Dr. KH. Ahmad Mukri Aji, MA, MH: “Tidak Ada Batasan Bagi Perempuan”

Ramah, rendah hati dan murah senyum. Itulah kesan pertama saat bertemu Dr. KH. Ahmad Mukri Aji, MA, MH, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, periode 2005-1010. Pria kelahiran Bogor, 12 Maret 1957, yang kini menjabat Dewan Pakar HISSI (Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia) Pusat dan Dewan Pembina Pondok Pesantren Darun Na’im Bogor, menerima kedatangan Imam Ma’ruf dan Lukman Hakim Zuhdi dari Majalah Anggun, di Kantor MUI Bogor. Berikut petikan wawancaranya terkait Perempuan, Karir dan Keluarga.

Sebelum memasuki inti persoalan, yang paling mendasar, apa sebenarnya esensi pernikahan?

Hemat saya, sesuai pesan Al-Quran dan hadis Rasulullah SAW, esensi pernikahan adalah sebuah solusi untuk memenuhi kebutuhan biologis perempuan dan lelaki sebagai pasangan hidup yang memang diharapkan ideal. Jika suami istri sudah merasa cocok dan saling berkomunikasi, maka dengan sendirinya akan timbul sakinah (ketenangan, kedamaian, kesejukan), yang dibingkai oleh mawadah (cinta kasih, persahabatan) dan rohmah (belas kasih, kasih sayang) di dalam rumah tangga. Berangkat dari semua hal tersebut, maka lahirlah anak-anak sebagai buah cinta kasih kedua belah pihak. Tentu, anak-anak yang kelak setia dan patuh kepada orang tua, agama, masyarakat, dan bangsanya. Pendek kata, anak-anak yang shaleh dan shalehah.

Setelah melewati proses pernikahan, selanjutnya apa saja tugas perempuan sebagai istri?

Akad nikad yang telah diucapkan lelaki kepada perempuan, jelas membawa konsekuensi hukum, yakni hak dan kewajiban masing-masing. Hak suami merupakan kewajiban istri dan hak istri adalah kewajiban suami. Kewajiban suami ialah mengayomi istri, dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Mengayomi berarti memberi nafkah lahiriah, seperti makan, tempat tinggal dan pakaian yang layak. Itu yang primer (pokok). Sedangkan yang sekunder, jelas sesuatu yang membuat istinya happy, nyaman. Bentuknya boleh apa saja, sesuai kemampuan suami atau kesepakatan keduanya. Sementara tugas dan kewajiban istri yaitu mendampingi suaminya. Misalnya melayani suami secara lahir batin, menjaga wibawa suami dan keutuhan rumah tangganya. Ini satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Kalau tugas perempuan sebagai ibu rumah tangga?

Jika bapak sebagai kepala rumah tangga wajib menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan sakinah, maka tugas ibu sebagai pelaksana keputusan suami dan pengemas rumah tangga, supaya terwujud baiti jannati (rumahku adalah surgaku), seperti yang disabdakan Rasulullah SAW. Artinya, ibu harus menyadari bahwa di dalam rumah tangga ada kepentingan suami, kemauan anak-anak dan mungkin juga ada keinginan dari orang tua atau mertua yang perlu dijembatani atau dituruti. Sehingga, para penghuni rumah merasa betah bila sedang berada di rumah. Nah, di sinilah peran istri sangat besar dan berat sekali, mulia serta dimuliakan oleh Allah, bila dijalankan dengan penuh keikhlasan.

Bagaimana komentar Bapak melihat perempuan yang berkarir?

ahmad-mukri-aji-05 Pada dasarnya, agama Islam tidak mematikan kreatifitas, aktivitas atau karir perempuan yang telah menjadi istri atau ibu rumah tangga. Sebab, yang dikedepankan ajaran Islam bahwa perempuan dan lelaki mempunyai hak yang sama. Lelaki dengan karakter kelelakiannya, sebaliknya perempuan dengan ciri khas kewanitaannya. Boleh saja perempuan berkarir atau bekerja sesuai skill (kemampuan), ilmu dan hobinya. Hanya saja, sekali lagi, sunatullahnya istri tidak diminta secara primer untuk mencari nafkah.

Adakah dalam Islam batasan-batasan bagi perempuan yang berkarir?

Kalau ada perempuan yang ingin menjadi anggota dewan, hakim, jaksa, bupati, gubernur, menteri, presiden, atau berkiprah dalam bidang apa saja, silahkan. Asal, ini yang penting dicatat, pertama kali dia harus mendapat izin dan dukungan dari suaminya. Maksudnya, sebelumnya ada kesepakatan antara dia dan suaminya bahwa karirnya tidak akan menimbulkan konflik atau resiko bagi keluarga dan rumah tangganya. Kedua, sesibuk apapun, dia tetap berusaha berkomunikasi dengan suami dan anak-anaknya. Karena itu, perempuan harus bisa membagi waktunya ketika posisi dia sebagai istri, ibu rumah tangga dan demi kemajuan karirnya. Andaikan tidak ada keikhlasan dari suami dan anak-anak, maka Allah SWT pun tentu tidak ridho dengan karir yang digelutinya.

Jika ada istri yang tetap berkarir meski tidak mendapat izin dari suaminya?

Saya kira Islam adalah agama yang menerapkan prinsip keadilan. Dalam bab pernikahan dan rumah tangga ada yang dinamakan nusyuz (pembangkangan, penolakan). Terminologi nusyuz ternyata bukan hanya dialamatkan kepada kaum perempuan, tapi juga berlaku bagi lelaki. Ini yang kadang-kadang kurang dipahami masyarakat. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka suami bisa melakukan tiga tahapan. Pertama, suami menasehati atau berbicara dengan istrinya secara baik-baik, tanpa terbawa emosi. Bila langkah pertama tidak berhasil, maka suami menempuh jalan pisah ranjang atau tidak tidur bersama. Jika masih gagal juga, maka langkah terakhir suami ‘memukul’ istrinya dengan penuh kasih sayang. Ini bukan tindakan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), tapi ‘memukul’ dalam arti suami berusaha keras merayu sambil memeluk dan membelai istrinya agar menyadari hak dan kewajibanya. Terpenting, suami maupun istri jangan main paksa dalam hal apapun.

Resep yang Bapak berikan agar seorang perempuan bisa sukses secara bersamaan, baik sebagai istri, ibu rumah tangga dan demi karirnya?

Pertama, awali niat dan motivasi dengan tulus, ikhlas dan untuk menggapai ridho Allah SWT. Semangatnya lillahi ta’ala (karena Allah semata), bukan linafsi (untuk kepuasan diri sendiri). Kedua, kesabaran dalam melakukan ketiganya dan ada kesadaran moral untuk menempatkan dirinya tetap tidak egois. Ketiga, jangan lupa kepada Allah. Artinya, kita tidak boleh sombong kepada Allah. Bersyukurlah karena Allah yang telah menganugerahkan segalanya dan berdoalah agar rumah tangganya tetap sakinah serta suami dan anak-anak juga mendoakannya.

Pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia?

Mudah-mudahan dengan berbagai profesi, karir, aktivitas maupun keterampilan yang sedang dijalaninya saat ini, kaum perempuan menjadikannya sebagai ladang amal ibadah kepada Allah SWT. Semuanya diarahkan demi kemaslahatan suami, anak-anak, keluarga, masyarakat dan bangsanya, sehingga akan mendapatkan posisi terhormat bukan saja dimata manusia, tapi lebih utama lagi menurut penilaian Allah SWT. (wawancara ini dimuat di Majalah ANGGUN, No. 3/II/Maret 2009)

One thought on “Dr. KH. Ahmad Mukri Aji, MA, MH: “Tidak Ada Batasan Bagi Perempuan”

  1. achmad apandi Maret 8, 2012 / 3:53 am

    assalamu’alaikum…..’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s