti setiap pelajaran Al Ghazali. Kepada mereka, Al Ghazali mengajarkan agar dalam melakukan segala sesuatu perlu hati-hati dan selalu didasarkan pada keikhlasan, bukan demi materi atau kesenangan dunia. Dia juga menekankan kepada mereka supaya berlatih membersihkan hati dari sifat-sifat buruk yang bisa mendatangkan kemaksiatan dan dosa, seperti tidak mengikuti hawa nafsu, marah, iri hati, dan permusuhan. Menurutnya, orang yang hatinya bersih, akan dengan mudah dan cepat bisa menerima hidayah dan karunia Allah SWT.

Belum lagi para pengajar di madrasah yang segan dan hormat kepada Al Ghazali. Dia dikenal memiliki wawasan yang begitu luas dan kepribadiannya yang santun terhadap siapapun. Dalam pergaulan, Al Ghazali tidak mau menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain. Sesekali dia diminta oleh masyarakat untuk mengisi pengajian. Biasanya para warga beramai-ramai hadir untuk mendengarkan ceramahnya hingga akhir. Namun, semua penghormatan itu tidak membuat Al Ghazali menjadi sombong. Dia justru semakin giat belajar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dia juga menolak suatu jabatan tinggi yang ditawarkan kepada dirinya.

Al Ghazali Berkelana dan Mengasingkan Diri

Beberapa waktu kemudian, tepatnya tahun 488 hijriyah, Al Ghazali memilih keluar dari madrasah. Dia menyerahkan tugas mengajarnya kepada saudaranya yang bernama Ahmad. Sebetulnya para murid dan masyarakat merasa keberatan dengan keputusannya mundur. Apalagi belum ada orang yang ilmunya setara dengannya. Tapi apa hendak dikata, mereka tidak bisa mencegahnya, sebab Al Ghazali memiliki tujuan yang lebih mulia. Al Ghazali lantas meninggalkan kampung halamannya karena ingin menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu lagi.

Di Tanah Haram dan di setiap daerah yang dilewati, Al Ghazali selalu mengikuti pengajian ulama yang biasanya diadakan di pelataran masjid. Selain itu, dia menyempatkan diri menziarahi tempat-tempat suci, khususnya makam ulama dan orang-orang saleh. Bahkan, dia mengasingkan atau menjauhkan diri dari hiruk pikuk persoalan kehidupan dunia. Hidupnya hanya berkutat di sekitar masjid dan majelis pengajian. Setiap detik waktunya dimanfaatkan untuk belajar, berzikir kepada Allah SWT sembari terus membersihkan batin dan pikirannya.

Menjelang tahun 492 hijriyah, Al Ghazali kembali ke tanah kelahirannya dari perantauannya. Dia langsung mendapat tawaran jabatan penting dari seorang raja, namun ditolaknya secara baik-baik. Al Ghazali kemudian mendirikan madrasah di samping rumahnya dan membangun asrama untuk para sufi. Banyak anak-anak yang datang untuk belajar kepadanya. Tidak sedikit pula dari masyarakat yang meminta saran, nasehat dan doanya. Dengan senang hati Al Ghazali menerima kehadiran mereka. Praktis, sehari-hari waktunya dihabiskan untuk mengajar murid-murid dan membagi ilmunya. Selain itu, dia senang membaca Al-Quran hingga khatam, shalat malam, merenung (bertafakur), banyak menulis kitab, puasa sunah, dan melakukan ibadah lainnya.

Peristiwa Menggemparkan Setelah Subuh

Menjelang waktu Subuh, Al Ghazali menuju kamar mandi untuk berwudhu, selanjutnya menunaikan shalat Subuh. Seusai shalat, dia meminta seorang saudaranya untuk mengambil kain kafan miliknya. Kain kafan itu dicium, diletakkan di atas kedua mata, lalu Al Ghazali berkata, “Sebentar lagi Malaikat Izrail (malaikat pencabut nyawa) akan menemui saya.” Dia kemudian meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Selang beberapa menit, tidak ada lagi hembusan angin yang keluar dari lubang hidungnya. Jantungnya seketika berhenti berdetak. Seluruh organ tubuhnya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Al Ghazali meninggal dunia sebelum langit menguning atau menjelang pagi hari, pada hari Senin, 14 Jumadil Akhir 505 H.

Al Ghazali meninggalkan beberapa orang putri dan hampir dua ratus karya tulisnya. Buku-buku karangannya meliputi berbagai bidang, seperti teori pemerintahan, hukum Islam, keimanan, tafsir, tasawuf, dan filsafat. Keluarga, para murid, masyarakat, dan banyak kalangan yang bersedih dan merasa kehilangan atas wafatnya. Mereka tidak akan bisa melupakan jasa-jasa Al Ghazali yang begitu luar biasa. Kesederhanaan dan kebersahajaan hidup serta kedalaman ilmunya adalah warisan yang patut dicontoh. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, mereka rela berdesak-desakan untuk mengantarkan Al Ghazali ke pekuburan Ath Thabaran sembari tak henti-henti mendoakannya.***

2 thoughts on “IMAM AL GHAZALI; Anak Orang Miskin yang Jadi Ulama

  1. eLHa SHI Mei 24, 2009 / 6:28 am

    KISAH IMAM ALGHAZALI MENJADI PENYEMANGAT BAGI ANAK-ANAK YANG LAHIR DARI KELUARGA PAPA/KURANG BERUNTUNG.

    • komunitasamam Mei 24, 2009 / 6:34 am

      semoga begitu, ya bung eLHa. sayangnya, pemerintah indonesia justru seringkali memandang sebelah mata terhadap anak-anak jenius/cerdas yg berasal dari keluarga miskin. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s