SKENARIO OBAMA MENGATASI KONFLIK ISRAEL-PALESTINA

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

foto-lukman-hakim-zuhdi-02Sejak 27 Desember 2008, Israel melancarkan Operasi Cast Lead terhadap Jalur Gaza di Palestina yang menyebabkan ratusan orang tewas dan ribuan lainnya terluka. Peristiwa tersebut mengundang keprihatinan dan kutukan dari dunia internasional. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang didukung seluruh 15 anggota Dewan Keamanan –kecuali Amerika Serikat yang abstain— telah mengeluarkan Resolusi 1860. Resolusi itu antara lain berisi seruan genjatan senjata dan penarikan pasukan dari Jalur Gaza, penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza, dialog rekonsiliasi Palestina-Israel serta perdamaian Timur Tengah dengan prinsip solusi dua negara.

Kenyataannya, para petinggi Israel secara tegas mengatakan bahwa terbitnya Resolusi 1860 tidak akan menghentikan agresi Israel hingga seluruh target terpenuhi. Israel berdalih tengah berjuang mempertahankan diri dan menjamin keamanan warganya yang bermula atas serangan enam roket Hamas ke wilayah Israel Selatan. Pada saat yang sama, Hamas pun menolak mematuhi Resolusi DK PBB, lantaran tidak dilibatkan dalam proses penyusunannya. Keduanya memang sama-sama keras kepala, tidak ada yang mau mengalah. Kini, satu-satunya harapan berakhirnya konflik ini sepertinya berada di tangan presiden terpilih Barack Hussein Obama.

Pada 20 Januari 2009, Obama dikukuhkan sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44. Momen itu tentu sungguh istimewa bukan saja lantaran nama Obama terdokumentasikan sebagai presiden pertama berkulit hitam, melainkan masyarakat dunia tengah berharap-harap cemas menanti jurus-jurus jitunya untuk menyelamatkan resesi ekonomi dan krisis global serta menyelesaikan pertikaian antara Israel dengan pejuang Hamas.

Beberapa hari setelah pasukan Israel berhasil memporakporandakan Jalur Gaza,  Obama baru membuka mulut seusai berlibur bersama keluarganya. Dalam satu kesempatan wawancara, Obama mengaku terus memantau setiap perkembangan dan hanya prihatin atas peristiwa tersebut. Banyak pihak menilai komentarnya terdengar klise, sebab Obama diduga sekadar mencari posisi aman. Apalagi, Obama melalui juru bicaranya mengatakan, untuk saat ini di Amerika Serikat hanya ada satu presiden. Dengan demikian, belum perlu dikeluarkan keputusan apapun dari Obama sebagai presiden terpilih sebelum resmi dilantik.

Lantas, apa langkah-langkah Obama bersama kabinetnya setelah 20 Januari 2009? Tulisan ini mencoba membaca empat skenario yang akan dikeluarkan.  Pertama, Obama mendukung penuh tindakan brutal Israel. Di mata Obama dan kabinetnya, Hamas termasuk kelompok teroris yang wajib ditumpas, tanpa mempertimbangkan kemenangan Hamas dalam ajang pemilu di Palestina. Karena itu Obama bisa menerima alasan agresi Israel. Seperti diketahui, sejak dahulu Israel adalah sekutu utama dan sahabat dekat Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, sekitar 25-30 persen multijutawan ialah orang-orang Yahudi. Fakta itu antara lain yang membuat Amerika Serikat tidak berkutik ketika berhadapan dengan Zionis. Obama pun pernah menyatakan, dirinya mendapatkan dukungan paling kuat dari komunitas Yahudi dan telah lama bersahabat dengan Israel.

Jika opsi pertama tersebut yang diambil Obama, maka dipastikan reaksi masyarakat internasional –terutama negara-negara berpenduduk muslim seperti Indonesia— dan sebagian warga Amerika Serikat akan mengecam lebih keras keputusan Obama. Tidak menutup kemungkinan juga akan menghidupkan lagi kelompok ekstrimis dan memperkuat pesan kekerasan mereka, selain seruan untuk memboikot produk-produk Amerika. Obama yang semula mendapat pujian setinggi langit pun, mendadak tidak populer dan tidak berkharisma lagi. Bahkan, bisa jadi Obama disamakan dengan Presiden George Walker Bush yang gemar berperang untuk memecahkan suatu masalah. Hal ini akan menyulitkan jalan bagi Obama untuk mencitrakan kembali negara adidaya yang selama ini terpuruk –utamanya di kawasan Timur Tengah—, karena satu rapor merah telah ditorehkan pada awal pemerintahannya.

Selain itu, Obama sudah mengingkari janjinya pada saat kampanye yang ingin menampilkan wajah Amerika Serikat dimata dunia lebih humanis dan mengedepankan proses dialog ketimbang adu senjata militer. Padahal, Obama ketika berkampanye berkali-kali menyebut Presiden George Walker Bush telah keliru menerapkan kebijakan luar negerinya terhadap negara-negara Timur Tengah yang memakai cara-cara kekerasan (barbarian). Obama berencana mengkaji dan merevisi seluruh kebijakan tersebut, bila menjadi orang nomor satu di Amerika. Namun keuntungan besarnya, Obama jelas mendapat acungan jempol dan gemuruh tepuk tangan dari Israel.

Kedua, Obama melobi Israel untuk menghentikan serangan, meminta penarikan seluruh tentara Israel dari Jalur Gaza dan memprakarsai dialog damai Israel-Hamas. Andai skenario kedua ini bisa ditempuh, Obama secara perlahan akan dijauhi Israel dan digugat mantan Presiden George Walker Bush yang sejak awal mendukung keputusan Israel untuk menggempur Hamas. Roda pemerintahan Obama pun akan terus direcoki Israel. Tetapi, Obama mendapat pujian dan dukungan dari dunia internasional, khususnya dari negara-negara Timur Tengah, karena negosiasi dan kehebatannya sanggup melunakan Israel yang tidak mau mendengar saran negara manapun.

Ketiga, Obama secara bersamaan menyeru sekaligus melobi Israel dan Hamas untuk mengadakan genjatan senjata dalam jangka waktu tertentu supaya bantuan kemanusiaan dapat disalurkan ke Gaza dan mengusulkan pengerahan pasukan internasional keperbatasan Gaza, sebagaimana usulan Presiden Mesir Hosni Mubarak dan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dalam pertemuan di Sharm El Sheikh, Mesir (6/1). Ditinjau dari beberapa sisi, strategi ini jelas menguntungkan Obama, sebab untuk sementara waktu tidak memihak Israel maupun Hamas.

Keempat, Obama mengambil sikap pasif, yakni membiarkan atau tidak membuat kebijakan apapun mengenai rencana Israel untuk menghabisi rakyat Palestina di Gaza. Tentu hal ini semakin menguntungkan Israel yang mendapat angin dan bertambah leluasa menjatuhkan roket, memuntahkan peluru dan menembakkan senjatanya. Tetapi akibatnya, negara-negara Timur Tengah –khususnya Iran—akan menjauhi dan mencap Obama bagian dari Israel, yang tak ubahnya monster pembunuh massal. Di samping itu, kesungguhan dan komitmen Obama untuk mengubah wajah Amerika Serikat yang lebih bersahabat jelas dipertanyakan masyarakat internasional.

Pada akhirnya –berdasarkan pengalaman membuktikan—, keputusan apapun yang akan dijatuhkan oleh Amerika Serikat pasti lebih dahulu didasarkan pada kepentingan dan ambisi politik dan ekonomi negara adi kuasa ini. Namun jika Obama mau mengutamakan dan mempertimbangkan dari sisi kemanusiaan yang bersifat universal, mematuhi Resolusi DK PBB dan hukum-hukum internasional, maka Obama tentu tidak tega melihat sebuah bangsa dihancurkan dan warganya dibantai secara sia-sia, apalagi korbannya banyak anak, wanita dan orang tua tak berdaya. Sejarah pun sudah pasti akan mencatat Obama dengan tinta emasnya sebagai pejuang dan pahlawan sejati yang mulai menjanjikan suasana damai di Timur Tengah pada masa mendatang.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s