Penghapal Al-Quran Mendapat Kiriman Kelabang

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

lucky-062Sudah delapan tahun Maryam tinggal di pondok pesantren, sejak usia 13 tahun. Ia mempelajari ilmu agama sekaligus menghapal Al-Quran. Cita-citanya ingin menjadi hafidzah (perempuan penghapal Al-Quran). Pada acara kelulusan para santri, ia yang dikenal pintar dan cerdas dinobatkan sebagai penghapal Al-Quran dan siswa terbaik di pesantrennya. Ayah dan Ibu Maryam sangat bangga dengan prestasi putri pertamanya itu.

Belum genap setahun keluar dari pesantren, Maryam dilamar Hasan. Hasan menghadap Ayah dan Ibu Maryam, tanpa sepengetahuan Maryam. Di mata kedua orang tua Maryam, Hasan memiliki kepribadian menawan, selain dikenal sebagai pengusaha muda sukses di daerahnya.

“Nok –panggilan kesayangan Maryam–, kemarin Hasan datang ke sini bersama orang tuanya, berniat menyunting Nok. Apa tidak sebaiknya Nok pertimbangkan tawarannya?” kata Bunyamin, Ayah Maryam.

“Setahu Ibu, Hasan orangnya baik, loh…” timpal Aminah, Ibu Maryam.

Maryam terdiam, menundukkan wajahnya. Ia memang tidak mengenal Hasan secara dekat. Kalau pun Maryam tahu sosok Hasan, paling sekadar cerita dari mulut tetangga atau temannya. Dalam benak Maryam, Hasan memiliki banyak kelebihan; tampan, saleh, agamanya kuat, peduli terhadap orang lain, berasal dari keluarga baik, dan tentu saja kaya. Maryam pun rasanya tidak butuh waktu lama untuk memutuskan.

“Urusan jodoh, Maryam serahkan sepenuhnya kepada Ayah dan Ibu,” tukas Maryam, terdengar pasrah.

“Alhamdulillah…” Bunyamin dan Aminah menjawab kompak, saling bertatapan.

Selang satu bulan, acara resepsi Maryam dengan Hasan digelar secara meriah di rumah Hasan. Sebenarnya, bila mengikuti adat, mestinya hajatan dilaksanakan di kediaman mempelai wanita. Mengingat terbatasnya tempat dan alasan lainnya, akhirnya dipindahkan ke rumah Hasan. Lagi pula rumah keduanya masih satu wilayah. Semua biaya pesta pernikahan ditanggung Hasan, pengusaha rental mobil. Kedua mempelai tampak bahagia menyambut para tamu yang hadir.

“Kamu beruntung sekali, Maryam,” bisik Nida, sahabat dekat Maryam di pesantren, ketika memberi ucapan selamat dan mencium pipinya.

Maryam membalasnya dengan senyum sembari melirik Hasan. Hasan tak kalah sumringahnya. Para undangan mulai berpamitan, begitu malam menjelang. Hanya beberapa kerabat dan sahabat dekat Hasan yang masih ngobrol, tidak jauh dari kursi pelaminan. Sesekali mereka menggoda pengantin agar segera masuk kamar. Lama-lama pengantin beranjak juga dari tempat duduknya, lantaran capek.

Keesokan hari, Maryam dan Hasan membuka satu per satu amplop pemberian para undangan, di kamarnya. Seluruh amplop sudah dibuka. Uang yang didapat sekitar 50 juta. Hasan mengambil satu amplop terakhir yang ditaruh di bawah bantal.

“Kenapa amplop ini berwarna hitam, sementara amplop lainnya berwarna putih?” Hasan memperlihatkan kepada istrinya.

“Mungkin pengirimnya tidak punya amplop putih, Mas,” jawab Maryam sambil membereskan sobekan amplop.

Diselimuti rasa penasaran, perlahan-lahan Hasan membukanya. Ternyata isinya cuma secarik kertas kecil bertulis perang baru dimulai, bukan lembaran duit. Hasan kaget. Ia melihat bagian depan amplop, mencari tahu identitas pemberinya. Sama sekali tidak ada petunjuk.

“Sudahlah Mas, mungkin orang iseng,” Maryam berfikir positif, tangannya membolak-balikan amplop itu.

Hasan masih terdiam. Pikirannya berkelana, menerka-nerka siapa pengirimnya. Rasanya tidak mungkin sahabatku berbuat nakal, pasti ini ada maksudnya, pikir Hasan. Maryam keluar kamar. Diam-diam Hasan menyimpan amplop hitam itu di sela-sela bajunya di dalam lemari.

Tiga hari kemudian, Maryam yang sedang mengaji Al-Quran di kamar mendadak muntah darah. Selang tiga menit, seekor kelabang keluar dari mulutnya. Anehnya, begitu jatuh di kasur, kelabang itu sirna. Maryam terperanjat. Sejenak ia mengatur denyut napas, menenangkan diri. Berulang-ulang mulutnya membaca istighfar. Sajadah yang terkena darah segera dilipat, lantas dicuci.

Perisitiwa ganjil tersebut terulang kembali, tiga hari berikutnya, persis sewaktu Maryam melantunkan Al-Quran. Secara bersamaan, ia terpana menyaksikan puluhan kelabang mengerumuni bantal gulingnya. Maryam tak berkutik, lidahnya terasa kelu. Bulu kuduknya spontan berdiri. Tangan kanannya langsung menutup kedua matanya. Tak henti-hentinya ia membaca doa. Ajaibnya, semua kelabang menghilang, saat ia membuka mata. Hasan tidak mengetahui kejadian itu, karena Maryam menyimpannya rapat-rapat.

Berita Gembira

Tiga bulan telah berlalu. Selepas shalat subuh, mendadak Maryam muntah-muntah di westafel dapur. Ia mengaku perutnya seperti ditusuk-tusuk, sakit sekali.

“Kenapa, sayang?” tanya Hasan, cemas.

“Nggak tahu, Mas, badan saya terasa lemas.”

Hasan segera menyuruh Nurdin, pembantunya, untuk menjemput Bidan Lastri. Hasan lalu membopong istrinya menuju kamar. Wajah Maryam terlihat pucat pasi. Maryam batuk-batuk. Sepertinya ada sesuatu yang menyangkut (mengganjal) di dalam tenggorokannya.

“Saya nggak kuat, Mas. Sakittttt…” Maryam merintih, matanya berkaca-kaca.

“Sabar sayang, sebentar lagi Bidan Lastri datang,” Hasan menggenggam tangan kanan istrinya, kuat sekali.

Hembusan napas Maryam mulai tak teratur. Tiba-tiba saja Maryam menjerit sekuat tenaga. Tangan kirinya memegang tenggorokan.

“Astagfirullah…” Hasan terperanjat. Seekor kelabang keluar dari rongga mulut Maryam. Seketika tangan Hasan menyambar kelabang itu, lantas membantingnya ke lantai hingga mati. Maryam tak sadarkan diri. Keringat membasahi pelipisnya. Selang sepuluh menit, orang tua Hasan muncul, berbarengan dengan kedatangan Bidan Lastri.

“Cepat tolong istri saya!” cetus Hasan, tanpa menceritakan peristiwa sebelumnya.

Bidan Lastri memeriksa keadaan Maryam. Tidak berapa lama Maryam siuman.

“Apa yang dirasakan Ibu Maryam?” tanya Bidan Lastri.

Maryam tidak menjawab. Mulutnya tak kuasa berbicara. Kedua matanya menatap satu per satu orang-orang di sekelilingnya.

“Sudah berapa hari Ibu telat haid?” Bidan Lastri kembali bertanya.

“Dua minggu,” jawab Maryam, singkat.

“Selamat Pak Hasan, berarti istri Bapak sedang hamil. Istri Anda cuma mengalami kelelahan. Biarkan dia istirahat. Saya akan memberikan vitamin kehamilan.”

“Alhamdulillah…Sebentar lagi kita punya cucu,” sambut orang tua Hasan, girang.

Hati Hasan yang disergap kecemasan langsung mengucap syukur, lantas mengecup kening istrinya. Raut muka Maryam datar, tanpa ekspresi. Bidan Lastri mohon pamit setelah menyerahkan suplemen. Orang tua Hasan pun ikut keluar. Hasan membelai rambut istrinya hingga Maryam tertidur pulas.

Kelabang Merah

Usia kandungan Maryam memasuki bulan ketujuh. Keluarga Hasan mengadakan syukuran di rumahnya dengan mengundang tetangga dan tokoh masyarakat. Di dalam kamar, Maryam sedang merias diri, duduk di depan cermin. Tanpa sadar, tangannya mengambil pisau buah yang bersebelahan dengan peralatan make up. Tangan kirinya mengelus-elus perut buncitnya, sementara tangan kanannya mengangkat pisau, berniat menancapkan keperutnya.

“Maryam!” secara kebetulan Hasan masuk kamar.

“Lepas!!! Biarkan saya menggugurkan kandungan ini. Ini bukan anak saya. Ini anak setan!” Maryam berontak.
Hasan berusaha merebut pisau, Maryam terus berkelit.

“Tolong…” teriak Hasan.

Mata Maryam memerah. Tatapannya menakutkan, melotot, seperti orang kesurupan. Suaranya mengerang. Hembusan napasnya lebih cepat dari biasanya. Bahkan tenaganya mampu mengalahkan kekuatan Hasan. Hasan terlempar ke kasur. Orang tua dan kerabat Hasan masuk ke kamar.

“Ya Allah…Istighfar, Maryam!” pekik Ibu Hasan.

Dibantu Ayah dan kerabatnya, Hasan berhasil melepaskan pisau dari cengkraman tangan istrinya. Beberapa orang memegangi kedua tangan dan kedua kaki Maryam. Maryam direbahkan di atas kasur. Maryam meracau. Kakinya menendang orang-orang di sekelilingnya, sekenanya.

“Pergi kalian! Saya tidak mau pergi. Saya mau di sini bersama Hasan.”

Seorang kiai langsung merapalkan doa-doa di hadapan wajah Maryam. Maryam terus meronta, bahkan sempat meludahi kiai itu. Brakkk!!! Tiba-tiba tubuh kiai itu terpelanting. Kepalanya membentur tembok. Maryam kian menjadi-jadi, tenaganya bertambah kuat. Ucapannya semakin tak karuan. Orang-orang yang memeganginya sampai kewalahan. Kiai lainnya komat-kamit, membaca doa. Tetap saja, kiai kedua tak mampu meredam ketidaksadaran Maryam. Sudah empat kiai yang mencoba mengobati Maryam. Hasilnya, mereka tersingkir. Maryam masih dikuasai pengaruh jahat.

Akhirnya enam kiai sepakat berbarengan turun tangan, berupaya mengendalikan Maryam, dengan cara masing-masing. Seluruh kemampuannya dikerahkan. Jurus-jurus andalannya dikeluarkan. Kiai Rofiq memercikan air putih ke sekujur tubuh Maryam. Abah Jamil membaca mantra-mantra ditelinga kanannya, sementara Kiai Syafi’i ditelinga kirinya. Maryam menggeliat hebat, sepertinya kepanasan.

“Akhhhhh…” Maryam menjerit kesakitan. Tiga ekor kelabang kecil hitam muncul dari rongga mulut Maryam. Kiai Sobari sigap menyambar binatang berbahaya itu dengan kekuatan ilmunya. Jeritan Maryam bertambah keras. Napasnya tersenggal-senggal. Keringat membasahi wajah dan sebagian tubuhnya. Rupanya dua ekor kelabang berukuran lebih besar setengah badannya berwarna merah menyembul lagi dari mulut Maryam. Orang-orang di sekitarnya seketika bertakbir. Abah Jamil dan Kiai Syafi’i langsung menariknya dengan kekuatan tenaga dalamnya. Kelabang kedua pun lenyap.

Maryam seketika tak berdaya, berhenti melawan. Matanya masih terpejam, mulutnya menganga. Hasan menatap wajah istrinya dengan penuh iba. Airnya matanya menetes. Ia meminta orang-orang yang memegangi istrinya supaya melepaskan, namun dicegah Abah Jamil. Para kiai belum beranjak dari tempatnya, terus membaca doa-doa. Abah Jamil memasukkan kedua jari tangannya ke mulut Maryam.

“Insya Allah ini kelabang terakhir,”Abah Jamil menunjukkan seekor kelabang kecil yang diambilnya dari dalam mulut Maryam, sebelum dimatikan.

Semua yang ada di kamar Hasan mengucap subhanallah. Para kiai menghentikan rapalan doanya, setelah dua jam berjibaku. Maryam perlahan membuka mata. Ia tak mampu menggerakan anggota tubuhnya, lantaran benar-benar telah terkuras tenaganya. Hasan segera memeluknya sambil menangis. Abah Jamil, Kiai Syafi’i, orang tua Hasan, Hasan dan Maryam yang tetap di dalam kamar, yang lainnya diminta keluar.

“Santet yang dikirim ke Maryam bobotnya berat, mematikan dan tidak berhenti sampai detik ini. Artinya, akan ada serangan lagi. Ini harus segera ditangani, tapi tidak cukup sekali,” tutur Abah Jamil.

“Siapa sebenarnya dibalik semua ini?” Hasan bertanya.

Abah Jamil menarik napas seraya memejamkan matanya, lama sekali. “Pak Hasan dan keluarga tidak perlu tahu pelakunya, cukup Abah dan para kiai saja. Jika diizinkan, Abah akan mengambil ‘sesuatu’ di dalam lemari Pak Hasan.”
Hasan mempersilakan. Mulut Abah Jamil dan Kiai Syafi’i langsung komat-kamit, tangannya mendekat ke kaca lemari. Tiba-tiba sebuah amplop hitam keluar dari balik kaca lemari. Keduanya secara refleks menyambutnya. Amplop itu pun seketika terbakar, dan lenyap tanpa menyisakan abu.

“Amplop hitam itu yang selama ini menyiksa batin dan mengganggu aktivitas Maryam,” ungkap Abah Jamil.

Dua bulan berikutnya, hati Hasan tengah berbunga-bunga. Maryam baru saja melahirkan bayi laki-laki secara normal. Hasan memberi nama Alif Ikhwan pada anak pertamanya. Sayang, suasana kebahagiaannya seiring dengan merosotnya pendapatan usaha rental mobil yang dikelolanya. Lambat laun, Hasan menjual satu per satu mobil rental miliknya demi mengobati Maryam yang masih terkena guna-guna. Hasan tak peduli seluruh hartanya ludes, asal istri dan anaknya sehat dan selamat. Toh, ia berkeyakinan, uang dan kekayaan bisa dicari lagi dengan giat bekerja dan berdoa.

Pasca kebangkrutan usaha Hasan dan kesembuhan total Maryam, ada satu keluarga baru yang menempati rumah lama di daerah itu. Rumah yang telah dibeli oleh keluarga Wiryo itu sebelumnya dihuni keluarga Kardi. Keluarga Kardi pindah entah kemana, karena tidak pamitan terhadap warga. Proses pindahannya pun dilakukan jam dua belas malam, saat orang-orang terlelap. Apalagi, Kardi yang memiliki seorang anak perempuan bernama Dina, tidak pernah akur dengan tetangganya.***

B O X

Nur Kholis, Adik Maryam
Mbak Nyaris Membunuh Alif

Mbak saya –Maryam—orangnya memang pendiam, tertutup, dan sangat sabar. Kalau ada masalah apapun, biasanya Mbak lebih senang dipendam sendiri, termasuk saat terkena santet. Cuma Mbak pernah cerita ke saya, badannya mulai kurus setelah melahirkan Alif bukan lantaran kurang makan, tapi karena ada yang ‘ngerjain’. Mbak mengaku setiap hari mengalami tekanan batin yang begitu hebat. Sampai-sampai kelakuan Mbak sering seperti orang stres, tidak mampu mengontrol diri sendiri.

Bahkan, pada waktu terkena guna-guna, Mbak nyaris menggorok leher Alif yang sedang tidur dengan menggunakan pisau dapur. Waktu itu Mas Hasan sedang keluar rumah. Untung saja Bapak mertua memergokinya. Setelah sadar, Mbak menangis sambil memeluk Alif. Mbak sangat sayang terhadap suami dan anaknya. Mas Hasan juga sayang sama Mbak. Makanya Mas Hasan bela-belain sampai hartanya habis demi kesembuhan Mbak. Saya nggak habis pikir, kenapa Mbak yang selalu jadi sasaran. Sebagai adik, saya berdoa semoga keluarga mereka selamat dunia akhirat.

Abah Jamil, Orang yang Mengobati Maryam
Ini Gara-gara Amplop Hitam

Dari hasil pendeteksian gaib saya, Maryam terkena guna-guna semenjak awal menikah dengan Hasan. Penyebabnya, Hasan tanpa sadar telah menerima, membuka, lalu menyimpan amplop hitam di lemarinya. Padahal amplop itu sangat berbahaya, sebab mengandung unsur magis yang sangat tinggi. Andai saja amplop misterius itu tidak dibuang (dimusnahkan), maka ketenangan kehidupan rumah tangga Hasan dan Maryam akan terusik sepanjang masa. Pengirimnya seorang wanita muda, rumahnya tidak jauh dari kediaman Hasan dan motifnya kecemburuan. Saya tidak perlu sebutkan nama pelakunya, karena nanti akan ketahuan dengan sendirinya.

Setelah peristiwa mengejutkan pada acara tujuh bulanan kandungan Maryam, saya mengusulkan kepada Hasan supaya mengadakan pengajian rutin setiap malam Jumat, di rumahnya. Kegiatan itu utamanya guna menangkal kiriman santet yang bisa muncul setiap saat, khususnya yang bertepatan dengan angka tiga. Saran saya diterima. Saya pun mengumpulkan lima kiai khusus, ditambah keluarga Hasan. Alhamdulillah berkat izin dan karunia Allah SWT, perjuangan panjang kami yang melelahkan tidak sia-sia. Seluruh doa, amalan dan jurus kami mampu menangkal serangan dukun manapun atau santet sehebat apapun yang ditujukan kepada Maryam dan keluarganya.

Kariman, Orang Suruhan Dina
Dina punya Dua Skenario

Awalnya saya tidak mau saat diminta Dina untuk mengantarnya ke rumah seorang dukun terkenal. Alasannya, sebelumnya saya diberi tahu kalau nama korbannya pasangan pengantin baru, Hasan dan Maryam. Keduanya orang baik. Saya kenal Hasan sewaktu saya bekerja sebagai tukang cuci mobil di rentalnya. Eh, lama-lama Dina malah mengancam saya. Dina juga mengiming-imingi dengan imbalan uang. Akhirnya saya mau mengikuti segala kemauan Dina, meski hati kecil saya menolak. Selanjutnya saya menjadi perantara antara Dina dengan dukunnya sekaligus memata-matai bagaimana reaksi Maryam. Saya juga yang mencari barang-barang untuk menyantet Maryam.

Sewaktu saya tanya, Dina mengaku menyantet Maryam lantaran sakit hati. Sejak dulu Dina memang mencintai Hasan, tapi Hasan pernah tidak menanggapi. Hasan malah memilih dan menikahi Maryam. Dina dendam dan mengambil jalan pintas dengan menggunakan ilmu hitam. Tujuan utamanya supaya Maryam mati secara mengenaskan, terus Dina jadi istri Hasan. Jika skenario pertama ini gagal, maka Dina berniat menghancurkan usaha Hasan. Nyatanya, misi rahasia selama tiga tahun itu hanya mengenai sasaran kedua. Sekarang saya menyesal dan ingin minta maaf kepada Hasan dan Maryam, tapi malu.*** (Kisah nyata ini dimuat di Majalah Variasari Malaysia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s