Konsistensi ‘Tentara Allah’ pada Perlawanan dan Kerja Sosial

Peresensi Lukman Hakim Zuhdi

cover20buku20hizbullah11Judul buku: Blueprint Hizbullah; Rahasia Manajemen Ormas Islam Tersukses di Dunia
Judul asli: Hizbullah; The Story from Within
Penulis: Syekh Naim Qassem
Penerbit: Ufuk Press, Jakarta
Tahun: Cetakan I, Juni 2008
Tebal: 423 Halaman
Harga: Rp. 69.900

Invasi pertama Israel atas Lebanon dimulai 14 Maret 1978 dengan nama Operasi Litani. Tentara Israel memasuki sekitar 1.000 kilometer persegi dari teritori Lebanon. Setelah itu, mereka menarik mundur serta memutuskan untuk menempati zona seluas 500 kilometer persegi yang meliputi enam puluh kota dan desa di distrik-distrik Lebanon Selatan. Keluarlah Resolusi 425 PBB yang memerintahkan Israel untuk menarik mundur seusai dengan batas-batas yang diakui internasional, tetapi Israel tidak melaksanakannya.

Kehadiran Israel tersebut jelas memicu kemarahan warga Lebanon. Beberapa ulama berpengaruh, organisasi, kelompok, dan rakyat Lebanon –didukung pula oleh pemimpin Iran— bersatu, lantas mendeklarasikan Hizbullah tahun 1982 dengan tujuan utama melawan Israel. Hizbullah berarti ‘Pengikut Agama Allah’, ‘Partai Allah’, atau ‘Tentara Allah’. Organisasi ini didasarkan pada tiga pilar penting. Pertama, kepercayaan penuh kepada Islam sebagai landasan intelektual, religius, ideologis, dan praktis untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Kedua, jihad atau perang suci terhadap pendudukan Israel. Ketiga, yurisdiksi wali-fakih (al-wali al-faqih) yang dianggap pengganti nabi dan para imam (ra) yang bertugas menentukan arah kebijakan umum bagi negara Islam, dimana perintah dan larangannya harus dipatuhi.

Menilik sepak terjangnya, Hizbullah melakukan langkah luar biasa dengan mengakomodasi anak muda yang bercita-cita melawan Israel. Mereka diberi pendidikan militer, selain dibekali ilmu akidah dan spiritual. Hizbullah menyadari keterbatasan kemampuannya bahwa untuk menaklukkan Israel tidaklah mudah. Berbagai taktik dan strategi pun dirancang secara matang, tanpa menghiraukan tawaran negosiasi yang diajukan musuh. Satu dari sekian operasi yang dilancarkan Hizbullah, Operasi Anshariyah termasuk yang menuai sukses besar.

Sepasukan elite yang terdiri dari komando-komando marinir Shiyetet milik Israel menerobos wilayah Anshariyah di Lebanon Selatan, pada malam 5 September 1997. Setelah sampai ke target penyerangan, mereka jatuh dalam penyergapan ketat yang dipersiapkan Hizbullah. Seluruh jenis senjata digunakan, dan menyusul tiga jam pertikaian itu, hasilnya tujuh belas korban meninggal di pihak Zionis, sisanya menyebar di seluruh zona pertempuran. Meskipun dilakukan intervensi angkatan udara Israel dan upaya-upaya untuk membersihkan tempat tersebut dari jejak apapun, namun laskar Hizbullah berhasil mengumpulkan sisa-sisa jasad yang berupa tangan, kaki dan kepala dari salah seorang penyusup yang kemudian terbukti menjadi aset penting yang dapat dipertukarkan dengan para tahanan di penjara-penjara Israel.

Apa yang tidak diketahui Israel dibalik itu adalah Hizbullah benar-benar menyadari operasi yang direncanakan dan telah siap untuk menyambut para penyusup, membayang-bayangi pasukan Israel sejak saat pendaratan di pantai, membuntuti perjalanan menuju medan, hingga kedatangannya di Anshariyah. Bom-bom yang dikendalikan dari jarak jauh ditanam di segala arah dan banyak pejuang Hizbullah dibekali dengan persenjataan yang mematikan. Operasi Anshariyah membuat Israel kebingungan, bahkan kalang kabut.

Aktivitas militer Hizbullah yang dinamis selalu dibarengi upaya politik yang efektif. Penampilan di media setempat dan media asing sangat penting untuk membeberkan kebenaran dari berbagai peristiwa dan tanggung jawab partai. Puncak perjuangan Hizbullah terjadi pada 24 Mei 2000, dimana mereka mampu membuat seluruh pasukan Israel angkat kaki dari tanah Lebanon dan memerdekakan bangsa Lebanon. Bagi Hizbullah, kemenangan ini merupakan kehormatan dan karunia ilahi kepada orang saleh yang tertindas, seluruh kekuatan politik dan faksional, rakyat, angkatan bersenjata, pemerintah Lebanon, orang-orang Arab serta muslimin.

Patut dicatat, Hizbullah tidak semata unggul dalam kekuatan militernya. Mereka memberikan perhatian khusus pada kerja sosial dengan menjawab berbagai kebutuhan mendesak dan memperkenalkan program bermanfaat bagi rakyat. Partai ini membangun kembali rumah warga –utamanya keluarga fakir miskin atau kerabat syuhada– yang dihancurkan Israel, memberi makanan, pakaian, dan penjagaan, mendirikan pusat kesehatan, perbaikan lembaga pendidikan, sanggar kebudayaan, dan masjid.

Tak segan-segan, anggota Hizbullah pun terjun ke lapangan untuk melakukan penyebaran benih, pemupukan, penyemprotan herbisida, penyediaan kredit pertanian, transfer pengetahuan untuk produksi madu dan budidaya lain serta pendirian pusat bimbingan dan pengendalian. Dengan 110 tangki air yang disebarkan ke seluruh distrik Lebanon, mereka menyediakan air minum untuk wilayah-wilayah yang tidak memiliki pelayanan publik semacam ini. Tiga ratus ribu liter air yang disediakan setiap hari dengan menggunakan tangki air berjalan, menjangkau 15.000 keluarga. Pelayanan ini dilaksanakan secara gratis mulai Maret 1990 hingga kini.

Berbagai pelayanan dan pencapaian funtastik tersebut pada akhirnya berpijak atas kepercayaan pada seluruh jalan yang ditempuh Hizbullah. Kerja sosial digunakan untuk memperkaya keyakinan para pendukungnya terhadap kelangsungan tujuan dan metode partai, ketika organisasi massa ini bekerjasama dengan berbagai institusi pemerintah, organisasi publik dan sosial serta menggabungkan berbagai kekuatan agar tetap solid dan mampu bertahan demi berbagai peran politik dan perlawanannya.

Menyoal peran politik di dalam maupun luar negeri, Hizbullah tidak menganggap representasi dalam parlemen sebagai perwujudan mimpi tertinggi partai yang akan mengantarkan pada pantai-pantai perdamaian, mencapai tujuan-tujuannya. Namun, Hizbullah mengambil sikap oposisi objektif terhadap pemerintah Lebanon, yakni menyimak kinerja pemerintahan, menyikapi satu pokok masalah, dengan penyikapan positif yang mengandung pujian serta penerimaan sudut pandang dan penyikapan negatif yang memuat penolakan dan kritisisme.

Sejak tahun 1982, Hizbullah telah mengamati kebijakan luar negeri dan pandangan Amerika Serikat. Hasilnya, Hizbullah menyimpulkan bahwa semua itu semata-mata diarahkan untuk mendukung eksistensi dan fondasi entitas Israel, mengembangkannya dengan berbagai justifikasi untuk kekuasaan finansial, militer atau politik. Hizbullah kemudian menolak bertemu Amerika, sebab akan membuat mereka terperangkap dalam gaya umum kebijakan luar negeri Amerika yang secara terbuka bersifat pragmatis dan fleksibel terkait dengan tugas umum dan janji yang samar.

Buku paling komprehensif ini mengungkapkan pemahaman penulis tentang tatanan organisasi Hizbullah, pengalaman dan rencana masa depannya. Semuanya dikumpulkan melalui keterlibatan penulis secara langsung sejak mulai berdiri dan dalam kapasitasnya sebagai Sekjen. Melalui karya ini, penulis berharap, para pembaca akan mengetahui bagaimana seharusnya membangun sebuah organisasi yang jaya. Sayang, gambar atau foto di dalamnya tidak diberi caption (keterangan), kecuali peta.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s