Mengikuti Rasulullah SAW

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

Besok hari minggu. Sekolah libur. Nadia ingin sekali mengunjungi kakek dan nenek. Sudah lama Nadia tidak bersua. Maklum, minggu kemarin Nadia sibuk belajar. Persiapan untuk ujian. Rumah kakek dan nenek berjarak 100 meter dari rumah Nadia. Papa dan Mama Nadia sudah memberinya izin.

“Nadia cantik, besok ke rumah kakek dan neneknya sama Mbak Lastri. Soalnya Mama dan Papa mau keluar kota. Kak Nisa dan Kak Adi ada janji sama teman-temannya. Nanti di sana Nadia nggak boleh nakal, lho…” Mama berbicara pada Nadia, menjelang Nadia tidur. Mama duduk di samping Nadia. Tangan kanannya membelai-belai rambut Nadia.

“Iya, Ma,” suara Nadia terdengar pelan. Nadia sudah mengantuk. Beberapa kali sempat menguap. Nadia menatap Mama sembari tersenyum manis.

“Nah, ayo sekarang bobo. Biar besok nggak kesiangan bangunnya,” kata Mama, lalu mencium kening Nadia. Nadia memejamkan kedua matanya. Kurang dari lima menit, Mama mematikan lampu kamar, kemudian keluar. Nadia sudah tidur. Boneka imut kesayangan hadiah ulang tahun dari Mama dipeluknya erat-erat. Beberapa boneka barbie cantik berbaring di sisinya, menemani setiap malam-malamnya.

* * *

“Assalamualaikum…Kakek…Nenek…Nadia datang…”

Kakek sedang membaca buku di kursi goyang, di teras rumah. Nenek duduk di sampingnya, melihat foto-foto masa lalu.

“Waalaikumsalam…Duh, cucu kakek yang cantik, pintar…Ayo, sini masuk,” sambut kakeknya, gembira. Neneknya tersenyum. Nadia mencium tangan kakek dan neneknya. Nadia dipeluk neneknya. Dekapannya erat sekali, seperti sudah lama berpisah.

“Nenek kangen sama cucu nenek. Kangen sekali,” bisik nenek.

Kakek pun mencium keningnya, penuh kasih sayang. Mbak Lastri, pembantu yang mengantar Nadia, langsung ke belakang. Ia menemui Mbak Mumu, pembantu di rumah kakek. Biasa, kedua pembantu itu suka ngerumpi dan saling curhat, di dapur. Maklum, keduanya berasal dari kampung yang sama.  

“Kakek dan nenek, bagaimana kabarnya?” Nadia memilih duduk di sebelah kakek, manja sekali. Tidak terlihat ada jarak atau semacam perasaan canggung. Mereka benar-benar akrab.

“Alhamdulillah…Kabar kakek dan nenek selalu baik dan sehat.” Kakek mengelus-elus punggung Nadia.

“Kakek sedang baca buku apa?”

“Sirah Nabawiyah. Buku riwayat hidup Rasulullah SAW. Isi bukunya bagus, lho,” kakek memperlihatkan sampulnya.

“Rasulullah itu siapa, Kek?”

“Rasulullah SAW itu nabi dan rasul terakhir. Beliau diutus oleh Allah SWT untuk berdakwah. Beliau yang mengajarkan Islam. Orangnya baik. Akhlaknya bagus. Menghormati orang yang tua, menyayangi yang muda. Disiplin atau tepat waktu. Suka menolong. Tidak pemarah. Murah senyum. Senang berkawan dengan siapa saja. Mencintai kebersihan. Menyayangi lingkungan. Hidupnya penuh hikmah dan bersahaja. Beliau panutan kita semua. Beliau sangat mencintai pengikutnya. Nadia mau seperti Rasulullah SAW?” kakek tersenyum, matanya lekat menatap Nadia.

“Mau. Caranya bagaimana, Kek?”

“Nah, sekarang kakek akan memberi tahu. Khusus untuk cucu kakek yang tersayang.” Kakek bersemangat.

Seperti diceritakan buku ini, Rasulullah SAW sering tidur beralaskan tikar di rumahnya yang sederhana. Padahal, beliau seorang pemimpin besar yang hebat dan disegani. Sahabat-sahabatnya pun banyak yang kaya raya. Mereka tak segan-segan siap memberikan uang dan hartanya. Semuanya demi Rasulullah SAW. Tapi Rasulullah SAW justru malah menolaknya secara halus. Beliau tidak mau merepotkan orang lain. Sementara para pemimpin lain hidup senang bergelimang harta.

Satu waktu Rasulullah SAW makan di sebelah orang tua yang dipenuhi penyakit kudis, miskin dan kotor. Namun beliau tidak merasa risih atau sungkan. Beliau melihat seseorang bukan sekadar dari luarnya. Kalau ada pakaian yang rusak (sobek atau bolong), Rasulullah SAW menambalnya (menjahitnya) sendiri. Beliau tidak mau menyuruh istri maupun pembantunya. Selama bisa dikerjakan sendiri, maka akan dilaksanakannya. Begitu kira-kira prinsip yang dipegang Rasulullah SAW.

“Setiap kali pulang ke rumah, Rasulullah SAW membantu pekerjaan istrinya di dapur. Misalnya memasak atau membersihkan peralatan dapur. Bila tidak ada makanan, beliau tidak marah. Beliau sabar, malah tersenyum kepada istrinya. Bahkan beliau memilih berpuasa sunah, karena memperoleh pahala. Ya, seperti kakek Nadia ini,” kakek terkekeh. Nenek yang sedang menyulam, menoleh, cuma tersenyum. Nenek memang dikenal pendiam. Jika ngomong seperlunya saja.

“Ah, kakek bisa saja, nih!” cetus Nadia, juga tersenyum.

“Maaf, Pak, ini teh manisnya. Maaf, Bu, ini minuman jahenya. Silakan Mbak Nadia, sirup jeruk dan pisang gorengnya dicicipi. Enak, lho, buatan sendiri. Masih panas,” Mbak Mumu berpromosi, mesem-mesem sendiri. Pembantu kakek itu memang sering terlalu percaya diri. Kadang-kadang karakter centilnya dikeluarkan, begitu melihat lelaki ganteng.

“Terima kasih, Mbak Mumu,” balas Nadia.

Kakek melanjutkan penjelasannya. Rasulullah SAW mau mengajari orang yang tidak tahu. Satu waktu, menurut kakek, ada orang bukan muslim yang kencing di dalam masjid. Rasulullah SAW mengetahuinya, tapi emosinya tidak terpancing. Beliau hanya menegur dan berkata lembut kepada orang itu. Orang itu lantas pergi begitu saja dari masjid. Dia betul-betul cuek. Beliau kemudian mengambil air, lalu membasuh tempat yang dikencinginya.

“Beliau tidak memarahinya, karena sayang kepada orang itu. Beliau tahu, itu orang bodoh yang tidak mengerti aturan agama,” ujar Kakek.

“Wah, Rasulullah mulia sekali ya, Kek,” kata Nadia. Kakeknya menganggukan kepala.

Kakek menuturkan, ada lagi yang lebih istimewa. Saat ajal mulai mendekati, Rasulullah SAW masih sempat memikirkan umatnya. Padahal, Malaikat Jibril sudah membukakan seluruh pintu surga untuk beliau.

“Wahai Jibril, bagaimana dengan nasib umatku kelak? Apakah mereka nanti terbebas dari api neraka?” tanya Rasulullah SAW kepada Malaikat Jibril. Hal itu rupanya yang sangat dicemaskan beliau. Namun, Malaikat Jibril tidak mampu menjawabnya.

Detik-detik kewafatan Rasulullah SAW semakin dekat. Saatnya Malaikat Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh beliau ditarik dari dalam raganya. Nampak seluruh tubuhnya bersimbah peluh. Urat-urat lehernya menegang.
“Wahai Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Suara Rasulullah SAW terdengar lirih, layaknya orang mengaduh. Malaikat Jibril tidak tega melihat Rasulullah SAW seperti sedang disiksa. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa kepada Allah SWT. Putri kesayangan Rasulullah SAW, Fatimah bersama suaminya Ali bin Abi Thalib, yang menemani Rasulullah SAW sampai menangis. Keduanya menundukkan wajah. Mereka tak kuasa menahan perih yang dialami Rasulullah SAW. 

Sebentar kemudian, Rasulullah SAW merasa sangat kesakitan, lalu berkata, “Ya Allah, dahsyat sekali proses wafat (pelepasan ruh dari badan) ini. Timpakan saja semua siksa maut kepadaku, jangan kepada umatku.”

“Itulah bukti kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya. Beliau masih berdoa bagi kebaikan generasi berikutnya. Insya Allah, kakek, nenek, Nadia dan keluarga kita termasuk umat beliau,” tandas kakek, meyakinkan.

“Amin…Mudah-mudahan ya, Kek,” ucap Nadia. Kedua tangan mengusap wajahnya, setelah beberapa detik menengadah.

Semangat kakek menceritakan jalan hidup Rasulullah SAW begitu besar. Ia tidak terlihat capek atau bosan. Dalam kehidupan keseharian, Rasulullah SAW banyak memberikan contoh. Segala perbuatan, ucapan dan pikiran beliau bisa menjadi teladan. Jika Rasulullah SAW ingin memakai sandal, maka memulai dengan menggunakan sandal yang sebelah kanan. Baru kemudian beliau memakai sandal yang sebelah kiri. Begitu pula ketika beliau hendak memakai sepatu dan pakaian.

“Nah, bila Nadia akan berangkat sekolah, mengaji di musola, main ke rumah kakek, atau pergi kemana saja, juga mesti begitu. Namun, bila akan melepas sandal, maka Nadia memulai dengan kaki kirinya, terakhir kaki kanannya. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya cara seperti itu,” jelas kakek.

“Oh…Kok Nadia baru tahu ya, Kek,” jari telunjuk tangan kanan Nadia memukul-mukul pelan hidungnya sendiri. Kakek tersenyum. Nenek ikut-ikutan tersenyum, tanpa berkomentar.

Rasulullah SAW selalu berusaha melaksanakan sholat lima waktu secara berjamaah. Jika mendengar suara adzan, tutur kakek, beliau segera berangkat ke masjid. Orang-orang yang ditemuinya di jalan, diajaknya ke masjid. Setelah selelsai sholat, beliau cepat-cepat pulang kembali ke rumahnya. Kakek berhenti sejenak. Ia meminum teh manis kesukaannya buatan Mbak Mumu.

“Kek, itu suara adzan duhur sudah berkumandang. Sekarang kita sholat berjamaah, yuk. Kakek nanti yang menjadi imam. Biar kita bisa meniru kebiasaan Rasulullah SAW,” ajak Nadia.

“Ayo, siapa takut?!” balas kakek, tersenyum.

“Nenek ikutan dong…” cetus Nenek, menghentikan pekerjaan menyulamnya. Sejak tadi nenek hanya mendengarkan kakek membagi ilmu.

Tangan Nadia digandeng kakek dan neneknya. Nadia berada di tengah. Mereka berjalan ke belakang, menuju musola keluarga. Namun, mereka terkejut, begitu melintasi dapur. Banyak kulit kacang berserakan di lantai. Beberapa gelas bekas minuman sirup berjejer rapi. Piring bekas kue dan pisang goreng numpuk. Rupanya Mbak Mumu dan Mbak Lastri masih asyik ngerumpi sejak pagi.

“Mumu…!!!” teriak kakek, geram. “Bulan depan gaji kamu dipotong!!!”

Brakkk!!! Sapu di belakang Mbak Mumu terjatuh mengenai kuali kotor, lantaran ditendang kakinya sendiri. Mbah Mumu kaget luar biasa. Hampir saja jantungnya copot. Mbak Mumu dan Mbak Lastri seketika mengakhiri obrolannya. Kedua pembantu itu takut jika kakek marah. Bisa-bisa mereka nanti diberhentikan dari pekerjaannya. Keduanya segera membereskan dapur. Nenek dan Nadia hanya senyum-senyum saja.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s