IMAM BUKHARI; Penghafal dan Penulis Hadits

Penutur Ulang Lukman Hakim Zuhdi

Allah SWT telah mempercayakan kepada Imam Bukhari untuk menghafal dan menjaga hadits atau sunah Nabi Muhammad SAW. Bukhari menjadi ahli hadits yang sangat terkenal sepanjang masa. Dia dianugerahi hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat. Dia lahir di Bukhara, Uzbekistan, setelah shalat Jumat, 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al-Bukhari. Kakeknya beragama Majusi, namun Ayahnya telah memeluk Islam sejak kecil.

Tak lama setelah Bukhari lahir ke dunia, dia kehilangan penglihatannya. Ayahnya yang dikenal ahli ibadah, alim dan kepala madrasah, tentu sangat bersedih hati. Begitu pula Ibunya yang salehah, menangis terus-menerus. Kedunya selalu berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar bayinya bisa melihat. Belum sempat Bukhari menatap wajah Ayahnya, sang Ayah meninggal dunia. Peristiwa ini menambah cobaan berat bagi Ibunya. Ayahnya mewariskan banyak harta yang memungkinkan istri dan anak-anaknya bisa hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik.

Sepeninggal Ayahnya, Ibunya terus berusaha, merawat dan bermunajat kepada Allah supaya Bukhari dapat menikmati segala ciptaan-Nya di dunia. Satu malam, ketika sedang tidur, Ibunya bermimpi didatangi seseorang yang berkata: “Wahai Ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu. Kini dia sudah dapat melihat kembali. Semua itu berkat doamu yang tiada henti-hentinya.” Saat Ibunya terbangun, penglihatan Bukhari sudah normal total. Kala itu usia Bukhari menjelang 10 tahun. Ibunya seketika memanjatkan puji syukur hingga berlinang air mata.

Kehebatan Imam Bukhari

Ibunya mendidik Bukhari secara tekun dan penuh perhatian. Sebagai anak jenius, Bukhari mampu menangkap segala sesuatu secara cepat dan mudah. Dia menghafal apapun hanya dalam waktu satu kali dengar. Dia banyak belajar kepada ulama yang ada di kotanya. Selain itu, dia senang dengan kegiatan olahraga memanah, bahkan sampai mahir. Dia juga mewarisi sifat-sifat mulia dari Ayahnya yang sedikit sekali makan, sangat pemalu namun ramah, menjauhi kesenangan dunia dan lebih mencintai kehidupan akhirat.

Ayahnya dikenal sebagai orang yang wara’, yakni berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), apalagi yang haram. Perhatian Bukhari terhadap ilmu hadits yang sulit dan rumit, sudah tumbuh sejak umur 10 tahun. Hadits adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan Rasulullah SAW, baik menyangkut ucapan, tindakan maupun keputusannya.

Hingga usia 16 tahun, Bukhari sudah hafal dan menguasai buku-buku hadits. Keluarganya lantas mengajak Bukhari mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah. Di sanalah dia mengikuti pelajaran dan pengajian ilmu hadits yang diadakan oleh ulama kondang. Dua tahun berikutnya, dia menerbitkan buku pertamanya –jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia– berjudul Peristiwa-peristiwa Hukum di Zaman Sahabat dan Tabi’ien.

Ujian Imam Bukhari

Sewaktu muda, Bukhari tidak pernah membuat catatan belajar, tidak seperti murid lainnya. Dia sering dicela, dianggap membuang waktu karena tidak mau mencatat. Dia diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, dia meminta kawan-kawannya membawa dan membuka catatan mereka. Dihadapan mereka, secara lancar dan fasih, dia membacakan seluruh yang pernah disampaikan para gurunya selama belajar. Kontan tercenganglah mereka. Ternyata Bukhari hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Lain kesempatan, ketika sedang berada di Baghdad, Irak, Bukhari pernah didatangi sepuluh ahli hadits yang ingin menjajal ketinggian ilmunya. Mereka mengajukan 100 hadits yang sengaja diputar-balikan untuk menguji hafalan Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang keliru sesuai urutannya, mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Semuanya dilakukan Bukhari tanpa mengeceknya dicatatan manapun. Para ahli hadits itu benar-benar terpukau. Andai mereka tahu, sebenarnya Bukhari hafal di luar kepala sebanyak 100.000 hadits sahih dan 200.000 hadits yang tidak sahih.

Karya Spektakuler Imam Bukhari

Sebagai intelektual muslim yang mendapat gelar tertinggi Amirul-Mu’minin fil-Hadits (pemimpin orang mukmin dalam hadits), Bukhari dikenal sebagai pengarang atau penulis kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi merambah ilmu tafsir, fikih dan sejarah. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat dan kehadirannya di setiap tempat selalu ditunggu serta disambut secara meriah. Dari semua karyanya, yang paling monumental kitab Al-Jami’ As-Shahih, yang lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari, yang berisi sekitar 9.082 hadits.

Dalam tahapan penulisannya, Bukhari mengumpulkan dan meneliti satu juta hadits serta menemui 80.000 perawi (pembawa hadits) di 7 negara. Dia sangat berhati-hati menyusunnya. Bahkan, setiap kali ingin menuliskan satu hadits, dia terlebih dahulu shalat istikarah dua rakaat di Masjidil Haram, Mekkah, dan memohon pertolongan kepada Allah. Dia menulis bab pembukaan dan pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Untuk menyelesaikan semua proses itu hingga tuntas, dia membutuhkan waktu 16 tahun.

Sebelum menulis Shahih Bukhari, Bukhari bercerita, dirinya bermimpi melihat Rasulullah. Seolah-olah Bukhari berdiri di hadapannya sambil memegang kipas yang dipergunakan untuk menjaganya. Mimpi itu lalu ditanyakan kepada ahli penafsir mimpi. Adapun dari maksud mimpi itu, rupanya Bukhari mempunyai tugas berat untuk menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits-hadits Rasulullah yang disebar luaskan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Isyarat mimpi inilah, antara lain, yang mendorongnya untuk melahirkan kitab Al-Jami’ As-Sahih.

Pesan Terakhir Imam Bukhari

Imam Bukhari tergolong manusia dermawan. Banyak hartanya yang disedekahkan, baik secara sembunyi maupun terang-terangan, lebih-lebih untuk kepentingan pendidikan dan para pelajar. Seluruh uang gajinya rela disumbangkan untuk kemajuan dunia pendidikan. Dia meninggal dunia ketika akan memenuhi undangan penduduk Samarkand. Dalam perjalanannya, dia singgah terlebih dahulu di Khartand, sebuah desa kecil 10 kilometer sebelum sampai di Samarkand, untuk mengunjungi beberapa familinya.

Namun, di sana Bukhari jatuh sakit selama beberapa hari hingga akhirnya wafat, 31 Agustus 870 M (256 H), pada malam Idul Fitri. Pria berbadan kurus, berperawakan sedang –tidak terlalu tinggi juga tidak pendek—dan berkulit agak kecoklatan itu dimakamkan selepas Shalat Dzuhur. Sebelum wafat, ulama yang tidak meninggalkan seorang anak pun itu berpesan bahwa jika wafat nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh kerabat dan masyarakat setempat.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s