Kewajiban Terhadap Rasulullah SAW

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Anak-anak sudah berkumpul di masjid, setelah shalat duhur. Laki-laki memakai baju koko, celana panjang putih dan berpeci. Rata-rata memakai peci haji Sementara para perempuan mengenakan kerudung dan busana muslimah. Mereka sangat senang akan mengikuti pesantren kilat. Buku, pulpen, pensil, dan perlengkapan lainnya sudah mereka persiapkan dari rumah. Siang itu tema yang akan disampaikan Ustad Helmi tentang kewajiban umat Islam terhadap Rasulullah SAW.

Setelah mengucapkan salam dan melihat kesiapan anak-anak, Ustad Helmi mulai menerangkan materi. Sebelumnya Ustad Helmi mendata seluruh anak yang hadir. Menurut Ustad Helmi, ada beberapa kewajiban kita sebagai umat Islam kepada Rasulullah SAW. Pertama, kewajiban kita beriman kepada Rasulullah SAW. Maksudnya, kita wajib yakin sepenuh hati bahwa Rasulullah SAW adalah rasul Allah SWT. Orang yang beriman kepada Allah SWT, maka kadar keimanannya kepada Rasulullah SAW pun tidak perlu diragukan lagi.

Oleh karena itu, lanjut Ustad Helmi, di dalam dua kalimat syahadat, nama Allah SWT disandingkan dengan nama Rasulullah SAW. Asyhadu alla ilaha Illallahu wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Artinya, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad sesungguhnya utusan Allah SWT. Tidak ada nabi dan rasul manapun yang namanya disejajarkan dengan nama Allah SWT, selain nama Rasulullah SAW. Ini membuktikan bahwa kedudukan Rasulullah SAW sangat mulia dan istimewa di hadapan Allah SWT.

Ustad Helmi lantas membacakan salah satu arti firman Allah SWT yang tertulis dalam Surat An-Nisa’ ayat 136.
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. Ayat ini telah jelas maksud dan arti kandungannya. Jadi, kita tidak perlu memperdebatkannya lagi,” tegas Ustad Helmi.

Kedua, kewajiban kita taat dan patuh kepada Rasulullah SAW. Ustad Helmi menjabarkan, siapapun yang mentaati Rasulullah SAW, maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah SWT. Begitu pula sebaliknya. Ketaatan kita kepada Rasulullah SAW akan membawa kepada sikap mau mengikuti seluruh gerak gerik kehidupan Rasulullah SAW. Orang yang tidak taat kepada Rasulullah SAW, berarti orang itu dalam aktivitas sehari-harinya hanya memenuhi keinginan hawa nafsu, demi kepuasan syahwat dan mengikuti bisikan-bisikan setan yang terkutuk.

Ketiga, kewajiban kita membenarkan dan mengikuti Rasulullah SAW. Dalam hal ini, kata Ustad Helmi, kita mengikuti dan mencontoh Rasulullah SAW dalam berakidah, beribadah maupun ketika berhubungan dengan sesama manusia. Sesungguhnya tidak ada yang salah, melenceng maupun keliru dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat dan umatnya. Sebab, Rasulullah SAW senantiasa berada dalam pantauan dan bimbingan Allah SWT.

“Mencintai Allah SWT tak akan mungkin terjadi kecuali kita sungguh-sungguh mencintai Rasulullah SAW. Orang yang membenarkan apa yang dibawa Rasulullah SAW, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Makna takwa adalah menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi serta meninggalkan semua larangan-Nya secara istiqamah. Bagi orang yang bertakwa, Allah SWT akan memberikan berbagai bonus dan keistimewaan. Misalnya Allah SWT akan memudahkan segala urusan kehidupannya, menunjukkan jalan keluar dari masalah pelik yang dihadapinya, membukakan pintu rezeki dan mendatangkannya dari arah yang tidak terduga, dan mengampuni kesalahan dan dosa-dosanya,” cetus Ustad Helmi. 

Keempat, kewajiban kita bershalawat kepada Rasulullah SAW. Maksudnya, terang Ustad Helmi, bila nama Rasulullah SAW disebut dan kita mendengarnya, maka kita wajib menyampaikan shalawat untuknya.

“Anak-anak ada yang tahu bacaan shalawat?” Ustad Helmi bertanya kepada anak-anak yang sejak tadi serius memperhatikan.

Serempak anak-anak menggelengkan kepalanya, tanda mereka belum mengetahuinya.

Subhanallah,” ucap Ustad Helmi sambil tersenyum. “Baiklah kalau begitu. Begini bacaan singkatnya, allahumma sholli ala muhammad. Artinya, ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kami kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Kalau mau bacaan lengkap dan utamanya, yaitu allahumma sholli ala sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kami kepada junjungan Nabi Muhammad SAW dan juga kepada segenap keluarganya,” jelasnya dengan suara yang sengaja dilambatkan agar bisa diikuti anak-anak.

“Ustad, apa manfaatnya kalau kita bershalawat kepada Rasulullah SAW?” tanya Inung, penasaran. Inung memang dikenal anak yang kritis dan cerdas ketimbang teman-teman sebayanya. Rasa ingin tahunya terhadap sesuatu sangat besar. Karena itu dia kerap memilih tempat duduk paling depan.

“Rasulullah SAW bisa kita ibaratkan seperti ember besar yang airnya sudah penuh. Air itu maksudnya pahala dan keistimewaan yang dimiliki Rasulullah SAW. Rasulullah SAW tidak memiliki dosa dan kesalahan. Bila kita bershalawat, maka kita mengharap keberkahan tumpahan air itu dapat mengalir kepada diri kita. Nanti pada hari kiamat, semua nabi dan rasul akan dimintai syafaat (pertolongan) oleh umatnya masing-masing. Tetapi, para nabi dan rasul tidak bisa memberikan syafaat, karena mereka pernah berbuat salah dan dosa kepada Allah SWT. Akhirnya seluruh umat mencari keberadaan Rasulullah SAW. Mereka ingin meminta syafaatnya. Sebab, hanya Rasulullah SAW yang dapat memberikan syafaat,” beber Ustad Helmi.

“Paham?”

“Insya Allah kami paham, Ustad…” Anak-anak saling berpandangan. Mereka sebenarnya ingin tertawa, tapi ditahan. Takut Ustad Helmi tersinggung.

Kelima, kewajiban kita memahami bahwa Rasulullah SAW adalah nabi dan rasul penutup. Di dalam istilah bahasa Arab disebut khatimun nubuwwah. Setelah Rasulullah SAW wafat, maka tidak ada lagi yang namanya nabi, rasul maupun wahyu. Pengertian wahyu ialah perintah maupun larangan dari Allah SWT yang disampaikan kepada para nabi dan rasul melalui perantara Malaikat Jibril.

“Ustad, bagaimana jika ada orang yang menyatakan dirinya nabi atau mengaku sebagai rasul?” sela Firman.

“Orang yang model seperti itu dikatagorikan penjahat dan pembohong besar. Pada setiap masa akan ada orang yang mendeklarasikan diri sebagai nabi atau rasul. Dia bukan saja berdosa besar kepada Allah SWT, tetapi sudah menipu manusia lainnya. Oleh karena itu, kita tidak perlu mempercayainya. Bahkan kita boleh memeranginya. Meskipun, orang itu memiliki kehebatan yang bermacam-macam. Misalnya dia bisa menghilang, mampu berjalan di atas air, dapat terbang, sanggup memindahkan gunung, bahkan menghidupkan kembali orang yang sudah mati.”

Keenam, kewajiban kita membela Rasulullah SAW. Rasulullah SAW memang kini telah tiada. Namun kehebatan, kharisma, nama baik, maupun ajarannya akan terus memancar hingga hari kiamat tiba. Keagungan pribadinya tak henti-henti dibahas beragam orang. Apabila ada orang atau kelompok yang berani melecehkan dan memfitnah Rasulullah SAW dalam bentuk apapun, maka kita harus bersiap menentangnya. Kita mesti meluruskan pandangan salah mereka secara baik-baik, agar terhindar dari aksi kekerasan. Jika melalui cara yang baik tidak mempan dan mereka tetap membandel, maka diperbolehkan mengambil tindakan yang cukup tegas.

“Kenapa ada orang yang menghina dan membenci Rasulullah SAW, Ustad?” potong Rizky.

“Menghina Rasulullah SAW sama saja dengan menghina dirinya sendiri. Orang itu berarti tidak suka terhadap Rasulullah SAW. Karena dia bodoh dan belum mengerti siapa sesungguhnya Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah tokoh dunia yang menjadi teladan bagi seluruh manusia, khususnya umat Islam. Akhlaknya baik, ibadahnya rajin, sisi kemanusiaannya tinggi, dan segala perjuangannya tulus ikhlas diniatkan hanya kepada Allah SWT. Sangat wajar jika Allah SWT menyebut sekaligus telah menetapkan Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam),” tandas Ustad Helmi.

Ustad Helmi berhenti sejenak untuk melihat jam tangannya.

“Anak-anak, sekarang waktu shalat ashar hampir masuk. Kiranya kita cukupkan pengajian pesantren kilat ini. Insya Allah dilanjutkan besok. Semoga pembahasan ini membawa manfaat bagi kita semua, amin ya rabbal ‘alamin. Ustad sekadar mengingatkan, sebelum pulang, mari sebaiknya kita shalat ashar berjamaah di masjid ini. Kurang lebihnya Ustad mohon maaf. Akhir kata, wassalamualaikum wa rahmatullahi wabarakatuh…” tutup Ustad Helmi.

“Waalaikum salam wa rahmatullahi wabarakatuh…”***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s