Para Kiai Cirebon Jenguk Rokhmin Dahuri

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Wajah Rokhmin Dahuri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, sumringah. Rabu (15/4) sekitar pukul 11.00 WIB, pria asli Desa Gebang Cirebon yang kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang itu dikunjungi para kiai dari Cirebon. Rokhmin Dahuri telah divonis pengadilan 7 tahun penjara. Ia dituduh mengkorupsi dana non-budgeter Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) sebesar 31 miliar. Kini, Guru Besar Kelautan dan Perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu sudah lebih dari 2 tahun hidup dibalik jeruji.

“Tamu yang mengunjungi saya di LP ini setiap hari banyak sekali. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Tapi hari ini, perasaan saya sungguh campur aduk; antara berbunga-bunga dan terharu. Bahagia karena tidak menyangka akan didatangi para kiai dari berbagai pesantren. Terharu sebab para kiai yang datang dari Cirebon ini masih mau mendoakan dan memperhatikan nasib saya. Saya sangat berterima kasih kepada para kiai,” ujar Rokhmin, di hadapan para kiai, di Aula Serba Guna LP Cipinang, Jakarta Timur. Mata Rokhmin terlihat berkaca-kaca.

Para kiai yang datang untuk bersilaturahim dengan Rokhmin adalah KH. Muchlas dari Pesantren Gedongan, KH. Anis Arsyad dari Buntet Pesantren, KH. Usamah Mansur dari Pesantren An-Nasuha Kalibuntu, KH. M. Zuhdi dari Pesantren Salafiyyah Losari, H. Muhari selaku Ketua Banser Kabupaten Cirebon, dan H. Sunarto. Di hadapan para kiai, Rokhmin menyatakan dirinya tidak pernah merasa menjarah atau merugikan keuangan negara, seperti yang selama ini dituduhkan.

“Kenapa pejabat-pejabat lain yang mengumpulkan dana non budjeter bisa hidup bebas, namun saya ditahan? Ini tidak adil. Saya kira bukan murni persoalan hukum yang mendera saya, tapi ada muatan politiknya. Intinya saya ini hanya menjadi korban. Sekarang saya sedang berjuang dengan mengajukan berkas Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA). PK adalah upaya hukum terakhir. Entah kenapa, sudah sembilan bulan sejak berkas itu dikirim, hingga sekarang belum diproses juga. Saya berharap, para hakim yang terhormat mengabulkan PK dan membebaskan saya. Kalau pun di pengadilan dunia ini saya tidak menang, insya Allah saya menang di akhirat,” cetus Rokhmin, optimis.

Para kiai secara seksama mendengarkan penjelasan Rokhmin. Seusai Rokhmin berbicara, KH. Usamah Mansur –sebagai perwakilan para kiai— lalu menyampaikan tujuannya. Kehadiran rombongan ke LP Cipinang tidak lain untuk memberikan semangat, pesan dan doa agar PK Rokhmin segera diproses MA. Kedatangan mereka ke LP, lanjut KH. Usamah, merupakan murni panggilan hati. Artinya tidak ada pretensi dan kepentingan apapun dari mereka.

“Saya bersama para kiai selalu berdoa demi keluarnya Pak Rokhmin dari LP ini. Pak Rokhmin itu orang baik, ahli ibadah dan ilmunya luar biasa luas. Beliau salah satu orang besar yang dimiliki Cirebon. Karena itu saya mengharapkan berkas PK-nya segera diproses dan beliau cepat bebas. Ini semua agar beliau bisa mengaplikasikan ilmunya dan mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara,” kata KH. Usamah, yang mengaku pernah dua kali mengunjungi proses persidangan Rokhmin di Pengadilan Tipikor, Jakarta.

KH. Usamah juga berpesan supaya Rokhmin meningkatkan kesabaran, selain rutin membaca doa amalan yang diberikannya. KH. Muchlas tak ketinggalan meminta Rokhmin untuk merapalkan doa khusus yang telah diijazahkan oleh dirinya. KH. Anis Arsyad ikut menasehati agar Rokhmin menguatkan mental dan rela menerima keadaan ini, meskipun sangat pahit. Sebab, dibalik suatu kepahitan lazimnya tersimpan kemanisan. Di sisi lain, sambung KH. Anis, sebagai manusia Rokhmin tetap wajib berikhtiar supaya PK-nya lekas diajukan ke meja sidang.

Sementara itu, KH. M. Zuhdi menyarankan, sembari menanti berkas PK disidangkan, Rokhmin agar lebih menggiatkan lagi ritual ibadah dan doanya selama di dalam Hotel Prodeo. Sebab, ibadah dan doa adalah alat komunikasi yang paling efektif antara makhluk dengan Sang Pencipta-Nya. Hal tersebut supaya semakin tertanam sikap husnud zhon (baik sangka) dan menghilangkan rasa dendam terhadap orang lain.

“Saya, para kiai dan masyarakat yakin bahwa Rokhmin ini tergolong madhlum (orang yang didholimi).  Karena itu, saya mengingatkan Rokhmin supaya tidak sakit hati terhadap siapapun, termasuk pihak-pihak yang dicurigai mendholiminya. Kalau Rokhmin mau ikhlas, insya Allah nanti Rokhmin akan mendapat kemuliaan yang lebih besar dan ridho dari Allah SWT. Banyak sekali contohnya pada masa lalu yang telah tercatat dalam sejarah. Seperti kisah Nabi Yusuf AS, Nabi Yunus AS dan Nabi Adam AS ,” KH. M. Zuhdi meyakinkan.

Rokhmin yang sejak tadi khusyu mendengarkan nasehat para kiai, kian menundukkan wajahnya. Kedua tangannya dipertemukan, diletakkan di atas pangkuannya. Doktor lulusan School for Resources and Environmental Studies Dalhousie University Canada ini mengaku hatinya lebih tenang. Siraman rohani dan petuah para kiai meresap, menyadarkan sekaligus menembus relung kalbunya yang paling dalam. Tak pelak, semangatnya untuk memperjuangkan kebenaran yang diyakininya melalui berkas PK bertambah tinggi. Selain itu, dalam kesempatan baik tersebut–sekali lagi—Rokhmin menegaskan, dirinya tidak bersalah dan bukan koruptor.

Menjelang pamit pulang, tiga orang kiai saling bergantian memanjatkan doa demi keberhasilan PK Rokhmin. Pertama KH. M. Zuhdi yang berdoa penuh semangat sembari menitikkan air mata. Kedua bibirnya bergetar. Nada suaranya sangat mengiba kepada ilahi rabbi. Begitu usai, KH. Usamah melanjutkan doa kedua, pun dengan linangan air mata. Tundukan wajah dan terangkatnya kedua tangan memperlihatkan ketawadhuannya.

Terakhir KH. Anis Arsyad, yang berdoa dengan mata sembab. Ia tak kuasa menahan tangis. Doanya sempat terhenti beberapa saat. Kiai lainnya yang mengamini turut meneteskan butir-butir air bening dari kelopak matanya. Mereka memohon kepada Allah SWT supaya Rokhmin segera dibebaskan dan keadilan serta kebenaran terkuak. Sedangkan Rokhmin tak henti-hentinya menitikkan air mata. Matanya sembab memerah, kedua pipinya pun basah. Ia berkali-kali mengelap kacamatanya. Rokhmin lantas berpelukan dengan para kiai.*** (Tulisan ini dimuat di Harian MITRA DIALOG Cirebon, Kamis, 16 April 2009, Halaman 1)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s