Kemas Yahya Rahman: “Cuma, Orang Sudah Apriori Kepada Saya”

Sekitar pukul 05.00 pagi, sebuah mobil pribadi parkir tidak jauh dari rumah pribadi Kemas Yahya Rahman, di Tangerang, akhir Februari 2009. Ketiga penumpang mobil; reporter Irwan Santosa dan Lukman Hakim Zuhdi serta fotografer K.B Ridwan Ralle dari MAHKAMAH, mengamati rumah besar bertingkat dua yang didominasi warna kuning keemasan itu. Kami sedang menunggu Kemas atau siapapun yang ada di rumah itu keluar menampakkan diri. Sejujurnya kami juga tidak tahu, apakah Kemas malam itu tidur di rumahnya. Informasi yang kami dapatkan, pagi itu Kemas mau terbang ke Palembang, menghadiri acara pernikahan kerabatnya.

Kemas, mantan Jampidsus (Jaksa Agung Muda Pidana Khusus) yang dicopot dari jabatannya lantaran namanya disebut-sebut dalam kasus suap sebesar 660.000 dollar AS oleh Artalyta Suryani kepada mantan jaksa Urip Tri Gunawan, hari-hari ini sedang diburu para kuli tinta. Bukan masalah tersebut penyebabnya, melainkan Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor: KEP-003/A/JA/01/2009 tertanggal 22 Januari 2009 yang menetapkan Kemas sebagai Koordinator Unit I Satuan Khusus Supervisi dan Bimbingan Teknis Penuntutan Perkara Tindak Pidana Korupsi, Perikanan dan Ekonomi (Cukai dan Kepabeanan). Jabatan Kemas itu diprotes keras oleh publik. Secara etik dan sistem, Kemas dinilai memperburuk citra Kejagung.

Jarum jam menunjuk angka 08.00. Kemas menghampiri kami yang sudah menunggu lama dibalik gerbang. Kami mengulurkan tangan sembari mengucap salam. Sesaat kami berbincang, menanyakan kabar. Dia tidak mau diwawancarai wartawan manapun, dengan alasan pernyataannya sering diputar-balikkan, diplintir. Intinya Kemas kecewa. Kami terus membujuknya. Kemas berjalan ke arah Saung yang berada di depan rumahnya. Kami membuntutinya hingga dia duduk di Saung. “Apa yang mau Anda tanyakan?” tanya Kemas, kedua tangannya bersedakap. “Soal penonaktifan Bapak dari satuan tim khusus, isu terbaru diinternal Kejagung dan hal lain yang menyangkut nama Bapak,” jawab kami. Akhirnya kami bisa berbincang dengannya, dalam suasana santai penuh keakraban.

Rabu sore (25/2), Jampidsus Marwan Effendy mengumumkan pencopotan Anda dari Koordinator Unit I Satuan Khusus Supervisi. Apa alasannya?

Hal itu Anda tanyakan saja kepada Jaksa Agung (Hendarman Supandji) atau Jampidsus (Marwan Effendy). Itu sudah dijelaskan oleh Jampidsus dan bisa kita lihat dipemberitaan, televisi. Bukan dicopot sebetulnya, tapi –istilahnya Jampidsus— saya dibekukan. Kenapa, ya tanya sama Jampidsus. Saya nggak tahu, kan, alasannya.

Dibekukan sementara atau selamanya?

Saya tidak tahu, tanyakan kepada yang bersangkutan. (Saat itu fotografer MAHKAMAH bersiap mengambil gambar Kemas, namun Kemas buru-buru berkata, “Saya nggak mau difoto. Betul, saya tidak mau difoto”).

Surat pembekuannya sudah Anda terima?

Ndak perlu lagi surat pemberhentian. Jampidsus bilang, sementara dibekukan, tugas-tugas saya diambil alih oleh Jampidsus. Nanti saya akan ditugaskan ke bidang-bidang yang lain. Saya bilang siap, saya terima dengan senang hati. Nggak ada masalah kok. Jampidsus ngasih tahu by sms, pagi kemarin sekitar jam setengah sembilan, sebelum sorenya konferensi pers. Saya kan sudah biasa waktu subuh bangun, terus tidur lagi, kadang-kadang capek. Jam-jam begini baru mandi. Anda tadi datang jam 5 pagi. Kalau langsung gedor pintu rumah saya, ketemu. Jam 5 saya ada di dalam.

Anda melihat Jaksa Agung dan Jampidsus ditekan banyak pihak sehingga Anda dicopot?

Saya tidak punya kemampuan untuk menilai itu. Silahkan masyarakat menilai. Pokoknya saya selaku bawahan siap melaksanakan perintah. Perintah jalan, saya jalan. Tunda sementara, saya siap. Bagi saya, nggak ada masalah. Orang saja yang meributkan.

Sebelum diangkat jadi Koordinator Unit I, Anda pernah dipanggil Jaksa Agung?

Lho, jelas pernah dong… Jampidsus telepon saya, tugas saya nanti begini, begini, begini. Saya bilang oke, siap. Kata Jampidsus, dulu ada program 5-3-1. Sekarang ini diubah, 5-3-1 seolah-olah itu dipaksakan. Nah, sekarang tidak. Programnya diubah optimalisasi penanganan perkara pidsus (pidana khusus). Jadi, sebanyak-banyaknya sesuai keadaan di daerah, bisa 5 bisa 3. Optimalisasi dalam arti yang berkualitas dan berkuantitas. Berkualitas ya kualitas perkaranya, berkuantitas ya jumlahnya harus banyak. Cuma angkanya tidak disebutkan. Dalam rangka membantu program tersebut, beberapa kejati ada yang dinilai lemah.

Kabarnya Anda sendiri yang meminta jabatan itu kepada Jampidsus?

Ah, ndak, tuh. Saya nggak gila jabatan, kok. Saya sudah cukup. Saya ini masuk dari golongan IIA (non eselon) sampai jadi pejabat eselon I. Alhamdulillah…Saya sudah bersyukur. Ndak ada saya minta-minta jabatan. Untuk apa saya minta-minta.                                                                                                                                                                                                       2-1-kemas-yahyah

Alasan Anda diangkat jadi Koordinator Unit I?

Nah, begini. Eee…Saya ini kan pengalaman jadi jaksa sudah 37 tahun (1972-2009). Barangkali, ini dalam hati atau perasaan saya, saya diminta oleh Jaksa Agung dan Jampidsus untuk menggetok-tularkan pengalaman yang saya punya dalam penanganan perkara pidsus. Jadi, saya itu ditugaskan tidak lebih dari hanya mungkin sebagai dosen, guru atau mentor untuk memberikan semangat kepada anak-anak (jaksa-jaksa) di daerah. Saya dinilai mampu oleh teman-teman.

Tugas tim yang Anda koodinatori?

Kata Jaksa Agung dan Jampidsus, “Pak Kemas, bisa nggak Anda datang ke daerah-daerah mensupervisi, memberikan semangat dan bimbingan teknis agar penanganan perkara berjalan lancar?” Oke, saya siap membantu. Tapi, kata Jampidsus, Anda tidak berhubungan langsung dengan penanganan perkara, lho. Saya jawab, jelas dong, saya tidak mau lagi. Saya ini sudah pensiun (Kemas tersenyum). Jadi, kalau ada yang bilang penanganan korupsi jadi mengendor, itu nggak benar juga. Justru saya menambah speed (kecepatan).

Bisa dijelaskan lebih rincinya?

Saya datang ke suatu daerah, terus saya kumpulkan para jaksa, para kajari. Saya tanya, “Eh, para kajari, apakah Anda punya hambatan dalam menangani kasus? Dimana hambatannya?” Mereka menyampaikannya, lalu saya jawab, “Oh begini caranya. Anda masuk dari sini, Anda masuk dari situ.” Saya terangkan bagaimana cara penanganan korupsi yang baik, melakukan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, membuat surat dakwaan, dan eksekusi. Pokoknya secara umum, bagaimana teknis menangani perkara pidsus secara baik sesuai aturan yang berlaku, berdasarkan pengalaman saya. Anda tahu, melakukan penyelidikan suatu kasus itu perlu seni biar berhasil. Lho, iya dong…Kita tidak boleh terikat kepada aturan. Ini kan perlu ada ilmunya. Di buku tidak ada itu (Kemas tersenyum).

Yang menentukan suatu daerah perlu dikunjungi, Anda atau Jampidsus?

Yang tahu wilayah mana yang perlu, kan Jampidsus, karena sekarang saya sudah di luar lingkaran. Jampidsus nunjuk, “Pak Kemas, itu di daerah sana penyeledikannya lemah, coba tolong kenapa, ada apa. Selidiki.” Jadi, tidak lebih saya itu sebagai widya swara, kok. Saya tidak punya kewenangan menangani perkara, ndak ada itu. Saya tidak langsung berhubungan dengan kasus. Kalau membahas kasus, iya betul, tapi saya tidak langsung terjun, tidak memutuskan. Dikira saya mengawasi penanganan perkara korupsi se-indonesia, tidak (Kemas tertawa). Kan judulnya satuan tugas supervisi. Itu Jaksa Agung sungguh bijak sekali. Anda tahu, secara umum sumber daya manusia kejati di daerah-daerah terpencil itu barangkali sangat kurang sekali, seperti di Kupang. Tidak menutup kemungkinan di daerah-daerah tidak terpencil juga ada. Apa salah saya seperti itu? Apa saya mencoreng citra buruk Kejagung? Saya heran, kok banyak sekali yang protes, tapi saya maklum, karena (mereka) ndak mengerti yang sebenarnya.

Benarkah tim itu urusan internal Kejagung?

Tim ini kan hanya penugasan internal kejaksaan. Nggak ada orang luar, kok. Tim ini tadinya sudah ada, tapi kok tiba-tiba saya diminta masuk. Jadi apa yang salah, sih? Saya sendiri bingung (Kemas tersenyum). (wawancara beberapa kali sempat terhenti karena para tetangga rumah Kemas yang mau berangkat kerja atau sedang berolahraga pagi, menyapa, menyalami dan berbincang sejenak dengan Kemas). Kalau penugasan saya ini dengan SK (Surat Keputusan) Jaksa Agung, saya kan mantan Jam (Jaksa Agung Muda). Tembusannya nanti baru ke Jaksa Agung. Tapi, SP (Surat Perintah) dari Jampidsus. Kalau di bawah Jam, mungkin SP-nya cukup Jampidsus. Saya kan selevel dengan Jampidsus, cuma saya mantan (Kemas terkekeh). Temuan saya, saya sampaikan kepada Jampidsus sekalian saya beri saran dan solusinya. Selanjutnya terserah Jampidsus.

Surat penugasan Anda ditandatangani 22 Januari 2009, kenapa baru ribut sekarang?

Justru itu, jangan tanya saya (Kemas tertawa lepas). Sejak mendapat tugas, saya sudah dua kali ke daerah; Kejati Kendari dan Kejati Manado. Hasilnya, menurut saya, bagus dan sudah saya laporkan. Kata Jaksa Agung, “Oh iya, bagus sekali ini. Nanti akan kita tindaklanjuti.” Dan selama ini saya tidak ada problem.

Lantas, siapa yang membocorkan tugas Anda ini ke publik?

Nah, soal bocor, tanyalah kepada siapa yang membocorkan itu. Nggak ngerti saya. Saya betul-betul nggak ngerti. Saya hanya melaksanakan perintah pimpinan. Saya berusaha melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Saya tidak ngerti masalah-masalah yang lain. Saya juga bingung, kenapa kok sampai ini diributkan. Tapi nggak apa-apa, saya nggak kecewa. Kita ini kan hanya pelaksana, yang menentukan Yang Maha Kuasa. Artinya, hidup ini ada yang mengatur.

Kalau soal pencopotan M. Salim (mantan Direktur Penyidikan Kejagung) dari jabatan Wakil Koordinator Unit I?

Wah, saya nggak tahu.

Presiden sudah tahu dengan pengangkatan Anda?

Saya tidak ngerti. Tapi, kemarin saya lihat di televisi, Hatta Rajasa (Mensesneg) bilang, kalau yang begitu-begitu Presiden nggak perlu tahu. Itu kan kewenangan khusus Jaksa Agung.

Harusnya tim supervisi yang Anda pimpin berapa lama periode kerjanya?

Menurut pemahaman saya, tidak ada batas waktu. Sesuai SK itu, saya sebagai ketua tim satgas I, karena ada dua tim. Tim I berjumlah 11 orang, tim II berjumlah 11 orang. Pembagian dua tim hanya sekedar organisasi. Saya berangkat ke daerah dengan menggunakan anggota tim II, nggak ada masalah. Jadi, sepanjang mungkin dianggap oleh pimpinan perlu, ya sampai seterusnya. Ini kan Jampidsus yang menentukan.

Ada skenario tertentu dibalik pengangkatan Anda, lalu sementara waktu dibekukan?

Saya nggak ngerti, tuh. Bisa iya, bisa tidak. Saya melihatnya biasa-biasa saja. Saya hanya melihatnya ini perintah dari atasan, terus saya jalan. Disuruh berhenti, ya saya berhenti. Barangkali ada seperti itu (skenario), saya tidak tahu.

Kalau ada isu Anda ingin jadi Jaksa Agung?

Masya Allah…Usia saya sudah 60 tahun, nggak punya jabatan lagi. Itu kan karena orang tidak mengerti. Kalau saya mau jadi Jaksa Agung, ya ibarat pungguk merindukan bulan. Harus ngaca diri. Orang banyak salah persepsi tentang saya. Apa saya mau buat citra buruk kejaksaan?

Anda punya musuh di Kejagung?

Ah, perasaan saya sih tidak ada. Tapi namanya manusia itu kan ada yang senang, ada yang nggak senang. Kalau ada yang bilang di Kejagung ada semacam blok atau kelompok-kelompokan, perasaan yang saya lihat sih nggak ada. Kalau perasaan Anda kan berlainan, karena itu subyektif.

Kalau di luar Kejagung?

Tidak ada. Kalau pun ada orang atau pihak yang mengkritik atau mengomentari posisi saya, itu berlebih-lebihan, karena (mereka) nggak ngerti. Itu penugasan, bukan jabatan. Cuma, dalam tanda petik, orang sudah apriori kepada saya, karena image dan opini yang sudah dibentuk oleh pers. Nah, ini yang perlu Anda sampaikan. Saya tidak ingin omongan saya ini dipotong-potong, ya.

Opini apa yang Anda maksud?

Saya itu diopinikan sudah betul-betul bersalah dalam kasus suap Artalyta Suryani kepada jaksa Urip Tri Gunawan. Saya dikatakan berhubungan dengan tersangka atau makelar tersangka. Anda supaya tahu ya, pada saat itu belum ada tersangka. Artinya masih dalam tahap penyelidikan, pengumpulan data. Ada berbagai pihak yang mengatakan saya berhubungan dengan perantara tersangka atau tersangka. Masya Allah…Tersangkanya belum ada, kok. Dan saya tidak pernah berhubungan dengan tersangka. Jadi, opini yang terbentuk selama ini, menurut saya, sangat-sangat keliru.

Anda kemudian kecewa dengan pencopotan sebagai Jampidsus ketika itu?

Bukan. Terhadap pencopotan, saya tidak kecewa. Itu sudah perintah pimpinan. Dulu, waktu saya mau diganti sebagai Jampidsus, saya jawab bagaimana kebijaksanaan pimpinan, saya siap. Karena (keputusan) pimpinan itu pasti terbaik buat saya. Tapi, opini masyarakat dan pers yang sudah berkembang. Sehingga saya dinilai, dalam tanda petik ya terkait, terseret dan sebagainya. Padahal sampai saat ini saya belum apa-apa, nggak ada apa-apa.

Sebetulnya Anda terlibat tidak dengan kasus tersebut?

(Mendengar pertanyaan ini, Kemas spontan tertawa) Kasus apa ini? Ah, saya nggak ngerti itu. Kalau terlibat dalam hal penanganan kasusnya iya, tapi kalau terlibat terima uang, masya Allah…Nggak ada itu. Aduh…

Tertangkapnya Urip oleh KPK di luar dugaan Anda?

Wah…Bukan lagi di luar dugaan, kayak geledek di siang bolong. Urip itu jauh di bawah saya. Saya Jam, ada direktur, ada kasubdit, baru tim. Dia tiga tingkat di bawah saya. Jadi saya nggak ngerti. Tapi karena jabatan dibela, ya saya harus bertanggung jawab, saya terima. (Kemas nyeletuk, memang kalau wawancara nggak ada fotonya, nggak ada kembangnya, ya. Bolehlah fotografer foto saya. Saya kasihan sama kamu, dari tadi megang-megang kamera terus. Kemas lalu tertawa). Sebetulnya saya ini senang dengan wartawan. Saya kan bekas Kapuspenkum dan banyak berhubungan dengan wartawan. Tapi, sekarang ini, saya dihakimi oleh pers luar biasa, hampir semua seperti itu. Saya dibohongin, dijebak.

Jika banyak orang apriori kepada Anda, bagaimana Anda menilai diri sendiri?

(Kemas menarik napas panjang) Waduh…Sulit itu saya menjawabnya. Orang menilai saya ya silahkan, saya tidak bisa menolak. Tapi, Anda bisa lihat sendiri dari perjalanan karir saya dari jaksa yang paling bawah sampai eselon I. Itu saja. Dari fakta-fakta itu, silahkan Anda simpulkan sendiri bagaimana saya.

Sepanjang karir Anda menjadi jaksa, pelajaran apa yang bisa diceritakan?

Jaksa itu nggak boleh diam. Jaksa, begitu dia berangkat sidang, seharusnya berkas-berkas perkara dari halaman satu sampai halaman terakhir harus dikuasai, supaya penuntutannya sukses. Setebal apapun berkasnya, harus dibaca. Itu resiko profesi. Kalau tidak, jaksa jangan maju sidang. Tugas jaksa adalah berusaha meyakinkan hakim, meyakinkan terdakwa bahwa dengan bukti-bukti yang ada terdakwa itu salah. Karena itu, surat dakwaan dibacakan dengan suara yang jelas, tegas, tanpa ragu-ragu. Kenyataannya di persidangan kita melihatnya terbalik. Banyak jaksa bingung, justru majelis hakim yang menguasai berkas perkara. Ini di antaranya yang saya sampaikan selaku ketua satgas supervisi kepada jaksa-jaksa di daerah. Nah, ilmu seperti itu banyak jaksa yang belum punya, karena dibuku tidak ada. Apakah saya salah? Seperti yang dikatakan Jampidsus, Rokhmin Dahuri saja di dalam LP masih bisa ngajar, kok. Masa saya mau ngajar nggak boleh, padahal saya nggak ada masalah apa-apa.

Untuk sementara Anda dibekukan. Seandainya Jampidsus mengaktifkan Anda kembali?

Selaku bawahan, kan sekarang saya jaksa fungsional, apakah nanti saya ditempatkan di BIN, diintel atau dimana dan apapun tugas dari pimpinan, sepanjang saya mampu, saya akan jalankan dengan sebaik-baiknya. Meskipun ada yang bereaksi keras, itu biasa saja. Nggak ada pilihan lain selain itu, karena saya sadar betul saya ini pegawai negeri. Semua pasti ada hikmahnya. Kita harus sadar bahwa sesuatu yang baik, kelihatan menyenangkan atau menggembirakan, belum tentu membawa manfaat. Tapi sesuatu yang rasanya menjengkelkan, belum tentu tidak bermanfaat. Ini ayat Al-Quran, lho. Itu menteri yang kena kasus, Rokhmin Dahuri, barangkali kalau dia tahu, dia menyesal jadi menteri. Said Agil Al-Munawwar mungkin nyesal gara-gara jadi menteri bisa begini. Tuhan punya kuasa, kok. Saya nikmati saja, alhamdulillah…Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak.*** (Hasil wawancara ini dimuat di Majalah MAHKAMAH, Edisi VII, 15 Maret 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s