PEREMPUAN, KARIR DAN KELUARGA

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Di setiap zaman tentu ada perempuan-perempuan yang berkarir di bidangnya. Sebelum Islam datang, sayangnya perempuan yang berkarir sering kelewat batas, semau sendiri, tak peduli norma dan –yang lebih parah— menelantarkan keluarga. Keadaan tersebut rupanya hampir serupa dengan kondisi masa kini.

Sebuah majalah asing terkenal, Forbes, pertengahan 2008 melansir daftar 100 Wanita Paling Berpengaruh di Dunia. Urutan pertamanya dihuni Kanselir Jerman Angela Merkel yang menempati posisi bergengsi itu selama tiga tahun berturut-turut. Adapun nama-nama lain yang masuk dalam daftar tersebut di antaranya Hillary Clinton (Menteri Luar Negeri Amerika Serikat), Sri Mulyani Indrawati (Menteri Keuangan Republik Indonesia), Aung San Suu Kyi (Pemimpin Prodemokrasi Myanmar), Ho Ching (Direktur Eksekutif Temasek Holdings Singapura), dan Sonia Gandhi (Presiden Partai Kongres Nasional India).

Kiranya masyarakat –utamanya para perempuan—patut berbangga diri sekaligus mengapresiasi urut-urutan tersebut. Kaum hawa yang selama ini merasa dimarjinalkan dan diidentikkan dengan tugas-tugas domestiknya; kasur, sumur dan dapur, ternyata bisa ‘berpengaruh’ juga di dunia. Artinya, kiprah dan karir perempuan dalam konteks lokal, nasional maupun internasional sudah mendapat pengakuan siapapun. Namun, jika ada anggapan bahwa aturan-aturan agama (Islam) yang membuat perempuan selama ini menjadi terbelenggu, maka hal itu jelas salah besar. Kenyataannya, Islam sudah menempatkan perempuan di tempat yang terhormat, jauh sebelum gembar-gembor emansipasi wanita dan kesetaraan gender lantang disuarakan.

Kiprah Perempuan Zaman Rasul

Rufaidah Binti Sa’ad Al-Aslamiya tercatat perawat muslimah pertama dalam sejarah Islam yang nyaris terlupakan, padahal jasanya besar sekali pada masa penyebaran Islam. Perempuan kelahiran Madinah ini mempelajari ilmu keperawatan saat membantu ayahnya yang berprofesi dokter. Ilmunya lantas dipraktekkan untuk mengobati kaum muslimin yang terluka dalam peperangan dengan mendirikan rumah sakit lapangan. Pada saat damai (tidak ada perang), Rufaidah secara sukarela membangun tenda di luar Masjid Nabawi untuk melayani orang sakit, anak yatim dan penderita gangguan jiwa.

Kesibukan Rufaidah sebagai ibu rumah tangga tidak menghalanginya berkarir melatih beberapa kelompok perempuan untuk menjadi perawat. Dia menjadi pemimpin, organisatoris yang mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain serta perawat teladan, baik dan berempati tinggi. Dia tidak hanya menunaikan peran perawat dalam aspek klinikal semata, namun melaksanakan peran komunitas dan memecahkan masalah sosial yang dapat mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit. Singkat cerita, Rufaidah sesungguhnya public health nurse dan social worker, yang menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia Islam. Rasulullah pun memuji kiprahnya bagi masyarakat.

Dalam bidang lain, tersebutlah nama Asy-Syifa’ binti Al-Harits. Asy-Syifa’ termasuk wanita cerdas yang dikenal sebagai guru dalam membaca dan menulis serta ahli ruqyah (pengobatan) sebelum datangnya Islam. Sesudah memeluk Islam, dia tetap memberikan pengajaran kepada kaum perempuan. Oleh karena itu, dia disebut sebagai guru (ulama) wanita pertama dalam Islam. Di antara muridnya bernama Hafshah binti Umar bin Khattab. Kesibukan mengurus suami dan mendidik seorang anak tidak membuat Asy-Syifa’ lupa untuk menuntut ilmu hadis kepada Rasulullah, kemudian menyebarkannya sembari menyelipkan nasehat-nasehat bagi umat Islam. Bahkan, Khalifah Umar bin Khattab sering meminta pendapat Asy-Syifa’ tentang urusan agama dan dunia.

Lain Asy-Syifa’ lain Ummu Hani’. Selain pandai berdiplomasi, Ummu Hani’ binti Abi Thalib Al-Hasyimiyyah kesohor sebagai penunggang unta yang hebat, periwayat dan pengajar hadis hingga akhir hidupnya. Ummu Hani’ mengerti betul tugasnya selaku istri yang mengagungkan hak-hak suami dan mengasuh keempat anaknya. Baginya, mengurus mereka membutuhkan perhatian yang menyita waktu banyak. Karena itu, dia tak ingin menyia-nyiakan satu pun dari keduanya, hingga dia mendapatkan pujian yang begitu mulia dari Rasulullah sebagai perempuan penyayang keluarga. Pada saat yang sama, Ummu Hani’ pun tidak lupa berperan di tengah masyarakat.

Jasa Hafshah binti Umar bin Khattab juga tidak boleh diremehkan. Dia memiliki keberanian, kepribadian kuat dan ucapannya tegas. Kelebihan lainnya berupa kepandaian dalam membaca dan menulis, padahal ketika itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki kaum perempuan. Bahkan, dia satu-satunya istri Rasulullah yang pandai membaca dan menulis. Atas dasar hal tersebut, Hafshah sebagai orang yang pertama kali diperintahkan oleh khalifah Abu Bakar Siddiq untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat Al-Quran yang masih berserakan di banyak tempat pada lembaran kulit, tulang dan pelepah kurma sekaligus menyimpan dan memeliharanya. Mushaf asli Al-Quran itu berada di rumah Hafshah hingga dia meninggal dunia.

Ketika Rasulullah mengalami rintangan dan gangguan dari kaum kafir Quraisy, maka Khadijah Binti Khuwailid selalu berada di sampingnya untuk menenangkan sekaligus menyenangkan hatinya yang gundah. Khadijah juga mendukung perjuangan suaminya dengan sepenuh jiwa raga dan menyerahkan seluruh harta benda yang dimilikinya. Sebagai pebisnis muslimah sukses yang dermawan, wanita terbaik di dunia ini memang setia, taat dan sayang kepada suami dan anak-anaknya. Khadijah selalu menyiapkan makanan, minuman dan segala keperluan Rasulullah serta mendidik putra putrinya dengan teladan dan penuh kesadaran.

Kisah lebih heroik terjadi pada Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah bersama suami dan kedua putranya ikut dalam Perang Uhud yang berlangsung dahsyat. Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, Ummu ‘Umarah justru mendekati Rasulullah, bermaksud melindungi di depannya dengan menggunakan pedang. Namun, Ummu ‘Umarah beberapa kali terkena sabetan pedang yaang ditebarkan pasukan musuh. Luka yang paling besar terdapat di pundaknya, karena ditikam Ibnu Qami’ah, hingga dia harus mengobati luka itu setahun lamanya. Pada masa khalifah Abu Bakar Siddiq, Ummu ‘Umarah juga ikut memerangi Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku nabi. Di sinilah Ummu ‘Umarah terpotong tangannya dan kehilangan seorang putranya yang terbunuh.

Fakta-fakta di atas menunjukkan, para perempuan jelas telah mengukir prestasi dalam sejarah Islam dengan kemampuan, ilmu dan caranya sendiri yang hingga kini patut diteladani. Di sisi lain, sebagian contoh kecil tersebut bisa membuka mata orang-orang (Barat) yang menganggap bahwa masa lalu Islam selalu dikaitan dengan citra kekerasan, aneka peperangan, lika-liku pertumpahan darah atau cerita adu senjata. Dr. KH. Ahmad Mukri Aji, MA, MH, dosen Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, mengungkapkan, sebetulnya banyak sekali jumlah perempuan yang berkarir pada zaman Rasulullah dan Rasulullah tidak melarangnya.

“Misalnya ada perempuan yang menghapal Al-Quran, menuliskan ayat-ayat Al-Quran pada pelepah kurma atau tulang, beternak, berdagang, memacu kuda, dan memanah. Itu kan bukan pekerjaan yang gampang, karena mereka  ahmad-mukri-aji-08 juga tidak meninggalkan tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga. Hanya saja, dikaitkan dengan konteks masa kini, setiap perempuan jangan sampai dipaksakan. Artinya, jika bidang atau dunia itu bukan habitatnya, ya jangan diperintah untuk mengerjakan,” ujar Mukri Aji sembari melempar senyum.

Haruskah Perempuan Berkarir?
Keputusan untuk berkarir atau bekerja di luar rumah menjadi hak setiap perempuan. Bagi perempuan yang ingin atau tengah berkarir dan dalam waktu dekat akan segera menuju kursi pelaminan, Mukri Aji mengingatkan, sebaiknya dibicarakan dulu dengan pasangannya. Sebab, kesamaan visi tentang membangun sebuah rumah tangga sebelum seorang perempuan menikah sangat penting didiskusikan dan tidak boleh ada dominasi. Istilahnya dibuat perjanjian pra nikah antara perempuan dengan calon pendamping hidupnya.

“Misalkan perempuan itu mempunyai calon suami yang menjadi tentara atau polisi, maka nanti dia harus siap berpindah-pindah tempat mengikuti tugas suami. Ini harus dipahami sebagai konsekuensi dari pekerjaan sebagai prajurit dan abdi negara. Jika tidak, wah…bisa-bisa jadinya ribut terus dong… Padahal umpamanya karir perempuan itu sedang menanjak atau cemerlang,” Mukri Aji memberi ilustrasi.

Menikah memang tidak sekadar prosesi sakral ijab qabul antara lelaki dan perempuan yang disaksikan keluarga, wali, penghulu, dan pemberian mahar. Lebih dari itu, menikah sesungguhnya menuntut komitmen dan tekad yang kuat dari kedua belah pihak untuk mencapai tujuan bersama yang telah disepakati. Karena itu, moment pacaran dalam waktu lama tidak menjadi jaminan langgengnya rumah tangga, bila perempuan dan lelaki tidak mau saling memahami, saling menghormati, saling mengerti serta saling mengenal karakter dan kepribadian masing-masing.

Bagi Salma Dian Priharjati (38 tahun) yang sejak sebelum menikah sudah berkarir di sebuah radio swasta salma-dian-priharjati-042kondang di Jakarta, pernikahan adalah sesuatu yang sangat berarti bagi perjalanan hidupnya, karena sarat dengan muatan ibadah.

“Apalagi bagi saya yang muallaf (orang yang baru masuk Islam). Saya menjadi muallaf tahun 1995. Pada fase ini saya learning by doing. Saya berpendapat, pernikahan bukan saja harus dilewati, tetapi harus dipertanggung jawabkan   sampai ke level terbaik dan teroptimal yang bisa saya lakukan untuk suami, anak-anak dan keluarga besar. Pernikahan bukan proyek coba-coba yang bisa kapan saja dibubarkan (cerai) ‘sekehendak gue’,” cetus mantan Direktur Operasional PT. Pradha Asta Grahita.

Perempuan yang sudah menikah, tentu perannya jadi bertambah. Jika sebelumnya dia bebas melakukan berbagai hal seusai keinginan sendiri tanpa ada yang mengontrol atau menuntut, maka keberadaan suami perlu diperhatikan, apalagi bila telah lahir anak-anak. sri-lintang-rosi-aryani-01Sri Lintang Rosi Aryani, S.Psi mengatakan, perempuan harus bisa mengurus, mengatur atau memimpin keluarganya, sebab dia mewakili suaminya.

“Kita boleh mencari pembantu untuk menggantikan tugas-tugas kita sebagai ibu rumah tangga, tapi pembantu tidak bisa menggantikan tugas-tugas kita istri. Secara biologis, melayani suami tidak bisa digantikan oleh orang lain. Terkadang malah ada tipe suami yang minta didampingi dan dilayani istrinya ketika makan, disiapkan pakaian dan dipakaikan dasi sebelum berangkat ke kantor. Kalau saya melakukan semua yang dimaui suami,” beber perempuan kelahiran Jakarta, 19 April 1966, yang menjabat kepala TK dan sering mengisi pengajian ibu-ibu.

Senada dengan Lintang Rosi, Ainul Huda (44 tahun) menyatakan bahwa sebagai seorang istri maupun ibu rumah tangga, setiap perempuan sebaiknya pandai-pandai merawat anak-anak dan suami, menjaga keutuhan keluarga serta menata rumah seindah mungkin agar mereka merasa nyaman jika sedang di rumah.

“Saya pegang sendiri tugas-tugas itu, karena saya trauma dengan adanya pembantu. Dulu, waktu saya masih bekerja, memang urusan rumah diserahkan ke pembantu. Ternyata, diam-diam pembantu saya nakal. Tiap kali anak saya rewel atau malas, pembantu selalu mencubit anak saya sampai nangis. Jelas saja saya tidak terima dengan tindakan pembantu itu. Akhirnya dia saya pecat. Sejak itu saya belajar jadi ibu rumah tangga. Awal-awal memang repot, capek dan saya nyaris stres. Bebannya besar dan berat sekali. Tapi lama kelamaan jadi terbiasa dan saya enjoy saja..,” kenang perempuan yang pernah berkarir di biro travel ternama bagian ticketing.

Mengurus keluarga dan berkarir adalah dua hal yang berbeda. Tapi bagi Dian Priharjati, keduanya justru sama, yakni ada sesuatu yang dilakukan untuk orang lain. Sebagai pebisnis, Dian bekerja demi keluarga, begitu pula dengan mengurus keluarga. Hanya saja, Dian membedakan tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Yang paling utama, tugas istri bagaimana bisa menyenangkan suami. Artinya, apa-apa keinginan suami bisa dipenuhi, selama suami tidak akan membuat dirinya tidak bermoral. Kedua, Dian ingin disukai dalam banyak hal yang bisa dilakukan untuk keluarganya (mertua), terlepas dirinya mendapat pujian atau tidak. Sebab, sesuatu yang berhubungan dengan keluarga besar pasti ada yang normatif atau standarnya dan Dian melakukan itu.

“Kalau sebagai ibu rumah tangga, saya berusaha menjadi teman bagi anak-anak. Makanya saya sering bertingkah laku atau berbuat sesuatu seperti usia anak-anak saya. Misalnya guling-gulingan di kasur atau mandi hujan bersama di depan rumah. Tujuannya supaya anak-anak nyaman dulu dengan saya. Setelah mereka nyaman, saya dengan mudah mendoktrin mereka. Saya ingin suami saya melihat bahwa saya sebagai istri dan ibu yang patut dicintai dan diteladani. Ini butuh waktu dan proses. Saya berusaha menjalani semuanya sepenuh hati,” papar alumnus Diploma III Saint Mary Secretarial School ini, bersemangat.

Terkait dengan tugas mulai perempuan sebagai ibu, Mukri Aji menekankan bahwa ibu adalah tempat paling awal bagi sekolah anak-anaknya. Maksudnya, pendidikan yang diberikan seorang ibu akan ditangkap buah hatinya apa adanya. Karena itu, dalam proses mendidik –utamanya bekal agama—, ibu harus memberikan pelajaran yang terbaik, menjalani penuh kenyamanan dan keikhlasan agar setiap langkahnya selalu bernilai amal dan ibadah.

“Jangan mentang-mentang ibunya sudah sukses berkarir dan dapat gaji besar, terus semena-mena mendidik anak. Umpamanya dalam pikiran si ibu yang penting ngasih uang jajan berlebih ke anak. Ini pola pendidikan yang keliru. Jangan sampai anaknya tidak tahu akidah (tauhid) dan akhlaknya amburadul gara-gara ibunya sibuk, sementara bapaknya juga sibuk. Jika ada kendala, komunikasikan dengan suami dan dicari solusinya bareng-bareng. Kan semuanya demi kebaikan dan keutuhan rumah tangga,” ujar Mukri Aji.

Mukri Aji, Dian Priharjati, Lintang Rosi dan Ainul Huda sepakat bahwa makna dan keberadaan keluarga sangat penting, terlepas perempuan harus berkarir atau tidak. Dengan suara pelan sambil menundukkan wajah, Dian Priharjati berucap, siapa yang akan mendoakan dirinya jika sudah ‘dipanggil’ Allah SWT kecuali anak-anak dan keluarga. Atas dasar itulah Dian berusaha melakukan segala sesuatu secara ikhlas, jujur dan tidak ada pretensi apapun. (Tulisan ini dimuat di Majalah ANGGUN No.3/II/Maret/2009. Tulisan bagian kedua berjudul “Enak di Luar, Lebih Enak di Dalam”. Tulisan bagian ketiga berjudul “Tidak Ada Batasan Bagi Perempuan”).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s