Belajar Meminta Maaf

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

“Pak, Ibu sudah tidak sanggup lagi mengurus Inung. Capek. Inung sekarang jadi bandel. Suka memberontak. Berani melawan Ibu. Tidak mau belajar. Tidak mau membantu Ibu. Setiap hari maunya main terus. Duit jajannya saja membengkak sampai lima kali lipat. Ibu sering melihat Inung main play station sama teman-temannya hingga berjam-jam. Belakangan duit Ibu yang didompet sering berkurang. Coba Bapak cari jalan keluarnya. Lama-lama Ibu bisa stres!” Ibu mengadu kepada Bapak. Suara Ibu meninggi. Emosinya meledak-ledak.

“Setahu Bapak, Inung tidak seperti yang Ibu ceritakan,” sergah Bapak, raut wajahnya tenang.

“Makanya Bapak jangan sibuk dengan kerjaan terus, dong. Kalau ada Bapak, iya Inung takut. Tapi kalau Bapak sedang tidak ada di rumah atau berada di luar kota, Inung semaunya sendiri. Inung suka marah dan mengamuk. Apa yang ada di depannya dirusak. Beberapa piring dipecah pakai kayu. Gelas-gelas dibantingnya ke lantai. Nasihat Ibu sudah tidak mempan. Pokoknya Ibu menyerah. Titik!” Ibu berkata ketus, lalu meninggalkan Bapak.

Bapak menarik napas panjang. Bapak melihat Ibu masuk ke kamarnya.

“Ini mesti ada yang tidak beres,” pikir Bapak.

Sore hari, sepuluh menit menjelang adzan Maghrib berkumandang, Inung baru pulang ke rumah. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya kuyu.

“Inung, coba kemari sebentar, Nak. Bapak ingin bicara,” kata Bapak yang sedang duduk santai di kursi.

“Inung mau mandi, Pak. Badannya gatal. Bajunya bau dan kotor,” Inung menjawab sembari memperlihatkan kaosnya yang lecek.

Lepas Maghrib, Inung bersiap-siap keluar dari rumah. Bapak dan Ibu sedang menonton televisi di ruang tengah.

“Inung mau kemana?” tanya Bapak.

“Ke rumah Wawan, Pak. Mau belajar bersama.”

Loh, bukannya besok sekolah libur?” Bapak tak mau kalah. Bapak tahu, di sebelah rumah Wawan ada rental play station.

“Maksud Inung, Inung mau mengambil buku pelajaran yang tadi dititipin ke Wawan.” Inung terlihat gugup.

“Sebaiknya besok saja mengambil bukunya. Lagi pula kan Inung tadi baru pulang. Nanti kalau kecapean, bisa sakit, loh,” Bapak menyarankan.

Inung membatalkan rencana perginya. Inung balik lagi ke kamarnya. Wajahnya cemberut. Ia bersungut-sungut sendiri. Langkah kakinya sedikit dihentakkan ke lantai. Bapak tahu Inung ngambek. Ibu diam saja, pura-pura tidak mengerti. Bapak segera menghampiri Inung di kamarnya.

“Coba Bapak lihat buku catatan sekolah Inung. Sudah lama Bapak tidak mengeceknya,” Bapak berusaha menurunkan rasa kesal Inung. Tak henti-hentinya Bapak tersenyum.

Inung masih manyun. Inung membuka tas sekolahnya, kemudian menyerahkan satu buah buku kepada Bapaknya. Bapak secara perlahan membuka lembaran-lembaran buku Inung.

Kok sekarang nilai-nilai Inung tambah menurun. Inung sudah jarang belajar, ya?” selidik Bapak.

Inung terdiam. Mulutnya terasa berat untuk sekadar mengeluarkan sepatah dua patah kata. Jari jemari tangannya meremas-remas kertas.

“Halo…” Bapak mencoba menggoda Inung.

Inung tidak terpengaruh. Inung tetap diam. Bapak menutup buku. Kedua tangan Bapak lalu memegang pundak Inung.

“Sekarang katakan apa yang Inung minta? Bapak akan mengabulkannya. Yang penting Inung jujur sama Bapak.” Sikap Bapak dibuat seramah mungkin supaya Inung merasa nyaman. Kedua matanya lekat menatap mata Inung yang terlihat nanar.

“Inung tidak butuh apa-apa. Sejak kesibukan Bapak di kantor meningkat, Inung hampir tidak pernah ketemu Bapak, apalagi ngobrol. Bapak berangkat kerja sebelum Inung bangun tidur. Bapak pulang kerja larut malam, Inung sudah tidur. Hari Sabtu dan Minggu, biasanya Bapak pergi sama teman kantornya. Terus, kapan waktu buat Inung? Bapak memang membelikan play station yang paling bagus. Bapak juga memberikan Inung uang jajan yang banyak. Tapi kebutuhan Inung bukan cuma itu. Inung perlu perhatian dari Bapak. Sekarang Bapak sudah nggak sayang lagi sama Inung!” Inung mengutarakan unek-uneknya.

Sekarang giliran Bapak yang dibuat terdiam. Bapak benar-benar kaget. Bapak tidak menyangka Inung akan berkata begitu secara blak-blakan. Wajah Bapak seperti ditampar Inung. 

“Makanya Inung berani sama Ibu. Inung tidak mau belajar. Inung nakal. Semua itu bentuk protes dari Inung, Pak,” Inung mengungkapkan kegelisahan hatinya. Amarah Inung terlampiaskan. Hatinya mulai lega. Beban-beban yang menyesaki pikirannya ditumpahkan semua.

Bapak merangkul Inung. Pelukannya erat sekali.

“Maafin Bapak, ya, Nak. Bapak yang salah. Beberapa waktu belakangan, Bapak memang lebih mementingkan karir dan pekerjaan. Sampai-sampai Inung dilupakan. Mulai sekarang Bapak janji akan memperbaiki diri. Inung juga harus janji tidak boleh nakal lagi. Kalau Inung nanti bisa meraih rangking satu, dua atau tiga di sekolah, Bapak memberikan hadiah istimewa. Bapak akan mengajak Inung, Kakak, dan Ibu jalan-jalan dan liburan ke luar kota. Deal?”

Inung terdiam, lantas mengatur pernapasannya.

Deal! Terima kasih ya, Pak,” Inung tersenyum bahagia sembari menatap wajah Bapaknya.

Nah, sebaiknya sekarang Inung meminta maaf sama Ibu. Soalnya kemarin-kemarin Inung sering membuat Ibu kesal. Meminta maaf kepada orang lain itu tindakan yang baik dan terpuji. Agama juga menganjurkannya. Inung mau, kan?”

Inung mengangguk pelan. Tidak berapa lama, Bapak dan Inung menghampiri Ibu yang masih menonton sinetron.

“Ibu, Inung mohon maaf karena telah membuat Ibu sakit hati,” Inung mencium tangan Ibunya.

“Ya, Ibu sudah memaafkan Inung. Ingat, Inung tidak boleh badung lagi,” pesan Ibunya. 

“Siap, Bu!” Inung menempelkan tangan kanannya dikening, layaknya tentara yang sedang memberi hormat.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s