Kritik Bismar untuk Hamba Hukum

Peresensi Lukman Hakim Zuhdi

Judul buku : Surat-surat kepada Pemimpin; Bisikan Hati Seorang Mantan Hakim Agung
Penulis  : Bismar Siregar, SH
Penerbit : Granit, Jakarta
Tahun  : I, 2008
Tebal  : xvi + 454 Halaman
Harga  : Rp. 85.000,-

Bismar Siregar, mantan Hakim Agung, tetap saja kritis. Kritikannya tajam menyangkut persoalan berbagai bidang, utamanya ranah hukum. Bismar dikenal hakim yang berani dan kontroversial. Landasan putusannya kerap kali keluar dari koridor hukum. Inilah salah satu contohnya. Ketika bertugas di Medan, dia menjatuhkan hukuman bagi pengedar ganja, yang 12 kali tuntutan jaksa. Tuntutan 10 bulan dan 15 bulan, diputus oleh Bismar dengan palu godam 10 tahun serta 15 tahun.

Bismar pernah berujar. “Kalau untuk menegakkan keadilan, saya menyimpang dari undang-undang, maka akan saya lakukan. Hukum hanyalah sarana, bukan tujuan terwujudnya keadilan.” Baginya, pesan luhur moral melebihi nilai hukum. Tegasnya, orang yang bermoral tidak akan melanggar hukum. Tetapi orang yang berhukum, itikadnya mana lobang-lobang agar dapat lolos dari jeratan hukum. Atas dasar itu, Bismar tidak ingin hukum yang berlaku di negara ini hukum jahiliah. Hukum sekuler gersang dari nilai-nilai moral/keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Betapa kenyataan penegakan hukum sampai sekarang bukan memberikan jaminan adanya rasa tenteram. Sebaliknya dihantui ketakutan-ketakutan. Seakan dimana-mana ada momok.  Ironis, ada putusan bertentangan dengan keadilan hanya sekadar menjamin kepastian hukum. Tidak ada di antara kita yang menafikan, hakim masih berpegang pada prinsip. Selama peraturan undang-undang belum resmi dicabut, ia wajib menerapkan undang-undang tersebut secara harfiah. Atau, kalau dirasa ada kebutuhan hukum, lahirkan undang-undang baru. Sehingga, Bismar mencatat, kita sekarang hidup dalam rimba peraturan hukum serta lembaga penegak hukum.

Padahal, kata Bismar, reformasi hukum berarti mereformasi aparat penegak hukum. Kembalikan fungsi Kepolisian sebagai penyidik. Kejaksaan sebagai penuntut. Pengadilan sebagai pemutus. Berikan wewenang kepada ketiga lembaga itu sepenuhnya. Masih perlu disebut Menteri Kehakiman yang bertanggung jawab dalam pengadaan perangkat undang-undang. Kekuasaan kehakiman berpuncak pada Mahkamah Agung. Bismar menegaskan, tidak perlu dibentuk lembaga-lembaga baru yang hanya pemborosan uang negara. Kalau pun lembaga-lembaga tambahan sudah ada, bekukan saja.

Terkait orang-orang yang dituduh korupsi, Bismar memberikan solusi sederhana, yakni terapkan pembuktian terbalik. Maksudnya, yang bersangkutan wajib menjelaskan dan membuktikan asal-muasal kekayaannya. Baginya, pemberantasan korupsi tidaklah sesulit seperti mencari jarum yang jatuh dijerami. Pembuktian terbalik dinilainya tidak menyimpang dari undang-undang yang selama ini berasaskan praduga tidak bersalah. Alasannya, keadaan saat ini membutuhkan sikap tegas.

Bismar mengingatkan, jangan serta merta memberantas korupsi demi hukum, titik. Tapi bersikaplah bijaksana. Jangan ada kesan balas dendam. Pertama mengetuk hati nurani koruptor. Maksudnya, mengajak mereka bertobat terlebih dahulu. Kalau tidak mau juga, tidak ada pilihan kecuali tindak. Kedua presiden dan wakil presiden memberikan contoh dengan mengumumkan harta kekayaan. Setelah itu diikuti para pejabat di bawahnya. Kalau perlu, para mantan pejabat dikirim formulir pendaftaran kekayaan disertai pesan agar bersikap jujur; jujur terhadap diri dan Tuhan.

Usul lain Bismar, rekonsiliasi adalah penyelesaian hukum terbaik dalam situasi sekarang ini saat mana sulit menemukan orang jujur dan bersih.  Memutihkan kesalahan membawa dampak kedamaian lebih baik daripada membalas kesalahan dengan hukuman menimbulkan dendam. Bismar menginginkan semua persoalan hukum terselesaikan demi kerukunan hidup berbangsa dan bernegara yang dilandasi kasih sayang. Karena itu, dia mengharapkan pejabat yang ikhlas melakukan tugasnya dan haram membawa misi partai. Tempatkanlah orang yang ahli –ahli dalam pengetahuan dan ahli dalam kemoralan—tanpa mempermasalahkan asal usulnya. Arswendo Atmowiloto yang memberi pengantar dalam buku ini, menulis: “Saat Bismar berujar, sebaiknya banyak telinga mendengar. Saat Bismar menulis surat, sebaiknya teraba yang tersirat.” (dimuat di Majalah MAHKAMAH, Edisi VIII, 15 April 2009)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s