Ayah dan Ibu Rasulullah SAW

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Rasulullah SAW adalah manusia terbaik, pilihan dan paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Tidak ada makhluk lain yang mampu menyamai kehebatannya, baik dari segi lahir maupun batin. Kehadirannya di bumi ini sudah sejak lama sangat ditunggu. Sebab, beliau membawa berkah bagi seluruh manusia. Beliau ditugaskan oleh Allah SWT untuk menyebarkan sekaligus menyempurnakan ajaran agama Islam. Beliau juga sebagai penutup para nabi dan rasul. Artinya, setelah Rasulullah SAW wafat, sudah tidak ada lagi nabi dan rasul.

Seperti apa ciri-ciri fisik Rasulullah SAW? Salah seorang sahabat terdekat yang menjadi menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah menjelaskannya secara gamblang. Ali bin Abi Thalib digelari karamallahu wajhah, sebab sepanjang hidupnya dia tidak pernah melihat dan menyentuh alat kelaminnya sendiri. Karamallahu wajhah artinya semoga Allah SWT senantiasa memuliakan wajahnya. Menurut Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Beliau tidak terlalu gemuk dan tidak pula terlalu kurus. Perawakannnya bagus sebagai pria yang tampan.

Ali bin Abi Thalib menambahkan, badan Rasulullah SAW tidak tambun. Wajahnya tidak bulat kecil. Warna kulitnya putih kemerah-merahan. Sepasang matanya hitam. Bulu matanya panjang. Tulang kepala dan tulang antara kedua pundaknya besar. Bulu badannya halus, memanjang dari pusar sampai dada. Rambutnya sedikit. Kedua telapak tangan dan telapak kakinya tebal.

Segala keistimewaan dan kesempurnaan yang dimiliki Rasulullah SAW tentunya tidak terlepas dari ayah dan ibunya, selain atas kekuasaan dan anugerah dari Allah SWT. Ayah Rasulullah SAW bernama Abdullah. Abdullah putra bungsu dari Abdul Muthalib. Abdul Muthalib anaknya Hasyim. Hasyim memiliki ayah bernama Abdi Manaf. Abdi Manaf mempunyai bapak bernama Qushaiy.

Qushaiy putra dari Kilab. Kilab anaknya Murrah. Murrah memiliki ayah bernama Ka’ab. Jika ditarik terus ke atas, maka silsilah Rasulullah SAW berujung pada Adnan, yakni anak keturunan Nabi Ismail alaihis salam. Sedangkan Nabi Ismail adalah putra Nabi Ibrahim alaihis salam. Semua nama yang telah disebutkan dikenal sebagai orang yang baik, mulia dan shalih. Pendek kata, nasab (keturunan) Rasulullah SAW berasal dari orang-orang suci yang tidak perlu diragukan lagi dan senantiasa diberkahi oleh Allah SWT.

Saat remaja, Abdullah tumbuh sebagai seorang pemuda yang ramah, sopan, jujur, tampan, gagah, pandai, bertanggung jawab, dan berwibawa. Kepribadiannya sungguh mempesona dan luar biasa. Banyak wanita dan gadis cantik di wilayah Mekkah dan sekitarnya yang menyukai dan berniat menjadikannya suami. Apalagi, ayah Abdullah menjadi seorang pemimpin suku Quraisy yang terbesar, terkemuka dan dihormati kelompok lainnya. Maka, tidak ada alasan bagi wanita manapun untuk menolak Abdullah.

Ketika berusia 23 tahun, Abdullah akan dinikahkan oleh bapaknya dengan Siti Aminah. Siti Aminah adalah putri dari Wahab. Wahab memiliki bapak bernama Abdu Manaf. Abdu Manaf mempunyai ayah bernama Zuhrah. Zuhrah ialah anak dari Kilab. Siti Aminah dikenal sebagai perempuan cantik yang pintar, pandai menjaga kehormatan diri dan keluarga serta berakhlak baik. Singkat cerita, Siti Aminah berasal dari keluarga terpandang.

Abdullah sama sekali tidak menolak perjodohan itu. Maka, pesta pernikahan pun digelar. Banyak tamu undangan yang hadir untuk memberikan doa restu kepada kedua mempelai. Setelah menikah, Abdullah hanya tiga hari tinggal di rumah mertuanya. Pada hari keempat, Abdullah bersama istrinya kembali ke Mekkah. Mereka tinggal dan hidup rukun di pemukiman ayahnya, Abdul Muthalib.

Keluarga Abdul Muthalib terkenal gemar berdagang ke negara lain. Tiga bulan kemudian, Abdullah meminta izin kepada istri dan bapaknya. Abdullah akan berangkat berdagang bersama rombongan kabilah Quraisy ke Negeri Syam. Ia menyadari tanggung jawabnya untuk menafkahi istrinya. Sementara itu, Siti Aminah tetap tinggal bersama mertuanya. Ketika itu, Siti Aminah sudah hamil. Perjalanan jauh yang akan ditempuh Abdullah dan rombongan memakan waktu dua bulan, pulang-pergi.

Setelah sampai di Negeri Syam, Abdullah berjualan selama beberapa bulan. Bekal dan modal yang sedikit tidak menjadi halangan bagi Abdullah. Berkat keuletan, kesabaran dan kepandaiannya dalam berniaga, ia berhasil meraih keuntungan lumayan. Sudah tiba waktunya Abdullah dan rombongan pulang ke Mekkah. Dalam perjalanan pulang, mereka melintasi Kota Madinah. Abdullah menyempatkan diri beberapa hari beristirahat sekalian berkunjung ke rumah kerabatnya di Madinah.

Dalam masa persinggahan itu, tiba-tiba Abdullah jatuh sakit. Ia dirawat oleh saudara-saudaranya. Hari demi hari anggota rombongannya menanti Abdullah dengan harap-harap cemas. Mereka berdoa demi kesembuhan Abdullah. Namun, bukan kesembuhan yang terjadi. Sakit Abdullah justru bertambah parah. Akhirnya sebagian rombongan memilih pulang terlebih dahulu ke Mekkah. Sebab, mereka sudah ditunggu-tunggu oleh istri, anak, dan keluarganya.

Kehadiran sebagian rombongan Quraisy di Mekkah disambut meriah. Mereka berpelukan, melepas perasaan kangen kepada orang-orang yang dicintainya. Di tengah suasana gembira, ada kabar yang kurang enak. Beberapa orang dari rombongan melaporkan bahwa Abdullah sakit keras di Madinah. Abdul Muthalib dan Siti Aminah yang sejak tadi mencari Abdullah, seketika tertegun. Keduanya seakan tak percaya dengan kabar itu. Abdul Muthalib dan Siti Aminah menjadi sangat bersedih. Pikirannya langsung tertuju pada kondisi orang yang sangat dikasihinya itu.

Abdul Muhtalib lantas mengutus putra sulungnya, Al-Haris, untuk menjemput Abdullah. Al-Haris ditemani sejumlah kerabat pergi ke Madinah. Misi mereka untuk mengurus dan membawa pulang Abdullah ke Mekkah. Tetapi, ketika Al-Haris beserta rombongan tiba di Madinah, Allah SWT menakdirkan lain. Abdullah wafat di usia muda, setelah menderita sakit kurang lebih dua bulan. Jenazahnya diurus oleh kerabatnya, kemudian dimakamkan di Madinah.

Al-Haris beserta rombongan kembali ke Mekkah dengan perasaan duka yang mendalam. Al-Haris tak dapat membayangkan perasaan hati ayah dan adik iparnya. Dalam perjalanan dari Madinah ke Mekkah, Al-Haris membawa harta benda milik Abdullah dari hasil berjualan. Barang-barang kepunyaan Abdullah terdiri atas lima ekor unta dan beberapa ekor kambing. Salah seorang perempuan bernama Ummu Aiman ikut dalam rombongan itu.

Sesampainya di Mekkah, mulanya Al-Haris tidak berani mengatakan kondisi Abdullah yang sebenarnya kepada sang ayah. Namun naluri Abdul Muthalib dan Siti Aminah seolah sudah menangkapnya. Apalagi kehadiran mereka tanpa disertai Abdullah, orang yang sangat dinantikannya. Begitu Al-Haris selesai menceritakan kronologisnya, Abdul Muthalib sangat terpukul. Siti Aminah yang sedang mengandung anak pertamanya, tentu lebih sedih lagi. Matanya berkaca-kaca.

Bagi Abdul Muthalib, Abdullah yang menjadi putra kesayangannya itu suatu saat akan dicalonkan untuk menggantikan posisinya sebagai pemimpin suku. Tapi, semua impian manis itu pudar. Abdul Muthalib tidak sanggup berkata apapun. Hanya Allah SWT yang diingatnya. Hatinya baru agak terhibur setelah melihat menantunya lebih tabah dan sabar menghadapi cobaan berat. Abdul Muthalib berharap, kehadiran cucunya bisa mengobati kesedihan luka hatinya.

Waktu terus berlalu. Semakin hari kandungan Siti Aminah kian membesar. Masa-masa kelahiran segera tiba. Abdul Muthalib tak sabar ingin segera menimang cucunya. Tepat pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah, Siti Aminah melahirkan seorang putra. Siti Aminah bahagia sekali anak yang dilahirkannya dalam kondisi sehat dan selamat. Pada saat yang bersamaan, ia sedih lantaran ayah sang bayi itu telah tiada. Bayi itu tidak bisa melihat wajah ayahnya, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, Muhammad adalah satu-satunya putra Abdullah.

Kesedihan Abdul Muthalib sirna seiring lahirnya sang cucu. Bayi istimewa itu kemudian diberi nama Muhammad. Muhammad artinya orang yang sangat terpuji. Saking gembira dan untuk menunjukkan rasa syukurnya, Abdul Muthalib membawa Muhammad berthawaf. Thawaf artinya mengelilingi Kabah yang ada di Mekkah sebanyak tujuh kali putaran sambil membaca doa.

Kehadiran Muhammad disambut gembira oleh banyak orang. Ia dicintai oleh siapapun yang melihatnya. Ia disayangi oleh orang-orang yang menimangnya, terlebih Siti Aminah dan Abdul Muthalib. Muhammad tumbuh menjadi anak yang cerdas. Ketika berumur 6 tahun, Muhammad diajak ibunya berkunjung ke rumah saudaranya di Madinah. Ummu Aiman ikut bersamanya. Mereka menaiki dua ekor unta. Kurang lebih tiga bulan mereka berada di Madinah. Dalam kesempatan itu, Siti Aminah menunjukkan makam bapaknya kepada Muhammad.

Dalam perjalanan pulang dari Madinah, Muhammad kecil kembali ditimpa cobaan. Ibunda tercintanya wafat di Abwa, lalu dikebumikan di tempat itu. Muhammad lantas dibawa pulang ke Mekkah. Abdul Muthalib kembali bersedih. Peristiwa kematian itu membuat cinta dan kasih sayangnya semakin besar kepada Muhammad yang sudah yatim piatu. Namun, Muhammad tidak berlangsung lama dalam asuhan Abdul Muthalib. Kakeknya itu meninggal dunia ketika Muhammad berusia 8 tahun. Selanjutnya Muhammad diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.***

Kisah Putra dan Putri Nabi Muhammad SAW

Penutur Ulang Lukman Hakim Zuhdi

Sepanjang hidup, Nabi Muhammad SAW diketahui memiliki beberapa istri. Istri pertamanya bernama Siti Khadijah binti Khuwailid, saudagar kaya berusia 40 tahun yang dinikahi sebelum beliau diangkat menjadi nabi dan rasul. Ketika itu usia beliau 25 tahun. Beliau tidak menikah lagi dengan perempuan manapun sewaktu Khadijah masih hidup. Beberapa lama setelah Khadijah wafat, beliau baru menikahi Saudah binti Zam’ah. Saat itu usia beliau sekitar 50 tahun. Beliau kemudian menikahi Siti Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq, gadis berusia 9 tahun.

Selanjutnya Nabi Muhammad SAW menikahi Hafsah binti Umar bin Khattab, Ummu Habibab binti Abi Sufyan, Hindun binti Abi Umaiyah, dan Zainab binti Jahsyin. Zainab binti Jahsyin adalah istri pertama beliau yang meninggal dunia setelah beliau wafat. Beliau juga menikahi Juwairiyah binti Haris dan Shafiyyah binti Hayy. Adapun perempuan yang terakhir dinikahi beliau bernama Maimunah binti Haris. Kesemua istri beliau lazim dijuluki ummul mukminin, yakni ibu-ibu orang yang beriman.

Dari pernikahannya dengan Siti Khadijah, Nabi Muhammad SAW dikaruniai enam putra dan putri, yakni Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Umi Kalsum, dan Fatimah. Anak pertama beliau bernama Qasim, yang dilahirkan sebelum Muhammad SAW menjadi nabi. Atas dasar nama anak pertamanya itu, Nabi Muhammad SAW kemudian digelari Abu Qasim atau Bapaknya Qasim. Namun, tidak banyak cerita tentang kehidupan Qasim, sebab ia meninggal dunia pada usia 2 tahun. Selain itu, putra beliau yang wafat ketika masih kecil adalah Abdullah. Abdullah dilahirkan dan meninggal dunia di Mekkah. Abdullah juga diberi nama Thayyib dan Thahir lantaran lahir setelah beliau jadi nabi.

Siti Khadijah melahirkan Zainab, anak ketiganya, ketika usia Nabi Muhammad SAW 30 tahun. Ruqayyah lahir sewaktu Nabi Muhammad SAW berumur 33 tahun, kemudian lahirlah Umi Kalsum. Adapun Fatimah dilahirkan di Mekkah pada 20 Jumadil Akhir, tahun kelima dari kerasulan Ayahnya. Dari seluruh ummul mukminin, hanya Siti Khadjiah yang memberikan keturunan. Uniknya, putra dan putri beliau meninggal dunia sebelum beliau wafat, kecuali Fatimah. Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah sangat sayang terhadap anak-anaknya.

Zainab Mendapat Kado Spesial

Zainab, putri pertama Nabi Muhammad SAW, dipinang saat usianya menginjak remaja. Zainab menikah dengan Abil ‘Ash bin Rabi’. Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah datang untuk memberikan doa. Siti Khadijah juga melepaskan kalung batu onyx Zafar yang dipakainya, kemudian menggantungkannya ke leher Zainab sebagai kado pengantin paling spesial. Tak sembarang orang bisa memiliki benda yang sangat berkilau dan berharga pada zamannya itu, kecuali orang yang kaya raya. Usai menikah, Zainab diboyong ke rumah keluarga Abil ‘Ash.

Zainab meyakini ketika suatu hari mendengar berita bahwa Ayahnya telah menerima wahyu dari Allah SWT untuk hijrah dari Mekkah ke Madinah. Padahal, sang suami tidak mempercayainya. Suami Zainab termasuk dalam barisan orang-orang yang memusuhi Nabi Muhammad SAW. Zainab kemudian memutuskan masuk Islam dan menceraikan Abil ‘Ash. Zainab hijrah bersama Ayah dan kaum muslimin. Kepergian Zainab tidak membuat Abil ‘Ash sedih. Abil ‘Ash bersama kawan-kawannya tetap saja memusuhi dan memerangi Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya.

Satu waktu Abil ‘Ash tertangkap oleh pasukan kaum muslimin. Mendengar kabar itu, Zainab segera meminta bantuan kepada Ayahnya untuk melepaskan Abil ‘Ash. Nabi Muhammad SAW menemui pimpinan kaum muslimin. Tidak berapa lama Abil ‘Ash dilepaskan dan dipertemukan dengan Zainab. Abil ‘Ash ingin tinggal satu atap lagi dengan Zainab. Tetapi Zainab tidak mau sebelum Abil ‘Ash memeluk Islam. Akhirnya Abil ‘Ash masuk Islam dan Nabi Muhammad SAW mengembalikan Zainab kepadanya setelah melalui akad nikah baru.

Zainab meninggal dunia pada tahun 8 Hijriah di samping suaminya. Ummu Aiman, Ummu Athiyah, Ummu Salamah, dan Saudah binti Zam’ah termasuk orang-orang yang akan memandikan jenazahnya. Kepada mereka, Nabi Muhammad SAW berpesan, “Basuhlah dia (Zainab) dalam jumlah yang ganjil, 3 atau 5 kali atau lebih jika kalian merasa lebih baik begitu. Mulailah dari sisi kanan dan anggota-anggota wudhu. Mandikan dia dengan air dan bunga. Bubuhi sedikit kapur barus pada air siraman yang terakhir. Jika kalian sudah selesai, beritahukanlah kepadaku.” Setelah dimandikan, Rasulullah SAW memberikan selimutnya untuk mengkafani jenazah Zainab.

Anugerah Untuk Utsman bin Affan

Ruqayyah lahir sesudah kakaknya, Zainab. Ia dipinang oleh ‘Utbah bin Abu Lahab. Abu Lahab terkenal sebagai tokoh yang sangat membenci Nabi Muhammad SAW. Tak lama setelah pernikahan itu, Rasulullah SAW menerima wahyu. Melihat sikap Abu Lahab yang terus memusuhi Islam, pernikahan mereka disudahi. Ruqayyah kemudian menikah lagi dengan Utsman bin Affan. Selang beberapa waktu setelah menikah, keduanya bersama rombongan hijrah ke Habasyah (Ethiopia) demi menghindari fitnah dan menyelamatkan agamanya.

Utsman bin Affan beserta rombongan kembali lagi ke Mekkah. Kedatangan Ruqayyah disambut kesedihan, sebab Ibunya telah wafat. Berikutnya Ruqayyah dan suaminya bersama kaum muslimin pindah dari Mekkah ke Madinah. Selama hijrah, Ruqayyah tidak menemukan kesulitan-kesulitan. Ia selalu setia mendampingi dan mendukung perjuangan suaminya. Setelah tinggal di Madinah, Ruqayyah terserang penyakit demam hingga akhirnya meninggal dunia. Nabi Muhammad SAW tidak mengetahui menjelang meninggalnya, sebab beliau sedang terlibat dalam Perang Badar.

Sepeninggal Ruqayyah, Utsman bin Affan dinikahkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan Umi Kalsum, adik Ruqayyah, pada tahun 3 Hijriyyah. Padahal, saat itu Utsman bin Affan tengah mengalami masa berkabung yang panjang. Kepergian istri yang amat dicintainya menyisakan duka dan kesedihan. Sebelumnya, Umi Kalsum pernah menikah dengan ‘Utaibah bin Abu Lahab. Namun, karena ‘Utaibah menolak masuk Islam dan lebih senang memilih memerangi Islam, keduanya pun bercerai.

Utsman bin Affan bisa tersenyum kembali berkat kehadiran Umi Kalsum. Bagi Utsman, hidup bersama Umi Kalsum sama membahagiakannya ketika ia menjadi suami Ruqayyah. Sayangnya usia perkawinan keduanya tidak langgeng. Enam tahun kemudian, Umi Kulsum pulang kerahmatullah. Kepergian Umi Kulsum kembali menorehkan kesedihan di hati Utsman. Bahkan, kesedihannya dirasakan Nabi Muhammad SAW yang duduk di atas kuburnya sambil menangis berlinang air mata. Utsman bin Affan digelari zun nurain, artinya yang mempunyai dua cahaya. Sebab, ia telah menikahi dua putri Nabi Muhammad SAW.

Fatimah Penerus Keturunan Nabi Muhammad SAW

Fatimah adalah putri bungsu kesayangan Nabi Muhammad SAW. Diberi nama Fatimah karena Allah SWT sudah menjamin menjauhkannya dari api neraka pada hari kiamat nanti. Ia besar dalam suasana keprihatinan dan kesusahan. Ibundanya wafat ketika usianya terlalu muda dan masih memerlukan kasih sayang seorang Ibu. Sejak itu, ia yang dikenal pintar dan cerdas mengambil alih tugas mengurus rumah tangga seperti memasak, mencuci dan mempersiapkan keperluan Ayahanya. Dibalik kesibukan sehari-hari, ternyata ia wanita yang ahli ibadah. Siang hari ia selalu berpuasa dan membaca Al-Quran, sementara malamnya tak ketinggalan shalat tahajjud dan berzikir.

Pada usia 18 tahun, Fatimah dinikahkan dengan pemuda yang sangat miskin hidupnya. Untuk membayar maskawin atau mahar saja, pemuda bernama Ali bin Abi Thalib itu tidak mampu, sehingga harus dibantu oleh Nabi Muhammad SAW. Prosesi pernikahannya berjalan dalam suasana yang amat sederhana. Usai menikah, Fatimah sering ditinggalkan oleh suaminya yang pergi berperang hingga berbulan-bulan. Namun Fatimah tetap ridho. Ia tipe wanita salehah dan mandiri yang selalu bekerja, mengambil air, memasak serta merawat anak-anaknya, tanpa mau berkeluh kesah karena kemiskinannya. Ia pandai menjaga harga diri dan wibawa suami dan keluarganya. Selain itu, ia menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Sebagai bukti sayangnya terhadap Fatimah, Nabi Muhammad SAW menyatakan, “Fatimah adalah bagian dariku. Siapa yang menyakitinya berarti menyakitiku. Siapa yang membuatnya gembira, maka ia telah membahagiakanku.” Fatimah dikenal paling dekat dan paling lama hidupnya bersama Nabi Muhammad SAW. Ia juga meriwayatkan banyak hadis dari Ayahnya. Fatimah meninggal dunia 6 bulan setelah Nabi Muhammad SAW wafat, tepatnya hari Selasa bulan Ramadhan tahun 11 Hijriyah dalam usia 28 tahun. Fatimah dimakamkan di pekuburan Baqi’, Madinah.

Dari pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah dikaruniai 6 anak, yaitu Hasan, Husein, Muhsin, Zaenab, Umi Kalsum, dan Ruqayyah. Namun, Muhsin meninggal dunia pada waktu masih kecil. Dengan demikian, Nabi Muhammad SAW tidak mempunyai keturunan kecuali dari Fatimah. Keturunan beliau hanya menyebar dari garis kedua cucunya, yakni Hasan dan Husein, yang kemudian disebut ahlul bait (pewaris kepemimpinan) Nabi Muhammad SAW.***