SURGA; Rumah Masa Depan Umat Islam

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Surga adalah tempat super khusus yang paling menyenangkan dan tidak pernah sekalipun membosankan para penghuninya. Di dalamnya mencakup segala kenikmatan, kebahagiaan dan kebaikan yang hakiki dan abadi. Mata manusia belum ada yang melihatnya. Lidah manusia belum ada yang mengecapnya. Telinga manusia belum ada yang mendengarnya. Pikiran manusia belum ada yang membayangkannya. Tangan manusia belum ada yang merabanya. Kaki manusia belum ada yang menginjaknya. Tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang sanggup menyamai aneka fasilitasnya. Semuanya serba eksklusif, lengkap dan bisa diperoleh secara gratis, tentu bagi orang yang beruntung.

Surat Muhammad ayat 15 sedikit membocorkan suasana di dalam surga: ”(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya. Sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya. Sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka di dalamnya memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka.”

Allah SWT sudah menciptakan surga. Dengan kata lain, saat ini surga sudah ada. Di antara bukti-bukti yang dapat diajukan sebagai berikut. Dahulu, Nabi Adam alaihis salam dan Siti Hawa, istrinya, diturunkan ke bumi dari surga, lantaran Nabi Adam alahis salam memakan buah dari pohon yang dilarang oleh Allah SWT, yakni buah khuldi. Pada waktu itu, Nabi Adam alaihis salam sudah mendiami dan hidup di dalam surga.

Bukti lainnya, pada saat Rasulullah SAW melakukan mi’raj (perjalanan naik ke langit tujuh ketika akan mendapatkan perintah untuk menunaikan sholat lima waktu). Ketika itu Allah SWT memperlihatkan surga beserta isinya kepada Rasulullah SAW. Surat An-Najm ayat 13-15 menegaskan: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.”

Para ulama terkenal menyatakan, surga berada di langit, di tempat yang sangat tinggi, terdiri dari 100 tingkat. Setiap 2 tingkat jauhnya seperti jarak antara langit dan bumi. Surga yang tertinggi dan paling utama disebut Surga Firdaus. Tapi, ada satu tempat yang lebih tinggi dan diperuntukkan bagi satu orang saja. Tempat itu dinamai Al-Wasilah. Rasulullah SAW sangat berharap bahwa beliaulah yang akan menempatinya.

Gambaran Surga
Al-Quran menyebut beberapa nama lain dari surga. Di antaranya Al-Jannah (Surga), Jannatu Adn’ (Tempat Tinggal Selama-lamanya), Darus Salam (Negeri Sejahtera), Darul Khuldi (Negeri Kekal), Darul Muqamah (Tempat Kediaman yang Abadi), Jannatun Na’im (Tempat Segala Kenikmatan), Jannatul Ma’wa (Tempat Tinggal yang Menyenangkan), dan Firdaus. Secara sederhana, Firdaus berarti kebun yang di dalamnya terdapat anggur. Kata Firdaus digunakan untuk semua surga.

Tanah dan lumpur surga terbuat dari zafaran, berupa tepung putih beraroma kasturi dan sangat bersih. Cahaya surga berwarna putih, bersinar terang, aromanya semerbak. Aroma surga bisa dicium dari jarak 100 tahun. Bidadari-bidadari yang cantik jelita, perhiasan yang banyak, tanaman, buah-buahan, berbagai macam kesenangan dan kenikmatan telah tersedia di surga.

Surat Al-Waqi’ah ayat 22-23 memberitahu: “Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik.”  Allah SWT menegaskan dalam ayat lainnya: “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.” (QS. Ar-Rahman: 70-72)

Luas pintu surga kurang lebih 1160 km. Namun, kelak akan berdesak-desakan manusia di depannya. Pintu-pintu di surga transparan, sehingga bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Semuanya bisa diajak bicara. Maksudnya, bisa menutup dan membuka sesuai keinginan penghuninya.

Di surga terdapat gedung megah dan sungai-sungai yang mengalir. Di dalamnya ada Ghuraf, yakni bangunan transparan tinggi yang diberikan bagi mereka yang baik ucapannya, suka memberi makan, berpuasa, dan shalat malam (shalat sunah tahajjud). Ghuraf juga diberikan kepada orang-orang yang membangun masjid dan tabah ketika menghadapi ujian yang sangat berat maupun saat ditimpa kesedihan yang terus menerus.

Di surga ada pohon Thuba, yang naungannya sejauh perjalanan selama 100 tahun. Dari kelopak bunga pohon inilah pakaian ahli surga berasal. Di surga terdapat pohon Thalhu, bidara yang durinya diganti dengan munculnya buah-buahan yang 1 butirnya memiliki 70 rasa yang berbeda. Jika penduduk surga melihat ke arah burung surga dan tertarik kepadanya, maka dengan segera burung itu jatuh ke hadapannya dalam kondisi masak serta siap dimakan. Sementara itu 70 piring beragam corak yang berbeda antara satu dengan yang lainnya sudah disiapkan.

Hidangan pertama penduduk surga sekerat daging dari hati ikan paus.  Minumannya bernama salsabila. Setelah itu, mereka makan daging sapi jantan. Mereka kemudian minum dari sungai-sungai yang hulunya Surga Firdaus. Mereka juga minum dari Sungai Al-Kautsar, yang airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Ia sesungguhnya minuman campuran jahe khas surga. Meski makan dan minum, mereka tidak buang kotoran atau kencing. Makanan dan minumannya dikeluarkan melalui keringat dan sendawanya yang harum.

Pakaian ahli surga berupa sundus dan istabraq (sutra bulu halus dan tebal), yang  keluar dari kelopak bunga pohon Thuba. Warnanya bermacam-macam; putih, merah, hijau, kuning, dan hitam. Mereka memakai gelang emas dan perak serta mahkota intan berlian yang mutiaranya dinamai yakut. Tampilan fisik penduduk surga bagaikan orang berusia sekitar 30 tahun. Allah SWT menjadikannya seperti itu, walaupun di antara meraka ketika meninggal dunia ada yang dalam keadaan anak-anak atau usia tua renta.

Tempat tinggal penghuni surga berhamparkan permadani yang sangat indah. Ada kemah yang tingginya hingga 60 mil. Pada setiap sudutnya terdapat bidadari yang selalu setia menanti. Para bidadari pun siap melayani segala kebutuhan lahiriah maupun batiniah mereka. Ada ranjang berderetan yang berhias, bisa merendah ataupun menaik. Ranjang itu bukan untuk tidur.

Rasulullah SAW bersabda, tidur adalah saudara kematian, dan ahli surga tidaklah tidur. Artinya, di surga tidak ada orang yang tidur maupun sekadar mengantuk. Bagi mereka disediakan sofa Al-Arikah, yakni sofa pengantin yang dipaduakan dengan ranjang berhias. Kamar mereka dari mutiara yakut dan dihiasi mutiara lu’lu.

Di surga ada nyanyian spesial dari bidadari untuk para penghuninya. Pohon dan gesekan ranting-rantingnya pun menimbulkan suara-suara yang indah. Ada pula suara tasbih para malaikat yang demikian merdu. Tidak cukup dengan itu semua, mereka diberi kendaraan yang dirancang khusus berupa kuda dari mutiara yakut atau alat transportasi apa saja yang diinginkannya.

Rasulullah SAW bersabda, demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa dijarinya ketika diangkat itulah nilai dunia. (HR Muslim) Nikmat yang lebih indah dari surga adalah merasakan ridha Allah SWT dan kesempatan melihat ‘wajah’ Allah SWT. Inilah puncak segala kenikmatan. Inilah kenikmatan yang tak mampu dibayangkan manusia, yaitu keindahan menikmati sifat-sifat dan kalam murni Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Nominator Penghuni Surga
Rasulullah SAW menjadi orang pertama yang mengetuk pintu surga bersama  70.000 (tujuh puluh ribu) umatnya, terutama orang-orang tertentu yang telah ditetapkan oleh beliau. Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, setiap orang di antara mereka (70.000 yang pertama) disertai 70.000 (tujuh puluh ribu) orang lagi. Mereka langsung memasuki surga, tanpa melalui proses hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya oleh Allah SWT pada hari akhirat) maupun tahapan siksa di neraka. Wajahnya bagaikan rembulan yang cerah dan terang benderang. Mereka masuk dengan bergandeng tangan. Abu Hurairoh berkata, Rasulullah SAW bersabda:

”Rombongan yang pertama akan masuk surga memiliki wajah seperti bulan purnama. Mereka tidak meludah, tidak beringus, dan tidak buang air. Wadah-wadah mereka di sana terbuat dari emas. Sisir mereka dari emas dan perak. Tempat pembakaran kayu wangi mereka berupa permata. Keringat mereka berbentuk misik. Setiap orang dari mereka memiliki dua istri, di mana tulang sumsum betis mereka kelihatan dari balik daging karena amat cantiknya. Seandainya seorang bidadari dari ahli surga itu muncul ke bumi, maka ia akan menyinari apa-apa yang ada di antara keduanya, dan keharumannya akan memenuhi di antara keduanya. Sungguh tusuk rambut di kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya”. (HR Bukhari)

Orang Islam yang akan memasuki surga terbagi menjadi tiga macam. Pertama, orang-orang yang langsung masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang yang hingga akhir hidupnya benar-benar terjaga keimanannya (tauhid) dan bersih dari noda syirik, dosa dan maksiat. Kedua, orang yang masuk surga setelah dihisab. Mereka ialah orang yang dalam unsur keimanannya terdapat sedikit beban dosa dan maksiat, namun amal dan pahalanya sangat banyak, sehingga mampu untuk menebus kekhilafannya. Maka, Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya, kemudian memasukannya ke surga.

Ketiga, orang yang masuk surga setelah diadzab (disiksa) terlebih dahulu di neraka. Mereka sebenarnya orang yang keimanannya dipenuhi dosa dan maksiat, sedangkan amal dan pahalanya ada (sedikit), tapi sangat kurang untuk mencukupi atau menutupi semua kesalahannya. Allah SWT akan memasukannya ke neraka, sebagai balasan atas dosa dan maksiatnya selama hidup di dunia. Setelah bersih dari segala tuntutan dosa, mereka baru dipindahkan ke surga untuk menikmati kehidupan berikutnya.

Untuk membuka pintu surga, kemudian memasukinya, sebetulnya sangat mudah. Rasulullah SAW sudah memberikan rahasianya bahwa siapa pun yang mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah (tiada Tuhan selain Allah SWT) dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga. (HR. Imam Ahmad). Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW bersabda, siapa saja yang mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, niscaya dia akan masuk surga. (HR. Muslim)

Di tempat yang berbeda, Rasulullah SAW bersabda, barang siapa yang bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya. Bahwasanya Nabi Isa alaihis salam adalah hamba dan utusan-Nya yang merupakan kalimat dan ruh yang ditiupkan pada Siti Maryam. Bahwasanya surga dan neraka adalah benar adanya, maka Allah SWT akan memasukkannya ke dalam surga, sesuai amal perbuatannya. (HR. Bukhari)

Ketiga hadis tersebut mengandung arti, seseorang harus mengerti makna kalimat tauhid itu secara benar, lalu meyakininya, tanpa ada keraguan sedikit pun. Langkah berikutnya, ia mau menerima segala tuntutan atau konsekuensi laa ilaaha illallah dengan senang hati, baik pikiran, lisan maupun perbuatannya. Hal ini juga mengisyaratkan, orang non Islam yang akhlaknya bagus dan sepanjang hidupnya dibaktikan untuk manusia lain, maka tentu tidak bisa masuk surga. Sebab, Allah SWT tidak menetapkan akhlak seseorang sebagai kriteria utama untuk bisa lolos ke surga.

Akhlak memang penting, namun keyakinan kepada Allah SWT (akidah) lebih penting dan lebih diutamakan. Bahkan, perilaku seorang muslim yang baik sekalipun tidak cukup untuk membuatnya masuk surga. Rasulullah SAW pernah berbicara kepada para sahabatnya, amal shaleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga. Para sahabat bertanya, bagaimana dengan Engkau, ya Rasulullah?. Rasulullah SAW menjawab, amal shaleh saya pun juga tidak cukup. Para sahabat kembali bertanya, kalau begitu, dengan apa kita masuk surga?. Rasulullah SAW menjawab, kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah SWT semata.

Lantas, siapa saja orang atau golongan yang akan menghuni surga? Berikut ini beberapa nominatornya. Pertama, orang yang beriman kepada Allah SWT dan beramal shalih, sebagaimana disinggung Surat Al-Baqarah ayat 25: “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu. Mereka mengatakan, inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.”

Kedua, orang yang beriman kepada Allah SWT dan bertakwa. Takwa adalah menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Surat Yunus ayat 62-64 menegaskan: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan) akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”

Ketiga, orang yang bersikap istiqamah atau konsisten dalam meyakini Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang wajib disembah hingga akhir hayatnya. Penjelasan itu tertulis dalam Surat Fushsilat ayat 30: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Rabb kami ialah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Keempat, orang yang gemar dan selalu berbuat baik atau menjadi pengikut kebaikan. Kelima, orang yang sabar dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT dalam kehidupannya. Keenam, orang yang rajin berinfaq, baik pada saat banyak maupun sedikit rezekinya. Ketujuh, orang yang bisa menahan amarah ketika emosinya sedang memuncak. Kedelapan, orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain. Kesembilan, orang yang senantiasa membaca istighfar dan berdzikir di setiap kondisi. Kesepuluh, orang yang selalu menaruh perhatian atas peringatan Allah SWT. Kesebelas, orang yang senang berlaku jujur.

Kedua belas, orang yang pindah dari satu tempat ke tempat lain karena semata ingin memperoleh kebaikan dan pahala dari Allah SWT (berhijrah) serta berjihad (berjuang membela agama Allah). Surat At-Taubah ayat 20-21 menegaskan: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Rabb mereka mengembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhoan dan surga. Mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.”

Ketiga belas, orang yang mati syahid (syuhada), seperti dikemukakan Surat Ali Imran ayat 169: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezeki.”  Keempat belas, orang yang takut kepada Allah SWT, sebagaimana dilansir Surat Ar-Rahman ayat 46: “Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabbnya ada dua surga.” Kelima belas, orang yang khusyu dalam shalatnya, menjauhi hal yang sia-sia, membayar zakat, menjaga kemaluan, dan amanah dalam menjalankan tugas maupun tanggung jawabnya. Surat Al-Mu’minun ayat 1-11 memaparkannya:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”

Keenam belas, orang yang menahan hawa nafsunya, seperti ditegaskan Surat An-Nazi’at ayat 40-41: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” Ketujuh belas, orang yang bertaubat secara sungguh-sungguh, kemudian melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar serta memelihara hukum-hukum Allah SWT.

Kedelapan belas, orang yang mentaati Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda, siapa pun dari umatku yang mentaatiku, dia akan masuk surga. Sedang siapa yang maksiat terhadapku (tidak mentaatiku), maka dia enggan memasuki surga. (HR. Bukhari) Maksudnya, mentaati Rasulullah SAW berarti mentaati aturan-aturan yang telah dibuatnya dan menjauhi larangan-larangan yang telah ditetapkannya. Maka, untuk mengetahui bentuk aturan maupun larangan Rasulullah SAW, umat Islam perlu membaca riwayat hidup dan mengkaji jalan panjang perjuangannya.

Dilarang Masuk Surga!
Surga selalu terbuka. Siapa pun dari orang Islam yang menginginkan isinya, maka dipersilakan memasukinya Tentu saja ada persyaratannya, seperti telah dijelaskan di atas. Namun, Rasulullah SAW bersabda, ada sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi yang bertaubat. Pertama, Al-Qalla’ adalah orang yang suka mondar-mandir kepada penguasa untuk memberikan laporan batil dan palsu. Kedua, Al-Jayyuf ialah orang yang suka menggali kuburan untuk mencuri kain kafan dan sebagainya. Ketiga, Al-Qattat artinya orang yang suka mengadu domba dan senang dengan permusuhan.

Keempat, Ad-Daibub maksudnya germo atau orang yang menjadi pengelola dan perantara antara para pelacur dengan pelanggan atau pemakainya. Kelima, Ad-Dayyus adalah laki-laki yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya. Keenam, Shahibul Arthabah ialah penabuh gendang besar yang sengaja untuk meramaikan kegiatan yang beraroma dosa. Ketujuh, Shahibul Qubah maksudnya penabuh gendang kecil yang sengaja untuk memeriahkan kegiatan yang berbau maksiat. 

Kedelapan, Al-’Utul adalah orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf atas dosa yang dilakukannya, dan tidak mau menerima alasan orang lain. Kesembilan, Az-Zanim ialah orang yang dilahirkan dari hasil perzinaan yang suka duduk-duduk di tepi jalan guna menggunjing orang lain. Kesepuluh, Al-’Aq li Walidaih yakni anak atau orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.

Rasulullah SAW menambahkan, ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian, namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. (HR. Muslim).

Maksud hadis tersebut jelas, para wanita yang senang mengumbar auratnya atau berpakaian seksi dengan niat memamerkan bagian tertentu dari tubuhnya (kecuali untuk suaminya sendiri), maka tidak bisa mencium bau surga, apalagi sampai memasukinya. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua salah satu dari penghuni surga-Nya, amin. Wallahu a’lam bis showab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s