Kisah Nabi Khidir ‘alaihis salam

Penutur Ulang Lukman Hakim Zuhdi

Nabi Khidir ‘alaihis salam adalah salah satu nabi pilihan Allah SWT. Cerita tentang Nabi Khidir terkait erat dengan kehidupan Nabi Musa ‘alaihis salam. Ketika itu Allah SWT memerintahkan Nabi Musa untuk berguru kepada seseorang  yang arif, bijaksana, saleh, memiliki ilmu tinggi, dan berpenampilan sederhana. Malaikat Jibril memberita tahu kepada Nabi Musa bahwa orang mulia yang diketahui bernama Nabi Khidir itu berada di dekat majma al-bahrain (titik bertemunya dua lautan besar). Setelah mendapat perintah, Nabi Musa mempersiapkan bekal secukupnya. Ia rela meninggalkan kampung halamannya demi memperoleh ilmu baru.

Perjalanan yang ditempuh Nabi Musa sangat jauh dan memakan waktu lama. Akhirnya ia hampir sampai di majma al-bahrain. Dari arah kejauhan, ia melihat ada seseorang di tepi lautan. Orang itu tengah duduk sendirian di atas batu sambil menyaksikan gelombang ombak lautan. Nabi Musa yakin orang itu tidak lain Nabi Khidir. Nabi Musa kemudian mengucapkan salam kepadanya seraya memperkenalkan diri. Setelah saling mengenal, Nabi Musa menyampaikan maksud kedatangannya.

“Wahai Khidir, bolehkah aku mengikuti perjalananmu? Aku berharap kamu akan mengajarkan ilmu dan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadamu,” kata Nabi Musa penuh harap.

“Wahai Musa, aku tidak mau menerimamu. Kamu tidak akan sanggup bersikap sabar ketika sedang bersamaku. Kamu tidak akan kuat menanggung penderitaannya. Sebab, kamu belum mempunyai ilmu dan pengetahuan yang cukup mengenai hal ini,” jawab Nabi Khidir dengan kelembutan dan kesopanan.

“Aku berjanji, insya Allah akan menjadi orang yang bersabar dan tidak akan menentangmu,” Nabi Musa menegaskan.

“Baiklah. Jika memang begitu, aku ingin memberikan persyaratan khusus. Kamu jangan menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun sampai aku menjelaskan kepadamu,” Nabi Khidir mengingatkan.

“Ya, aku menerima dan setuju dengan persyaratan yang kamu ajukan,” Nabi Musa menyepakati.

Nabi Khidir Membocorkan Perahu

Nabi Khidir mengajak Nabi Musa berjalan-jalan di tepi lautan. Keduanya sama-sama terdiam. Hanya suara ombak bersahut-sahutan yang terdengar. Setelah itu, Nabi Khidir mempersilakan Nabi Musa menaiki sebuah perahu kayu yang tengah disandarkan pemiliknya. Keduanya berlayar ke tengah lautan lepas. Tidak ada persoalan yang dibicarakan oleh keduanya. Menjelang perahu menepi di tempat semula, Nabi Khidir mengambil kapak. Tiba-tiba ia melubangi perahu itu hingga bocor. Secara otomatis air segera memenuhi bagian bawah perahu. Nabi Musa sungguh terkejut, khawatir dirinya mati tenggelam.

“Kenapa perahu itu segaja kamu lubangi? Apa kamu tidak merasa kasihan dengan pemiliknya? Perbuatanmu itu jelas salah besar dan mencemaskanku!” cetus Nabi Musa, emosinya sedikit naik.

“Kamu bukan termasuk orang yang sabar. Bukankah aku sudah mengingatkanmu untuk tidak berkomentar dengan apapun yang kulakukan?” Nabi Khidir sekadar mengingatkan.

Nabi Musa baru teringat dengan persyaratan yang ditetapkan Nabi Khidir. Ia pun langsung memohon maaf dan meminta Nabi Khidir tidak menghukum atas kealpaannya. Nabi Khidir diam sebagai tanda telah memaafkannya. Keduanya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat perahu disandarkan. Perahu yang baru dinaiki dan dilubanginya itu setengahnya sudah tergenang air.

Dua Peristiwa Aneh

Nabi Khidir dan Nabi Musa berjalan melewati suatu kebun yang biasa dijadikan tempat bermain anak-anak kecil. Salah seorang anak kecil terlihat kecapekan sehabis bermain. Ia bersandar pada sebuah pohon besar. Semilir angin yang berhembus rupanya membuatnya tertidur pulas. Nabi Khidir yang mengetahui bocah itu sudah terpejam kedua matanya segera mendekat. Tanpa basa basi, tiba-tiba saja Nabi Khidir membunuh bocah itu. Nabi Musa benar-benar terperanjat dengan tindakan nyeleneh gurunya itu.

“Kenapa kamu membunuh anak lelaki yang tidak berdosa ini?” Nabi Musa spontan bertanya dengan suara lantang.

“Wahai Musa, bersabarlah ketika sedang bersamaku,” ucap Nabi Khidir, tenang.

Nabi Musa meminta maaf untuk kedua kalinya. Ia mengaku lupa tentang perjanjian awalnya dengan Nabi Khidir. Kali ini Nabi Musa berjanji untuk bersabar dan tidak akan bertanya lagi. Setelah membunuh, Nabi Khidir meneruskan perjalanannya bersama Nabi Musa. Keduanya memasuki sebuah desa yang penduduknya terkenal sangat pelit. Nabi Musa bertanya dalam hati, kenapa Nabi Khidir mengajaknya ke tempat ini. Sebenarnya Nabi Khidir mengetahui keluhan Nabi Musa. Sebab, Nabi Khidir telah  dikaruniai oleh Allah SWT bisa membaca dan mendengar isi hati orang lain. Namun Nabi Khidir diam saja.

Keduanya singgah di desa itu. Rupanya bekal yang dibawa Nabi Musa sudah habis. Nabi Musa memberanikan diri meminta makanan kepada para penduduk, tetapi tidak ada yang mau memberinya. Para penduduk sepertinya cuek saja dengan kehadiran keduanya. Saat itu di tengah perkampungan ada satu rumah yang dindingnya hampir ambruk. Anehnya para penduduk cuma melihatnya, tidak ada yang mau memperbaikinya. Nabi Khidir kemudian memperbaikinya sendirian hingga malam menjelang.

“Kenapa kamu tidak meminta bayaran kepada pemilik rumah itu?” celetuk Nabi Musa. “Kebiasan di kampung saya, jika ada orang yang memperbaiki rumah orang lain, maka ia akan mendapat imbalan,” lanjut Nabi Musa, geram.

“Seharusnya kamu diam saja dengan apa yang kukerjakan. Kini saatnya untuk berpisah antara dirimu dengan diriku,” tukas Nabi Khidir setelah mendengar perkataan Nabi Musa. “Tetapi sebelum pergi, aku akan memberitahumu suatu hikmah dibalik semua peristiwa yang telah kulakukan,” tambah Nabi Khidir.

Pelajaran Untuk Nabi Musa

Nabi Musa tidak sabar ingin segera mengetahui maksud dan ilmu yang akan diberikan oleh Nabi Khidir.

“Wahai Musa, semua yang kulakukan bukanlah atas kehendakku sendiri. Allah SWT yang telah memerintahkannya,” Nabi Khidir mulai membongkar rahasianya.

Nabi Musa masih dibuat bingung, belum mengerti arah pembicaraannya. Kali ini Nabi Musa bisa bersikap sabar.

“Aku melubangi perahu itu tujuannya untuk menyelamatkan pemilik perahu. Perahu itu milik orang miskin. Ia bekerja dan mencari nafkah di laut. Saat itu ada seorang raja beserta pengawalnya yang ingin mengambil secara paksa hasil semua tangkapan laut para nelayan dan merampas perahunya. Dengan melubangi perahunya, aku bermaksud menyelamatkan sumber penghidupan orang miskin itu. Sehingga para pengawal raja tidak akan menghancurkannya. Suatu saat, orang miskin itu akan menambalnya dan  bisa melaut kembali,” jelas Nabi Khidir.

“Makna kejadian kedua, aku ingin menyelamatkan kedua orang tua dari anak yang aku bunuh itu. Bapak dan Ibunya termasuk orang yang beriman. Tetapi anak yang aku bunuh itu jika sudah dewasa akan durhaka dan menyesatkan agama orang tuanya. Setelah anak itu terbunuh, Ibunya anak melahirkan seorang anak lagi yang lebih baik dan sayang kepada kedua orang tuanya,” Nabi Khidir menjabarkan secara detail.

“Adapun rumah yang hampir roboh itu milik anak yatim. Di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka. Ayah anak yatim itu orang yang ahli ibadah. Allah SWT menghendaki, bila anak yatim itu kelak dewasa dapat mengeluarkan simpanan dari Ayahnya. Itulah di antara sebagian rahmat dan ilmu yang diberikan oleh Allah SWT kepadaku,” Nabi Khidir mengakhiri perkataannya, lantas meninggalkan Nabi Musa.

Nabi Musa baru bisa memahami dan menerima perilaku-perilaku aneh gurunya. Nabi Khidir merupakan simbol ketenangan dan diam. Ia tidak sembarangan berbicara dan gerak-geriknya selalu menimbulkan kegelisahan dan kebingungan dalam diri Nabi Musa. Dengan demikian, Nabi Khidir sebenarnya ingin memberi pelajaran kepada Nabi Musa. Selama ini ilmu Nabi Musa sangat terbatas, sementara ilmu Allah SWT maha luas tak bertepi. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh sombong, termasuk Nabi Musa yang sudah memperoleh Kitab Taurat.

Selain itu, Nabi Khidir secara khusus ingin mengajarkan ilmu hakikat atau ilmu hikmah kepada Nabi Musa. Nabi Musa dikenal sebagai nabi dan rasul yang ahli dalam ilmu syariat, tapi tidak memiliki ilmu hakikat. Ilmu hakikat adalah ilmu untuk memahami suatu misteri dibalik sebuah peristiwa yang seringkali tidak dapat dicerna akal manusia. Padahal dibalik kejadian, bencana atau musibah itu pasti terdapat kenikmatan dan rahmat Allah SWT yang besar, seperti yang dilakukan Nabi Khidir.***

Iklan

5 thoughts on “Kisah Nabi Khidir ‘alaihis salam

  1. exco Maret 4, 2010 / 3:21 pm

    nabi khidir masih hidup sampai sekarang????

    • komunitasamam Maret 6, 2010 / 8:25 am

      ada sebagian orang/ulama yg berpendapat bahwa nabi khidir kini telah wafat. namun, ada sebagian orang/ulama juga yang berkeyakinan bahwa nabi khidir kini masih hidup dan hidup di lautan bebas.

  2. ilham mohd November 9, 2010 / 2:04 pm

    salam bro..

    Saya puas sudah mencari lafaz salam untuk nabi khidir.. boleh saudara tlng bagi bacaan tersebut. kalau boleh hantar ke emel sya yaa

    • ziadul fahmi Juni 3, 2013 / 1:32 pm

      klo mas ilham mw bgt tw…sblmnya cari tau dulu nama asli nabi khidir,nama bapak kandung beliau dan nama kakek beliau…
      cs khidir it bukan nama asli belia tapi it berarti hijau kehijauan…

  3. syamsul April 14, 2011 / 2:23 am

    memang sulit menjadi sabar. dan akan menjadi lebih sulit lagi bila tidak pernah tahu makna sabar.
    saya mohon izin menkopi kisah di atas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s