Kisah Nabi Isa ‘alaihis salam; Menghidupkan Orang yang Sudah Lama Mati

Penutur Ulang Lukman Hakim Zuhdi

Setiap nabi dan rasul dianugerahi mukjizat yang berbeda-beda oleh Allah SWT. Mukjizat adalah kejadian luar biasa untuk membuktikan kenabian dan kerasulan seseorang. Mukjizat yang diperlihatkan nabi dan rasul umumnya disesuaikan dengan kondisi umat pada zamannya. Pada masa Nabi Isa ’alaihis salam, masyarakat Bani Israil sedang dilanda penyakit materialis. Segala sesuatunya serba dinilai dengan uang, emas dan harta benda. Urusan dunia selalu dinomor satukan, sementara menyangkut keimanan, keagamaan dan bekal akhirat diabaikan.

Nabi Isa mendapat tugas utama untuk mendidik ruhani dan tauhid kepada umatnya yang senang membantah. Karena itu ia diberi beragam mukjizat dan keistimewaan oleh Allah SWT untuk menopang perjuangan dakwahnya. Mukjizat yang paling awal terjadi ketika ia masih bayi, bahkan sesaat setelah dilahirkan. Waktu itu ia sudah bisa berbicara secara lancar dengan manusia dewasa. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan masyarakatnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Kisah Nabi Isa ‘alaihis salam; Nabi yang Lahir di Bawah Pohon Kurma

Penutur Ulang Lukman Hakim Zuhdi

Seorang nabi sekaligus manusia pertama di dunia, yakni Nabi Adam ’alaihis salam, muncul ke alam ini tanpa melalui proses kelahiran sebagaimana lazimnya. Ia tidak memiliki Bapak dan Ibu. Demikian pula keberadaan istri Nabi Adam, yaitu Siti Hawa, yang diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Allah SWT kembali menunjukkan kekuasaan-Nya melalui lahirnya Nabi Isa ’alaihis salam. Nabi Isa tidak mempunyai Ayah. Ia hanya memiliki Ibu bernama Siti Maryam.

Pada zamannya, Siti Maryam dikenal sebagai seorang gadis suci yang pandai menjaga diri. Sehari-hari waktunya hanya dihabiskan sendirian di dalam kamar untuk beribadah kepada Allah SWT. Ia tidak pernah keluar rumah, apalagi berbicara dengan laki-laki. Tidak ada satu pria pun yang berani menyentuh kulit tubuhnya. Ia juga berasal dari keturunan dan keluarga terpandang. Ibunya bernama Hannah, istri Imran. Sewaktu kecil, Siti Maryam diasuh oleh keluarga Nabi Zakaria ’alaihis salam. Baca lebih lanjut

Belajar Meminta Maaf

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

“Pak, Ibu sudah tidak sanggup lagi mengurus Inung. Capek. Inung sekarang jadi bandel. Suka memberontak. Berani melawan Ibu. Tidak mau belajar. Tidak mau membantu Ibu. Setiap hari maunya main terus. Duit jajannya saja membengkak sampai lima kali lipat. Ibu sering melihat Inung main play station sama teman-temannya hingga berjam-jam. Belakangan duit Ibu yang didompet sering berkurang. Coba Bapak cari jalan keluarnya. Lama-lama Ibu bisa stres!” Ibu mengadu kepada Bapak. Suara Ibu meninggi. Emosinya meledak-ledak.

“Setahu Bapak, Inung tidak seperti yang Ibu ceritakan,” sergah Bapak, raut wajahnya tenang.

“Makanya Bapak jangan sibuk dengan kerjaan terus, dong. Kalau ada Bapak, iya Inung takut. Tapi kalau Bapak sedang tidak ada di rumah atau berada di luar kota, Inung semaunya sendiri. Inung suka marah dan mengamuk. Apa yang ada di depannya dirusak. Beberapa piring dipecah pakai kayu. Gelas-gelas dibantingnya ke lantai. Nasihat Ibu sudah tidak mempan. Pokoknya Ibu menyerah. Titik!” Ibu berkata ketus, lalu meninggalkan Bapak.

Bapak menarik napas panjang. Bapak melihat Ibu masuk ke kamarnya.

“Ini mesti ada yang tidak beres,” pikir Bapak.

Sore hari, sepuluh menit menjelang adzan Maghrib berkumandang, Inung baru pulang ke rumah. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya kuyu.

“Inung, coba kemari sebentar, Nak. Bapak ingin bicara,” kata Bapak yang sedang duduk santai di kursi.

“Inung mau mandi, Pak. Badannya gatal. Bajunya bau dan kotor,” Inung menjawab sembari memperlihatkan kaosnya yang lecek.

Lepas Maghrib, Inung bersiap-siap keluar dari rumah. Bapak dan Ibu sedang menonton televisi di ruang tengah.

“Inung mau kemana?” tanya Bapak.

“Ke rumah Wawan, Pak. Mau belajar bersama.”

Loh, bukannya besok sekolah libur?” Bapak tak mau kalah. Bapak tahu, di sebelah rumah Wawan ada rental play station.

“Maksud Inung, Inung mau mengambil buku pelajaran yang tadi dititipin ke Wawan.” Inung terlihat gugup.

“Sebaiknya besok saja mengambil bukunya. Lagi pula kan Inung tadi baru pulang. Nanti kalau kecapean, bisa sakit, loh,” Bapak menyarankan.

Inung membatalkan rencana perginya. Inung balik lagi ke kamarnya. Wajahnya cemberut. Ia bersungut-sungut sendiri. Langkah kakinya sedikit dihentakkan ke lantai. Bapak tahu Inung ngambek. Ibu diam saja, pura-pura tidak mengerti. Bapak segera menghampiri Inung di kamarnya.

“Coba Bapak lihat buku catatan sekolah Inung. Sudah lama Bapak tidak mengeceknya,” Bapak berusaha menurunkan rasa kesal Inung. Tak henti-hentinya Bapak tersenyum.

Inung masih manyun. Inung membuka tas sekolahnya, kemudian menyerahkan satu buah buku kepada Bapaknya. Bapak secara perlahan membuka lembaran-lembaran buku Inung.

Kok sekarang nilai-nilai Inung tambah menurun. Inung sudah jarang belajar, ya?” selidik Bapak.

Inung terdiam. Mulutnya terasa berat untuk sekadar mengeluarkan sepatah dua patah kata. Jari jemari tangannya meremas-remas kertas.

“Halo…” Bapak mencoba menggoda Inung.

Inung tidak terpengaruh. Inung tetap diam. Bapak menutup buku. Kedua tangan Bapak lalu memegang pundak Inung.

“Sekarang katakan apa yang Inung minta? Bapak akan mengabulkannya. Yang penting Inung jujur sama Bapak.” Sikap Bapak dibuat seramah mungkin supaya Inung merasa nyaman. Kedua matanya lekat menatap mata Inung yang terlihat nanar.

“Inung tidak butuh apa-apa. Sejak kesibukan Bapak di kantor meningkat, Inung hampir tidak pernah ketemu Bapak, apalagi ngobrol. Bapak berangkat kerja sebelum Inung bangun tidur. Bapak pulang kerja larut malam, Inung sudah tidur. Hari Sabtu dan Minggu, biasanya Bapak pergi sama teman kantornya. Terus, kapan waktu buat Inung? Bapak memang membelikan play station yang paling bagus. Bapak juga memberikan Inung uang jajan yang banyak. Tapi kebutuhan Inung bukan cuma itu. Inung perlu perhatian dari Bapak. Sekarang Bapak sudah nggak sayang lagi sama Inung!” Inung mengutarakan unek-uneknya.

Sekarang giliran Bapak yang dibuat terdiam. Bapak benar-benar kaget. Bapak tidak menyangka Inung akan berkata begitu secara blak-blakan. Wajah Bapak seperti ditampar Inung. 

“Makanya Inung berani sama Ibu. Inung tidak mau belajar. Inung nakal. Semua itu bentuk protes dari Inung, Pak,” Inung mengungkapkan kegelisahan hatinya. Amarah Inung terlampiaskan. Hatinya mulai lega. Beban-beban yang menyesaki pikirannya ditumpahkan semua.

Bapak merangkul Inung. Pelukannya erat sekali.

“Maafin Bapak, ya, Nak. Bapak yang salah. Beberapa waktu belakangan, Bapak memang lebih mementingkan karir dan pekerjaan. Sampai-sampai Inung dilupakan. Mulai sekarang Bapak janji akan memperbaiki diri. Inung juga harus janji tidak boleh nakal lagi. Kalau Inung nanti bisa meraih rangking satu, dua atau tiga di sekolah, Bapak memberikan hadiah istimewa. Bapak akan mengajak Inung, Kakak, dan Ibu jalan-jalan dan liburan ke luar kota. Deal?”

Inung terdiam, lantas mengatur pernapasannya.

Deal! Terima kasih ya, Pak,” Inung tersenyum bahagia sembari menatap wajah Bapaknya.

Nah, sebaiknya sekarang Inung meminta maaf sama Ibu. Soalnya kemarin-kemarin Inung sering membuat Ibu kesal. Meminta maaf kepada orang lain itu tindakan yang baik dan terpuji. Agama juga menganjurkannya. Inung mau, kan?”

Inung mengangguk pelan. Tidak berapa lama, Bapak dan Inung menghampiri Ibu yang masih menonton sinetron.

“Ibu, Inung mohon maaf karena telah membuat Ibu sakit hati,” Inung mencium tangan Ibunya.

“Ya, Ibu sudah memaafkan Inung. Ingat, Inung tidak boleh badung lagi,” pesan Ibunya. 

“Siap, Bu!” Inung menempelkan tangan kanannya dikening, layaknya tentara yang sedang memberi hormat.***

Kewajiban Terhadap Rasulullah SAW

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Anak-anak sudah berkumpul di masjid, setelah shalat duhur. Laki-laki memakai baju koko, celana panjang putih dan berpeci. Rata-rata memakai peci haji Sementara para perempuan mengenakan kerudung dan busana muslimah. Mereka sangat senang akan mengikuti pesantren kilat. Buku, pulpen, pensil, dan perlengkapan lainnya sudah mereka persiapkan dari rumah. Siang itu tema yang akan disampaikan Ustad Helmi tentang kewajiban umat Islam terhadap Rasulullah SAW.

Setelah mengucapkan salam dan melihat kesiapan anak-anak, Ustad Helmi mulai menerangkan materi. Sebelumnya Ustad Helmi mendata seluruh anak yang hadir. Menurut Ustad Helmi, ada beberapa kewajiban kita sebagai umat Islam kepada Rasulullah SAW. Pertama, kewajiban kita beriman kepada Rasulullah SAW. Maksudnya, kita wajib yakin sepenuh hati bahwa Rasulullah SAW adalah rasul Allah SWT. Orang yang beriman kepada Allah SWT, maka kadar keimanannya kepada Rasulullah SAW pun tidak perlu diragukan lagi.

Oleh karena itu, lanjut Ustad Helmi, di dalam dua kalimat syahadat, nama Allah SWT disandingkan dengan nama Rasulullah SAW. Asyhadu alla ilaha Illallahu wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Artinya, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad sesungguhnya utusan Allah SWT. Tidak ada nabi dan rasul manapun yang namanya disejajarkan dengan nama Allah SWT, selain nama Rasulullah SAW. Ini membuktikan bahwa kedudukan Rasulullah SAW sangat mulia dan istimewa di hadapan Allah SWT.

Ustad Helmi lantas membacakan salah satu arti firman Allah SWT yang tertulis dalam Surat An-Nisa’ ayat 136.
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. Ayat ini telah jelas maksud dan arti kandungannya. Jadi, kita tidak perlu memperdebatkannya lagi,” tegas Ustad Helmi.

Kedua, kewajiban kita taat dan patuh kepada Rasulullah SAW. Ustad Helmi menjabarkan, siapapun yang mentaati Rasulullah SAW, maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah SWT. Begitu pula sebaliknya. Ketaatan kita kepada Rasulullah SAW akan membawa kepada sikap mau mengikuti seluruh gerak gerik kehidupan Rasulullah SAW. Orang yang tidak taat kepada Rasulullah SAW, berarti orang itu dalam aktivitas sehari-harinya hanya memenuhi keinginan hawa nafsu, demi kepuasan syahwat dan mengikuti bisikan-bisikan setan yang terkutuk.

Ketiga, kewajiban kita membenarkan dan mengikuti Rasulullah SAW. Dalam hal ini, kata Ustad Helmi, kita mengikuti dan mencontoh Rasulullah SAW dalam berakidah, beribadah maupun ketika berhubungan dengan sesama manusia. Sesungguhnya tidak ada yang salah, melenceng maupun keliru dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat dan umatnya. Sebab, Rasulullah SAW senantiasa berada dalam pantauan dan bimbingan Allah SWT.

“Mencintai Allah SWT tak akan mungkin terjadi kecuali kita sungguh-sungguh mencintai Rasulullah SAW. Orang yang membenarkan apa yang dibawa Rasulullah SAW, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Makna takwa adalah menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi serta meninggalkan semua larangan-Nya secara istiqamah. Bagi orang yang bertakwa, Allah SWT akan memberikan berbagai bonus dan keistimewaan. Misalnya Allah SWT akan memudahkan segala urusan kehidupannya, menunjukkan jalan keluar dari masalah pelik yang dihadapinya, membukakan pintu rezeki dan mendatangkannya dari arah yang tidak terduga, dan mengampuni kesalahan dan dosa-dosanya,” cetus Ustad Helmi. 

Keempat, kewajiban kita bershalawat kepada Rasulullah SAW. Maksudnya, terang Ustad Helmi, bila nama Rasulullah SAW disebut dan kita mendengarnya, maka kita wajib menyampaikan shalawat untuknya.

“Anak-anak ada yang tahu bacaan shalawat?” Ustad Helmi bertanya kepada anak-anak yang sejak tadi serius memperhatikan.

Serempak anak-anak menggelengkan kepalanya, tanda mereka belum mengetahuinya.

Subhanallah,” ucap Ustad Helmi sambil tersenyum. “Baiklah kalau begitu. Begini bacaan singkatnya, allahumma sholli ala muhammad. Artinya, ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kami kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Kalau mau bacaan lengkap dan utamanya, yaitu allahumma sholli ala sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kami kepada junjungan Nabi Muhammad SAW dan juga kepada segenap keluarganya,” jelasnya dengan suara yang sengaja dilambatkan agar bisa diikuti anak-anak.

“Ustad, apa manfaatnya kalau kita bershalawat kepada Rasulullah SAW?” tanya Inung, penasaran. Inung memang dikenal anak yang kritis dan cerdas ketimbang teman-teman sebayanya. Rasa ingin tahunya terhadap sesuatu sangat besar. Karena itu dia kerap memilih tempat duduk paling depan.

“Rasulullah SAW bisa kita ibaratkan seperti ember besar yang airnya sudah penuh. Air itu maksudnya pahala dan keistimewaan yang dimiliki Rasulullah SAW. Rasulullah SAW tidak memiliki dosa dan kesalahan. Bila kita bershalawat, maka kita mengharap keberkahan tumpahan air itu dapat mengalir kepada diri kita. Nanti pada hari kiamat, semua nabi dan rasul akan dimintai syafaat (pertolongan) oleh umatnya masing-masing. Tetapi, para nabi dan rasul tidak bisa memberikan syafaat, karena mereka pernah berbuat salah dan dosa kepada Allah SWT. Akhirnya seluruh umat mencari keberadaan Rasulullah SAW. Mereka ingin meminta syafaatnya. Sebab, hanya Rasulullah SAW yang dapat memberikan syafaat,” beber Ustad Helmi.

“Paham?”

“Insya Allah kami paham, Ustad…” Anak-anak saling berpandangan. Mereka sebenarnya ingin tertawa, tapi ditahan. Takut Ustad Helmi tersinggung.

Kelima, kewajiban kita memahami bahwa Rasulullah SAW adalah nabi dan rasul penutup. Di dalam istilah bahasa Arab disebut khatimun nubuwwah. Setelah Rasulullah SAW wafat, maka tidak ada lagi yang namanya nabi, rasul maupun wahyu. Pengertian wahyu ialah perintah maupun larangan dari Allah SWT yang disampaikan kepada para nabi dan rasul melalui perantara Malaikat Jibril.

“Ustad, bagaimana jika ada orang yang menyatakan dirinya nabi atau mengaku sebagai rasul?” sela Firman.

“Orang yang model seperti itu dikatagorikan penjahat dan pembohong besar. Pada setiap masa akan ada orang yang mendeklarasikan diri sebagai nabi atau rasul. Dia bukan saja berdosa besar kepada Allah SWT, tetapi sudah menipu manusia lainnya. Oleh karena itu, kita tidak perlu mempercayainya. Bahkan kita boleh memeranginya. Meskipun, orang itu memiliki kehebatan yang bermacam-macam. Misalnya dia bisa menghilang, mampu berjalan di atas air, dapat terbang, sanggup memindahkan gunung, bahkan menghidupkan kembali orang yang sudah mati.”

Keenam, kewajiban kita membela Rasulullah SAW. Rasulullah SAW memang kini telah tiada. Namun kehebatan, kharisma, nama baik, maupun ajarannya akan terus memancar hingga hari kiamat tiba. Keagungan pribadinya tak henti-henti dibahas beragam orang. Apabila ada orang atau kelompok yang berani melecehkan dan memfitnah Rasulullah SAW dalam bentuk apapun, maka kita harus bersiap menentangnya. Kita mesti meluruskan pandangan salah mereka secara baik-baik, agar terhindar dari aksi kekerasan. Jika melalui cara yang baik tidak mempan dan mereka tetap membandel, maka diperbolehkan mengambil tindakan yang cukup tegas.

“Kenapa ada orang yang menghina dan membenci Rasulullah SAW, Ustad?” potong Rizky.

“Menghina Rasulullah SAW sama saja dengan menghina dirinya sendiri. Orang itu berarti tidak suka terhadap Rasulullah SAW. Karena dia bodoh dan belum mengerti siapa sesungguhnya Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah tokoh dunia yang menjadi teladan bagi seluruh manusia, khususnya umat Islam. Akhlaknya baik, ibadahnya rajin, sisi kemanusiaannya tinggi, dan segala perjuangannya tulus ikhlas diniatkan hanya kepada Allah SWT. Sangat wajar jika Allah SWT menyebut sekaligus telah menetapkan Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam),” tandas Ustad Helmi.

Ustad Helmi berhenti sejenak untuk melihat jam tangannya.

“Anak-anak, sekarang waktu shalat ashar hampir masuk. Kiranya kita cukupkan pengajian pesantren kilat ini. Insya Allah dilanjutkan besok. Semoga pembahasan ini membawa manfaat bagi kita semua, amin ya rabbal ‘alamin. Ustad sekadar mengingatkan, sebelum pulang, mari sebaiknya kita shalat ashar berjamaah di masjid ini. Kurang lebihnya Ustad mohon maaf. Akhir kata, wassalamualaikum wa rahmatullahi wabarakatuh…” tutup Ustad Helmi.

“Waalaikum salam wa rahmatullahi wabarakatuh…”***

IMAM BUKHARI; Penghafal dan Penulis Hadits

Penutur Ulang Lukman Hakim Zuhdi

Allah SWT telah mempercayakan kepada Imam Bukhari untuk menghafal dan menjaga hadits atau sunah Nabi Muhammad SAW. Bukhari menjadi ahli hadits yang sangat terkenal sepanjang masa. Dia dianugerahi hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat. Dia lahir di Bukhara, Uzbekistan, setelah shalat Jumat, 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al-Bukhari. Kakeknya beragama Majusi, namun Ayahnya telah memeluk Islam sejak kecil.

Tak lama setelah Bukhari lahir ke dunia, dia kehilangan penglihatannya. Ayahnya yang dikenal ahli ibadah, alim dan kepala madrasah, tentu sangat bersedih hati. Begitu pula Ibunya yang salehah, menangis terus-menerus. Kedunya selalu berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar bayinya bisa melihat. Belum sempat Bukhari menatap wajah Ayahnya, sang Ayah meninggal dunia. Peristiwa ini menambah cobaan berat bagi Ibunya. Ayahnya mewariskan banyak harta yang memungkinkan istri dan anak-anaknya bisa hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Baca lebih lanjut

GUA HIRA; Tempat Rasulullah SAW Mengasingkan Diri

Penutur Ulang Lukman Hakim Zuhdi

Gua Hira terletak di atas Jabal Nur (gunung cahaya). Tak sedikit jamaah haji dari berbagai negara yang nekat mengunjungi tempat itu, meski untuk mencapainya butuh perjuangan ekstra dan keyakinan hati. Di lokasi itulah, pertama kali Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dari Allah SWT, pada malam 17 Ramadhan. Kala itu, Malaikat Jibril menyerahkan Surat Al Alaq kepada Nabi Muhammad SAW. Berikut ini isi atau arti lengkap dari Surat Al Alaq: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang Maha Mulia, yang mengajarkan kamu dengan pena, apa yang belum diketahuinya.” Baca lebih lanjut