Menata Kembali Hubungan Manusia dengan Lingkungan

Peresensi Lukman Hakim Zuhdi

cover20buku20kearifan20lingkungan20011Judul buku : Kearifan Lingkungan dalam Perspektif Budaya Jawa
Penulis : HM. Nasruddin Anshoriy Ch dan Sudarsono, SH
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia bekerja sama dengan Pesan-Trend Budaya Ilmu Giri
Tahun : Cetakan I, 2008
Tebal : xxiv +  321 Halaman
Harga : Rp. 68.000,-

Wacana ramah dan kelestarian lingkungan hidup belakangan menjadi tren dalam kancah lokal, nasional maupun internasional. Hal ini disebabkan karena lingkungan hidup menyangkut hajat dan kepentingan orang banyak. Istilah itu kemudian dikaitkan dengan banyak dimensi, seperti alat transportasi, perumahan, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, pabrik, obat-obatan, dan lainnya. Bila dua kata itu gencar dijadikan bahan kampanye dimana-mana –terutama oleh para aktivis lingkungan—, maka berarti selama ini ada pihak yang tidak ‘ramah’ terhadap lingkungan.

Perlu diingatkan, lingkungan dan alam dunia ini merupakan tempat utama untuk beraktualisasi, bereksistensi dan berinteraksi bagi manusia. Hubungan antara sesama manusia dengan makhluk lain bisa dijalankan dengan baik apabila terjadi simbiosis mutualisma, dengan prinsip kerjasama yang saling menguntungkan. Masing-masing saling memberi ruang dan kemerdekaan hidup, sehingga terjalin keselarasan dan keserasian. Jika tidak demikian, maka dipastikan terjadi ketimpangan, bahkan bencana besar mengancam.
Kemunduran atau kerusakan lingkungan hidup (environmental degradation), baik di kota maupun di desa, disebabkan manusia tidak mampu memperlakukan lingkungan dan alam sekitarnya secara proporsional.

Akibatnya dapat dilihat pada dua segi. Pertama, degradasi yang bersifat fisik (environmental degradation of physical nature), yakni gangguan yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alam, seperti pencemaran air, pencemaran udara dan pencemaran suara. Pencemaran ini bisa menyebabkan gangguan kesehatan temporer atau cacat seumur hidup bahkan dapat mematikan penduduk, hewan langka menjadi punah serta tanah kritis.
Kedua, degradasi yang bersifat masyarakat atau sosial (environmental degradation of societal nature), yaitu gangguan yang ditimbulkan oleh manusia sendiri dan dapat menjadikan kehidupan tidak tenang serta timbul rasa jenuh, rasa kesal atau rasa jijik untuk tinggal di suatu tempat. Misal, kepadatan atau kesibukan kendaraan yang menghambat perjalanan, tumpukan sampah yang menyebarkan bau busuk, terlantarnya bangunan-bangunan di kota, dan semakin meningkatnya tenaga jasa halus haram atau para tuna susila.

Selain faktor mentalitas dan ulah manusia, sumber penyebab kerusakan lingkungan hidup ternyata tidak lepas dari kemajuan teknologi dan arus modernisasi. Aktivitas manusia dengan teknologi sederhana, tradisional maupun teknologi maju rupanya telah banyak menggoyahkan lingkungan dalam arti negatif, karena kurangnya kesadaran dan perhatian manusia dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Kedua penulis buku ini mengharapkan, kemajuan teknologi dan modernisasi pada sisi lain harus mampu menyelesaikan dan melenyapkan pencemaran lingkungan di kota dan di desa. Di samping itu, penyelesaian sebaiknya mengedepankan pendekatan manusiawi (human approach).

Keberhasilan pembangunan lingkungan di kota dan di desa, khususnya dalam rangka menghilangkan dampak interaksi yang negatif atau destruktif, mutlak diperlukan adanya disiplin bangsa, disiplin aparatur negara dan disiplin rakyat. Disiplin diartikan dengan pematuhan secara ketat pada peraturan, baik tertulis maupun tidak tertulis yang sudah disetujui bersama. Disipilin juga mengandung beberapa unsur, antara lain unsur patuh, unsur taat, unsur mental, unsur moral, unsur kejujuran, unsur keteraturan (ke-ajegan), dan unsur ketertiban.

Kedisiplinan jelas memiliki kaitan terhadap konsekuensi hukum. Bila ada pihak yang tidak disiplin atau melanggar hukum lingkungan, maka sanksi yang dikenakan wajib bersifat edukatif, agar suatu saat tidak mengulangi perbuatan serupa dan bisa menjadi pelajaran bagi pihak lain agar tidak meniru. Menurut penulis buku ini, harus dihindari hukuman pada seseorang yang bersifat memotong, mematikan dan tidak memberi kesempatan untuk memperbaiki diri, kecuali pada kesalahan berat yang tidak terampuni lagi. Hal ini dikarenakan oleh suatu kearifan umum bahwa kebenaran dan kesalahan bukan monopoli suatu kelompok.

Masalah lingkungan hidup memang tidak kalah pentingnya dengan problem sosial dan ekonomi yang memerlukan perhatian serius semua pihak. Kesadaran mengenai arti penting lingkungan yang sehat dan lestari perlu diberikan kepada setiap insan, demi keberlangsungan hidup bersama. Kesejahteraan kolektif salah satunya dipengaruhi oleh kelayakan lingkungan. Untuk itu, manusia jangan sekali-kali berani merusak alam, tetapi berkewajiban untuk menjaga, merawat dan mengembangkan kelestariannya. Dengan kata lain, kesejahteraan dunia tergantung manusia yang memiliki ketajaman rasa, yang menunjuk pada harmoni hubungan antara manusia dengan alam.

Hubungan harmonis antara manusia dengan alam akan bermuara pada pembentukan jalmâ utâmâ, sarirâ bathârâ atau insan kamil, yakni manusia paripurna yang menggambarkan sejati-jatining satriya atau sejati-jatining manungsa yang membawa misi hamemayu hayuning bawana. Di antara ciri-cirinya terlihat keharmonisan pada dimensi lahir batin, jiwa raga, intelektual spiritual dan kepala dadanya, yang akan melahirkan nilai-nilai humanisme. Karena itu, tanpa adanya hubungan manusia dengan Tuhan yang bersifat teologis (hablu minallah), maka hubungan kemanusiaan (hablu minan naas) akan cenderung semu, munafik dan eksploitatif.

Kearifan lingkungan merupakan kata kunci untuk membentuk keseimbangan bagi kehidupan. Hamba yang beriman adalah manusia yang mampu menjaga keseimbangan: senantiasa bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung kemanusiaan dan memanusiakan manusia serta merawat alam semesta sebaik-baiknya. Sebaliknya, hamba yang kufur ialah manusia yang melalaikan Tuhan Yang Maha Pemurah, mengkhianati kemanusiaan dan merusak alam serta menghancurkan isinya. Atas dasar tersebut, sudah saatnya manusia memaknai bumi beserta isinya bukan sekadar obyek eksploitasi, melainkan menjadi sahabat dan guru agar kehidupan ini menjadi harmoni, damai di bumi dan bahagia di langit.

Buku yang mengurai seluk beluk lingkungan hidup ini merupakan hasil perenungan dan refleksi seorang budayawan, aktivis lingkungan dan Kepala PPLH Regional Jawa. Penyusunannya sangat sistematis, integral dan komprehensif serta analisanya menggunakan pendekatan kultural, ekologis, sosiologis, filosofis, dan teologis. Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam tulisan sekapur sirihnya menyebut buku ini referensi yang relevan untuk kondisi sekarang dan memiliki bobot tinggi untuk dibaca bukan hanya oleh para akademisi, melainkan juga para pengambil keputusan di pemerintahan dan masyarakat luas, demi mewujudkan tatanan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja.***

2 thoughts on “Menata Kembali Hubungan Manusia dengan Lingkungan

  1. yusuf Mei 1, 2011 / 11:38 am

    Kalau bisa link untuk donwload bukunya ditampilkan, “kalau ada ??

  2. imen Agustus 1, 2011 / 2:40 am

    dipermudah dong artikelnya
    langsung ke intinya aja
    gak usah pake basa basi dulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s