Asing Bermain di Jalur Sesat?

Peresensi Lukman Hakim Zuhdi

cover20buku20aliran20sesatJudul buku : Aliran Sesat dan Nabi-nabi Palsu (di Indonesia)
Penulis : A. Yogaswara dan Maulana Ahmad Jalidu
Penerbit : Narasi, Yogyakarta
Tahun : Cetakan I, 2008
Tebal : 108 Halaman

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendokumentasikan, sejak tahun 2001 hingga 2007, kurang lebih ada sekitar 250 kelompok dan aliran agama menyimpang yang berkembang di Indonesia. Dari jumlah itu, 50 di antaranya tumbuh subur di Jawa Barat. Fenomena kemunculan kelompok dan aliran ‘nyeleneh’ yang cukup pesat ini sungguh mengherankan dan menyisakan tanda tanya besar. Dalam waktu yang relatif nyaris bersamaan, mereka –baik golongan baru maupun wajah lama namun dilambungkan kembali eksistensinya–, seperti saling mengikuti satu sama lain. Benarkah ini sekadar kebetulan semata, pengulangan sejarah masa lalu, atau mungkinkah merupakan rekayasa pihak asing?

Jika menilik dari perkembangan agama yang terjadi di Nusantara, kita mungkin menemukan fakta sejarah bahwa di akhir periode Indonesia Kuna (penyebutan bagi suatu masa yang diawali oleh masuknya pengaruh India, berupa agama Hindu dan Buddha, di Indonesia hingga masuknya agama Islam), yaitu sekitar abad ke-12 hingga abad ke-16, muncul berupa sekte ‘aneh’ yang justru menekankan ritual pemujaan mereka terhadap bentuk-bentuk demonis (dewa yang berbentuk raksasa atau makhluk yang mengerikan).

Sebagian sejarawan menganggap, suburnya sekte-sekte ‘kiri’ di Indonesia waktu itu merupakan bentuk kekecewaan masyarakat Indonesia Kuna terhadap keadaan negara yang serba kacau (terjadi berbagai perebutan tahta kekuasaan) dan mengaburnya peran petinggi-petinggi agama yang mulai berkurang wibawanya akibat terlibat kepentingan politis.  Rakyat yang putus asa lalu merasa perlu mengalihkan pencarian spiritual mereka pada ajaran-ajaran baru yang sekaligus menawarkan ritual-ritual baru.

Beberapa tokoh mencurigai adanya campur tangan intelijen asing di Indonesia. Meski masih bersifat spekulatif dan bukti-bukti yang dimiliki belum cukup kuat, namun indikasi ke arah itu telah diendus oleh tokoh-tokoh berpengaruh seperti KH. Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU), Prof. Dr. Achmad Satori Ismail (Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia) dan Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ichwan Sam.

Jauh-jauh hari MUI telah melakukan penyelidikan dan ternyata dari hasil temuan MUI, menurut Achmad Satori Ismail dan Ichwan Sam, bahwa ada pemimpin aliran sesat yang tidak dapat membaca al-Quran dan mengaku dibayar oleh sebuah negara untuk menyebarkan ajaran kelompok dan aliran sesat di Indonesia. Kecurigaan lain mengarah pada konspirasi pihak ketiga untuk mengadu domba umat Islam dan upaya mengoyak keutuhan NKRI yang sudah menjadi harga mati. Hasyim Muzadi mencatat, ramainya aliran menyimpang di Indonesia dua tahun terakhir, hampir mirip dengan suasana menjelang peristiwa G 30 S/PKI pada tahun 1965.

MUI sebagai salah satu lembaga yang aktif mengawasi dan memberikan saran kepada pemerintah mengenai keberadaan aliran-aliran agama di Indonesia, kemudian mengeluarkan rumusan dan daftar aliran sesat. MUI sudah menetapkan sepuluh kriteria aliran sesat, antara lain mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam, meyakini turunnya wahyu setelah al-Quran, mengingkari otentisitas atau kebenaran isi ajaran al-Quran, mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir, dan shalat fardhu tidak lima waktu. Selain itu, MUI mendefinisikan aliran atau kelompok sesat sebagai paham atau pemikiran yang dianut dan diamalkan oleh sebuah kelompok yang bertentangan dengan akidah dan syariat Islam serta menyimpang dari dalil syar’i.

Di antara golongan yang dikatagorikan sesat oleh MUI tersebut nama Ahmadiyah karena meyakini Mirza Ghulam Ahmad selaku Nabi dan Isa al-Masih (Yesus Kristus), Salamullah sebab menyebut Lia Eden sebagai perwujudan Malaikat Jibril, Imam Mahdi dan Bunda Maria, Al-Qiyadah Al-Islamiyah dan pendirinya, Ahmad Moshaddeq yang menyatakan dirinya Nabi atau Al-Masih al-Mau’ud, Al-Quran Suci, Ingkar Sunnah, Hidup Dibalik Hidup, Islam Sejati, Isa Bugis, Baha’isme, Darul Arqam, dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

Sementara kelompok yang keberadaannya terus diperhatikan MUI, yaitu Jama’ah An Nadzir, Pluralisme dan Jaringan Islam Liberal (JIL), Ajaran Anand Krishna, Padepokan Toha dan Kadirun Yahya. Adapun aliran non Islam yang dianggap sesat adalah Gereja Setan (Satanisme), Children of God (Anak Allah), Sekte Gereja Hari Kiamat, dan Komunitas Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu.

Beberapa kelompok atau aliran yang disebutkan di atas memang tidak semuanya lahir, kemudian berkembang hanya di tanah Indonesia. Misal Ahmadiyah yang berasal dari India dan kini para petingginya bermarkas di London, Baha’isme yang bermula dari Iran dan berpusat di Israel, Darul Arqam yang didirikan di Malaysia dan kantor pusatnya di Sungai Pencala –20 km dari Kuala Lumpur–, Children of God yang dideklarasikan di Amerika Serikat, dan Gereja Setan yang diproklamirkan di Amerika Serikat. Barangkali berangkat dari fakta-fakta ini bahwa mereka nyata memiliki koneksi kuat dengan dunia internasional yang menjadikan MUI curiga adanya tangan-tangan asing yang ikut bermain di jalur sesat.

Patut dicermati, fatwa MUI tersebut sesungguhnya bukan bermaksud untuk memberangus perbedaan, namun untuk mencegah jangan sampai kemunculan aliran atau kelompok yang mengusung panji-panji Bhinneka Tunggal Ika ini dimanfaatkan pihak lain untuk memecah belah persatuan bangsa. Mereka yang telah dinyatakan atau terindikasi sesat –apalagi pernyataan dan perjuangan mereka didukung penuh oleh figur maupun kelompok pengusung jargon hak asasi manusia dan kebebasan beragama dan berkeyakinan– tentu tidak mau menerima begitu saja predikat sesat dengan beragam alasan. Mereka justru malah balik menuduh MUI yang menyesatkan umat dan masyarakat, karena mudah sekali memvonis salah kepada kelompok yang berbeda pandangan. Mereka menganggap perbedaan dalam kehidupan beragama sebuah kewajaran. Apalagi keyakinan dan kepercayaan terhadap suatu agama dikatakan telah menjadi hak asasi dari setiap manusia.

Bila mereka selalu berlindung dibalik alasan HAM, MUI menegaskan sebagai perbuatan yang tidak tepat, baik ditinjau secara logis maupun perspektif hukum. Menurut MUI, bila selalu mengatasnamakan HAM, maka hukum tidak ada artinya dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Maka tak ada jalan lain, saran MUI, pemerintah bersama lembaga terkait harus melakukan upaya tegas untuk mencegah dan menindak kelompok dan aliran sesat supaya tidak melahirkan kekerasan dan aksi main hakim sendiri dari masyarakat terhadap tempat maupun orang-orang yang dianggap menyimpang.

Peresensi menilai, isi dan penjelasan buku ini tidak terlalu mendetail. Alangkah lebih baik bila penulis buku berhasil melakukan investigasi atau wawancara dengan pemimpin, anggota, atau mantan anggota kelompok dan aliran sesat di Indonesia, agar data yang dimuat lebih lengkap, berimbang dan tentu berbobot. Patut disayangkan pula tata letak sembilan foto dan gambar yang ada di dalamnya terkesan asal, tidak mengikuti materi tulisan.***

Iklan

2 thoughts on “Asing Bermain di Jalur Sesat?

  1. makhrur adam maulana Mei 2, 2010 / 2:45 pm

    sebagai wacana tentunya kehadiran buku ini perlu dibaca sebagai sesuatu keilmuan, untuk melengkapi kesempurnaan tentunya perlu data-data yang lebih akurat.

  2. funs April 11, 2011 / 4:21 pm

    nais inpo gan………. jaman emang Sudah akhir…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s