Membangkitkan Kembali Ideologi Parpol

cover20buku20mengelola20parpol1Peresensi Lukman Hakim Zuhdi

Judul buku: Mengelola Partai Politik; Komunikasi dan Positioning Ideologi Politik di Era Demokrasi
Penulis: Firmanzah Ph.D
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Tahun: Cetakan I, April 2008
Tebal: liv + 397 Halaman

Pesta demokrasi terbesar di Indonesia, Pemilu 2009, sudah dimulai. Sebanyak 34 partai politik (parpol) peserta pemilu saling bersaing untuk meraih simpati, mencari dukungan publik dan mendulang suara. Pada akhirnya, tentu hanya parpol kuat, profesional dan berideologi yang akan menjadi pemenangnya. Pertanyaannya, seperti apa bentuknya? Lantas, bagaimana cara mengelolanya? Firmanzah, penulis buku ini, membeberkan rahasianya secara gamblang, dengan bahasa yang cerdas dan mudah dicerna.

Dukungan besar dan luas, menurut Firmanzah, rasanya sulit diperoleh parpol tanpa ‘pengikat sosial’ yang bisa dikomunikasikan kepada rakyat, yang dalam dunia politik berbentuk ideologi. Ketidakjelasan ideologi membuat perjuangan parpol akan tercerai berai serta tidak berpola dan muaranya tentu akan melemahkan dukungan serta menurunnya legitimasi politik. Ideologi sangat diperlukan parpol agar mampu menjembatani persepsi masing-masing individu, sehingga memunculkan persepsi tunggal yang merupakan basis perjuangan.

Ideologi politik sesungguhnya dimensi yang kompleks. Untuk menganalisisnya dibutuhkan pendekatan komprehensif, baik dari isi orasi, figur yang ditonjolkan, misi dan visi partai, strategi partai, struktur organisasi, media komunikasi, dan isu-isu politik yang ditawarkan kepada publik. Bahkan Firmanzah menegaskan, ideologi parpol dapat dicermati melalui hal-hal yang bersifat non organisasional alias individual seperti cara berpakaian, bahasa tubuh dan karakter fungsionaris partai serta kandidat yang akan diusung.

Perlunya pembumian ideologi politik oleh parpol guna membantu para pemilih dalam menentukan pilihan mereka di antara banyaknya pilihan partai. Parpol yang mampu menanamkan ideologinya dibenak masing-masing pemilih, Firmanzah meyakinkan, niscaya dapat menarik keuntungan dengan mudahnya para pemilih dalam mengingat dan mengidentifikasikannya. Hal ini sekaligus akan mengurangi situasi ketidakpastian yang mungkin saja menghantui para pemilih. Untuk itu, ideologi politik harus menjiwai setiap aktivitas organisasi parpol, baik berupa pernyataan, kritikan, program, maupun isu politik.

Sayangnya, tegas Firmanzah, tidak ada satu pun ideologi yang sempurna dan mampu menyelesaikan kerumitan problem masyarakat sekarang. Karena itu dibutuhkan beragam perspektif dan dimungkinkan konsensus. Inilah tugas dan tanggung jawab parpol dan para politisinya. Maka, mengadopsi ide dan gagasan dari ideologi lain tidak terelakkan. Dengan demikian, ideologi politik yang dianutnya akan bertambah kuat, karena mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat tanpa kehilangan karakteristik dasar.

Semakin hilangnya wacana ideologi dalam dunia politik karena dalam perjalanan waktu ideologi mengalami banyak sekali ‘negativisasi’. Selain itu, Firmanzah menyebut, semangat pragmatisme dan konsumerisme yang sudah merasuki wilayah politik, menjadi faktor penyebab lainnya. Menyadari bahwa ideologi sukar sekali dicerna dan diimplementasikan, membuat politikus hanya berkutat dengan hal-hal yang bersifat riil. Ditambah lagi kenyataan tentang betapa mudahnya mereka terjebak pada pemahaman semu yang mengaitkan antara ideologi dengan sifat fanatik dan otoriter.

Lebih lanjut Firmanzah mengemukakan, semakin tingginya tekanan persaingan politik membuat politikus lebih beroirentasi pada cara-cara untuk memenangkan pemilu semata sebagai program jangka pendek. Padahal, alasan pendirian parpol untuk perjuangan politik berdasarkan sistem nilai dan visi politik yang diembannya, sementara peran utama dan target jangka panjangnya sebagai lembaga kaderisasi dan edukasi politik untuk melahirkan calon-calon pemimpin berkualitas di masa mendatang.

Makna ideologi memang sangat terkait erat dengan ‘kekuasaan’, sebab ideologi politik bisa menjadi alat atau instrumen untuk mencapai kekuasaan. Untuk berkuasa dibutuhkan ideologi tertentu. Sebaliknya, kekuasaan tidak akan bisa dipertahankan tanpa ideologi yang jelas. Meskipun seringkali ideologi tidak pernah diformalkan, gambaran tentang kondisi ideal seperti apa yang ingin diciptakan tergambar secara jelas dalam benak tiap-tiap individu yang tergabung dalam suatu kelompok tertentu. Argumen inilah yang mendorong dan memotivasi seseorang untuk bergabung, aktif, bahkan berani mempertaruhkan nyawa demi bentuk-bentuk kebenaran yang diyakini absolusitasnya. Akan tetapi Firmanzah mengingatkan, kekuasaan ditempatkan sebagai sarana untuk mewujudkan cita-cita politik, bukan menjadikan kekuasaan sebagai cita-cita politik.

Selain ideologi politik harus diyakini, harus juga dikomunikasikan secara internal maupun eksternal. Tujuan utamanya untuk menanamkan dan membentuk individu-individu agar mampu berpikir dan bersikap dengan menggunakan asas, prinsip dasar dan tujuan partai yang menjiwai setiap hal yang akan dilakukan. Pada saat non kampanye pemilu, jelas Firmanzah, komunikasi ideologi politik akan jauh lebih efektif, mengingat tidak banyak parpol yang melakukannya. Di antara bentuk-bentuk komunikasi ideologi politik terjadi melalui usulan undang-undang atau kritikan parpol terhadap partai yang tengah berkuasa.

Ketika masyarakat sangat memahami filosofi dasar dan sistem nilai yang melatarbelakangi pendirian suatu parpol dan tujuan akhir yang ingin dicapai, dapat disimpulkan bahwa komunikasi ideologi politiknya sudah berjalan dengan baik. Namun,  menurut Firmanzah, kesulitan utama dalam mengkomunikasikan ideologi politik adalah unsur subjektivitas dalam memahami konsepnya, karena masing-masing pihak, baik internal maupun eksternal, memiliki derajat kebebasan tertentu dalam memahaminya. Dengan demikian, kampanye ideologi politik wajib satu suara, selain membutuhkan konsistensi di antara elemen-elemen yang terlibat. Di sinilah letak perjuangan panjang sebuah parpol untuk mewujudkan mimpinya.

Menyoal pengelolaan parpol, isi buku ini secara terang-terang menyinggung bahwa pengelolaan partai yang hanya mengandalkan figur kharismatik akan kesulitan untuk mengelola kompleksitas konstituen dan masyarakat. Saat ini semakin diperlukan pembangunan institusi melalui pengembangan dan implementasi sistem internal dalam tubuh organisasi parpol. Sehingga pengelolaan parpol tidak bergantung hanya kepada satu atau kelompok elite organisasi. Hal ini dipercaya akan meningkatkan kesinambungan perjuangan parpol.

Di samping itu, persaingan untuk merebut hati dan menyelesaikan persoalan dalam masyarakat merupakan sumber positioning politik. Positioning yang jelas akan membantu pemilih dalam menentukan siapa yang akan didukung dan dipilih. Praktik nepotisme, ketidakadilan dan tradisionalisme pengelolaan hanya akan menimbulkan konflik internal parpol. Alasan-alasan tersebut tidak hanya mengganggu pembangunan citra politik yang positif, tetapi mengganggu eksistensi parpol.

Fakta yang menarik dari buku ini, tema bahasan parpol ditinjau dari disiplin ilmu ekonomi dan manajemen, karena ditulis oleh seorang ekonom muda yang sebelumnya  sukses menulis buku Marketing Politik. Buku ini hadir di saat yang tepat dan dalam konteks keindonesiaan (bukan buku terjemahan), sehingga patut dibaca siapapun, utamanya pengurus parpol, para politisi maupun simpatisannya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s