Memburu Kemas Yahya Rahman

Penghujung Februari 2009. Mendadak –sekitar pukul 20.00 WIB– aku mendapat tugas untuk ‘memburu’ Kemas Yahya Rahman (KYR). KYR adalah mantan Jampidsus (Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus) yang dicopot Jaksa Agung Hendarman Supandji lantaran diduga terlibat kasus suap Artalyta Suryani dengan Jaksa Urip Tri Gunawan.

Nama KYR menjadi perdebatan/sorotan lagi bukan karena kasus tersebut, melainkan posisi barunya di Kejagung. KYR diangkat oleh Jaksa Agung Hendarman Supandji sebagai ketua tim supervisi penanganan/pemberantasan korupsi se Indonesia bagi internal Kejagung. Tapi, hari-hari belakangan KYR seperti ditelan bumi. Keberadaanya tidak diketahui. Di Gedung Bundar Kejagung, tidak terlihat batang hidungnya. Telepon genggamnya pun dimatikan. Para kuli tinta yang hendak meminta komentarnya terkait pencopotannya dari penugasan itu, tidak dilayani KYR. KYR mengaku kecewa dengan pers, karena selama ini pernyataannya sering diplintir. Opini yang dibentuk pers menyangkut pribadinya, menurut KYR, telah sangat-sangat keliru.

Bermodal nomor ponsel KYR yang sering tidak aktif, aku mencari kediaman KYR bersama dua orang kawan (satu mobil; 1 wartawan dan 1 fotografer), pagi dini hari. Sebelumnya, aku telah berusaha mencari nomor telepon rumah dan alamat tinggalnya. Tapi tidak berhasil mendapatkannya. Akhirnya kami nekat menuju sebuah perumahan mewah di kawasan Tangerang, Banten. Kabarnya, KYR bersama istri dan anaknya tinggal di sana. Tapi, sekali lagi, itu belum pasti keberadaannya.

Setelah kami bertanya ke sana kemari, akhirnya selepas sholat Subuh kami sudah bisa nongkrong di depan rumah KYR. Rumahnya besar, dua lantai dengan dominasi warna kuning keemasan. Alhamdulillah kami tidak nyasar. Secarik kertas yang berisi hanya sebuah nama perumahan, rupanya sangat membantu kami. Tapi, kata satpam di komplek rumah itu, KYR pagi-pagi mau terbang ke Palembang. Di sana ada acara pernikahan kerabatnya. Wah, kami kaget, takut nggak bisa minta wawancara!

Setelah menunggu 3 jam dengan perasaan harap-harap cemas, akhirnya KYR keluar juga dari rumahnya, menemui kami. Mulanya KYR menolak diwawancarai dengan berbagai alasan. Tapi kami terus bernegosiasi, membujuknya. Akhirnya KYR luluh juga, mau diwawancara. Malah dalam suasana santai dan penuh canda tawa, di saung depan rumahnya. KYR bicara soal pencopotannya, isu terbaru di Kejagung dan kaitannya dengan Artalyta-Urip. Hasil wawancara kami bisa dibaca di Majalah MAHKAMAH (Majalah Hukum, Politik dan Bisnis) Edisi Maret 2009.  Lumayan, ini pengalaman yang mengesankan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s