Tragedi Situ Gintung: Pemerintah Lalai, Warga Jadi Korban

Penulis Lukman Hakim Zuhdi

foto-lukman-hakim-zuhdi-01Takmir Masjid Jabalur Rahmah baru saja mengumandangkan adzan Subuh. Ia hendak melakukan shalat sunnah. Tiba-tiba terdengar bangunan rubuh disertai suara gemuruh. Kepalanya melongok ke jendela, mencari sumber suara. Ia terperanjat. Air bah menuju masjid. Seketika ia meloncat keluar, naik ke jalan di depan masjid. Berulangkali mulutnya menyebut nama Allah. Ia melihat air mengalir cepat, menerjang, menyeret benda apa saja. Belum sempat rasa takutnya hilang, mendadak tiang listrik jatuh menghalangi jalan. Hampir saja menimpanya. Listrik seketika padam. Ia bertambah gemetar. Bulu kuduknya merinding. Keadaan semakin gelap. Ia baru sadar setelah tahu bahwa tanggul Situ Gintung jebol.

Jarak tanggul Situ Gintung dengan Masjid Jabalur Rahmah sekitar 200 meter. Posisi masjid berlantai dua yang dibangun lima tahun terakhir itu berada di bawah tanggul. Tinggi tanggul kurang lebih 10-15 meter. Seluruh bangunan di sekitar masjid hancur dihantam air Situ Gintung. Ajaibnya, masjid tetap kokoh berdiri, meski bagian belakangnya sedikit rusak. Jam dinding masih menempel di tempatnya. Hanya karpet masjid yang tersapu air hingga tersangkut di pucuk pohon palem. Pintu kacanya pecah. Tiga kusen terlempar keluar sampai 20 meter. Beberapa ubin keramik retak. Sampah, kayu, lumpur, dan air memenuhi lantai dalam masjid. Setelah air Situ Gintung habis, warga baru berani membersihkan ruangan masjid, kira-kira pukul 08.00 WIB.

Itulah sekelumit kisah yang mengisi lembaran pilu tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung, Jumat dini hari, 27 Maret 2009. Tanggul Situ Gintung yang jebol, posisinya di bawah persis di belakang Rumah Makan Situ Gintung. Jalan sepanjang 6 meter yang dilapisi paving block di atas tanggul yang semula retak karena dorongan kuat air, spontan terputus. Tanah dan batakonya jatuh ke tanah. Warga yang mengetahui datangnya air besar itu berteriak kencang, meminta tolong. Mereka lari pontang-panting, berusaha menyelamatkan diri.

Banjir bandang –warga sekitar menyebutnya tsunami kecil—yang berlangsung sangat cepat sekali itu mengakibatkan 300 rumah rusak. Tidak sedikit rumah yang hanyut bersama penghuninya yang masih tertidur. Puluhan mobil pribadi di garasi jungkir balik terhempas air. Korban tewas mendekati angka 100 jiwa. Korban luka-luka mencapai puluhan orang. Belum lagi korban yang hilang, masih dicari tim SAR. Total kerugian mencapai miliaran rupiah.

Koordinator Satkorlak Penanggulangan Bencana Provinsi Banten, Zainal Aminin mengatakan, berdasarkan hasil penelusurannya, dari tanggul sampai ke bawah kerusakan mencapai 5 kilometer. Sementara tiga kampung; Gintung, Poncol dan Sandratek, tercatat yang paling parah terkena dampaknya. Daerah padat penduduk berubah menjadi daerah bekas aliran sungai dengan lebar 15 meter dalam sekejap. Seto Mulyadi, Ketua KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), termasuk salah seorang korbannya. Rumahnya di Perumahan Cirendeu Permai, Blok A4 No 13, porak poranda. Semua dokumen penting miliknya hilang, termasuk paspor dan ijazah anak-anaknya. Lelaki yang akrab disapa Kak Seto ini meminta pemerintah bertanggung jawab.

Pemerintah pusat langsung menerjunkan Tim Pengamanan Bendungan untuk menyelidiki penyebab ambrolnya tanggul. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung dan Cisadane (BBWSCC), Sutoyo Subandrio Pitoyo menyebut hujan besar sebagai pangkal persoalannya. Hujan yang mengguyur wilayah Ciputat, Cirendeu dan sekitarnya pada Kamis sore hingga malam, membuat permukaan air di Situ Gintung naik. Situ Gintung yang memiliki kapasitas 1 juta meter kubik air, ternyata tidak sanggup menampungnya. Akibatnya terjadi limpasan di atas tubuh bendungan yang menyebabkan tergerus dan longsor. Volume air yang melimpas tanggul sebanyak 1,5 juta meter kubik. Kondisi ini diperparah dengan saluran air atau sungai yang lebarnya hanya lima meter. Sutoyo menjelaskan hal tersebut saat menemani Wakil Presiden Jusuf Kalla meninjau lokasi, Jumat, 27 Maret.

Di hadapan para wartawan, Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto berjanji akan cepat-cepat memperbaiki tanggul. Djoko khawatir akan timbul korban lebih banyak lagi, sebab intensitas hujan sedang tinggi. Untuk sementara, pelindung tebing yang terbuat dari batu-batu yang disatukan dengan kawat segera dipasang. Tujuannya supaya tanahnya yang berwarna merah tidak longsor. Bahkan, pemerintah berencana mendatangkan ahli konstruksi dari Jepang untuk membuat desain situ yang kuat dan bagus.

Menurut penuturan beberapa warga di tempat peristiwa, pejabat BBWSCC pernah mengadakan pertemuan dengan sekitar 20 warga Cireundeu, pertengahan November 2008. Acara yang berlangsung di aula kelurahan itu dihadiri aparat pemerintah setempat. Dalam kesempatan itu, tim kehumasan dan sosialisasi BBWSCC menjelaskan rencana rehabilitasi Situ Gintung. Rehabilitasi artinya mengembalikan fungsi Situ Gintung sebagai tampungan air dan meningkatkan kualitas lingkungan. Tim BBWSCC sempat beberapa kali memotret Situ Gintung. Namun, setelah itu, warga yang senang mengaku tidak mengetahui kelanjutan rencana tersebut. Itulah terakhir kali BBWSCC mengecek keberadaan tanggul. Selanjutnya, BBWSCC tidak pernah mengontrol lagi, dengan alasan terbentur soal dana.

Selang beberapa waktu, warga melihat bagian bawah tanggul tampak mulai retak-retak dan bolong karena tergerus air danau. Air danau sedikit demi sedikit merembes, keluar. Warga khawatir tanggul jebol. Warga pun bukan cuma sekali melapor kepada petugas Dinas Pengairan Pemerintah Kabupaten Tangerang. Kantor petugas tidak jauh dari lokasi longsoran tanggul. Sayangnya, laporan warga sama sekali tidak direspon. Saat debit air di Situ Gintung naik pada malam hari, warga juga tidak diminta mengungsi ke tempat yang lebih aman oleh petugas berwenang. Hingga akhirnya terjadilah tanggul Situ Gintung jebol.

Wakil Bupati Kabupaten Tangerang, Rano Karno, yang mengunjungi TKP, menyesali peristiwa tragis tersebut. Pihaknya meminta maaf dan turut berbela sungkawa kepada para korban. Meski mengakui ada keterlambatan, namun bukan berarti pemerintah tidak peduli terhadap keberlangsungan Situ Gintung. Tetapi, lanjutnya, wewenang perbaikan tanggul Situ Gintung ada di tangan Pemerintah Provinsi Banten. Pemerintah Tangerang hanya sebagai pelaksana, sementara besaran anggarannya yang menentukan provinsi.

Situ artinya danau. Situ Gintung berarti Danau Gintung. Situ Gintung terletak di Desa Cirendeu, Kecamatan Ciputat Timur, Kabupaten Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Situ Gintung yang dibangun pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1933, mulanya hanya sebagai irigasi. Karena itu pintu tanggul didesain kecil. Namun, fungsi irigasi rupanya tak berlaku lagi. Situ Gintung akhirnya menjadi tempat parkir air dan konservasi. Luasnya 33 hektar, dengan kedalaman 15 meter. Kini, areal Situ Gintung tinggal 21,4 hektar, dengan kedalaman sekitar 10 meter. Pembangunan rumah-rumah di sekitar Situ Gintung turut menyempitkan lahan Situ Gintung. Fungsi situ sebagai daerah resapan air, penampung air dan pengantisipasi hujan hilang sudah.

Sumber Mahkamah menyebutkan, sekitar 200 situ di kawasan Bodetabek (Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) gambarannya hampir serupa; mengenaskan. Keadaanya tertutup gulma, tidak memiliki bangunan outlet yang memadai, mengalami sedimentasi, dan telah berubah fungsi. Semuanya sudah merasakan penyempitan lahan. Dari jumlah luas keseluruhan 2.337,10 hektar, kini menjadi 1.462,78 hektar. Penyebabnya situ-situ tersebut tak terurus dengan baik. Ada yang diuruk menjadi perumahan, warung, bangunan komersil, tempat pembuangan sampah, dan kolam pemancingan. Hebatnya lagi, warga bisa memiliki IMB (Izin Mendirikan Bangunan) dan sertifikat lahan. Entah bagaimana caranya. Untuk itu, merehabilitasi kawasan tersebut mutlak dilakukan. Tinggal kemauan yang kuat dari pemerintah pusat, provinsi maupun daerah serta kesadaran masyarakat yang diperlukan untuk mempertahankannya.*** (Tulisan ini dimuat di Majalah MAHKAMAH, Edisi VIII, 15 April 2009)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s